
"Eric ..." Panggil Tuan Mario.
"..."
"Eric!" Panggil Tuan Mario lagi.
"..."
"ERIC!" Teriak Tuan Mario akhirnya.
Eric sontak menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke arah Tuan Mario.
"Iya tuan ... Ada apa?"
"Ada pelanggan yang mau bayar." Ucap Tuan Mario.
Eric menoleh ke arah meja kasirnya. Disana sudah ada dua pelanggan yang sedang menunggunya. Eric bergegas pergi ke kasirnya, lalu melayani mereka.
Tuan Mario menatap ke arah Eric, sudah beberapa hari ini Eric terlihat sering melamun. Tepatnya disaat Eric bilang bahwa Audrey ikut liburan kerumah kakaknya.
Setelah para pelanggan pergi, Tuan Mario menghampiri Eric.
"Eric? Sebenarnya ada apa? Kau bisa bercerita padaku."
"Ah, maaf tuan, tadi aku keasikan melamun. Aku tidak apa-apa, tuan." Ucap Eric sambil berusaha untuk tersenyum.
"Apa kau merindukan Audrey?"
Eric terdiam.
"Besok kau libur. Temui dia."
"Ah, tidak tuan. Aku tidak mau mengganggu liburannya."
"Kalau begitu telepon dia sebentar. Biar aku yang jaga disini."
Eric berpikir sejenak.
"Baik, tuan. Terimakasih."
Tuan Mario mengangguk.
Lalu Eric keluar dari cafe sambil meraih ponselnya didalam saku celananya.
Eric menatap layar ponselnya.
Sudah seminggu ini Eric tidak menghubungi Audrey. Meskipun demikian Eric selalu menanyakan keadaannya pada Aurel. Eric berpesan pada Aurel agar tidak memberitahu Audrey tentang masalah ini.
__ADS_1
Eric sangat merindukan pacar manisnya itu. Namun situasi tidak menyenangkan yang terjadi di antara mereka sesaat sebelum Audrey pergi, yang membaut Eric merasa enggan untuk menghubungi Audrey.
Eric menatap kontak nomor Audrey di ponselnya. Eric ingin sekali menekan tombol dial berwarna hijau, namun lagi-lagi ia mengurungkan niatnya. Akhirnya Eric kembali menelpon Aurel.
Setelah terdengar beberapa kali deringan, akhirnya Aurel mengangkat teleponnya.
"Halo, kak. Apa kabar?" Tanya Eric basa-basi.
"Eric, kau ingin menanyakan kabar Audrey?" Tanya Aurel.
Eric mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Untung saja saat ini mereka hanya berbicara lewat telepon, jadi Aurel tidak bisa melihat kegugupan Eric.
"I, iya kak. Dia baik-baik saja kan?"
"Audrey baik-baik saja. Saat ini kami sedang berada dirumah mertuaku. Kami akan menginap disini sampai beberapa hari. Kami sudah mengajak Audrey untuk ikut serta, tapi Audrey menolak. Ia lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah."
"Apa?!" Eric terkejut.
"Lalu suamimu? Ah maksudku, apa Audrey hanya sendirian dirumah? Atau mungkin suamimu juga tidak ikut?"
"Suamiku ikut bersamaku."
Eric menghembuskan nafas kelegaannya. Setidaknya Audrey sedang tidak dalam bahaya selama beberapa hari.
"Kau tidak perlu khawatir, Eric. Audrey itu adikku. Aku akan pastikan dia baik-baik saja dirumahku. Sebenarnya aku pun sedikit khawatir karena harus meninggalkannya seorang diri dirumah, karena itulah aku menyuruh suamiku untuk membujuk Audrey agar dia mau ikut tinggal bersama kami disini."
"Iya, kami memang sudah sampai disini sekitar satu jam yang lalu. Tapi suamiku itu sungguh ceroboh. Dia meninggalkan ponselnya dirumah. Makanya dia pulang lagi kerumah untuk mengambilnya."
Mata Eric terbelak lebar.
Saat ini Joss sedang menuju rumahnya, dimana disana hanya ada Audrey seorang diri.
Eric panik.
"Kak, sudah berapa lama suamimu pergi?" Tanya Eric panik.
"Em ... Sekitar setengah jam yang lalu. Satu jam lagi juga dia sampai dirumah."
Shitt!!
Umpat Eric dalam hati.
Dari tempatnya kerumah Aurel memakan waktu kurang lebih dua jam. Sedangkan Joss diperkirakan akan tiba dirumahnya sekitar satu jam lagi. Eric tidak akan mungkin sampai disana tepat waktu.
Eric benar-benar panik!
Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan untuk menolong Audrey.
__ADS_1
"Kak ... Ku mohon! Bisakah kau pergi menemui Audrey saat ini juga? Ku mohon kak. Tolong temui dia secepatnya ... Ku mohon, tolong selamatkan adikmu ..." Lirih Eric dengan suara barithonnya yang terdengar aneh di telinga Aurel.
***
Ceklek!
Audrey mendengar suara pintu terbuka dari luar.
Audrey yang sedang menonton televisi, sontak mengangkat kepalanya.
Jantung Audrey berdegup dengan cepat.
Tiba-tiba Audrey mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya. Audrey bangkit dari duduknya. Matanya terlihat nanar memandang kearah pintu ruang tivi. Sekujur tubuh Audrey berkeringat dingin.
Dan sosok tinggi itu pun akhirnya muncul tepat dihadapan Audrey.
Audrey terpenjat.
Laki-laki yang paling tidak ingin dia temui itu pun kini telah berdiri tepat di depannya. Memandang kearahnya dengan intens.
Audrey tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Bahkan untuk sekedar menggerakan kakinya pun Audrey tidak sanggup. Telapak kakinya terasa menempel pada lantai.
"Audrey..." Lirih Joss terdengar berat.
Tubuh Audrey bergetar hebat.
Joss melangkah perlahan.
Audrey seolah melihat malaikat kematian.
Tubuhnya bergerak gelisah.
Semakin Joss mendekat kearahnya, getaran tubuh Audrey semakin menggila.
Tubuh Audrey ambruk dilantai, lalu ia memeluk kakinya sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya.
.
.
.
.
.
To Be Continued.
__ADS_1