
Shandy dan kedua temannya tengah menunggu jemputan ketika mobil Dirga berhenti di dekat mereka. Kaca mobil diturunkan dan pria itu menatap mereka bertiga.
"Kalian mau pulang? Mau saya antar?" Tawarnya dengan suara ramah.
Shandy tidak menolehkan kepalanya sedikitpun. Kedua temannya tetap menanggapi dengan ramah.
"Kita lagi nunggu dijemput kok pak. Terima kasih atas tawarannya." Sahut Dara.
Dirga mengangguk paham." Baiklah kalau begitu. Saya duluan ya." Dan mobil Dirga pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Emang kalian berdua dijemput? Biasanya juga bawa mobil sendiri." Sindir Shandy pada kedua temannya.
"Apes banget kan? Waktu bawa mobil sendiri aja gak ada yang ngajakin. Begitu dijemput, malah banyak yang nawarin." Gerutu Monik.
Shandy hanya geleng-geleng menatap keduanya. Mereka sepertinya sudah jatuh dalam pesona Dirga.
Tidak lama, datanglah mobil bunda Shandy di depan mereka. Segera Shandy berpamitan dengan kedua temannya dan berlari kecil menuju mobil sang bunda.
“Nunggu lama sayang? Tadi bunda masih ada klien penting.” Tanya bunda begitu Shandy masuk ke dalam mobil.
Shandy menggeleng kecil. “Gak kok bun. Lagipula ada Monik sama Dara yang nemenin, jadi gak bosen banget.” Sahutnya sambil memakai sabuk pengaman.
Perjalanan menuju butik bunda memerlukan waktu sekitar 45 menit. Jalanan tidak terlalu macet, jadi perjalanan mereka pun tidak terlalu lama.
Shandy sebenarnya ingin menceritakan perihal Dirga yang tiba-tiba jadi guru di sekolahnya. Tapi, entah kenapa dirinya juga enggan bila disuruh untuk berakrab ria dengan pria itu. Ia masih tidak berniat untuk lebih akrab dengan Dirga.
__ADS_1
Setibanya di butik, mereka langsung disambut oleh wanita yang jadi salah satu klien penting bunda. Si putri sang mantan pacar. Shandy yang berpapasan ketika akan memasuki butik hanya menganggukkan kepalanya singkat dan langsung menuju ke ruangan bunda.
Sementara bunda segera menemui wanita itu dan mengajaknya untuk mencoba contoh baju yang telah selesai. Melihat bila kiranya ada elemen yang akan dirombak atau ukuran yang kurang cocok.
Sementara di ruang kerja bunda, Shandy tengah mengobrol dengan mbak Dewi. “Mbak, mau tanya boleh?” Tanya Shandy yang dibalas anggukan singkat oleh mbak Dewi.
“Temen Shandy kan lagi ada deket sama seorang cowok. Gak deket dalam hal apa-apa sih, cuma belakangan beberapa kali jalan bareng. Waktu itu, cinta pertama si cowok ini datengin mereka waktu mereka lagi makan berdua. Wajar gak sih mbak kalo temenku ini kesel?”
Mbak Dewi menghentikan pekerjaannya dan menatap Shandy. Ia mengetukkan pulpen yang digunakannya ke dagunya, berpikir. “Kalo menurut mbak sih gak wajar. Statusnya masih temenan kan? Apa hak dia buat marah? Kecuali kalau mereka sudah pacaran, baru beda lagi.”
“Tapi mbak, waktu cowok ini ngobrol sama mantannya itu temanku ini dicuekin. Gak diajak ngobrol juga.” Sahut Shandy tidak terima
“Kenapa dia gak ikut obrolan aja? Kan lumayan bisa nambah teman. Toh kata kamu kan cinta pertama si cowok ya? Kan belum tentu pernah jadi pacarnya juga” Ujar mbak Dewi santai dan kembali menulis sesuatu di kertas yang dibawanya.
“Gak segampang itu juga mbak. Kan baru pertama ketemu dan posisinya kan cewek itu cinta pertamanya. Katanya kan cinta pertama selalu jadi kenangan terindah.” Sahut Shandy dengan suara lirih.
