
Hari sudah menjelang siang dan matahari hampir berada tepat di puncak ketika Shandy siap menunggu jemputan Dirga. Bunda dan papa sudah berangkat sejak pagi hari.
Ya, mereka akan pergi bersama untuk mencari kado ulang tahun ayah Dirga. Bahkan sejak pagi bunda sudah heboh mengingatkannya akan janji siang ini.
Lihat, bunda bahkan sekarang menelfonnya lagi entah untuk yang ke berapa kalinya sejak pagi. Belum lagi dengan deretan pesan yang bahkan enggan Shandy balas.
"Ya bunda sayang. Ada apa lagi?" sahut Shandy dengan suara malas bercampur sedikit kesal.
"Sayang, kamu udah sama Dirga? Jadinya beli kado dimana?" berondong bunda dengan pertanyaan.
"Bunda sayang. Wahai bundaku yang paling kucinta di bumi ini. Dirga bahkan belum menampakkan batang hidungnya sekarang. Dan bisa bunda lihat ini udah hampir jam 12. Jadi, sebenarnya jadi apa gak?" tanya Shandy menahan emosi.
"Ya ampun, kamu kok gak bilang bunda sih? Sebentar, bunda telfon tante Diah dulu,"
Sebelum Shandy sempat menjawab, bunda melanjutkan perkataannya lagi. "Eh, gimana kalo bunda minta nomer Dirga ke tante Diah? Biar kamu kontak sendiri aja langsung. Gimana?"
"Bun, Shandy udah mau diajak nyari kado hari ini aja sebenarnya udah bagus banget lho. Dan sekarang bunda bilang apa? Ngechat sendiri? Gak bun, makasih. Mending Shandy ke butik aja daripada kering disini nungguin," tukas Shandy penuh emosi.
Dan ditengah luapan emosinya kepada sang bunda, ia melihat mobil hitam Dirga baru saja terparkir apik di halaman rumah Shandy. Tidak ingin membuat bunda semakin mengomel di telfon, ia segera mengabari sang bunda bila Dirga sudah tiba.
"Bun, Dirga udah sampe. Yaudah aku berangkat dulu," pamit Shandy pada sang bunda.
"Iya sayang, hati-hati di jalan. Dan jangan lupa, Kak Dirga," ujar bunda dengan penekanan di akhir kalimatnya yang hanya dijawab Shandy dengan gumaman sebelum panggilannya ia akhiri.
Segera ia meraih tas tali mungil berwarna peach yang sudah ia siapkan sejak tadi. Senada dengan mini dress yang ia gunakan. Dan kali ini, dirinya hanya mengenakan sepatu dengan hak kecil karena mereka mungkin akan banyak berjalan.
"Udah nunggu lama?" tanya Dirga begitu dirinya memasuki mobil pria itu.
__ADS_1
'Aromanya masih sama,' batin Shandy. Campuran antara musk dan citrus yang jujur membuat pria itu terasa sangat dewasa bagi Shandy.
Teman-teman sekolahnya hanya menggunakan parfum yang biasa dipakai oleh anak remaja. Begitu juga aroma mobil merek, sangat remaja. Paling yang berbeda hanya aroma kopi atau coklat.
Tapi ini berbeda. Ini aroma dewasa, kalau menurut Shandy.
"Ya coba aja dipikir. Janjian jam 10 dan ini bahkan udah hampir jam 12. Udah sampe kering nunggunya," sahut Shandy ketus.
"Sorry, tadi tiba-tiba ada urusan penting dari pagi. Dan baru selesai 30 menit yang lalu. Dan aku juga gak ngasih tau bunda. Sorry ya," ucao Dirga sambil menatap Shandy. Yang ditatap hanya melihat jalan di depannya sambil berdeham.
"Yaudah, terus ini mau kemana? Mau cari kado dimana?" tanya Shandy mengalihkan pembicaraan.
Dirga bergegas membuka ponselnya dan mencari chat dari sang bunda. Beliau sudah memberi list kiranya apa saja yang bisa mereka beli sekaligus merek kesukaan sang papa.
