
Shandy dan Monik kini telah berada di depan rumah Dara. Rumah besar itu sangat sepi. Orangtua Dara memang pebisnis sukses yang suka berkeliling dunia. Orang tuanya hanya berada di rumah ketika ada acara besar ataupun ulang tahun Dara. Bahkan ulang tahun Dara tahun lalu mereka tidak datang.
“Rumahnya emang selalu sesepi inikah? Kayaknya ini pertama kalinya aku ke rumah Dara deh. “ Tanya Monik yang terkejut melihat keadaan rumah Dara.
Shandy mengangguk lemah. “Orang tua Dara jarang di rumah. Yang ada cuma pembantu sama tukang kebun. Dara juga gak mau pakai supir jadi makin sepi lah rumah ini.”
Monik memang baru pertama kali ke rumah Dara. Karena basecamp mereka adalah rumah Shandy. Dara jarang mau ada temannya yang datang ke rumah. Ia sepertinya tidak begitu nyaman dengan adanya tamu di rumahnya. Bahkan selama mereka berteman, Shandy baru dua kali ke rumah Dara.
Bel rumah Dara ditekan beberapa kali oleh Shandy dan masih belum terlihat siapapun yang membuka pintu. Monik kembali mencoba menghubungi Dara, tapi ponselnya tetap tidak aktif. Hingga seorang wanita paruh baya membuka pintu depan rumah.
“Siang bi. Dara ada?” Tanya Shandy yang sudah mengenal pembantu rumah Dara itu.
Wanita itu terlihat menatap Shandy ragu-ragu. Ia terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
“Bibi masih ingat aku? Shandy bi, yang dulu pernah main kesini. Dan ini Monik, teman sekolah Dara juga.” Ujar Shandy sambil menunjuk ke arah Monik.
Wanita itu mengangguk pelan. “Saya ingat kok sama non Shandy.”
Shandy tersenyum mendengarnya. “Kita kesini mau cari Dara bi. Dara hari ini gak sekolah dan ponselnya mati dari kemarin. Kira-kira Dara ada bi?”
Bibi terlihat menghindari pandangan Shandy. “Sebentar ya non bibi tanya dulu. Non Dara agak gak enak badan soalnya. Dan pesannya dari pagi gak mau ditemui siapapun.”
Shandy dan Monik saling berpandangan bingung. Tumben sekali Dara seperti ini. Tapi mereka memilih untuk tidak mempermasalahkannya dan duduk di kursi yang disediakan di teras rumah Dara sambil menunggu pembantu Dara.
“Kamu memang selalu disuruh nunggu begini setiap kali kesini?” Tanya Monik akhirnya. Ia penasaran. Seperti inikah Dara setiap kali ada temannya yang datang?
Shandy menggeleng lemah. “Gak kok. Biasanya datang ya langsung masuk aja. Mungkin memang ada sesuatu dengan Dara,” sahut Shandy lirih.
Tidak lama, pembantu rumah Dara kembali menemui Shandy dan Monik. Keduanya langsung berdiri begitu pintu rumah dibuka lagi.
“Silahkan masuk. Langsung ke kamar saja.”
__ADS_1
Monik dan Shandy segera berterima kasih dan bergegas menuju kamar Dara. Mereka sudah sangat khawatir dengan Dara yang tidak bisa dihubungi sejak kemarin.
Begitu memasuki kamar Dara, mereka terkejut dengan keadaan kamar yang seperti kapal pecah. Barang-barang berjatuhan ke lantai. Bahkan di dekat kasur Dara terdapat pecahan gelas yang terlihat baru.
Dara sendiri sedang berada di atas kasurnya, menatap Monik dan Dara dengan senyuman lemah dan sayunya. Rambutnya berantakan dan matanya terlihat bengkak, seperti orang yang baru saja menangis dalam waktu lama.
Shandy dan Monik langsung berlari menghambur memeluk Dara.
“Kamu kenapa sih? Ada masalah apa?”
Bukannya menjawab pertanyaan Shandy, Dara justru memeluk kedua sahabatnya itu erat dan mulai menangis. Semakin lama tangisnya semakin kencang. Bahkan tangisnya mulai terdengar seperti rintihan yang membuat siapapun yang mendengarnya ikut menangis dibuatnya.
Shandy dan Monik hanya bisa balas memeluk Dara erat dan mengusap rambut serta punggung gadis itu. Mereka juga membisikkan kalimat penghiburan untuk Dara.
10 menit menangis dan gadis itu mulai bisa menguasai dirinya sendiri. Pelukan juga dilepaskan oleh Dara. Dan sekarang mereka bertiga duduk saling berhadapan.
“Kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita dong ke kita.” Ujar Monik yang melihat Dara mulai tenang.
“Aku hamil.”
“Kamu sudah periksa atau masih cek sendiri?” Tanya Shandy setelah berhasil menguasai dirinya kembali.
