
Shandy bergegas masuk ke dalam butik sang bunda untuk mendinginkan kepalanya.
Begitu ia masuk, sang bunda langsung menyambutnya dan terkejut melihat telapak tangan dan lututnya terluka.
"Ya ampun sayang. Kamu kenapa? Jatuh dimana?" tanya sang bunda segera memberondong Shandy dengan pertanyaan sambil mengajaknya duduk di salah satu kursi.
"Aku gak pa pa bun. Tadi gak sengaja hampir ketabrak di depan. Tapi gak parah kok. Aku bahkan gak sadar kalo luka," ujar Shandy berusaha menenangkan sang bunda.
"Kok bisa sih sayang? Kamu gak liat kanan kiri dulu sebelum nyebrang?" tanya sang bunda sambil membersihkan luka Shandy.
Shandy sendiri segera menegak air dingin yang diberikan salah satu asisten sang bunda. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah menghabiskan segelas air itu.
"Bukan Shandy yang salah bun. Emang pengendara itu aja yang salah. Daerah sini kan gak boleh ngebut, eh dia nyetir ngebut banget. Shandy kaget dong tiba-tiba ada mobil. Sampe lemes bun tadi," cerita Shandy.
"Ya ampun sayang. Syukur deh kamu gak pa pa. Ngomong-ngomong tadi kesini sama siapa?"
"Naik taksi bun. Taksinya salah belok tadi, makanya Shandy harus nyebrang sendiri,"
"Besok lagi, kamu bilang bunda aja kalo mau kesini. Biar bunda yang jemput kamu,"
"Gak pa pa bunda. Bunda kan sibuk disini. Shandy bisa kok sendiri. Cuma tadi aja kurang hati-hati,"
"Yaudah, sekarang kamu istirahat dulu. Nanti bunda pesenin makan siang," ujar sang bunda menyuruh Shandy istirahat.
Shandy segera menuju ruang istirahat yang berada di lantai 2 butik itu.
Butik itu merupakan butik milik sang bunda. Tidak terlalu besar namun sangat mewah. Ibunya sendiri merupakan seorang desainer terkenal yang sudah memiliki nama.
Liliana Darmawangsa adalah sosok wanita panutan bagi ibu dan pengusaha di negara ini. Ia adalah sosok yang bisa menjalankan peran sebagai ibu, pengusaha dan isteri secara bersamaan dengan sangat luar biasa.
Ayah Shandy sendiri merupakan seorang pengusaha properti yang sangat sukses. Agung Darmawangsa adalah panutan dalam dunia bisnis. Wajahnya acap kali muncul di halaman depan majalah bisnin ibu kota.
Setibanya di ruang istirahat sang bunda,Shandy segera membaringkan badannya di kasur empuk itu. Jujur, ia merasa sangat lelah seharian ini. Banyak tugas dan ujian menjelang libur semester. Dan dirinya bahkan terkadang harus begadang untuk menyelesaikan semua tugasnya.
__ADS_1
Tak berapa lama, Shandy akhirnya meluncur ke alam mimpi. Saking lelahnya, ia bahkan tidak sempat melepas sepatu dan kaos kaki yang masih melekat di kakinya.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore ketika Shandy terbangun dari tidur siangnya. Ia merasa lelahnya sedikit hilang. Ketika ia bangun, telah ada sepiring karedok yang disediakan di meja yang tidak jauh dari tempatnya tidur.
"Ya ampun, aku sampe gak lepas sepatu? Capek banget kayaknya diriku," ujarnya begitu menyadari bila ia masih menggunakan separu sekolahnya.
Setelah menghabiskan sepiring karedoknya, Shandy bergegas turun ke lantai dasar untuk menemui sang bunda. Dilihatnya sang bunda tengah sibuk melayani seorang pelanggan yang nampak seperti akan memesan sebuah gaun.
"Eh, mbak Shandy udah bangun. Udah dimakan mbak karedoknya?" mbak Dewi, asisten pribadi sang bundalah yang menyapanya.
"Udah mbak Dewi, enak deh," puji Shandy.