"Kata bunda, kalo gak jam tangan ya dasi.Kalo terlalu simpel, bisa ditambah jas juga. Tapi ada pilihan sepatu juga," ujar Dirga sambil membaca list dari sang bunda.
"Hmm, ide bagus," ujar Dirga sambil menyalakan mesin mobilnya dan mobil mulai berjalan meninggalkan halaman rumah Shandy.
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Shandy masih kesal karena harus menunggu lama tanpa kabar terlebih dahulu. Sedangkan Dirga tidak tahu mau membicarakan apa.
Keduanya akhirnya tiba di sebuah toko brand terkenal daerah Jakarta Pusat. Merek ini merupakan merek kesukaan ayah Dirga.
Keduanya pun bergegas masuk dan memilih kiranya barang apa yang pantas dijadikan kado. Sesuai saran dari bunda Dirga, mereka memulai dari jam tangan dan dasi. Ada beberapa pilihan sebenarnya, tapi karena perdebatan tiada akhir dari keduanya, akhirnya mereka memutuskan menelfon bunda Dirga.
"Kalian ini, disuruh pergi berdua itu biar bisa diskusi. Kenapa jadi berantem sendiri?" omel bunda Dirga di telfon.
"Dia tuh yang mulai. Udah Dirga bilang, papa sukanya warna gelap. Eh, dia malah mau beli warna merah. Merah terang pula bun," adu Dirga yang langsung dibalas delikan mata tidak terima oleh Shandy.
__ADS_1
"Maksud Shandy biar gak monoton gitu tante. Om Rio kan kulitnya terang, jadi Shandy rasa pasti cocok dengan warna merah," ujar Shandy mencoba membela diri.
Terdengar suara helaan nafas berat di seberang telfon. "Bunda gak mau tahu ya. Pokoknya kadonya harus dapat hari ini. Entah gimana cara kalian diskusi. Udah ya, bunda mau lanjut lagi," dan sambungan telfon pun dimatikan secara sepihak.
Shandy langsung menatap Dirga yang juga sedang menatapnya.
"Jadi gimana? Mau ini aja atau cari yang lain dulu?" tanya Shandy.
"Yang lain dulu aja. Siapa tahu ada yang lebih bagus," ujar Dirga sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko.
Dan pandangan Dirga jatuh pada sebuah jas berwarna biru gelap yang berada di salah satu sudut toko. Entah kenapa ia merasa jas itu terlihat sangat elegan dan mewah.
"Gimana kalo jas itu? Bagus kan?" tanya Dirga meminta pendapat pada Shandy.
Shandy segera mengarahkan pandangannya dan ia harus mengakui bahwa mata Dirga sangat jeli. Ya, jas itu memang terlihat sangat bagus.
"Boleh, bagus tuh. Ambil itu aja sih," dan Dirga langsung memanggil salah seorang penjaga toko dan memintanya untuk membungkus dengan rapi.
"Tidak mau dicoba dulu? Siapa tahu ukurannya kurang pas?" tanya si penjaga toko meyakinkan.
Shandy memandang Dirga seolah memberi kode. Dan pria itu langsung menerima tawaran si penjaga toko. Ia pernah mencoba jas milik ayahnya dan ukuran tubuh mereka juga tidak jauh berbeda. Jadi, ia rasa akan cocok bila ia mencobanya.
Shandy menunggu di depan kamar pas dan begitu Dirga keluar, mata para penjaga toko langsung tertuju pada pria itu. Jas itu melekat dengan sangat luar biasa di tubuh atletis Dirga. Dan Shandy tidak bisa untuk tidak ikut terpesona melihatnya.
"Kenapa? Terpesona ya lihat aku yang setampan ini?" goda Dirga yang langsung menghancurkan mood Shandy.
"Bodo," sahut Shandy ketus sambil berjalan meninggalkan Dirga yang tertawa puas habis menggodanya.
__ADS_1
'Sial, Shandy kenapa gak bisa tahan diri sih? Dan kenapa cowok itu kelihatan keren banget? Ah, pikiranku kenapa sih,' Raung batin Shandy yang terus memaki dirinya sendiri.