I Love You, Pak

I Love You, Pak
32.


__ADS_3

Shandy tidak benar-benar ke kamar mandi. Ia hanya sedang menghindari Dirga. Tidak, Alea lebih tepatnya.Perkataan Dirga tempo hari masih bergema di kepalanya. 


Pria itu punya orang yang disukai. Dia udah suka sama orang lain.


Kalimat itu terus bergema di kepala Shandy. Ia tidak mau memikirkannya. Ia berusaha berhenti memikirkannya. Tapi lagi dan lagi, pikiran itu hingga di kepalanya.


Ia merasa ditarik ulur. Kadang pria itu berlaku sangat manis hingga membuat Shandy melambung. Tapi, di sisi lain kadang ia juga membuat Shandy makan hati dengan tindakannya.


Shandy tidak sadar jika ia sudah berjalan cukup jauh meninggalkan restoran. Ia baru menyadarinya ketika melihat toko yang tadi didatanginya bersama teman-temannya.


“Lho, udah sampai sini jalannya. Balik aja deh. Makanannya pasti udah datang,” gumamnya sambil melangkahkan kakinya kembali ke arah restoran.


Begitu ia membalikkan badannya, berdiri tegak Dirga tidak jauh dari posisinya saat ini. Shandy terkejut, tentu saja. Tapi ia berusaha mengontrol raut mukanya. Ia kembali melanjutkan langkahnya dan melewati pria itu tanpa menyapanya.


Hingga ia merasa tangannya ditahan dan membuat langkahnya berhenti. Shandy tidak membalikkan badannya. Ia masih menatap lurus ke depan dan cengkraman di pergelangan tangannya semakin erat.


“Sakit,” bisiknya lirih yang membuat cengkraman itu berubah menjadi genggaman erat di tangannya. Tangan besar Dirga melingkupi seluruh tangan mungil dan dinginnya.


“Mau bicara berdua?” Tanya pria itu akhirnya.


Shandy memejamkan matanya sejenak dan akhirnya mengangguk menyanggupi.


Ia ditarik halus menuju salah satu kedai muffin. Keduanya masuk dan memutuskan hanya memesan minuman saja. Acara makan bersama mereka masih menunggu.


“Jadi, mau bicara apa? Sebaiknya cepat. Yang lain pasti lagi nunggu,” ujar Shandy langsung begitu mereka duduk berhadapan.


Dirga menatap gadis itu sejenak sebelum berbicara. “Kamu marah?”


Shandy membuang tatapannya ke arah lain. Ia memasang senyum miring. “Itu lagi. Nggak ada pertanyaan lain?” Sahutnya ketus.


“Yang di chat tadi juga belum dibalas,” sahut Dirga tak mau kalah.

__ADS_1


“Nggak ada yang perlu dibalas dan dibahas.”


Shandy kembali menatap Dirga. “Dan sebenarnya kenapa kamu memaksa sekali bertanya kenapa aku marah? Apa hubungannya dengan kamu? Takut dimarahi bunda? Tenang, aku nggak akan bilang bunda kalau itu yang kamu takutkan.”


Dirga menggeleng lemah. “Bukan. Bukan itu alasannya.”


“Lantas? Apa alasannya? Kalau nggak ada alasan yang jelas, kayaknya juga nggak perlu dibahas lagi,” putus Shandy sambil bersiap berdiri dari kursinya.


“Aku yang bermasalah. Aku nggak suka kamu marah sama aku. Ini, mengganggu pikiranku,” sahut Dirga cepat. Suara melemah di akhir kalimat.


Shandy mengangkat alisnya bingung. “Kamu makin nggak jelas kalau kayak gini. Kita cuma teman. Atau mungkin terlalu dekat kalau dibilang teman. Kita sebatas guru dan murid yang kebetulan orang tuanya saling kenal. Sebatas itu hubungan kita. Nggak seharusnya hal kayak gini meresahkan kamu,” sahut Shandy lirih. Ia merasa suaranya mulai bergetar.


Tanpa menunggu jawaban Dirga, ia melangkah meninggalkan tempat itu. Ia sendiri bingung kenapa bisa mengucapkan kalimat seperti itu.


