I'M Not Perfect

I'M Not Perfect
11. Masalah


__ADS_3

Audrey baru saja selesai mandi. Kemudian kakinya perlahan melangkah kedepan cermin.


Audrey memandangi pantulan wajahnya disana.


Audrey tidak pernah melihat wajahnya sendiri semenjak peristiwa itu.


Audrey benci!


Takut!


Muak!


Perasaan seperti itulah yang kerap muncul di setiap kali ia melihat wajahnya sendiri.


Namun perasaan itu tiba-tiba sirna.


Audrey masih berdiri didepan cermin dengan mata yang terus menatap wajahnya. Perlahan tangan Audrey terangkat, mengusap lembut pipinya, matanya, hidungnya, kemudian bibirnya.


Sudah lebih dari satu tahun, Audrey tidak pernah melihat wajahnya sendiri di cermin. Tidak banyak yang berubah, Audrey tidak habis pikir bagaimana mungkin wajahnya masih terlihat manis dan cantik meskipun wajahnya lebih sering tertutup masker.


Audrey menyunggingkan senyum tipisnya, hampir tak terlihat. Namun tarikan kecil di sudut-sudut bibirnya itu sudah mampu membuat wajahnya yang cantik, menjadi lebih cantik.


Rona merah tercetak jelas disana saat bayangan Eric tiba-tiba muncul dibenaknya.


Audrey merasa perasaan aneh yang akhir-akhir ini melandanya, terasa semakin kuat.


Audrey menyisir rambutnya, kemudian ia meraih benda kecil di dalam laci, yang sudah lama tidak pernah ia pakai. Audrey memoles bibirnya dengan lipblam, sehingga bibirnya yang biasanya kering, kini menjadi sedikit basah dan mengkilat.


Tiba-tiba Audrey seperti di hadapkan pada kenyataan.


Apa yang sudah ia lakukan?!


Berlama-lama di depan cermin?


Mengagumi betapa cantiknya wajah yang terpantul di depan cermin?


Lalu.......


Berdandan?!


Sial!


Bahkan sebelum ini untuk memandang wajahnya pun Audrey tak sudi!


Tapi kenapa hari ini tiba-tiba Audrey bersikap aneh seperti ini?!


Audrey merasa ada yang salah dengan otaknya.


Audrey meraih tisue.


Saat ia baru saja ingin menghapus lipblam dibibirnya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.


Audrey dengan cepat memakai maskernya.


Tok tok tok!


Audrey bergegas membuka pintu.


Ceklek.


Eric!


"Hai. Selamat pagi." Ucap Eric sambil mengusap tengkuknya.


Kejadian semalam cukup membuat Eric dan Audrey terjebak dalam kecangguan.


Audrey mengangguk sambil menunduk.


Eric menatap wajah Audrey dengan intens. Meski wajahnya tertutup masker, tapi entah kenapa Audrey terlihat begitu berbeda pagi ini.


Terlihat lebih......


Cantik!

__ADS_1


Tanpa sadar, tangan Eric terangkat ke wajah Audrey.


Audrey menatap tangan Eric yang kini semakin mendekat kearahnya, berada dikedua sisi wajahnya.


Entah pikiran apa yang merasuki Eric saat ini, sampai dengan beraninya Eric memegang tali masker Audrey di kedua telinganya, lalu perlahan Eric membukanya.


Deg deg! Deg deg!


Jantung Audrey berpacu dengan cepat.


Tubuh Audrey seperti terpaku pada lantai sehingga dia tidak sanggup menggerakan tubuhnya sedikitpun untuk menepis tangan Eric. Bahkan bibirnya pun terasa kelu untuk sekadar melontarkan umpatan kecil kepada Eric yang sudah dengan beraninya membuka maskernya.


Akhirnya masker Audrey pun terbuka.


Menampilkan seraut wajah cantik Audrey yang hari ini nampak begitu berbeda. Lebih mempesona.


Eric terpana sampai beberapa detik.


Hingga akhirnya Audrey tersadar, lalu merebut masker ditangan Eric dan memakainya kembali.


Eric kikuk.


Bodoh!


Apa yang aku lakukan? Bagaimana kalau Audrey marah padaku.


"Ah! Maaf, Audrey.....aku...."


Brukk!


Audrey kembali masuk ke apartementnya lalu menutup pintunya.


Eric sedikit terkejut.


"Ah! Sial! Apa yang kau lakukan Eric? Kau membuatnya marah!" Umpat Eric pada dirinya sendiri.


Eric menatap pintu apartement Audrey sampai beberapa detik. Akhirnya Eric membalikan tubuhnya, bersiap untuk pergi.


Lalu perlahan Audrey berjalan menghampiri Eric.


"Ayo kita berangkat." Ucap Audrey pelan, lalu berjalan lebih dulu melewati tubuh Eric.


Eric terkesiap sesaat, setelah itu ia pum bergegas mengimbangi langkah-langkah kecil Audrey.


"Audrey ..." Panggil Eric pelan.


