
***
Eric membaringkan tubuh Audrey dengan hati-hati ke atas tempat tidurnya. Lalu Eric menyelimuti tubuh Audrey dengan selimut.
Eric menatap wajah Audrey yang masih terpejam. Eric menyingkirkan poni Audrey yang menghalangi matanya. Lalu Eric memberanikan diri menggenggam tangan Audrey.
"Maafkan aku, Audrey. Ini semua salahku. Tidak seharusnya aku mengajakmu bolos hari ini. Tidak seharusnya aku menyuruhmu menungguku di belakang gedung kampus saat masih di jam pelajaran. Dan tidak seharusnya kamu jadi ikut-ikutan masuk kedalam masalahku dengan mereka. Maafkan aku. Semua ini salahku, aku benar-benar minta maaf, Audrey..." Lirih Eric pelan sambil terus menciumi tangan Audrey.
Tubuh Eric bergetar, ia kembali menangis tanpa suara saat ia teringat kondisi Audrey tadi saat diruang klub basket.
Audrey benar-benar terlihat begitu lemah...
Begitu rapuh...
Dan mulai sekarang, Eric ingin sekali menjadi pelindungnya. Agar tidak ada satupun yang menyakitinya lagi.
Saat Eric hendak melepaskan tangan Audrey, tiba-tiba Audrey menggenggam tangan Eric.
Eric terkejut.
"Jangan pergi, Eric ... Ku mohon. Jangan tinggalkan aku. Tetaplah disisiku..." Ucap Audrey pelan dengan mata yang masih terpejam.
Eric tersenyum.
Lalu ia melingkarkan tangannya yang satu lagi di kepala Audrey. Kemudian berbisik tepat di telingannya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Audrey. Sekarang tidurlah dengan tenang. Aku akan selalu menjagamu disini. Jangan takut lagi, karena aku akan selalu berada di sisimu." Bisik Eric pelan.
Wajah Audrey kini terlihat damai. Tidak gelisah seperti tadi.
Tidak lama, terdengar suara napas Audrey yang mulai teratur.
Eric meraih ponselnya, melihat jam disudut kiri layar ponselnya. Sudah waktunya ia bekerja.
Akhirnya Eric menelpon tuan Mario untuk memberitahu bahwa hari ini ia tidak bisa masuk bekerja. Setelah mendapat izin, lalu Eric meletakkan kepalanya disisi tubuh Audrey, sambil terus menggenggam tangan Audrey.
Eric pun ikut memejamkan matanya.
***
Audrey terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Ia terkejut mendapati Eric tengah tertidur lelap di sisinya, dengan tangan mereka yang saling menggenggam erat.
Audrey tidak pernah tahu kenapa hanya dengan Eric, traumanya tidak pernah muncul.
Audrey membiarkan Eric melihat wajahnya. Tapi Audrey tidak mau oranglain melihat wajahnya.
Saat orang lain menyentuhnya seperti kejadian tadi saat dikampus, tiba-tiba saja traumanya muncul. Tapi saat bersama Eric, ia sama sekali tidak merasakan ketakutan seperti itu.
Eric yang menggenggam tanganya, Eric yang menyentuhnya, Eric yang menggendongnya, Eric yang memeluknya. Semua terasa begitu nyaman.
Audrey menatap wajah Eric dengan intens.
Wajah tampannya terlihat sangat pulas.
Audrey tersenyum.
Kini ia sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi bahwa ternyata ia memang mencintai laki-laki ini.
Laki-laki yang selalu melindunginya disaat ia sedang ketakutan.
Laki-laki yang berhasil masuk kedalam dunianya yang gelap.
Laki-laki yang perlahan membawanya kedunia yang lebih terang.
Laki-laki yang mulai ia cintai.
Perlahan tangan Audrey terulur, mengusap wajah Eric lembut.
Audrey terkejut saat tiba-tiba Eric bergerak, Audrey sontak menjauhkan tangannya dari wajah Eric.
Dan disaat Eric membuka matanya, mata mereka pun bertemu.
Membuat Audrey tidak bisa lagi menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas diwajahnya.
Saat Audrey hendak menutup wajahnya dengan selimut, tiba-tiba saja Eric menahan tangan Audrey.
__ADS_1
Eric ingin melihat keindahan ini lebih lama lagi. Perlahan Eric pun mengusap wajah Audrey dengan lembut.
"Audrey... Apa sekarang kau sudah baik-baik saja?" Tanya Eric.
Audrey mengangguk sebagai jawaban, dengan wajahnya yang masih merona.
Entah mendapat dorongan dari mana, tiba-tiba Eric semakin mendekatkan wajah mereka.
Mata Eric dan Audrey masih saling memandang seiring dengan jarak mereka yang semakin menipis.
Saat bibir mereka hampir bertemu, Eric memandang Audrey dengan lebih intens, seakan meminta izin kepada sang pemilik bibir.
Tiba-tiba Audrey memejamkan matanya, pertanda memberikan izinnya pada Eric.
Eric pun melanjutkan aksinya. Dan getaran-getaran tak bernama itu muncul dihati Eric dan Audrey disaat saling bersentuhan.
Hanya saling menempel.
Mereka terpaku dengan posisi itu sampai beberapa detik. Hingga akhirnya Eric memberanikan diri untuk bertindak lebih lanjut. Eric menggerakan bibirnya perlahan, mencium bibir Audrey dengan sangat lembut, seolah bibir Audrey adalah benda yang mudah pecah.