Dara meraih sesuatu di atas meja di samping tempat tidurnya. Ternyata itu merupakan tes kehamilan yang biasa dijual di apotek. Diberikannya alat itu pada Shandy. Dan di alat itu terlihat dua garis merah yang sangat tegas.
“Aldi tahu soal ini?” Tanya Monik lirih.
Aldi merupakan pacar Dara yang berbeda sekolah dengan mereka. Sama-sama kelas 12 juga seperti mereka.
Dara dan Aldi sudah berpacaran sejak masih di bangku sekolah menengah pertama. Walaupun pisah sekolah, hubungan keduanya masih tetap lancar sampai hari ini.
Aldi dikenal sebagai pemuda yang sangat baik dan ramah. Wajahnya juga tak kalah tampan dari Dion, mantan Shandy. Dan setau Shandy dan Monik, selama ini Dara dan kekasihnya tidak pernah melakukan hal diluar berpegangan tangan dan berpelukan.
__ADS_1
Itulah kenapa mereka sedikit terkejut dengan berita yang diberikan oleh Dara. Mereka tidak menyangka bila sepasang kekasih itu sudah bertindak sejauh ini.
Dara menggeleng lemah. “Dia gak tahu. Aku masih belum berani cerita. Aku takut dia malah ninggalin aku.” Sahut Dara. Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.
Shandy meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat. “Lalu, rencana kamu selanjutnya bagaimana?”
“Aku tetap akan mempertahankan bayi ini. Kalau Aldi gak mau sama bayi ini, biarkan aku yang besarkan sendiri. Aku sudah cukup bersalah dengan hamil diluar nikah dan aku gak mau semakin merasa bersalah dengan menggugurkan bayi ini.” Sahut Dara pelan. Ada ketegasan dari nada suaranya.
Shandy dan Monik tersenyum mendengar kalimat Dara. “Itu baru Dara yang kami kenal. Gak akan pantang menyerah dengan apapun yang terjadi,” sahut Monik sambil tersenyum lebar.
Dara menatap kedua sahabatnya ragu-ragu. Ia seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi ragu ingin mengatakannya. “Kamu mau ngomong apa? Bilang aja sama kita. Atau kamu mau makan sesuatu?” Tanya Shandy yang menyadari tatapan Dara.
“Kalian masih mau kan jadi temanku? Kalau nantinya aku terpaksa harus keluar dari sekolah dan ikut homeschooling, kalian masih mau kan jalan sama aku?” Cicit Dara lirih.
Shandy langsung memeluk Dara dan memarahinya. “Apa yang kamu pikirkan? KIta akan jadi sahabat selamanya dan itu tidak akan terbantahkan. Mau nanti kita udah punya anak, beruban dan bahkan sudah pikun, kita akan tetap jadi sahabat.”
Monik mengangguk semangat. “Iya, Shandy benar. Apapun keadaan kamu atau kita nanti, kita akan jadi teman selamanya.”
Dara kembali menangis. Tapi kali ini tangis bahagia lah yang ia luapkan. Betapa bahagia dirinya memiliki sahabat yang luar biasa seperti Shandy dan Monik. Sahabat yang tidak hanya ada disaat senang, tapi juga seperti payung di kala hujan. Selalu ada di semua situasi. Betapa beruntungnya Shandy.
“Nah, cukup nangis-nangisnya. Sekarang kita rapikan kamar kamu. Kasihan banget dedek kecil ini. Mamanya orang yang berantakan.” Goda Monik yang membuat tawa keluar dari bibir Dara dan Shandy.
Dan ketiganya memutuskan untuk membersihkan kekacauan di kamar besar Dara. Tentu saja dibantu oleh bi Inem, pembantu Dara.
Setelah acara membersihkan kamar yang cukup melelahkan, mereka bertiga memutuskan untuk makan malam. Agak terlalu awal sebenarnya mengingat ini masih pukul 5 sore. Tapi tenaga mereka sudah habis terkuras untuk acara bersih-bersih tadi.
Bi Inem memutuskan menyajikan sup hangat yang penuh dengan sayuran dan juga ayam. Mereka memakan masakan bi Inem dengan sangat lahap.
Waktu telah menunjukkan hampir pukul 6 dan Monik beserta Shandy memutuskan untuk pulang. Mereka sudah ijin terlalu lama.
"Besok masuk kan? Gak, besok harus masuk pokoknya. Sehari tanpa Dara sama sekali gak seru," seru Shandy saat mereka berjalan bersama menuju ke mobil Monik.
__ADS_1
Dara tersenyum dan mengangguk semangat. "Masuk dong. Aku juga kangen banget sama kalian."
Shandy dan Monik tersenyum lebar mendengarnya. "Sampai ketemu besok ya." Dan mobil Monik melaju meninggalkan rumah Dara.