Audrey menoleh.


"Setelah kelas pertama selesai, kita bolos kelas berikutnya yuk ..." Ajak Eric tiba-tiba.


Audrey sontak menghentikan langkahnya. Lalu menoleh kearah Eric.


"Eu.... Sebelum aku bekerja, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


"Kemana?" Tanya Audrey bingung.


"Nanti kau juga tahu. Bagaimana? Mau tidak?"


Audrey terdiam, tampak berpikir.


"Maaf, bukannya aku ingin mengajakmu bolos. Aku janji, ini yang pertama dan terakhir kalinya aku mengajakmu bolos. Bagaimana?"


Audrey menoleh kearah Eric sekilas, lalu ia pun mengangguk.


Senyum Eric mengembang.


"Baiklah, kalau begitu seperti biasa. Kita bertemu di gedung belakang kampus ya."


Audrey mengangguk.


Tanpa Eric sadari, ada rona merah yang terlukis di wajah Audrey yang tertutup masker.


Audrey kembali menunduk dengan detak jantung yang tidak memiliki ritme.

__ADS_1


***


Saat Eric baru saja hendak masuk kedalam kelas, tiba-tiba Jordi dan Rendy menghalangi jalannya didepan pintu.


"Ada apa lagi?" Tanya Eric datar.


"Ini terakhir kalinya aku mengajakmu. Ayo kita latihan bersama saat jam istirahat nanti." Ucap Jordi.


Eric terdiam sejenak sambil menatap kearah dua temannya itu.


"Kalau aku tidak mau?" Tantang Eric.


"Kau.... Shh...." Jordi benar-benar emosi, hampir saja ia melayangkan tinjunya kearah Eric, namun Rendy menahan tangannya.


Eric pun menerobos masuk kedalam kelasnya dengan menghalau bahu Jordi dan Rendy.


Eric berhenti sesaat sebelum dia melangkah ke mejanya.


"Jangan buang-buang waktu kalian. Lebih baik kalian cari orang lain saja yang bisa menggantikan aku. Karena mulai hari ini, aku keluar dari team basket." Ucap Eric tegas, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"KAU INI BENAR-BENAR BRENGSEK! KAU PIKIR KAU SIAPA, HAH?" Teriak Jordi emosi.


Semua mata sontak menatap kearah Jordi dan Rendy, namun Eric tetap duduk dikursinya dengan tenang.


Rendy masih berusaha menahan tubuh Jordi.


"LIHAT SAJA! KAU AKAN MENYESAL KARENA TELAH MENYEPELEKAN KAMI!"


"Sudah-sudah Jordi, lebih baik kita kembali ke tempat duduk kita. Kita akan buat perhitungan dengannya nanti." Ucap Rendy tepat di telinga Jordi.


Setelah itu Jordi dan Rendy pun kembali ke meja mereka masing-masing.


***


Setelah kelas pertama usai, Audrey bergegas pergi ke gedung belakang kampus.


Seperti biasa, Audrey duduk selonjoran di bawah pohon besar sambil mendengarkan musik melalui earphonenya dengan mata terpejam.


Sebenarnya Audrey merasa gelisah. Ia tidak tahu kenapa Eric tiba-tiba mengajaknya bolos dan bilang ingin membawanya kesuatu tempat.


Audrey tidak tahu apa yang sebenarnya Eric rencanakan.


Audrey terus memejamkan matanya sambil memegang dadanya yang sedari tadi terus menghentak kuat.


Audrey benar-benar tegang menunggu kedatangan Eric.


Tiba-tiba Audrey merasa ada yang melangkahkan kakinya mendekat kearahnya. Jantung Audrey semakin berpacu cepat.


Audrey membuka earphonenya, lalu perlahan menoleh ke samping.


Dua orang laki-laki bertubuh tinggi sedang menyeringai kearahnya.


Audrey sontak terbangun.


Tubuhnya bergetar hebat disaat salah satu dari mereka semakin mendekatinya, lalu tiba-tiba menarik maskernya hingga terlepas.


Audrey terkejut.


Lalu berusaha menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, namun salah satu dari mereka menahan tangan Audrey kebelakang.


Perlahan laki-laki yang berdiri didekatnya menghampiri Audrey, lalu menarik dagunya agar sejajar dengannya.


"Lihatlah! Dia begitu cantik! Sayang sekali karena kecantikannya ini harus disembunyikan di balik maskernya."


Audrey berusaha berteriak, namun seseorang yang memegang tangannya menutup mulutnya kuat-kuat.


"Heempphh...... Heemmpphh....!" Audrey berusah memberontak.


"Wah ternyata suaramu juga terdengar merdu. Ku pikir kau bisu. Tapi ternyata tidak. Kau benar-benar luar biasa." Ucapnya tepat didepan wajah Audrey.


"Heemmpphh..... Heemmpphh.....!" Audrey masih berontak, kali ini dengan airmata yang sudah keluar dari sudut-sudut matanya.


"Ayo, kita bawa dia."

__ADS_1


__ADS_2