I'M Not Perfect

I'M Not Perfect
Will You .....?


__ADS_3

Audrey terbelak lebar saat melihat kejadian yang cepat itu.


.


.


.


.


.


Matanya menangkap sosok orang yang paling berarti didalam hidupnya kini telah duduk diatas tubuh Joss. Memukulinya tanpa ampun. Sedangkan Aurel, hanya mampu berteriak-teriak didekat pintu saat melihat Eric memukuli suaminya secara membabi buta, tanpa ampun!


Sementara Audrey masih ketakutan disudut ruangan. Aurel lebih memilih menenangkan adiknya daripada menghentikan Eric.


Akhirnya Eric menghentikan aksinya saat ia melihat Joss yang sudah tidak berdaya. Wajahnya sudah babak belur, darah segar mengucur dengan deras dari pelipis, hidung, hinggah sudut bibirnya.


Eric terengah sambil menatap kearah Joss layaknya melihat bangkai yang tidak ada artinya sama sekali.


Jika saja ia tidak ingat Audrey, mungkin saat ini Eric pasti sudah membunuh laki-laki kepa**t itu!


Akhirnya Eric menghampiri Audrey.


Audrey menghambur ke pelukan Eric, lalu ia menangis sesegukan di dalam pelukkannya.


Eric meletakkan dagunya diatas kepala Audrey sambil mengusap punggung Audrey lembut.


"Maafkan aku, Audrey.... Maaf karena waktu itu aku telah membiarkanmu untuk ikut pergi dengan kakakmu ketempat yang mengingatkanmu pada masa lalumu. Seharusnya aku mencegahmu agar kau tidak lagi masuk kedalam lembah yang sama. Jika saja aku terlambat sedikit saja datang kesini, maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."


Audrey menggeleng lemah di pelukkan Eric. Audrey ingin berucap sesuatu, namun lidahnya masih terasa keluh.


Sementara Aurel masih menatap kearah suaminya dengan tatapan aneh. Aurel seperti sedang melihat orang asing. Seorang kriminal yang telah merusak masa depan adik kandungnya sendiri.


Rasanya Aurel ingin mati saat mengetahui kenyataan pahit itu. Jika saja Aurel tidak mengingat kedua anaknya, Aurel pasti lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Namun pikiran waras masih setia memayunginya untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu.


Joss berusaha membuka matanya yang sudah lebam dan sobek pada bagian kelopaknya.


Joss menatap kearah Eric, Audrey dan Aurel......


Istrinya!


"Apa sekarang kau sudah puas?" Ucap Joss berat dan terbata.


"Jika memang dengan kematianku bisa menebus semua kesalahanku, maka ku mohon ... Tolong bunuh aku ..." Sambung Joss lagi.


Eric menatap tajam kearah Joss. Antara marah dan bingung dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Joss.


"Audrey .... Aku mohon sekali lagi padamu, tolong ampuni aku. Uhuk .... Uhuk!"

__ADS_1


Lalu Joss mengalihkan pandangannya pada Aurel.


"Dan untukmu Aurel .... Aku benar-benar minta maaf padamu karena aku belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan juga anak-anak kita..."


Aurel menutup mulutnya kuat-kuat. Menahan isak tangisnya yang sedari tadi ia tahan.


"Aku mohon maafkan aku .... Tolong jaga anak-anak kita...." Suara Joss hampir tak terdengar.


Wajah Joss jatuh kesamping.


Aurel berteriak histeris, lalu ia menghampiri Joss dan memeluk tubuhnya kuat-kuat.


Audrey membenamkan kepalanya didada Eric, lalu ia pun ikut terisak disana.


***


Satu minggu kemudian.


"Audrey, apa kau sudah siap?" Tanya Eric.


Audrey memasukkan bajunya yang terakhir kedalam kopernya. Lalu ia menoleh kearah Eric sambil tersenyum.


"Sudah." Jawab Audrey.


"Kita mampir kerumah sakit dulu ya, untuk berpamitan pada kakakmu."


Audrey mengangguk.


Audrey sudah menceritakan kejadian hari itu pada kakaknya dan juga Eric. Eric sedikit merasa bersalah karena sudah memukuli Joss. Saat itu Eric terlanjur emosi ketika ia melihat Joss menyentuh tubuh Audrey. Eric tidak tahu bahwa ternyata saat itu Joss hanya ingin meminta maaf pada Audrey.


Begitupun dengan Aurel.


Ia pun dengan berbesar hati bersedia memaafkan suaminya.


Sementara Audrey, meskipun ia sudah tidak lagi merasa takut ataupun benci pada kakak iparnya, namuan ia masih belum sanggup bila harus menemuinya. Audrey hanya sesekali datang kerumah sakit untuk mengantarkan makanan pada kakaknya ataupun menemani Chen dan Ling bermain diluar, tanpa sekalipun berani masuk kedalam ruangan dimana Joss dirawat.


"Audrey, tunggu disini ya. Biar aku panggilkan kakakmu."


Audrey mengangguk. Lalu Eric masuk kedalam ruangan, tidak lama kemudian ia pun keluar lagi dengan Aurel.


"Audrey, kau benar-benar akan pulang ke apartementmu?" Tanya Aurel.


"Iya, kak." Jawab Audrey.


"Baiklah. Hati-hati disana ya. Maaf karena kakak tidak bisa mengantarmu."


"Tidak masalah, kak. Tapi apakah kakak benar-benar tidak apa-apa aku tinggal?"


Aurel tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kondisi suamiku saat ini sudah semakin membaik. Beberapa hari lagi juga dia sudah diperbolehkan pulang."


"Syukurlah."


Tiba-tiba Aurel memeluk Audrey erat-erat.


"Audrey, maaf atas semua kejadian yang menimpamu. Aku harap kehidupanmu saat ini bisa lebih baik dari sebelumnya. Lupakanlah hal yang sudab berlalu."


Audrey mengangguk di bahu Aurel, lalu melepaskan pelukkan mereka, dan menatap intens pada Aurel.


"Kak, tolong sampaikan pada kak Joss, aku sudah memaafkannya. Jadi jangan pernah menyalahkan dirinya lagi."


Aurel terkejut saat mendengar ucapan Audrey. Airmatanya pun perlahan menetes membasahi pipinya. Lalu ia kembali memeluk Audrey.


"Terimakasih, Audrey. Terimakasih." Lirih Aurel pelan.


Tiba-tiba Eric mendekat kearah mereka. Lalu Aurel dan Audrey melihat kearah Eric.


"Kak, sebenarnya ada satu hal yang ingin aku katakan padamu."


Aurel mengerutkan dahinya.


"Tentang apa, Eric?"


Eric menatap Audrey sekilas, Audrey pun tampak kebingungan menatap Eric.


Eric tersenyum.


"Kak .... Ijinkan aku untuk menikahi Audrey." Lirih Eric tegas dan mantap.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2