I Love You, Pak

I Love You, Pak
33.


__ADS_3

"Shan, kamu sebenarnya ada hubungan apa sih sama pak Dirga?" Tanya Dara tiba-tiba.


Ketiganya telah berada di rumah Dara dan bersiap akan menonton film bersama. 


Shandy hampir saja menyemburkan minumannya mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Dara.


"Dar, kamu kenapa sih? Kok bisa mikir ada sesuatu antara Shandy dan pak Dirga?" Sela Monik yang membuat Shandy bisa sedikit bernafas lega.


Mengabaikan pertanyaan Monik, Dara menatap mata Shandy serius. "Jawab jujur. Kamu ada hubungan kan sama pak Dirga? Kelakuan kalian aneh sejak pertama bertemu. Kalian seperti bukan pertama kali bertemu. Dan kalau boleh jujur, sikap Shandy dengan pak Dirga dan dengan Dion beda," jelas Dara panjang.


Shandy sudah kehabisan kata mendengar kalimat Dara. Ia hanya berpikir kenapa Dara bisa sesensitif ini? Apakah bawaan bayinya?


Monik menatap Shandy penasaran. "Emangnya bener apa kata Dara? Kamu ada hubungan sama pak Dirga?"


Shandy menghela nafas berat. "Bukan hubungan yang seperti kalian bayangkan. Hanya, ya. Kami memang sudah pernah bertemu sebelumnya. Bunda Dirga salah satu pelanggan tetap di butik bundaku. Dan ya, semuanya terjadi," jelas Shandy.


Dara tersenyum menatapnya. "See? Kamu bahkan nggak manggil dia pak atau kak. Kamu yakin cuma sebatas itu hubungan kalian? Nggak lebih?"


Shandy mengerucutkan bibirnya mendengar godaan Dara. "Beneran kok. Cuma itu aja."


"Lalu apa arti pesan pak Dirga di ponsel kamu?"


Shandy membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Dara. "Kamu buka hp ku? Kok lihat pesan sih?" Pekiknya panik.


Dara yang melihat reaksi Shandy tertawa terpingkal-pingkal. "Padahal aku cuma bohong lho. Ternyata benar ada pesannya."


Ya tuhan, tolong siapapun kubur Shandy sekarang. Bagaimana ia bisa membuka semua aibnya sendiri?


Dara dan Monik yang melihat bagaimana reaksi panik tertawa kencang. Betapa menggemaskannya sahabat mereka satu ini.


"Udah udah. Nanti nangis Shandy kalau diejekin terus," ujar Dara yang melihat raut wajah Shandy yang semakin keruh.

__ADS_1


"Nah, karena semuanya sudah terbongkar, silahkan ceritakan semuanya," ujar Monik sambil memainkan alisnya.


Malam itu akhirnya Shandy menceritakan segalanya pada kedua sahabatnya. Termasuk bagaimana perasaannya melihat kedekatan Dirga dan Alea juga reaksi kedua orang tua mereka.


Kedua sahabatnya hanya mendengar dengan serius. Mereka tidak mengatakan apapun. Bahkan mereka tidak mengatakan kata-kata yang ditakutkan Shandy.


Pagi telah tiba dan Shandy lah yang pertama terbangun. Mereka tidur bertiga di kamar Dara.


Matahari mulai masuk lewat celah-celah jendela kamar Dara. Suasana di luar rumah masih sangat sepi dan sunyi.


Shandy meraih ponselnya, sekedar untuk memastikan pukul berapakah sekarang.


Benar saja, waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi. Pantas saja masih sepi. Lagipula ini hari minggu, semua orang ingin bangun sedikit lebih siang.


Dilihatnya ada beberapa pesan masuk di ponsel. Ada beberapa pesan dari bunda yang memastikan pukul berapakah Shandy akan pulang.


Tapi sebuah pesan dari Dirga menarik perhatian Shandy. Pria itu kembali menanyakan apakah Shandy bersedia diajak keluar.


Shandy akhirnya memilih membalas pesan Dirga dengan kesediaannya bertemu.


Shandy sudah hampir meletakkan ponselnya lagi ketika ponselnya kembali berbunyi. Segera dibukanya dan ternyata balasan dari Dirga.


Dirga : ketemu jam berapa? Aku jemput kamu di rumah Dara?


Shandy : memangnya tahu rumah Dara dimana?


Dirga : aku guru kalian kalau kamu lupa.


Shandy mengernyitkan dahinya. Memangnya kalau guru pasti tahu rumah seluruh siswanya? Gerutu Shandy dalam hati.


Shandy: Jemput jam 11 aja.

__ADS_1


Setelahnya ia mendengar pesan kembali. Tapi ia sudah malas membalas. Tubuhnya kembali di rebahkan di kasur bersama kedua sahabatnya yang masih tertidur nyenyak.


Shandy merasa tubuhnya digoyang oleh seseorang. Begitu ia membuka mata, wajah Dara yang tersenyum menyambutnya.


"Selamat pagi putri tidur. Waktunya bangun dan sarapan," sapa gadis itu sambil tersenyum. Dara terlihat sangat segar. Sepertinya  ia baru saja mandi. Rambutnya terlihat masih sedikit basah.


"Aku ketiduran lagi ternyata. Tadi jam 6 sudah bangun, tapi baring lagi dan ketiduran," ujar Shandy sambil berusaha bangkit dari tidurnya.


"Jam berapa sekarang?" Tanyanya sambil mengucek matanya.


"Ini sudah jam 8 pagi. Segera cuci muka dan ke ruang makan. Bibi udah siapin sarapan buat kita. Kayaknya Monik malah udah mulai sarapan," sahut Dara sambil berjalan meninggalkan kamar.


Shandy segera beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi yang berada di sebelah kiri kamar Dara.


Selesai dengan cuci muka, Shandy bergegas menuju ruang makan. Terlihat Dara dan Monik sedang menikmati sarapan mereka.


"Pagi Shandy. Tidurnya nyenyak?" Sapa Monik begitu Shandy duduk di depannya.


Shandy mengangguk. Ia segera mengambil sepotong roti bakar dan mengolesinya dengan selai coklat.


"Eh, nanti siang main yuk. Kemana gitu," celetuk Dara di tengah acara sarapan mereka.


"Maaf aku nggak bisa. Udah ada janji," ujar Shandy sambil menatap kedua sahabatnya.


Dara dan Monik saling berpandangan dan tersenyum jahil menatap Shandy. "Sama pak Dirga ya?" Goda Dara.


Shandy hanya mengangguk pelan. Ia tidak berani menatap wajah kedua sahabatnya yang pasti sangat senang itu. Senang menggoda Shandy.


"Wah, kencan hari minggu nih ceritanya. Kita ditinggal Dar. Shandy udah sibuk kencan sekarang," ujar Monik. Ia bahkan memasang tampang pura-pura sedih.


Shandy melemparkan tisu ke arah Monik." Gak lucu." Dan tawa kembali meledak dari ketiganya.

__ADS_1


__ADS_2