I'M Not Perfect

I'M Not Perfect
16. Pertandingan Basket.


__ADS_3

***


"Hari ini adalah hari terakhir latihan kita. Besok kita sudah memasuki pertandingan putaran awal. Lawan kita lumayan berat. Kita harus benar-benar fokus saat pertandingan nanti." Ucap Jordi memotivasi teman satu teamnya.


"Ayo semangat, semangat, semangat!" Seru Rendy sambil menaruh tangannya didepan.


Lalu satu persatu tangan mereka pun di taruh di aras tangan Rendy.


"SEMANGAT!" Teriak semuanya sambil menghempas tangan mereka ke bawah.


"Apa aku masih boleh ikut latihan bersama kalian?" Ucap seseorang tiba-tiba terdengar di belakang mereka.


Mereka pun sontak menoleh kearah sumber suara dan terkejut begitu mengetahui siapa pemilik suara itu.


Eric!


"Tentu saja, Eric. Belum ada satupun di antara kami yang bisa menggantikan posisimu sebagai ace di team kita." Ucap Jordi.


Eric tersenyum.


"Terima kasih."


Lalu Jordi dan Rendy merangkul Eric. Setelah itu mereka pun berlatih di lapangan.


Audrey ikut senang saat melihat keakraban mereka. Setelah itu ia duduk di pinggir lapangan sambil melihat mereka latihan.


Hari pertandingan pun tiba. Eric dan teman-temannya harus menang dalam pertandingan pertama mereka agar lolos ke babak selanjutnya.


Lawan mereka cukup tangguh, namun akhirnya mereka bisa memenangkan pertandingan dengan skor ketat.


Pertandingan demi pertandingan pun terus mereka lewati dengan tidak mudah. Sampai akhirnya mereka lolos ke partai final.


Lawan mereka di final kali ini pun masih sama seperti tahu sebelumnya. Eric dan teman-temannya berharap mereka bisa mempertahankan gelar juara yang sudah selama dua tahun berturut-turut ini mereka genggam.


Pertandingan final pum tiba.


Pada menit-menit awal, terjadi saling kejar-mengejar point. Pada pertengahan pertandingan, point mereka semakin ketat. Tiba-tiba saja Eric di dorong oleh lawan disaat ia hendak memasukkan bola kedalam ring.


Eric tersungkur lumayan keras.

__ADS_1


Audrey yang berada di bangku penonton berteriak histeris saat melihat Eric terjatuh. Namun Eric tetap berusaha bangun meski seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Eric, kau baik-baik saja?" Tanya Jordi sambil membantu Eric berdiri.


"Aku baik-baik saja. Waktunya tinggal sedikit lagi, kita tidak boleh lengah."


Jordi mengangguk.


Setelah itu Eric melakukan lemparan bola kedalam ring karena pelanggaran tadi.


Eric berhasil memasukkan bolanya. Point mereka kini sedikit lebih unggul dari lawan. Situasi stadion pun semakin riuh.


Pertandingan semakin sengit saat mendekati menit-menit terakhir. Gerakan Eric terlihat semakin melambat setelah terjatuh tadi. Pelatih sudah menawarkan pada Eric untuk beristirahat dan digantikan oleh pemain lain, tetapi Eric menolak. Eric ingin bermain sampai akhir pertandingan. Akhirnya sang pelatih pun mengijinkannya.


Audrey semakin cemas. Ia tahu bahwa saat ini Eric tengah menahan rasa sakitnya.


Akhirnya lawan bisa mengejar ketinggalan, bahkan kini point mereka agak terpaut jauh. Jordi dan yang lainnya tidak mau kalau team mereka hanya mengandalkan Eric. Mereka berjuang mati-matian. Sampai di menit-menit terakhir. Hingga akhirnya mereka bisa kembali mempersempit jarak point.


Satu menit terakhir, point mereka masih selisih 2 point di bawah team lawan. Terjadi perebutan bola yang sangat sengit. Saling melempar bola ke ring lawan masing-masing.


Waktu hanya tinggal dua puluh detik. Sangat sulit bagi Eric untuk bisa mengejar ketinggalan yang masih selisih dua point. Semua penonton tegang.


Kini bola tengah berada di tangan Eric. Eric berlari semakin cepat kearah ring lawan, mendribel dengan sangat lincah melewati satu persatu lawannya yang bertubuh besar.


"AYOOOO ERIIICCCC! KAU HARUS MENAAANNNGGG! BERJUANGLAAHHH!"


Semua mata tertuju pada Audrey. Mereka terkesima saat melihat wajah Audrey. Lalu mereka pun ikut berteriak memberi semangat.


Samar-samar Eric dapat mendengar suara teriakan Audrey diantara riuhnya suara penonton.


Tinggal beberapa detik lagi. Saat ini Eric masih berada di luar kotak finalti. Jaraknya lumayan jauh dari ring. Sangat sulit bagi Eric untuk bisa memasukkan bola kedalam ring. Tapi sudah tidak ada pilihan lain, waktu sudah semakin menitipis. Eric harus melempar bola saat ini juga.


"AYOO ERIICCC.....! KAU PASTI BISAAA...!"


Eric menatap kearah Audrey sekilas. Sumber kekuatannya saat ini tengah berteriak mendukungnya.


Lalu Eric pun melempar bolanya!


Hening seketika!

__ADS_1


Satu detik terakhir!


Bruusshhhh!


Bola berhasil masuk kedalam ring!


Triple point!


Priiittt!


Suara peluit panjang pun terdengar menandakan bola masuk bersamaan dengan berakhirnya permainan.


Skor kampus Eric satu point diatas skor lawan.


Mereka menang!


Suara riuh penonton pun kembali terdengar memenuhi stadion lapangan.


Eric dan teman-temannya langsung berpelukan. Mereka senang sekali karena akhirnya mereka bisa mempertahankan gelar juara.


Audrey menatap Eric dari kursinya dengan mata berkaca-kaca. Audrey bisa ikut merasakan kemenangan kekasihnya tersebut. Lalu Eric menatap me arah Audrey sambil tersenyum. Audrey pun membalas senyumanya.


***


Audrey merasa dunianya benar-benar berubah. Audrey tidak lagi hidup dalam kegelapan. Kini Audrey memiliki banyak teman dan juga seseorang kekasih yang sangat mencintainya. Audrey juga sudah tidak pernah memakai masker lagi.


Ujian kelulusan pum akhirnya selesai.


"Aaahhh... Akhirnya hari-hari menegangkan berakhir juga. Kita benar-benar butuh liburan untuk kembali menyegarkan otak kita." Ucap Eric.


Audrey tersenyum.


"Bagaimana kalau kita liburan ke suatu tempat?"


"Kau benar. Otak dan tubuhku butuh penyegaran. Kira-kira kita pergi ke mana ya...?"


"Mmm... Ayo kita pikirkan."


Tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti tepat di samping Eric dan Audrey.

__ADS_1


Mereka pun berhenti, lalu berusaha menatap kedalam mobil tersebut. Pintu mobil pun akhirnya terbuka. Menampilkan sosok cantik berumur sekitar tiga puluhan.


Audrey terkejut saat melihatnya.


__ADS_2