I Love You, Pak

I Love You, Pak
11.


__ADS_3

Hari telah gelap ketika Shandy terbangun dari tidur sorenya. Bundalah yang membangunkannya. Lampu kamar yang tidak sempat ia nyalakan, sekarang menyala dengan sangat terang. 


Mencoba menyesuaikan matanya dan duduk di pinggir kasur, Shandy menatap bunda yang berdiri di hadapannya.


“Udah bangun? Makan dulu yuk. Udah jam 7 ini. Papa juga udah nunggu di bawah.” Ujar bunda sambil mengelus rambut Shandy.


Shandy hanya mengangguk pelan dan mengucek matanya. Ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.


“Yaudah, bunda tunggu di bawah ya. Kamu cepetan nyusul.” Dan bunda pergi meninggalkan kamar Shandy.


Begitu Shandy tiba di ruang makan, terlihat ayah dan bunda yang tengah bersiap untuk makan. Bunda sibuk mengambilkan makanan untuk ayah. Ayah sendiri terlihat masih asyik dengan ponselnya.


“Malam yah, bun. Maaf turunya agak lama.” Sapa Shandy sambil menarik duduk di salah satu kursi.


“Malam juga sayang. Gak papa kok. Ayah sama bunda juga baru mau mulai makan. Kamu juga ayo  makan. Nanti keburu dingin makanannya.” Ujar bunda sambil mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Mereka makan malam dengan tenang. Tidak ada pembicaraan yang berarti. 


“Bunda, cake yang tadi sore Shandy beli masih ada? “Tanya Shandy setelah acara makan mereka selesai.


“Masih ada sayang. Belum jadi bunda makan kok. Mau dimakan sekarang?” Shandy mengangguk pelan.


Segera bunda berdiri dan menuju ke arah kulkas untuk mengambil cake milik Shandy.


“Kamu mau makan yang mana dulu? Yang red velvet apa cheesecake?” 


“Cheesecake aja bun.” Bunda segera meraih cheese cake dan menyerahkannya pada Shandy.



“Terima kasih bunda.” Shandy langsung melahap cheesecake kesukaannya itu.



“Eh iya. Kamu tadi belum jadi cerita sama bunda. Gimana tadi jalannya?” Shandy mengangkat kepalanya dan menatap bunda. Ia letakkan garpu yang ia gunakan untuk memakan cheesecake tadi ke piring.



“Bunda mau tanya bagian mananya?” Tanya Shandy balik.



“Kalian jadinya beli apa? Terus gimana tadi jalannya? Asyik gak?” 



Shandy menghela nafas pelan. “Kami jadinya beli jas sama dasi. Dan jalannya biasa aja, gak ada yang spesial. Shandy juga beli boneka buat nambah koleksi. Abis itu makan di foodcourt. Udah selesai.” 



Bunda mengerutkan dahinya mendengar jawaban Shandy. “ Udah gitu aja? Gak ada yang lain?”



Sekarang ganti Shandy yang mengerutkan dahinya. “Lainnya? Apa emangnya bun?” Tanya Shandy bingung.

__ADS_1



“Ya ngapain gitu. Kalian gak main dulu? Langsung pulang aja?” Shandy mengangguk polos.



“Hah, yaudah deh.” Ujar bunda sambil berdiri meninggalkan meja makan menuju ruang tv.



Shandy menatap ayahnya dengan tatapan bingung. “Shandy salah ngomong ya?” Ayah hanya menatapnya sekilas dan tersenyum simpul. 



“Tanya aja sama bunda.” Shandy memanyunkan bibirnya mendengar jawaban ayah. “Ayah sama aja ih.” Rajuknya manja.



Shandy akhirnya ikut meninggalkan ruang makan dan menyusul bunda ke ruang tv. Tidak lupa dibawanya cheseecake yang masih tersisa setengah itu.



Di ruang tv terlihat bunda tengah asyik menonton berita yang ditayangkan di salah satu stasiun tv. Shandy segera mengambil posisi duduk di sebelah bunda dan melanjutkan acara makan cheesecakenya.



