I Love You, Pak

I Love You, Pak
28.


__ADS_3

Shandy masih setengah sadar ketika pintu kamarnya diketuk pelan dari luar. Ia juga mendengar suara tante Diah mengajak untuk makan malam. Suasana di luar juga sudah gelap pertanda malam telah tiba.


Begitu ia tiba di ruang makan, sudah ada bunda di ruang makan. Shandy duduk di sebelah bunda dan membuatnya otomatis berada di hadapan Dirga. Ia hanya tersenyum kecil menatap sang bunda, masih belum menyapanya.


“Kamu tadi tidur ya? Tante lihat nyenyak banget lho tidurnya.”


Shandy mengangkat kepalanya dan menatap tante Diah. Ia tersenyum dan mengangguk kecil. “Iya tate. Ngantuk banget tadi. Makasih ya udah dibolehin tidur sebentar.”


Tante Diah tersenyum lebar. “Sama-sama sayang. Kamu udah tante anggap sebagai anak tante sendiri kok. Ayo dilanjutin lagi makannya. Jeng Lili juga, ayo dilanjut makannya.”


Shandy melirik sang bunda sekilas dan melanjutkan makannya. Ia bukannya tidak menyadari bila sang bunda terus menatapnya sejak ia memasuki ruang makan itu. Tapi, ia hanya ingin melewati makan malam ini dengan tenang. Bilapun nanti akhirnya ia harus bicara dengan bunda, di rumahlah mereka akan bicara. Tidak disini, di depan Dirga dan orangtuanya.


Setelah acara makan malam yang didominasi oleh pembicaraan antara tante Diah dan bunda Shandy, mereka beralih ke ruang tv. Disana telah tersedia beberapa makanan ringan dan buah yang menggoda selera. 


Posisi duduk mereka sungguh sangat ambigu. Shandy yang biasanya paling anti duduk di sebelah Dirga justru mengambil posisi di sebelah pria itu. Mereka duduk di sofa berukuran sedang yang memang biasanya diduduki oleh 2 sampai 3 orang. Semua orang di ruangan itu bahkan menatap keduanya, atau Shandy lebih tepatnya bingung.


Dirga sendiri juga sebenarnya bingung dengan tindakan gadis itu. Tapi ia tidak mau banyak bertanya. Belum saatnya.


“Jadi gimana kegiatan kalian di sekolah? Shandy sebentar lagi ujian nasional ya?” Tanya tante Dah sambil memakan jeruknya.


Shandy mengangguk. “Iya tante. Sekitar awal tahun depan udah mulai try out persiapan. Akhir tahun ini sudah mulai ujian praktek juga.”


Tante Diah mengangguk. “Awal tahun depan ya? Tinggal 5 bulan lagi berarti. Cepat ya. Sebentar lagi sudah mau kuliah ya.”


“Rencana mau kuliah dimana? Dalam atau luar negeri?” Tanya tante Diah lagi.


Shandy melirik sang bunda. “Maunya sih di luar tante. Shandy mau ambil jurusan fashion design. Dan bunda udah ajukan beberapa kampus. Cuma Shandy masih mikir-mikir mau ambil yang mana.”


“Ooh, fashion design. Wah, mau nerusin jejak bundanya nih ceritanya. Eh, tapi kalau fashion design Amerika punya kan ya? di Parson atau FIT bagus tuh. Lagipula Dirga juga udah hafal banget sama Amerika. Nanti kamu bisa tanya-tanya sama dia.”

__ADS_1


Shandy tersenyum sekilas sambil melirik Dirga yang duduk di sebelahnya. Sepertinya pria itu tidak begitu tertarik dengan pembicaraan mereka. Ia sibuk sendiri dengan ponselnya. Dan tante Diah sepertinya menyadari itu.


“Dirga, ditaruh dulu dong hapenya. Ada Shandy kok kamu malah main hape terus. Ada perlu apa sih?”


“Iya bunda, sebentar.” Dirga masih belum mengalihkan pandangannya dari ponsel digenggamannya. Ia masih terus mengetik entah apa itu. Hingga suara Shandy sontak mengalihkan pandangannya.


“Lagi chat sama Alea ya?” Dirga menatapnya terkejut tapi ia hanya tersenyum kecil sambil menggeleng dan langsung meletakkan ponselnya di meja.


“Bukan. Itu tadi pak wakil kepala sekolah. Nawarin buat jadi mentor basket. Tapi aku tolak.”


“Kenapa ditolak?” Tanya Shandy penasaran.


“Kalo diterima, nanti gak bisa pulang sama kamu lagi dong. Kan ekskul basket pulang sekolah jadwalnya.” Dan siapapun tolong pegangi Shandy saat ini. Ia merasa sangat lemas dan malu dengan kalimat Dirga barusan.