Begitu ia kembali ke restoran, makanan pesanan mereka telah tersedia. Bahkan makanan teman-temannya tersisa setengah. Berapa lama ia pergi?


“Nah, ini Shandy kembali. Tinggal pak Dirga yang kayaknya masih keasyikan di toko buku,” seru Dara begitu melihat Shandy mendekati meja mereka.


“Pak Dirga ke toko buku?” Tanya Shandy meyakinkan.


“Kamu nggak beli buku apapun? Terus tadi ke toko buku ngapain?” Tanya Alea begitu Dirga duduk di sebelahnya. Pria itu tidak membawa buku apapun.


Dirga tersenyum menatapnya. “Cuma lihat-lihat aja tadi. Buku yang aku mau belum terbit ternyata,” sahutnya sambil meraih satu potong pizza.


Shandy yang duduk di hadapannya juga menikmati makanannya dengan diam. Sesekali dia akan menanggapi lelucon yang dilemparkan oleh Dara atau Monik.


“Eh pak, tadi miss Alea cerita katanya miss Ale cinta pertama bapak? Terus katanya bapak sekarang lagi suka sama seseorang ya?” Tanya Monik.


Shandy tersedak mendengar pertanyaan itu. Dara yang duduk di sebelahnya segera memberi Shandy minum dan mengusap punggungnya.


 Alea cerita ke teman-teman? Aku kira cuma aku yang akan tahu, batinnya sambil meminum minumannya.

__ADS_1


“Kamu gak papa?” Tanya Dara sambil menatap wajah Shandy yang memerah.


Shandy tersenyum menenangkan. “Gak papa kok. Tadi kayaknya makanku terlalu buru-buru,” ujarnya sambil melanjutkan aktivitasnya lagi.


Dara dan Monik kembali menatap Dirga yang masih asyik dengan makanannya. “Jadi gimana pak? Yang dibilang miss Ale benar?” Tanya Monik sekali lagi.


Dirga mengangguk santai dan tersenyum ke arah keduanya. “Benar kok. Semuanya benar,” sahutnya ringan.


Dara dan Monik memekik tertahan. “Suka sama siapa pak? Kami kenal nggak?” Tanya Dara semakin semangat.


Dirga melirik Shandy sekilas. “Tau. Kalian tau kok orangnya. Cuma kayaknya dia masih belum mau terima saya,” sahutnya.


“Wah, sayang banget pak. Deketin aja terus. Kalau kami kenal berarti kan orang sekolah. Semoga cepat dapat ya pak,” sahut Dara sambil tersenyum menatap gurunya itu.


“Semoga ya. Orangnya rada susah soalnya.”


Setelah makan malam, mereka memutuskan untuk segera pulang karena waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Tidak terasa, 1 jam mereka makan dan berbincang di restoran.


“Habis ini mau kemana lagi? Masak langsung pulang? Malam minggu lho ini.” Tanya Alea ketika mereka akan berpisah di depan restoran.


“Habis ini mau mampir ke kafe dulu miss. Kita berdua nginep di rumah Dara miss. Pajama party gitu deh,” jelas Monik.


Alea menatap mereka antusias. “Wah, seru pastinya. Oke kalau gitu. Selamat bersenang-senang.” Dan mereka berpisah menuju tujuan masing-masing.


“Emang kita ada acara nongkrong di kafe lagi?” Tanya Dara setelah mereka berjalan menjauh.


Monik menatapnya sambil tersenyum jahil. “Kan nggak lucu kalau aku bilang kita langsung pulang. Mereka akan mempertanyakan kenapa kita pulang sore. Padahal ibu hamil kan nggak boleh begadang.”


Dara memeluk tubuhnya dari samping. “Ih, Monik emang paling pinter deh,” serunya bahagia. 


Shandy sendiri hanya menatap teman-temannya sambil tersenyum simpul. Hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya.

__ADS_1


Dirga : Besok kamu ada waktu? Aku mau lanjutin pembicaraan yang tadi.


Shandy hanya membaca pesan itu dan tidak berminat membalasnya. Ia kembali menyusul langkah teman-temannya menuju parkiran.


__ADS_2