
"Ah, kau sudah pulang." Ucap Joss, dengan mata yang tak lepas memandang kearah Audrey.
"Dimana Chen dan Ling?" Tanya Aurel.
"Mereka ada dikamar, sedang bermain."
Aurel bergegas masuk ke kamar kedua anaknya. Sementara Audrey masih berdiri mematung didekat pintu.
Joss masih tetap menatap ke arah Audrey.
Joss bisa melihat dengan jelas bahwa gadis mungil itu tengah ketakutan. Badannya gemetar hebat, dahi dan pelipisnya di penuhi dengan keringat.
Ya tuhan!
Ini sudah lebih dari satu tahun.
Joss berharap Audrey sudah melupakan kejadian buruk itu, namun ternyata aura ketakutan itu masih terlihat jelas didepan matanya.
Seketika Joss merasa bahwa dirinya adalah seorang monster, yang membuat adik iparnya sendiri ketakutan setengah mati padanya. Selama ini rasa penyesalan yang luar biasa selalu menghantui pikiran Joss. Perasaan bersalah kerap muncul di setiap kali istrinya membicarakan tentang adiknya. Rasanya Joss ingin sekali menemui Audrey, dan memohon ampun padanya, namun Audrey tidak pernah mau pulang kerumah.
Dan hari ini, akhirnya Joss bisa bertemu dengan Audrey. Orang yang selama ini membuat hidupnya serasa tidak tenang.
Joss melangkahkan kakinya, mendekat kearah Audrey.
Tubuh Audrey semakin tersudut ke pintu. Joss bahkan bisa mendengar suara gemerutuk gigi Audrey karena rasa takut yang luar biasa.
"Audrey..." Panggil Joss dengan hati-hati.
Audrey sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya.
"Audrey? Kenapa kau masih disana? Ayo masuk." Ucap Aurel yang tiba-tiba muncul.
"Iya. Sebaiknya kau antar dia ke kamarnya. Adikmu pasti lelah. Biarkan dia istirahat." Ucap Joss lalu berlalu dari hadapan Audrey.
Aurel menghampiri Audrey, ia terkejut saat melihat sekujur tubuh Audrey yang bergetar hebat.
"Audrey, kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Aurel panik, lalu memegang dahi Audrey yang sudah basah oleh keringat dingin.
Audrey melihat ke sekitarnya. Hatinya sedikit lega saat ia tidak lagi melihat Joss ada di sana.
Audrey menggandeng tangan Aurel erat-erat.
"Ak, aku tidak apa-apa kak. Aku hanya butuh istirahat. Tolong antar aku ke kamarku."
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Aurel dengan sedikit bingung.
Setelah itu Aurel pun mengantar Audrey ke kamarnya.
***
Selama tinggal di sana, Audrey sama sekali tidak berani keluar dari kamar. Ia selalu mengunci pintunya rapat-rapat. Audrey hanya akan keluar jika Joss sudah pergi bekerja. Dan saat Joss tidak ada dirumah, baru Audrey bisa keluar dari kamarnya untuk sekedar makan atau bermain bersama Chen dan Ling.
Awalnya Aurel tidak pernah menaruh kecurigaan pada Audrey karena ia tidak pernah mau makan satu meja dengan suaminya. Semakin hari, semakin jelas terlihat bahwa Audrey tidak pernah sekalipun betatap muka atau berinteraksi dengan suaminya. Namun Aurel berpikir bahwa itu hanya perasaannya saja. Audrey memang telah berubah menjadi seseorang yang tertutup semenjak kematian ibu mereka, karena itulah ia selalu mengurung dirinya di kamar.
Joss sendiri selalu berusaha agar bisa berbicara dengan Audrey. Namun setiap kali ia ada di rumah, Audrey seolah sengaja menghindarinya. Joss berkali-kali menanyakan Audrey pada Aurel saat makan malam, namun jawaban Aurel selalu sama. Audrey sudah makan lebih dulu.
Hari minggu pagi, Aurel mengetuk pintu kamar Audrey.
Tok tok tok!
"Audrey."
Tok tok tok!
"Audrey, apa kau sudah bangun?" Tanya Aurel di balik pintu.
Audrey bergegas membuka pintu kamarnya.
"Sudah waktunya sarapan." Ucap Aurel lembut.
"Bisakah kakak membawanya ke kamarku?"
Aurel terdiam.
Sudah satu minggu Audrey tinggal di rumahnya. Namun Audrey lebih banyak mengurung dirinya di kamar.
"Audrey, sebenarnya ada apa? Kenapa kau selalu mengurung diri di kamar?" Tanya Aurel.
"Sudah berapa kali ku bilang, kak. Aku tidak apa-apa."
Aurel menghembuskan nafas beratnya.
"Hari ini kami akan pergi kerumah mertuaku. Apa kau mau ikut bersama kami?" Tanya Aurel.
"Kak Joss juga ikut? Ah maksudku apa kalian semua pergi?"
"Iya." Jawab Aurel singkat.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku disini saja kak. Biarkan aku yang menjaga rumah."
"Apa kau yakin?"
Audrey mengangguk cepat.
"Kami disana untuk beberapa hari loh.."
"Tidak masalah kak."
"Baiklah kalau begitu. Cepat makan sana. Kami sebentar lagi mau pergi."
"Baik, kak."
Aurel tersenyum, lalu mengusap kepala Audrey lembut.
Akhirnya Aurel dan suaminya serta kedua anak mereka pergi kerumah neneknya.
Audrey bisa sedikit bernapas lebih lega, karena akhirnya ia bisa bergerak dengan bebas di rumah ini sampai beberapa hari kedepan.
Audrey menghempaskan tububnya ke atas tempat tidurnya. Audrey menatap langit-langit kamarnya. Sebenarnya ada satu hal lagi yang saat ini sangat mengganggu pikirannya.
Eric!
Laki-laki yang berstatus pacarnya itu sudah seminggu ini tidak menghubunginya. Bahkan sekedar untuk menanyakan kabarnya pun tidak.
Apakah Eric masih mengira bahwa ia masih marah padanya.
Sebenarnya Audrey hanya tidak suka saat Eric menyinggung masa lalunya. Itulah yang membuat sikap Audrey berubah pada saat itu, bahkan dia jadi ikut pulang bersama Aurel.
Audrey pun tidak berani mengabari Eric lebih dulu, meskipun sebenarnya ia sangat ingin.
Ini adalah pertama kalinya bagi Audrey merasakan perasaan ini. Audrey tidak tahu bahwa teryata merindukan seseorang itu rasanya benar-benar tidak nyaman seperti ini.
R-I-N-D-U!
Itulah perasaan yang saat ini dirasakan Audrey.
Audrey menghempaskan nafasnya kuat-kuat, kemudian memejamkan matanya seraya memegang dadanya erat-erat.
"Eric .... Aku merindukanmu...." Lirih Audrey pelan.
To Be Continued...
__ADS_1