I'M Not Perfect

I'M Not Perfect
The End.


__ADS_3

***


Tidak banyak percakapan yang terjadi diantara Eric dan Audrey saat perjalanan pulang tadi.


Eric lebih banyak diam, terlebih lagi Audrey.


Eric sendiri tidak tahu kenapa kata-kata itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya.


Saat ini, Eric bahkan belum memiliki pekerjaan yang layak. Namun ia dengan percaya dirinya malah melamar Audrey didepan kakaknya. Yang Eric tahu, saat ini Eric hanya ingin melindungi Audrey, memberinya kenyamanan, dan menjaganya seumur hidupnya. Dan jawaban Aurel pun sungguh benar-benar diluar dugaan.


Ia menerimanya begitu saja tanpa banyak bertanya mengenai keluarganya maupun penghasilannya. Aurel hanya bertanya satu pertanyaan padanya.


"Apa kau sungguh-sungguh mencintai adikku?"


"Sangat." Jawab Eric singkat.


"Nikahi dia setelah kelulusan kalian."


"Eric..." Panggil Audrey tiba-tiba, sontak membuyarkan lamunan Eric.


Eric melihat sekelilingnya. Ternyata mereka sudah sampai didepan pintu apartement Audrey.


"Apakah kau serius dengan ucapanmu tadi?" Tanya Audrey tiba-tiba.


Eric mengerutkan dahinya.


"Lamaranmu ..." Lirih Audrey pelan.


Eric terdiam sesaat.


"Audrey, menikah lah dengan ku." Ucap Eric akhirnya.


Audrey tercengang karena lagi-lagi Eric melamarnya. Kali ini kata-kata itu di ucapkan secara langsung padanya.


Audrey menunduk.


Eric menatap intens ke arah Audrey.


"Kau sudah mengetahui masa laluku yang kelam. Aku sudah tidak ..."


Bruuk!


Eric sontak meraih Audrey kedalam pelukannya sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya.


Audrey tertunduk di dada bidang Eric.


"Audrey ... Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Bagiku kau adalah sesuatu yang berharga. Kau adalah segalanya. Aku akan menjadi manusia paling beruntung dimuka bumi ini karena aku bisa memilikimu." Ucap Eric lembut.


Audrey benar-benar merasa terharu dengan ucapan Eric. Perlahan tangan Audrey terangkat, meraih kemeja luar Eric yang dibiarkan terbuka, lalu ia menangis sesegukkan didalam pelukan Eric, membasahi kaus birunya.


Lalu Eric memeluk Audrey semakin erat. Ia letakkan kepalanya di atas kepala Audrey.

__ADS_1


"Aku belum bisa menghasilkan banyak uang, Audrey. Tapi aku ingin menikahimu secepatnya. Maukah kau menerima keadaanku yang seperti ini, Audrey?" Tanya Eric sambil terus memeluk Audrey.


"Aku bersedia, Eric. Aku bersedia." Lirih Audrey pelan di antara isak tangisnya.


Satu titik air mata menetes dari mata Eric. Kemudian jatuh tepat diatas rambut Audrey.


Eric kembali membuka jarak diantara mereka. Di tatapnya wajah Audrey yang sudah basah oleh air mata. Lalu kedua tangannya terulur ke wajah Audrey, menghapus jejak-jejak air mata yang masih tertinggal disana.


"Kita akan menikah setelah kita lulus, kita hanya perlu menunggu tiga minggu lagi. Bagaimana? Kau setuju kan?" Tanya Eric lagi.


Audrey mengangguk cepat.


Eric tersenyum, lalu Eric kembali mengikis jarak diantara mereka.


Chuupp!


Eric menempelkan bibirnya pada bibir Audrey dengan lembut. Lalu Eric menggerakkan bibirnya dengan sangat hati-hati. Sementara Audrey masih diam mematung ditempatnya.


Jujur, Audrey masih sedikit takut karena traumanya yang kambuh beberapa hari yang lalu. Namun Audrey tidak ingin mengecewakan Eric. Audrey berusaha sekuat mungkin untuk bertahan. Audrey merasa sudah tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya karena getaran hebat di kakinya. Namun Eric dengan cepat meraih pinggang ramping Audrey, semakin merapat ke tubuhnya. Satu tangan yang lainnya ia gunakan untuk menahan tengkuk Audrey.