Shandy menatap mbak Diah dan ikut tersenyum manis. “Terima kasih atas sarannya mbak. Nanti aku sampaikan ke temanku.”
Mbak Dewi mengangguk semangat. “Sama-sama cantik. Eh kamu udah makan belum? Mbak tadi bawa ayam bakar. Kamu mau?” Tawar mbak Dewi yang langsung diangguki semangat oleh Shandy.
Keduanya sedang asyik makan ayam bakar ketika bunda masuk ke ruang kerjanya. Tersenyum menatap putrinya dan sang asisten yang asyik makan ayam bakar. “Wah kayaknya enak banget.” Shandy yang melihat sang bunda langsung tersenyum lebar.
“Bunda juga harus cobain ayam bakar buatan mbak Dewi. Gak kalah enak sama yang di restoran.” Puji Shandy yang mendapat senyum malu-malu dari mbak Dewi.
“Shandy bisa aja sih. Enakan yang di restoran dong. Ini cuma resep asal nyoba mbak Diah aja.” Sahut mbak Dewi malu-malu.
__ADS_1
“Ih, mbak Diah gak usah merendah deh. Ini enak banget lho bun. Gak bohong.” Seru Shandy masih sibuk memuji masakan mbak Dewi.
“Iya iya, bunda percaya. Mbak Diah emang pinter masak kok.” Sahut bunda sambil meletakkan berkas yang tadi digunakannya untuk merevisi gaun kliennya.
“Gimana bu? Sudah oke kliennya?” Tanya mbak Dewi yang telah menyelesaikan kegiatan makannya. Jangan tanya dengan Shandy, ia masih asyik menikmati menu lain yang dibawa oleh mbak Diah.
“Bagian dadanya masih harus dikecilkan lagi. Pinggang juga. Kayaknya dia diet deh. Ukurannya berubah beberapa nomor dari yang minggu lalu. Kalau untuk hiasan dan ukirannya, sudah aman semua.” Mbak Dewi mengangguk sambil membaca catatan yang ditinggalkan oleh bosnya itu.
Hari telah gelap saat Shandy dan bunda memutuskan untuk pulang ke rumah. Ayah juga mengabari akan segera pulang dan mereka harus sudah tiba di rumah sebelum ayah pulang.
Setibanya di rumah, Shandy bergegas menuju kamarnya. Ia ingin segera mandi dan berganti baju. Tubuhnya sudah lengket seharian memakai seragam sekolahnya terus. Sementara bunda menengok ke dapur sebentar, melihat persiapan makan malam mereka yang telah dimasak oleh bi Ijah.
Waktu tepat menunjukkan pukul 7 malam ketika acara makan malam dimulai. Tidak ada pembicaraan berarti diantara mereka. Hanya menanyakan bagaimana hari pertama Shandy di sekolahnya setelah libur panjang dan hal-hal seperti itu.
Shandy tengah berada di kamarnya, belajar untuk besok ketika pintu kamarnya diketok oleh bunda.
“Ada apa bun?” Tanya Shandy begitu bunda duduk di pinggir tempat tidurnya.
“Barusan tante Diah telepon dan nanyain kamu. Kamu kok gak cerita kalau Dirga jadi guru magang di sekolah kamu?” Tanya bunda sambil menatap putrinya itu.
Shandy menghela nafas kasar. Oh bagus. Sudah ketahuan “Males aja bun. Lagipula kami gak akrab kok. Kak Dirga mengajar di ips. Shandy kan anak ipa,” sahutnya malas.
“Tapi setidaknya kan kamu cerita sama bunda. Tadi bunda bingung ditanya sama tante Diah. Bunda bilang aja kamu lupa cerita.”
“Iya bun, Shandy minta maaf.” Cicit Shandy lirih.
__ADS_1
Bunda menghela nafas pelan. “Yaudah, kamu lanjut belajar gih. Jangan tidur kemaleman ya.” Ujar bunda sambil keluar dari kamar Shandy.