
***
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi disaat Eric selesai mandi dan sarapan.
Tadinya Eric berniat untuk menghabiskan liburannya hari ini dengan tidur seharian di rumah. Tapi ternyata tidak bisa.
Eric bosan.
Lagi pula hari ini langit terlihat sangat cerah. Sangat disayangkan bila harus tidur seharian disaat cuaca secerah ini.
Eric mengambil tas kecilnya, setelah itu berjalan kearah pintu. Begitu Eric membuka pintu, tiba-tiba dia dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang tengah berdiri didepannya.
Entah sejak kapan.
"Audrey ...?"
"Pagi..." Sapa Audrey terdengar begitu lembut.
"Ah, iya, pa, pagi ..." Jawab Eric terbata.
"Ada apa, Audrey? Apa ada yang ingin kau katakan padaku? Kenapa kau tidak mengetuk pintunya?"
"Ti, tidak. Aku baru saja sampai disini, saat aku mau mengetuk pintu, kau sudah lebih dulu membukanya"
Bohong!
Sebenarnya Audrey sudah berdiri disana selama hampir setengah jam.
Audrey ragu saat ia hendak mengetuk pintunya.
Semalam Audrey tidak bisa tidur. Audrey tidak tahu bahwa ternyata rasanya sesesak ini saat ia menghindari Eric.
Audrey gelisah dan juga merasa bersalah.
Padahal tadi malam Eric sama sekali tidak melakukan kesalahan padanya. Eric hanya ingin membantunya untuk bangkit. Tapi ia malah meninggalkan Eric begitu saja.
Karena itulah, pagi-pagi sekali Audrey sudah bangun, kemudian bersiap-siap menunggu Eric didepan pintu apartementnya.
Eric tersenyum.
"Apa hari ini kau mau ikut bersamaku?" Tanya Eric tiba-tiba.
Audrey mengangkat kepalanya menatap kearah Eric, kemudian mengangguk perlahan.
Eric bisa melihat ada senyum manis di balik masker itu.
"Ayo." Ajak Eric antusias.
Eric refleks menggandeng tangan Audrey.
__ADS_1
Audrey terkejut.
Tapi ia sama sekali tidak berniat melepaskan genggaman tangan Eric.
Tiba-tiba saja jantung Audrey berpacu lebih cepat. Audrey menatap kearah tangan mereka yang saling bertautan.
Rasanya begitu nyaman.
Audrey kembali menyunggingkan senyumnya dalam diam.
***
Eric sangat senang saat melihat Audrey begitu antusias melihat binatang-binatang. Semuanya terpancar jelas di mata Audrey. Matanya terlihat berbinar dan bahagia.
Saat mereka sedang berada di kandang kucing. Eric bisa menarik sebuah kesimpulan, dari sekian banyak binatang yang berada disini, Audrey terlihat lebih menyukai kucing. Eric melihat wajah Audrey berbinar saat sedang bermain dengan kucing-kucing itu.
Entah kenapa tiba-tiba saja Eric ingin menjelma menjadi kucing.
Eric iri.
Bodoh memang!
Tapi itu kenyataannya.
Eric mendekati Audrey, lalu mengusap kepala kucing yang berada didalam gendongan Audrey.
Jantung Audrey kembali eksistensinya disaat ia melihat kedalam bola manik kecoklatan Eric yang tengah menatap kearahnya dengan senyuman manis dibibirnya.
Pegangan tangan Audrey melemah, tiba-tiba saja kucingnya melompat.
Audrey yang tidak siap dengan pergerakan selemah apapun menjadi kehilangan keseimbangannya. Eric dengan segera meraih pinggang ramping Audrey disaat gadis mungil di depannya hampir saja oleng.
Kini Eric dan Audrey saling menatap intens, dengan jantung yang sama-sama bergemuruh.
Perlahan, tangan Eric terangkat keatas. Eric membuka salah satu tali masker di telinga Audrey.
Wajah cantik dan manis pun terlihat disana.
Bagi Eric, tidak ada satupun yang bisa mengalahkan kecantikan dan keindahan Audrey.
Warna langit jingga saat matahari terbenam pun bahkan masih kalah indah.
Eric tahu, kata-kata itu saja tidak akan cukup untuk mendeskripsikan keindahan di diri Audrey.
Eric benar-benar tidak sanggup menahan perasaannya lagi.
Gadis mungil yang tengah berdiri didepannya saat ini telah benar-benar mencuri hatinya. Bahkan mencuri separuh dunianya.
Eric semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Audrey. Sedangkan Audrey hanya mampu diam. Saat kedua bibir mereka hampir saja bertemu, tiba-tiba Audrey mendorong tubuh Eric.
__ADS_1
Eric terkejut.
Sedangkan Audrey bergegas memakai maskernya kembali sambil berusaha menetralkan detak jantungnya yang terus menghentak kuat.
Eric melihat kesamping kiri dan kanan. Eric hampir lupa bahwa saat ini mereka sedang berada ditempat umum. Eric melihat kearah Audrey yang saat ini tengah kembali bermain dengan kucing.
Tiba-tiba saja Eric merasa kikuk dan takut. Eric takut perbuatannya tadi menyinggung perasaan Audrey.
Sore harinya Eric dan Audrey pun pulang.
Eric dan Audrey hanya terdiam saat di perjalanan. Bahkan Eric yang biasanya selalu memecah kesunyian diantara mereka pun, bahkan kali ini tidak berkutik.
Rasa kecanggungan menyerang keduanya semenjak peristiwa dikandang kucing tadi.
Saat Audrey hendak masuk ke apartementnya, Eric masih menunggu di belakang Audrey.
Eric bahkan tidak sanggup mengucapkan kata 'selamat malam'.
Saat ini tangan Audrey masih memegang handle pintu, namun Audrey sama sekali belum menurunkan handlenya. Sedangkan Eric masih berdiri dibelakang Audrey sambil menatap punggung Audrey.
Tiba-tiba saja Audrey berbalik.
"Terima kasih untuk hari ini." Lirih Audrey pelan, lalu menurunkan maskernya.
Cuuppp!
Eric terkejut.
Audrey mencium pipinya dengan secepat kilat, setelah itu Audrey bergegas masuk kedalam apartementnya.
Eric masih berdiri mematung ditempatnya sambil memegang pipinya yang barusan di kecup Audrey.
Eric masih tidak percaya dengan kejadian tadi.
Audrey baru saja menciumnya?
Is this just a dream?
Eric mencubit pipinya kuat-kuat.
"Aahhh!" Pekik Eric saat ia merasa sakit.
Eric mengusap pipinya yang memerah.
Eric merasa sakit dipipinya. Tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan kebahagiaannya hari ini.
Eric kembali mengusap pipinya, kali ini dibagian pipi yang di kecup Audrey.
Eric pun melangkah ke apartementnya dengan hati berbunga-bunga.
__ADS_1