I'M Not Perfect

I'M Not Perfect
14. Teman


__ADS_3

Eric terbangun, tangannya terasa keram.


Semalaman Audrey tidur di pelukannya.


Eric menatap wajah Audrey yang sedang tertidur. Terlihat tenang dan tetap cantik dimata Eric.


Sosok mungil yang saat ini tengah memejamkan matanya ini adalah pacarnya. Saat ini Eric bisa dengan bebas menatap wajah manis Audrey selama apapun yang ia inginkan.


Setelah lama mengagumi kecantikan Audrey, lalu perlahan Eric mengangkat kepala Audrey dan memindahkannya keatas bantal.


Eric memijat bagian tangannya yang terasa keram.


Setelah itu Eric melangkah menuju dapur. Eric memasakkan bubur untuk Audrey.


Setelah selesai, ia kembali ke apartementnya untuk mandi dan mengganti pakaian, setelah rapi lalu Eric kembali lagi ke apartement Audrey. Eric membawakan bubur yang tadi di masaknya kekamar Audrey. Ia meihat, Audrey masih tertidur pulas di tempat tidurnya. Eric menatap Audrey sambil tersenyum. Lalu ia mengusap pipi Audrey lembut.


"Audrey ... Bangun Audrey." Ucap Eric lembut.


"Eungh..." Audrey mengucek matanya perlahan. Lalu membuka matanya.


Audrey terkejut saat mendapati Eric yang sudah rapi di depannya.


Audrey sontak duduk senderan di tempat tidurnya.


"Eric? Kenapa kau tidak membangunkan aku? Jam berapa sekarang?" Tanya Audrey panik.


"Jam setengah delapan" Jawab Eric lembut.


"Hah?! Bagaimana ini? Aku bisa terlambat pergi kekampus." Ujar Audrey semakin panik.


"Audrey .... Untuk beberapa hari ini lebih baik kau jangan masuk kuliah dulu. Kau harus benar-benar istirahat. Aku sudah membuatkan bubur untukmu. Aku juga sudah meminta cuti selama beberapa hari pada tuan Mario. Selama itu, aku akan menemanimu. Sekarang ayo aku suapi, sebelum aku berangkat kuliah." Jelas Eric panjang lebar.


"Kenapa kau melakukan semua ini, Eric?" Tanya Audrey dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Karena aku mencintaimu, Audrey. Apakah jawaban itu cukup?"


Audrey mengangguk pelan, dan air matanya pun menetes membasahi pipinya.


"Audrey ... Kenapa kau menangis?" Eric dengan segera menghapus air mata Audrey dengan ibu jarinya.


"Terimakasih, Eric. Terimakasih karena telah mencintaiku dan bisa menerima semua kekuranganku." Ucap Audrey sambil terisak.


"Sstt ... Audrey. Kau tak boleh berkata seperti itu. Justru aku beruntung karena kau mau menerima cintaku. Yang penting sekarang kita saling mencintai dan kita jalani ini bersama-sama."


Audrey mengangguk, lalu Eric mengecup dahi Audrey lembut.


Lalu Eric pun menyuapi Audrey. Setelah selesai, ia pun berangkat ke kampus.

__ADS_1


Saat jam istirahat, tiba-tiba Jordi dan Rendy mendatangi Eric ditempat duduknya. Eric terkejut dengan kedatangan mereka. Ternyata Jordi dan Rendy berencana untuk meminta maaf secara khusus ke Audrey. Namun Eric mengatakan bahwa beberapa hari ini Audrey belum bisa masuk kuliah. Jordi dan Rendy benar-benar merasa bersalah pada Audrey. Mereka tidak tahu hal buruk apa yang sebenarnya pernah dialam Audrey sampai ia bisa mengalami traumatic yang begitu parah seperti kemarin.


Akhirnya Eric pun menceritakan semua masa lalu yang dialami Audrey kepada Jordi dan Rendy. Kini mereka berdua paham mengapa selama ini sikap Audrey begitu tertutup pada orang lain.


***


Setelah pulang kuliah, Eric mengantar Audrey ke psikolog, sesuai dengan saran dokter. Karena bagaimana pun Eric ingin Audrey sembuh. Eric ingin Audrey bangkit dari keterpurukannya. Audrey butuh seseorang yang bisa memotivasi hidupnya.


Setelah beberapa hari, akhirnya Audrey memutuskan untuk kembali masuk kuliah.


"Audrey, kau yakin sudah siap untuk masuk kuliah?" Tanya Eric.


"Iya. Aku bosan terus dirumah." Jawab Audrey.


Eric tersenyum.


Rupanya konsultasi dengan psikolog sudah mulai memperlihatkan hasilnya.


Padahal dulu Audrey lebih suka menyendiri. Tapi tadi ia bilang ia bosan dirumah. Bukankah itu artinya Audrey merindukan suasana luar dan kampus yang ramai.


Eric merasa senang karena sudah ada perubahan pada diri Audrey.