“Bunda mau?” Tawar Shandy. Bunda hanya menggeleng singkat. Shandy mengangkat bahu acuh dan kembali melanjutkan acara makannya.



“Ayah mana? Kok ditinggal sendiri?” Tanya bunda begitu menyadari bila mereka hanya berdua di ruang tv.




"Bunda, Shandy mau tanya boleh?"Tanya Shandy tiba-tiba. Bunda yang mendengarnya hanya mengangguk singkat. Matanya masih fokus menatap ke arah tv.



"Cinta pertama itu seberapa berarti?" Bunda yang mendengar jawaban Shandy sontak menolehkan kepalanya dan menatap Shandy.



"Cinta pertama siapa? Kamu? Dion dong berarti."



"Bukan ih bunda. Bukan Shandy. Ada temen cowok Shandy yang lagi deket sama Shandy. Terus waktu mereka jalan, si cinta pertama cowok ini datang nimbrung gitu. Dan temen Shandy yang cewek ini jadi dicuekin. Trus dia kesel gitu bun. Wajar gak sih kalau dia kayak gitu?" Tanya Shandy panjang pada bunda.



Bunda terlihat berpikir sejenak. "Gak salah juga sih. Kan cowok ini awalnya jalan sama temen kamu. Jadi dia gak seharusnya mengabaikan teman kamu ini."


__ADS_1


"Iya kan bun. Harusnya gak boleh kan." Seru Shandy semangat.



"Sebentar sayang, bunda belum selesai bicara." Sela bunda menghentikan sorakan Shandy.



"Tapi itulah cowok. Gak cuma cowok sih sebenarnya. Cinta pertama bagi seseorang itu memang selalu spesial. Dan kalau ketemu secara gak sengaja, pasti bakalan seneng banget dong." Shandy mengangguk pelan.



"Jadi itu yang bikin anak bunda yang cantik ini ngambek?" Goda bunda yang membuat pipi Shandy memerah.



"Siapa yang ngambek ih. Aku gak ngambek kok." Serunya tidak terima.



"Kalau gak ngambek, terus kenapa jawabnya ketus terus. Ditanyain soal gimana tadi siang juga jawabnya asal aja. Jadi ada yang cemburu nih." Bunda masih belum berhenti menggoda Shandy.



"Bunda apaan sih. Gak tau deh. Shandy mau ke kamar aja." Rajuk Shandy dan segera ia kembali ke kamarnya dengan langkah yang dihentakkan.



Bunda yang melihatnya dari kejauhan hanya geleng-geleng kepala. "Dasar anak kecil. Susah banget jujur sama perasaannya." Gumam bunda dan kembali asyik melanjutkan kegiatan menontonnya.



"Shandy kenapa bun? Kok jalannya dibanting-banting begitu?" Tanya ayah yang telah duduk di samping bunda.



Bunda menolehkan kepalanya dan langsung beringsut ke dalam pelukan ayah. "Malu dia bunda godain. Dia ternyata cemburu sama Dirga." Kikik bunda mengingat kelakuan putrinya tadi.



"Cemburu gimana bun?" Tanya ayah. Tak lupa sebelah tangannya mengelus sayang punggung bunda.



"Jadi, tadi mereka ternyata waktu di mall ketemu sama cinta pertamanya Dirga. Dan mereka asyik ngobrol. Shandy malah dicuekin."



"Bisa-bisanya ketemu di mall. Terus sekarang Shandy kemana?"



"Ke kamarnya." Sahut bunda singkat. Dan mereka melanjutkan acara bermesraan di depan tv.


Sementara itu, di kamarnya Shandy sibuk bergumam seorang diri. Tidak lupa boneka beruang coklat yang ia beli tadi menjadi sasarannya.

__ADS_1


"Siapa coba yang cemburu? Emang dia siapa sampai bisa bikin aku cemburu? Bayangin cemburunya aja udah geli sendiri." Gerutu Shandy tak kunjung usai.


Ia masih terus bergumama sambil memukul-mukul boneka beruang itu hingga matanya mulai mengantuk dan tanpa sadar ia tertidur sambil memeluk boneka itu.


__ADS_2