"Oh, pastinya mbak. Itu karedok langganan Dewi mbak. Udah terkenal turun temurun itu," ujar Dewi bangga.
"Mbak, ibu itu mau pesen baju apa sih? Dari tadi muter-muter mulu," tanya Shandy pada Dewi yang sedang mencatat sesuatu di tabletnya.
"Oh, ibu itu. Dia mau nyariin gaun buat calon menantunya. Katanya sih mau nikah bulan depan gitu deh. Istri pejabat tuh," ujar mbak Dewi sambil menatap wanita yang dimaksud Shandy.
"Wih, orang kaya dong mbak. Kok malah beliau yang nyari dan bukan menantunya langsung yang kesini?"
Sedang asyik berbincang, tiba-tiba Shandy dipanggil oleh sang bunda untuk mendekat.
"Ini jeng putrinya? Cantik banget. Namanya siapa sayang?" tanya si ibu pejabat tadi.
"Shandy tante. Makasih pujiannya," ujar Shandy sambil tersenyum.
"Ya ampun. Udahlah cantik lemah lembut pula. Cocok nih buat Dirga," ujar si ibu pejabat lagi.
"Ih jeng Diah. Dirga malah yang mungkin gak srek sama Shandy. Masih kecil ini, masih sma," ujar sang bunda.
"Ih, gak sekarang juga jeng. Pokoknya kenalan aja,"
"Ya, Shandy mau ya kenalan sama anak tante? Anak tante ganteng kok," ujar tante Diah.
__ADS_1
Shandy hanya bisa menatap sang bunda meminta pertolongan.
"Kapan-kapan lah jeng. Kapan-kapan kita atur waktunya ya," ujar sang bunda.
"Aku tunggu lho ya niat baiknya. Yaudah deh, aku pulang dulu. Shandy tante pulang dulu ya," ujar tante Diah sembari keluar dari butik.
"Bunda, itu siapa sih? Kok main kenalin Shandy ke anaknya aja," tanya Shandy sambil menatap mobil mewah yang menjauh dari butik mereka.
"Itu pelanggan setia bunda. Anaknya baru pulang dari luar negeri, abis sekolah. Trus tante Diah itu hobi jodohin anaknya ke temen-temennya. Bolak balik pengin ketemu kamu belum bunda kasih," ujar sang bunda kembali ke meja kerjanya.
"Ih, Shandy takut ih sama tante Diah. Jangan-jangan anaknya model begituan juga," ujar Shandy bergidik.
"Hush, kamu gak boleh ngomong gitu. Ayo siap-siap. Habis ini papa datang jemput,"
"Siap bunda,"
10 menit kemudian, nampaklah sebuah mobil mewah berhenti di depan butik. Ternyata itu adalah ayah Shandy. Biasanya beliau bersama supir. Namun, karena hari ini mau menjemput Shandy dan ibunya, beliau memilih menyetir mobilnya sendiri.
"Kalian udah makan? Atau mau mampir makan dulu?" tanya papa begitu mereka di dalam mobil.
"Langsung pulang aja pa. Shandy banyak tugas nih," ujar Shandy.
"Yaudah, langsung pulang aja. Biar bunda telfon bi Ijah masakin kita makanan seadanya," ujar sang bunda.
Setibanya dirumah, Shandy bergegeas masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengerjakan tugasnya. Ia juga ada ujian matematika esok.
Saat dirinya sedang asyik belajar, pintu kamarnya diketok oleh bi Ijah yang menyampaikan bila makan malam telah siap.
"Malem papa, bunda. Shandy gak lama ya, masih belum mantep belajarnya," ujar Shandy bergegas mengambil nasi dan lauk pauk.
"Iya sayang. Tapi inget, jaga kesehatan terus. Jangan lupa minum vitamin kamu," ujar sang bunda mengingatkan dan dibalas acungan jempol oleh Shandy.
Selesai makan, Shandy bergegas kembali ke kamarnya untuk melanjutkan belajar.
__ADS_1
'Yok, semangat yok. Jangan sampe besok nyesel karena gak bisa ngerjain' Shandy berusaha menyemangati dirinya sendiri untuk belajar.