"Baiklah, tapi janji. Mulai sekarang selain di kelas, jangan pergi tanpa aku. Aku akan mengantarmu ke kelas, lalu saat istirahat, aku juga akan menjumputmu ke kelas. Kalau mau kemana pun saat ada di kampus hubungi aku. Dan jangan pernah pulang sebelum aku datang menjumputmu ke kelas, mengerti?"


Audrey terkekeh geli.


"Tapi, apakah kau tidak risih dengan pandangan orang lain?" Sambung Audrey tiba-tiba.


"Aku tidak peduli apapun yang mereka katakan, karena bagiku, yang terpenting itu cuma kamu." Ucap Eric lembut.


Audrey tersenyum malu.


"Ya sudah, ayo kita berangkat." Ajak Eric.


Audrey mengangguk. Lalu ia mengambil tasnya.


Saat Audrey hendak melangkah keluar dari kamarnya, tiba-tiba Eric menahannya.


"Tunggu Audrey, kau melupakan sesuatu."


Audrey berhenti, lalu menoleh ke arah Eric.


Eric mengambil sesuatu didalam laci meja Audrey, lalu ia menghampiri Audrey.


"Kau melupakan ini." Ucap Eric lembut sambil memasangkan masker diwajah Audrey.


Audrey terkesiap.

__ADS_1


Bukankah selama ini Eric selalu ingin melihat dirinya tanpa masker? Tapi kenapa saat ini ia malah memakaikan masker padanya?


Begitu selesai memakaikan maskernya, lalu Eric memegang pundak Audrey lembut.


"Saat ini kau adalah pacarku. Aku tidak rela jika wajah manis pacarku ini dilihat oleh banyak orang. Jadi kau harus memakai maskermu." Ucap Eric.


Sekali lagi, Audrey merasa malu. Untung saat ini ia sedang memakai masker, jadi rona merah di wajahnya tidak terlihat oleh Eric.


Audrey mengangguk, setelah itu mereka pun berjalan beriringan ke kampus.


Eric mengantar Audrey sampai ke kelasnya. Begitu sampai disana, tiba-tiba Eric dan Audrey di kejutkan dengan sambutan teman-teman sekelas Audrey yang tiba-tiba menyambutnya didepan kelas.


Teman-teman sekelas Audrey semuanya menggunakan masker.


Audrey merasa terharu saat melihatnya. Air matanya tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, lalu Eric merangkul pundak Audrey lembut.


Tiba-tiba, Mark sang ketua kelas maju ke depan. Lalu berdiri tepat di depan Audrey.


"Audrey .... Maaf karena selama ini kami terkesan sepeti mengucilkanmu. Tapi percayalah, kami sama sekali tidak bermaksud mengucilkanmu. Kami enggan mendekatimu karena takut kamu merasa tergangu dengan interaksi yang kami lakukan. Tapi setelah kami tahu semua hal yang selama ini menimpamu, kami merasa perlu mendekatimu dan mengenalmu lebih dekat, serta mengulurkan tangan kepadamu. Dunia itu tidak selamanya kelam, Audrey. Begitupun duniamu. Jika kau belum siap kembali masuk ke dunia luar, maka ijinkan kami untuk masuk keduniamu. Lalu kita akan bersama-sama melangkah menuju kedunia luar yang jauh lebih indah dari yang kamu pikirkan. Audrey. Mulai hari ini, bolehkah kami menjadi temanmu?" Tanya Mark mewakili isi hati teman-teman sekelasnya.


Audrey tidak sanggup lagi menahan airmatanya yang perlahan jatuh membasahi pipinya.


Satu persatu teman sekelas Audrey menghampiri Audrey, lalu menjabat tangan Audrey sambil menyebutkan nama-nama mereka. Dan ada juga yang memeluk Audrey sambil menangis.


Audrey pun membalas jabatan tangan dan pelukan mereka sambil terus menitikkan airmatanya.


Sementara Eric merasa bahagia sekali karena ternyata Audrey memiliki teman-teman yang sangat baik seperti mereka. Namun, Eric masih heran dari mana teman sekelas Audrey bisa tahu mengenai hal yang Audrey alami hinggah akhirnya mereka semua mau bersimpati pada Audrey?


Tiba-tiba Eric dikejutkan dengan kehadiran Jordi dan Rendy yang tiba-tiba merangkul pundaknya secara bersamaan.


"Kalian? Jangan-jangan ini semua karena kalian?"


Jordi dan Rendy mengangguk sambil tersenyum.


"Hanya ini yang bisa kami lakukan sebagai permintaan maaf kami pada Audrey." Jawab Jordi tulus.


Eric tersenyum.


"Ini untukmu." Tiba-tiba Rendy memberikan masker kepada Eric.


Eric pun menerimanya.


"


Terima kasih." Jawab Eric sambil tersenyum.


Lalu mereka bertiga pun ikut memakai maskernya sambil melihat ke arah Audrey yang sedang tersenyum bahagia di tengah-tengah teman sekelasnya.

__ADS_1


__ADS_2