Setelah beberapa menit Eric pun melepaskan bibir mereka dengan enggan. Eric tidak berani melewati garis batas bibir Audrey. Karena baginya, ini sudah lebih dari cukup. Ia tidak mau meninggalkan kesan yang buruk pada ciuman pertama mereka.
Perlahan mata Audrey pun terbuka. Wajahnya kembali merona disaat Eric menatap dirinya.
"Audrey .... Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu. Tadinya hari ini aku berencana membawamu ke suatu tempat, lalu mengutarakannya disana. Tapi saat ini aku sudah tidak dapat membendung perasaanku lagi."
Audrey meletakkan kedua tangannya di dadanya, berusaha menahan detak jantung yang kini sudah berdetak berkali-kali lebih cepat.
Audrey masih menunggu ucapan Eric dengan detak jantung yang bergemuruh hebat, terlebih lagi mereka baru saja berciuman untuk yang pertama kalinya.
"Audrey ..... Aku mencintaimu." Ucap Eric tanpa keraguan sedikitpun.
Audrey terdiam, namun ekspresi wajahnya sangat sulit untuk diartikan.
Eric pikir apakah ia terlalu cepat mengutarakan perasaannya?
Tapi, bukankh mereka baru saja berciuman? Dam Audrey juga tidak menolak saat ia menciumnya tadi!
"Audrey...." Panggil Eric setelah tidak mendapat jawaban apapun dari pernyataan yang baru saja ia lontarkan.
"Eu .... Aku .... Aku ...."
Audrey terdiam.
Menunduk semakin dalam.
Eric semakin salah tingkah.
Eric bingung bagaimana caranya menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.
"Pergilah..." Ucap Audrey tiba-tiba.
Eric terkejut.
"Ap,apa?"
Audrey mengangkat wajahnya perlahan.
"Terima kasih karena telah menolongku hari ini. Sekarang kau boleh pergi." Ucap Audrey.
Eric terdiam. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menghantam dadanya.
"Audrey .... Kau tidak marah padaku kan?"
Audrey kembali terdiam.
Namun Eric dapat menebak, diamnya kali ini karena marah.
Marah karen Eric baru saja mengutarakan perasaannya?
Atau marah karena Eric sudah dengan lancang menciumnya?
Eric tidam tahu. Tapi Eric tidak mau pergi sebelum ia menyelesaikan semuanya.
"Tidak, Audrey. Aku tidak mau pergi." Ucap Eric.
Audrey kembali menatap Eric.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena aku ingin bersamamu malam ini..." Lirih Eric pelan.
Audrey terdiam lagi.
"Terserah kau saja." Jawab Audrey tiba-tiba, lalu kembali berbaring memunggungi Eric, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sepertinya Audrey sedang kesal dengannya, tapi entah kenapa Eric malah merasa ini sangat lucu.
Eric berencana menggoda Audrey.
"Aku bercanda Audrey ... Aku pergi sekarang ya ..."
Hening.
"Selamat malam ..." Ucap Eric pelan, lalu mulai bangkit dari duduknya.
Audrey menggigit bibirnya kuat-kuat.
Ia sangat takut kalau Eric benar-benar pergi. Lalu ia sontak bangun, lalu menoleh ke belakang.
Ternyata Eric masih berdiri di belakangnya sambil tersenyum.
Audrey terkejut.
"Kau mempermainkanku?" Ucap Audrey dengan nada suara yang berbeda.
Baru pertama kali ini Eric mendengarnya.
"Maaf..." Ucap Eric lalu kembali duduk disamping Audrey.
Tiba-tiba Audrey memeluknya.
Eric terkejut.
"Jangan pergi. Temani aku malam ini. Aku takut sendirian .... Ku mohon ..." Lirih Audrey pelan.
Eric mengusap punggung Audrey lembut.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana ... Sekarang tidurlah..." Ucap Eric lembut.
Audrey mengangguk di pelukan Eric.
"Eric..." Panggil Audrey.
"Hmm...?" Jawab Eric sambil mengusap kepala Audrey.
"Boleh aku menjawabnya sekarang?" Ucap Audrey pelan, hampir tak terdengar.
Eric sontak menjauhkan tubuhnya dari Audrey. Lalu menatap intens kedalam mata Audrey.
"Apa?" Tanya Eric.
"Aku mau." Lirih Audrey, hanya berupa gerakan bibir.
"Ap,apa? Bisa katakan sekali lagi." Ucap Eric.
"Aku mau jadi pacarmu." Ucap Audrey pelan, hampir tak terdengar.
Eric tersenyum lebar. Dadanya seakan mau meledak karena terlalu senang.
"Sungguh?" Tanya Eric lagi.
Audrey mengangguk pasti.
Eric sontak meraih Audrey kedalam pelukannya.
Eric tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Ia terlampau bahagia karena perasaannya terbalas.
Lalu Eric mengecup kepala Audrey berulang-ulang.
"Terima kasih, Audrey. Terima kasih karena kau sudah mau membuka hatimu untuk ku. Aku janji akan selalu mencintaimu dan menjagamu." Ucap Eric tulus.
Lagi-lagi Audrey mengangguk dipelukan Eric.
Audrey berharap semoga Eric adalah orang yang tepat untuknya. Orang yang akan selalu menjaganya dari kejamnya dunia luar.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun tidur dengan Audrey yang berada di pelukan Eric.