Eric sedikit menekan bibirnya pada bibir Audrey. Sementara Audrey tidak mampu sedikitpun menggerakkan bibirnya, mencoba mencari rasa asing yang dulu sempat membuatnya penasaran.


Eric ingin tahu lebih banyak.


Eric ingin lebih.


Audrey masih terdiam pada posisinya.


Sangat manis.


Eric melepaskan pegangannya pada pinggang ramping Audrey. Kini kedua tangannya memegang kedua sisi wajah Audrey. Eric dengan berani mulai mel*mat bibir Audrey.


Kaki Audrey kini tidak selemas tadi. Ia sanggup bertahan meski Eric tidak lagi memegangnya. Bibir Audrey bahkan mulai ikut bergerak. Sedikit demi sedikit membalas lum*tan-lum*tan bibir Audrey.


Eric tahu saat ini ia harus segera menghentikan ini sebelum akhirnya ia benar-benar lepas kendali. Tapi bibir Audrey terlalu manis untuk di lepaskan.


Eric enggan.


Begitupun dengan Audrey. Ia semakin terbuai dengan ci**an mereka. Ini pertama kalinya bagi Audrey.


Ini benar-benar membuatnya mabuk!


Audrey terkejut saat tiba-tiba ia merasakan li*ah Eric perlahan mulai menekan-nekan bibirnya.


Audrey sontak mendorong tubuh Eric. Ia masih belum siap untuk sesuatu yang lebih intens.


Eric cukup terkejut dengan dorongan Audrey.


Mereka sama-sama mengais udara. Mengisi paru-parunya dengan lebih banyak oksigen.


"Audrey ..." Panggil Eric, sedikit takut.

__ADS_1


Audrey menunduk. Berusaha menyembunyikan semburat merah yang tercetak jelas dipipinya.


"Sudah malam, aku masuk dulu" Ucap Audrey pelan.


Eric mengangguk.


"Untuk masalah pernikahan kita, kita bicarakan besok lagi. Sekarang kau tidurlah."


Audrey melirik kearah Eric sekilas. Lalu kembali mangangguk pelan.


Eric kembali mendekat kearah Audrey. Lalu ia mengecup kening Audrey lembut.


Eric dan Audrey sama-sama memejamkan matanya.


"Selamat malam." Bisik Eric lembut.


"Malam." Jawab Audrey tak kalah lembutnya dengan Eric.


Lalu Eric bergegas masuk kedalam apartementnya. Ia benar-benar merasa malu. Audrey menyenderkan kepalanya didaun pintu sambil memegang dadanya yang sedari tadi menghentak kuat.


Audrey tersenyum bahagia.


***


Setelah beberapa hari dari hari kelulusan, Eric kembali melamar Audrey, kali ini dengan lebih resmi. Eric di dampingi oleh Tuan Mario dan istrinya yang sudah ia anggap seperti orang tua kandungnya sendiri.


Hanya berselang tiga hari setelah acara lamaran, pernikahan sederhana itu pun akhirnya dilaksanakan di gereja kecil didekat rumah Aurel. Dari pihak Audrey hanya dihadiri oleh keluarga inti Aurel dan Joss. Sementara di pihak Eric, ia hanya ditemani oleh Tuan Mario dan istrinya.


Setelah mengucapkan janji suci di depan pendeta, Eric diizinkan untuk menciumi Audrey. Ia menciumi kening Audrey dengan lembut.


"Terima kasih karena telah hadir dalam kehidupanku, terima kasih karena telah mencintaiku, dan terima kasih karena telah menerimaku yang seperti ini." Ucap Audrey sambil meneteskan airmata.


"Kau pantas untuk dicintai, Audrey." Lirih Eric pelan, sambil mengusap airmata Audrey.


Eric merasa beruntung sekali karena bisa memiliki Audrey. Dan Audrey pun merasa bersyukur sekali karena ia bisa melupakan masa lalu dan juga traumanya.


Dan itu semua karena Eric.......


Laki-laki yang sudah menjadi suaminya.


.


.


.


.


.


End.

__ADS_1


__ADS_2