
Audrey mengernyit saat ia merasakan silau matahari mengenai matanya. Audrey mengucek matanya perlahan sebelum ia membuka matanya.
Audrey melihat kesamping, ia terkejut saat melihat Eric tidur di sampingnya dengan tangan mereka yang saling menggenggam. Ia melepaskan tangannya dengan perlahan. Lalu ia melihat jam di sudut ruangannya. Sudah jam delapan pagi.
Audrey sontak terbangun.
Selama ini ia tidak pernah bangun sesiang ini dan ia tidak pernah selelap ini sebelumnya. Untung hari ini hari libur. Jadi ia tidak perlu khawatir karena bangun kesiangan.
Audrey bangkit dari ranjangnya, setelah itu ia mandi.
Eric terlihat pulas, Audrey tidak tega membangunkannya. Audrey berencana akan membangunkan Eric begitu ia selesai menyiapkan sarapan.
Tidak banyak bahan makanan dirumah Audrey, Audrey hanya menyiapkan nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya. Setelah itu ia menaruh makanannya diatas meja.
Eric terbangun saat indera penciumannya menghirup wangi makanan.
"Audrey? kau sudah bangun?" Tanya Eric sambil menguap.
Audrey terdiam sambil menunduk.
"Maaf, semalam aku ketiduran. Jadi aku tidur di tempatmu"
Audrey tetap diam.
"Audrey, kupikir kau sebaiknya pindah dari sini. Tempat ini tidak aman untukmu. Semalam aku melihat bayangan seseorang sedang mengendap-endap di belakang rumah mu. Kalau saja saat itu aku tidak melihatnya, orang itu pasti sudah masuk ke dalam rumahmu" Ucap Eric.
"Untuk apa tadi malam kau datang ke rumahku?" Akhirnya Audrey membuka suaranya.
Eric menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya semenjak aku mengetahui rumahmu. Setiap pulang kerja aku pasti datang kesini. Hanya sekedar untuk melihatmu dari luar"
Audrey menatap intens ke arah Eric.
"Dan karena kejadian semalam, maka aku akan berjaga didepan rumahmu sampai pagi"
Audrey menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tengah terkekeh geli tanpa suara. Terihat dari bahu Audrey yang sedikit gemetar.
__ADS_1
Eric ikut tersenyum.
"Kalau tidak, kau tinggal saja di apartement ku. Aku juga tinggal sendiri." Spontan Eric.
Getaran di bahu Audrey seketika berhenti.
"Eu .... Aku cuma bercanda. Jangan dianggap serius" Ucap Eric terbata.
"Maksudku di sebelah apartement ku ada yang kosong. Kau bisa menyewanya, itu lebih aman daripada kau tinggal disini sendiri" Sambung Eric.
Audrey kembali menunduk.
"Audrey .... Apa aku boleh lebih dekat dengan mu?"
Audrey sontak mengangkat kepalanya. Lalu ia menatap ke arah Eric.
"A ..... Ah maksudku .... Apa aku boleh menjadi temanmu?" Ralat Eric.
"Tidak ada seorang pun yang mau menjadi temanku." Jawab Audrey pelan.
"Aku mau. Tolong izinkan aku untuk menjadi temanmu. Kalau kau merasa tidak nyaman, kau boleh mengabaikanku di kampus. Tapi setidaknya saat kita sedang berdua, kau tidak boleh mengabaikan ku. Kita bisa mengobrol, berbagi suka dan duka, dan apa saja. Yang penting aku bisa mengenal mu lebih dekat. Bagaimana?" Tanya Eric.
Ponsel Audrey tiba-tiba bergetar.
Audrey menatap layar ponselnya sekilas, kemudian menerima panggilannya.
"Hallo ... " Ucap Audrey datar.
"Hallo Audrey! Bagaimana kabarmu?" Tanya seseorang di seberang sana.
"Aku baik-baik saja, kak." Jawab Audrey.
Eric samar-samar dapat mendengar percakapan antara Audrey dengan seseorang wanita yang ia panggil kakak.
"Sudah lama sekali kau tidak pulang kerumah. Kau juga tidak pernah menelepon kalau bukan aku yang meneleponmu terlebih dahulu."
"Maaf kak, akhir-akhir ini aku sangat sibuk."
__ADS_1
"Bukankah sebentar lagi kau akan libur semester? Saat itu tiba, kakak tidak mau tahu, pokoknya kau harus pulang kerumah."
Audrey menghembuskan napasnya yang terasa berat.
"Aku tidak bisa janji kak."
"Pokoknya kakak tidak mau mendengar alasan apapun darimu. Kau harus pulang! Lagipula apa enaknya liburan disana sendirian?! Lebih baik disini berkumpul dengan kami. Chen dan ling juga sudah sangat merindukanmu."
"Baik kak, nanti aku kabari lagi."
"Baiklah, kalau begitu nanti kabari kakak ya. Untuk transfer uang bulananmu akan kakak kirim minggu depan."
"Terima kasih" Jawab Audrey singkat.
"Ya sudah, kakak akhiri sampai disini ya, jangan lupa makan. Daah .... "
Pip!
Sambungan telepon pun terputus.
Audrey meletakan ponselnya di atas meja.
" Telepon dari siapa? Kakakmu?" Tanya Eric.
Audrey terdiam.
Meski hanya melihat mata Audrey, Eric bisa melihat perubahan wajah Audrey yang tiba-tiba berubah murung.
"Ada apa Audrey? Apa ada masalah?"
Tiba-tiba bahu Audrey bergetar.
Eric terkejut, lalu bergegas menghampiri Audrey, kemudian meraihnya ke dalam pelukannya.
Tangis Audrey semakin menggila!
Eric semakin mengeratkan pelukannya. Berusaha menenangkan gadis mungil yang saat ini tengah menangis tersedu-sedu di pelukkannya.
__ADS_1
Meski Eric tidak tahu masalahnya, namun Eric bisa merasakan luka yang selama ini di alami Audrey