
"Audrey..." Lirih Joss pelan.
Sangat pelan, namun cukup menaikan frekuensi guncangan pada tubuh Audrey.
Joss berhenti.
"Audrey..." Panggil Joss lagi, hampir menyerupai sebuah bisikan.
Joss tidak ingin membuat Audrey ketakutan lebih dari ini. Padahal ia sudah berusaha memanggil Audrey dengan selembut mungkin, tapi bagi Audrey, suara yang meluncur dari mulut Joss itu terdengar seperti sebuah alarm tanda peringatan akan adanya bahaya.
Audrey semakin menyelusupkan kepalanya diantara kedua lututnya.
Joss menyerah!
Ia tidak bisa bertindak lebih dari ini, karena ketakutan Audrey sudah mencapai puncaknya.
Joss takut, jika ia melangkah lebih dekat lagi, maka Audrey akan semakin kehilangan kendali.
Joss menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Padahal ia sudah berusaha mencari alasan pada istrinya dengan sengaja meninggalkan ponselnya tadi pagi agar ia bisa kembali lagi kerumah ini. Alasannya cuma satu, untuk meminta maaf kepada Audrey.
Joss mengusak rambutnya kebelakang. Kemudian ia menunduk.
"Audrey ... Aku tahu, bagimu mungkin aku tak lebih dari seorang monster. Monster yang telah menghancurkan hidupmu dan juga masa depanmu." Joss menjeda.
"Selama ini hidupku sangatlah tidak tenang. Aku selalu di bayang-bayangi oleh perasaan bersalah. Dosa itu senantiasa menghantuiku, menyiksa pikiranku, mengalihkan pusat perhatianku hingga terkadang aku seperti kehilangan diriku sendiri meskipun aku berada di tengah-tengah keluarga yang mencintaiku."
Audrey masih tetap pada posisinya, seakan kematian akan merenggutnya jika ia bergerak sedikit saja.
Joss menatap nanar kearah Audrey. Berharap Audrey akan merespon ucapannya.
__ADS_1
"Aku sendiri tidak tahu apa yang aku lakukan padamu malam itu. Malam itu aku benar-benar mabuk. Aku dalam keadaan tidak sadar, sehingga malam itu aku membiarkan jiwa iblisku yang mengambil alih atensiku, dan menyakitimu. Namun sungguh demi apapun, Audrey ... Aku sama sekali tidak pernah berniat sedikitpun untuk menyakitimu, apalagi menodaimu."
Joss memejamkan matanya rapat-rapat saat kata-kata "menodaimu" Itu akhirnya meluncur dari mulutnya. Kata-kata yang selama ini ia sangkal, namun pada kenyataannya ia memang melakukannya.
"Aku ini ********, Audrey! Aku brengsek! Aku kriminal! Kau boleh mencaci maki aku, memukulku, bahkan kau juga boleh membunuhku jika memang itu satu-satunya cara agar kau bisa memaafkanku. Ku mohon lakukan apapun padaku Audrey. Lakukan apapun padaku agar beban berat yang selama ini menghimpit dadaku berkurang. Ku mohon maafkan aku, Audrey. Ku mohon..."
Bruk!
Kaki Joss tumbang, ia berlutut, lalu ia menunduk. Dari mulutnya terus meluncur kata-kata maaf.
Getaran di tubuh Audrey perlahan mereda.
Audrey memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap kearah sosok laki-laki yang selama ini telah mengubah hidupnya.
Laki-laki yang bertubuh lebih besar dari tubuhnya itu terlihat sangat rapuh. Bahkan lebih rapuh dari dirinya sendiri.
Sisi gelap dimata Audrey yang selama ini melekat pada Joss perlahan sirna. Kini laki-laki itu tengah berlutut memohon ampun padanya.
"Maafkan aku, Audrey..." Akhirnya Josd berhenti mengucapkan kata maaf itu. Lalu ia mengangkat kepalanya perlahan.
Joss merasa ada sedikit harapan baginya saat melihat tubuh Audrey tak lagi bergetar. Bahkan adik ipar manisnya itu telah berani menatap kearahnya.
Joss perlahan bangkit.
Audrey sontak mundur dari posisinya, semakin tersedut kedinding.
Joss dengan cepat mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan dan memberitahu Audrey bahwa ia tidak akan berbuat macam-macam.
"Jangan takut, Audrey. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin meminta maaf padamu agar kau bisa mengampuni semua kesalahanku."
__ADS_1
Perlahan Joss melangkahkan kakinya, bergerak semakin mendekat ke Audrey. Sampai jarak diantara mereka kini hanya tinggal beberapa senti saja, hingga Audrey bisa menatap wajah Joss dengan jelas.
Audrey membuka matanya lebar-lebar saar tiba-tiba Joss mengulurkan tangannya kearah Audrey.
Tubuh Audrey kembali bergetar. Lalu ia berteriak-teriak seperti kesetanan.
Joss kebingungan, padahal ia tidak berniat melakukan apapun. Ia lupa bahwa saat ini Audrey menderita traumatic yang cukup dalam karena perbuatannya.
Joss memberanikan diri menyentuh kedua bahu Audrey untuk menenangkannya. Namun justru respon Audrey menjadi lebih histeris.
Saat Joss sedang kelabakan dengan perlawanan Audrey, tiba-tiba tubuh kekar Joss tertarik kebelakang, satu pukulan telak pun sukses mendarat di wajahnya dengan tiba-tiba. Tubuh Joss langsung oleng, lalu ambruk ke lantai.
Audrey terbelak lebar saat melihat kejadian yang cepat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continued.