
"Kak Aurel...." Lirih Audrey pelan.
Eric sontak melihat ke arah Audrey.
Wanita cantik itu bergegas menghampiri Audrey.
"Audrey! Syukurlah kita bertemu disini." Ucapnya lalu memeluk Audrey dengan erat.
"Kakak benar-benar rindu sekali padamu. Semenjak kau kuliah dan memutuskan untuk tinggal sendiri, belum pernah sekali pun kau pulang kerumah. Apa kau tidak merindukanku, hmm..." Aurel menatap Audrey lekat-lekat.
"Maafkan aku, kak. Aku terlalu sibuk dengan kuliahku." Jawab Audrey datar.
Aurel mencebikkan bibirnya.
"Sesibuk itukah sampai kau tidak ada waktu untuk menjengukku dan juga keponakan-keponakanmu?"
Audrey tersenyum.
"Aku juga merindukanmu, Chen dan Ling. Bagaimana kabar mereka? Mereka pasti sudah tumbuh besar."
"Mereka baik-baik saja. Begitu juga dengan kakak iparmu."
Deg!
Tiba-tiba jantung Audrey berdetak cepat saat ia mendengar Aurel menyebut suaminya.
Eric bisa melihat perubahan raut wajah Audrey. Lalu ia mengenggam tangan Audrey erat.
Aurel menatap ke arah Eric.
"Oh iya, siapa dia? Apa dia temanmu?"
"I,iya. Aku adalah teman Audrey. Dan juga tetangga apartementnya. Nama ku Eric Phiravich." Eric mengulurkan tangannya, Aurel pun menyambutnya.
"Ah, aku kakaknya Audrey. Nama ku Aurel." Ucap Aurel sambil membalas uluran tangan Eric.
"Senang bertemu dengan anda." Ucap Eric sambil tersenyum.
Aurel mengangguk.
"Audrey apa sekarang kau sudah tidak tinggal di kontrakan lamamu lagi?" Tanya Aurel.
Audrey mengangguk.
__ADS_1
"Lihat, kau bahkan tidak mengabariku masalah penting seperti ini. Bagaimana kalau seandainya kita tidak bertemu disini? Aku pasti akan kebingungan mencari alamat rumahmu."
"Bukankah kau punya ponsel?"
Aurel terbahak.
"Awalnya aku ingin memberimu kejutan."
Audrey mendecih.
"Ayo kita bicara di apartementmu. Kita naik mobilku. Kau juga Eric. Ikutlah bersama kami."
Eric menatap ke arah Audrey sejenak, lalu akhirnya ia pun mengangguk.
Setelah itu Eric dan Audrey kembali ke apartement mereka dengan menaiki mobil Aurel.
***
"Terima kasih untuk tumpangannya kak..." Ucap Eric sebelum ia masuk kedalam apartementnya.
"Ikutlah bersama kami kedalam. Aku membawa cake, kita bisa memakannya bersama-sama."
"Lain kali saja, kak. Kalian sudah lama tidak bertemu. Kalian pasti butuh waktu berdua untuk saling melepas rindu." Ucap Eric.
Setelah itu Eric pun masuk kedalam apartementnya.
"Audrey, ayo kita masuk." Ajak Aurel.
Audrey mengangguk. Lalu mereka masuk kedalam apartement Audrey.
Audrey menyiapkan minuman dan menghidangkan cake yang dibawa Aurel tadi keatas meja. Aurel tidak henti-hentinya menatap kearah Audrey yang sibuk menghidangkan cake diatas meja.
Setelah itu Audrey duduk didepan Aurel.
"Minumlah kak, kau pasti haus."
Aurel tersenyum, lalu tiba-tiba ia mengusap kepala Audrey lembut.
"Syukurlah Audrey, kau bisa hidup dengan baik walau tanpa aku. Kau juga mempunyai teman yang baik seperti Eric. Sekarang aku tidak akan cemas lagi membiarkanmu tinggal terpisah dariku."
"Iya kak, hidupku sekarang sudah jauh lebih baik. Jadi kakak tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Mau bagaimana pun kau itu adalah adikku satu-satunya. Aku ingin pada liburan kali ini, kau ikut bersamaku."
__ADS_1
Audrey sontak terkejut mendengar ucapan Aurel.
"Tap, tapi kak..."
Aurel menggeleng dengan cepat.
"Kali ini aku tidak menerima penolakkan. Sudah berapa kali kau menolak untuk liburan di rumah semenjak kau kuliah. Pokoknya, kali ini kau harus ikut denganku."
"Maaf kak. Tapi aku benar-benar tidak bisa."
"Kalau kau menolak untuk ikut denganku, maka itu berarti kau sudah tidak menganggapku sebagai kakakmu lagi."
"Kak ... Ku mohon mengertilah. Aku benar-benar tidak bisa."
"Tapi kenapa? Apa kau sudah tidak menganggap kami sebagai keluargamu lagi? Saat ini hanya kaulah keluargaku satu-satunya, apakah kau tidak mau berlibur dengan keluargamu sendiri?"
Audrey terdiam.
Ia bingung.
Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya menolak permintaan kakaknya. Tapi yang pasti, Audrey tidak akan pernah sanggup bertemu dengan kakak iparnya lagi. Seseorang yang berhubungan dengan masa lalunya yang kelam.
Apa ia harus kembali dipertemukan dengan orang itu lagi? Orang yang membuat Audrey mengalami traumatic yang cukup mendalam. Padahal Audrey baru saja mulai terlepas dari traumanya itu.
"Akan ku pikirkan, kak." Ucap Audrey akhirnya.
"Kau harus memberitahu jawabanmu hari ini juga. Karena sore nanti aku harus sudah pulang."
Audrey mengangguk.
"Sekarang kakak istirahat dulu saja. Aku akan mengantar kue ini untuk Eric."
"Audrey..." Panggil Aurel disaat Audrey baru saja hendak melangkah keluar.
"Apa Eric itu adalah orang yang spesial untukmu?" Tanya Aurel tiba-tiba.
Audrey cukup terkejut dengan pertanyaan Aurel. Tetapi akhirnya ia pun mengangguk perlahan.
"Apakah dia yang membuatmu sulit untuk ikut denganku?" Tanya Aurel lagi.
"Tidak kak. Ini tidak ada hubungannya dengan Eric."
Aurel mengangguk, lalu Audrey pun keluar dari apartementnya, menuju apartement Eric.
__ADS_1