“A-Apa sih. Gak jelas banget alasannya,” sahutnya gugup sambil memakan buah yang ada di pangkuannya brutal hingga membuatnya tersedak.


Sementar kedua orang wanita lainnya saling berpandangan dan tersenyum melihat interaksi kedua orang di hadapan mereka itu. Antara senang dan terkejut sebenarnya.


“Sejak kapan mereka akrab? Perasaan terakhir ketemuan masih kayak anjing sama kucing,” bisik bunda pada tante Diah.


Tante Diah tersenyum jahil. “Tadi aja waktu Shandy turun dari mobil Dirga saya juga kaget. Kok udah sampe diajak ke rumah segala? Ya walaupun kenal kan kok mau Shandynya.”


Keduanya sibuk bergosip berdua hingga tidak menyadari bila anak mereka menatap mereka curiga.


“Bunda dan tante Diah gosipin Shandy sama Dirga ya? Hayo, ngomongin apa coba?” Shandy memicingkan matanya menatap keduanya.


Mereka saling bertatapan dan tertawa bersama. “Tante sama bunda kamu bingung dan senang sama interaksi kalian. Kamu akhirnya mau akrab sama Dirga. Dan Dirga juga akhirnya mau akrab sama wanita lain,” sahut tante Diah yang langsung diberi anggukan semangat oleh bunda.


Shandy mengerutkan dahinya bingung. “Apa maksudnya tante? Emangnya Dirga gak pernah dekat sama cewek lain?”

__ADS_1


Wajah tante Diah terlihat panik. Ia melirik Dirga yang juga menatapnya tidak menyenangkan. “Eh, tadi tante bilang begitu ya? Maaf mungkin kamu salah denger. Maksud tante akhirnya Dirga mau dekat sama Shandy. Iya, begitu maksud tante.” Tante Diah terlihat menyembunyikan sesuatu, Shandy yakin itu.


Ia kembali melirik Dirga. Tapi pria itu mengalihkan pandangannya dan kembali meraih ponselnya. Ia kembali sibuk dengan ponselnya.


Suasana menjadi canggung dan tidak ada yang berbicara setelahnya. Hingga asisten rumah tangga Dirga memberitahu bila ayah telah tiba.


Shandy dan bunda berpamitan pada tante Diah dan Dirga. Awalnya tante Diah mengajak ayah untuk makan terlebih dahulu. Namun karena hari sudah sangat malam, mereka memutuskan untuk langsung pulang saja.


Dirga dan sang bunda masih berdiri di teras setelah mengantar kepergian mobil keluarga Shandy. Setelah mobil menghilang dari pandangan mereka, bunda bergegas akan masuk hingga suara Dirga menyapa pendengarannya.


“Aku harap bunda gak menceritakan apapun tentang masalah itu. Walaupun nanti Shandy akhirnya harus tahu karena suatu hal, dia akan tahu dari aku. Tidak dari bunda ataupun orang lain. Dia akan tahu langsung dari bibirku.” 


Setelah mengatakan kalimat itu, Dirga berjalan masuk rumah dan meninggalkan sang bunda. Bundanya hanya memandang punggung lebar sang putra dengan pandangan sedih.


“Sampai kapan kamu akan berkubang dengan masa lalu, anakku? Bunda harap Shandy bisa merubah kamu,” ujar sang bunda lirih sambil menyeka matanya yang dirasa sedikit basah.


Sementara itu, di dalam mobil tidak ada pembicaraan berarti. Shandy memilih memejamkan matanya sementara ayah sibuk menyetir. Bunda akhirnya berusaha mengajak Shandy bicara.


“Sayang, kamu mau cerita apa yang terjadi tadi siang? Kamu sampai gak akan telepon bunda dan ternyata udah sama Dirga,” tanya bunda lirih.


Shandy tetap memejamkan matanya. “Aku capek bun. Kita cerita besok aja ya.”


Bunda hanya bisa mengangguk lemah mendengar jawaban Shandy. “Iya sayang. Kamu tidur aja dulu. Nanti kalau udah sampai rumah, bunda bangunin.” Dan tidak ada jawaban dari Shandy.


Setibanya di rumah, Shandy langsung masuk ke dalam rumah tanpa menyapa siapapun. Ia bahkan bangun sebelum bunda sempat membangunkannya. 


Bunda baru akan mengucapkan selamat malam ketika ia sudah berjalan cepat menuju kamarnya. Bunda hanya bisa melihat putrinya dari kejauhan dengan tatapan yang sedih. Hingga sebuah tepukan membuatnya menoleh dan ayah berada disana.


“Shandy mungkin memang capek banget. Besok pagi saja diajak bicara lagi.”Bunda mau tak mau hanya bisa mengangguk pelan. Sekali lagi matanya melihat pintu kamar putrinya yang sudah tertutup rapat itu.

__ADS_1


__ADS_2