I'M Not Perfect

I'M Not Perfect
7. Buka Hatimu Part 1


__ADS_3

Audrey mengerjap perlahan. Matanya terasa hangat dan membengkak.


Audrey menangis dipelukan Eric hingga tertidur. Entah berapa lama Audrey tertidur di pelukan Eric.


Audrey mendongak, menatap laki-laki yang sudah setia mendengarkan kisah masa lalunya yang kelam. Audrey merasa berat beban yang selama ini menghimpit dadanya terasa berkurang.


Audrey menelusuri wajah Eric dari dekat. Wajah tampan itu tengah terpejam. Audrey menarik sudut-sudut bibirnya yang selama ini tidak pernah ia lakukan.


Terasa kaku.


Setelah sekian lama tersembunyi di balik masker.


Senyum tipis itu pun akhirnya tercipta.


Sangat manis.


"Eungh ....!"


Kelopak mata Eric mengernyit di saat ia merasakan hangatnya sinar matahari. Yang masuk melalui celah gorden tipis berwarna biru muda, warna kesukaan Audrey.


Audrey sontak membenarkan posisi duduknya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Eric menegakan tubuhnya, memandang ke sisi kiri dan kanannya, mencari sosok Audrey.


Kelopak mata Eric terbuka sepenuhnya disaat ia menyadari gadis mungil itu sedang duduk di sisi kanannya, dengan sedikit memunggungi Eric.


"Audrey ...." Panggil Eric lembut.


Audrey sama sekali tidak berani menoleh ke arah Eric.


Audrey merasa malu. Amat sangat malu. Kini Eric sudah mengetahui tentang kisah masa lalunya.


Audrey sendiri tidak tahu, kenapa ia bisa menceritakan semuanya dengan mudah kepada laki-laki yang baru ia kenal. Bahkan kepada kakaknya sendiripun ia tidka berani menceritakannya.


Tapi saat tangan besar laki-laki itu mengusap punggungnya dengan lembut. Audrey merasa sangat nyaman, sehingga dalam sekejap ia melupakan traumanya saat bersentuhan dengan orang lain.

__ADS_1


Audrey tidak tahu reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh laki-laki itu setelah tahu masa lalunya.


"Audrey ..." Lirih Eric lagi.


"Apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Eric.


Audrey mengangguk. Lalu bergegas bangkit dari tempat duduknya. Eric melihat Audrey mencari-cari maskernya.


"Audrey?"


Audrey yang sedikit terkejut. Hanya berdiri menunduk didepan Eric. Kedua tangannya saling bertautan, seolah saling memberi kekuatan agar ia berani menghadapi Eric.


"Audrey, mulai sekarang kau tidak perlu lagi menyembunyikan wajahmu di depanku. Lagian aku juga sudah beberapa kali melihat wajahmu." Ucap Eric lembut.


"Ak.....aku takut Eric" Akhirnya Audrey membuka suaranya.


"Takut kenapa?"


"Semua musibah yang menimpahku disebabkan oleh wajahku. Wajahku ini pembawa malapetaka Eric. Aku benci pada wajahku sendiri! Aku tidak ingin memiliki wajah seperti ini. Aku sangat membenci wajah ini, Eric! Aku sangat membencinya!" Audrey mengusap kasar wajahnya sendiri berulang-ulang.


"Audrey! Hentikan Audrey! Kau bisa melukai wajahmu sendiri."


Audrey kembali sesegukan.


"Audrey, wajahmu ini bukan pembawa malapetaka. Wajahmu ini adalah keindahan yang Tuhan anugrahkan kepadamu. Seharusnya kau bersyukur memiliki wajah secantik ini."


Audrey sontak menatap Eric.


"Percayalah padaku, Audrey. Musibah yang menimpamu bukan disebabkan oleh wajahmu, tapi karena orang-orang brengsek itu. Ku mohon, jangan pernah membenci wajahmu. Ku mohon ..."


Isak tangis Audrey mulai mereda. Setiap kata-kata yang meluncur dari mulut Eric, seperti obat yang menenangkan hatinya.


"Jika kau tidak sanggup memperlihatkan wajahmu di depan orang banyak, setidaknya cukup tunjukan padaku. Kau percaya padaku kan?"

__ADS_1


Audrey menatap intens kedalam manik mata kecoklatan milik Eric. Audrey bisa melihat ada sorot ketulusan yang memancar di sana.


"Audrey kau mau kan menjadi temanku?" Eric mengulurkan tangannya.


Audrey memandang tangan Eric selama beberapa menit.


Perlahan tangan Audrey menggerakan tangannya, berusaha menggapai tangan Eric yang masih dengan setia menunggu uluran tangannya. Dan di saat telapak mungil Audrey menyentuh permukaan telapak tangan Eric, Eric pun menjabatnya dengan erat.


Audrey memberanikan diri membalas tatapan Eric.


Laki-laki itu sedang tersenyum dengan tulus didepannya. Sudut-sudut bibir Audrey pun kembali menciptakan lengkungan garis indah di kedua pipinya.


Membuat jantung Eric meronta dan bergerak cepat. Eric berusaha menahan perasaannya kuat-kuat.


Ini baru permulaan.


Eric baru saja mendapatkan kepercayaan dari Audrey, sesuatu yang sangat sulit untuk didapat.


Kruyukkk..!


Eric terkejut tiba-tiba mendengar suara dari perut Audrey.


Eric terkekeh geli, sementara Audrey kembali menunduk menahan rasa malunya.


Mereka sudah melewatkan sarapan mereka. Ini bahkan sudah memasuki jam makan siang, namun belum ada sesuap nasi pun yang masuk kedalam perut mereka.


"Aku juga lapar, sebaikan kita makan dulu." Ucap Eric.


Lalu Eric dan Audrey berjalan ke arah meja kecil yang berada di tengah-tangah ruangan.


Eric duduk didepan Audrey.


Audrey menyiapkan makan untuk Eric ke atas piring, lalu menyodorkan piringnya kedepan Eric. Setelah itu ia menyendok makanan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Mereka pun makan dengan tenang. Tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Hanya sesekali terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


__ADS_2