I'M Not Perfect

I'M Not Perfect
18. Pergi.


__ADS_3

***


"Emh .... Kuenya enak. Audrey cobalah ...." Eric menyodorkan sendoknya tepat kedepan mulut Audrey.


Audrey pun melahapnya.


"Bagaimana? Enak kan?"


Audrey mengangguk sambil berusaha untuk tersenyum.


"Audrey? Ada apa? Katakan padaku. Wajahmu sedari tadi terlihat murung. Seharusnya kau bahagia karena kakakmu mengunjungimu."


"Eric .... Kakakku ingin membawaku kerumahnya hari ini."


Sendok berisi kue yang hampir saja masuk kedalam mulut Eric, tiba-tiba terlepas dari tangannya.


"Apa?"


"Kak Aurel ingin aku ikut kerumahnya untuk berlibur disana."


Eric meraih gelas berisi air di depannya, lalu meneguknya sekaligus saat ia merasakan kerongkongannya yang tiba-tiba tercekat.


"Lalu apa kau setuju?" Tanya Eric.


"Menurutmu?" Audrey balik bertanya.


"Keputusannya ada di tanganmu, Audrey."


"Aku baru saja bisa sedikit demi sedikit melupakan masa laluku yang kelam. Dan sekarang, aku malah harus bertemu dan tinggal bersama orang yang menyebabkan traumaku. Aku benar-benar tidak bisa, Eric. Aku tidak bisa ..." Ucap Audrey mulai terisak.


Eric segera meraih Audrey kedalam pelukannya.


"Kalau begitu, katakan semua kebenarannya pada kakakmu. Katakan alasannya kenapa selama ini kau tidak mau pulang kerumahnya." Ucap Eric.


Audrey menggeleng cepat.


"Tidak, Eric. Aku tidak bisa mengatakannya pada Kak Aurel. Kak Aurel sangat mencintai suaminya. Dan aku tidak mau membuat rumah tangga mereka menjadi hancur berantakan karena aku."


"Tapi kakakmu berhak tau bahwa suaminya telah membuat hidupmu berantakan! Suaminya yang bej*t itu telah menodaimu hingga akhirnya kau mengalami trauma yang cukup mendalam! Suaminya yang telah membuat hidupmu menjadi kelam!" Suara Eric meninggi.


Audrey berjengit kaget.


Jantungnya hampir saja bergeser dari tempatnya karena bentakan Eric barusan.


Audrey menekan dadanya kuat-kuat, berusaha menahan jantungnya. Tubuhnya bergetar hebat.


Selama mengenal Eric, baru kali ini Eric berintonasi tinggi seperti tadi. Selain itu, Audrey juga tidak suka karena Eric kembali mengungkit masa lalunya yang baru saja hampir ia lupakan.


"Ah Audrey ... Maafkan aku. Aku tidak bermaksud...." Eric berusaha meraih tangan Audrey, tapi Audrey menghempasnya begitu saja.


Lalu Audrey pun bangkit.


"Audrey ... Kau mau kemana?"

__ADS_1


Pandangan Audrey seperti hilang arah. Akhirnya Audrey berlari menuju pintu.


"Audrey! Tunggu!"


Bruukkk!


Audrey menutup pintu apartement Eric kuat-kuat.


"AUDREY! ARGGHHH!" Eric mengusak rambutnya frustasi.


***


Aurel terkejut saat tiba-tiba melihat Audrey masuk kedalam dengan tergesa-gesa. Lalu ia masuk kedalam kamarnya.


"Audrey?"


Akhirnya Aurel pun mengikuti Audrey ke kamarnya.


Aurel melihat Audrey sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.


"Audrey, kau kenapa?" Tanya Aurel heran.


"Bukankah kakak ingin aku ikut denganmu untuk pulang kerumah?"


Aurel mengangguk cepat.


"Jadi kau setuju untuk liburan di rumahku?"


Lalu Aurel memeluk Audrey, Audrey pun meneteskan air matanya.


Audrey tidak tahu apakah keputusannya untuk ikut dengan kakaknya adalah keputusan yang tepat atau tidak?


Audrey berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.


***


Audrey memasukkan kopernya kedalam bagasi mobil Aurel. Saat ia baru saja mau masuk ke dalam mobil, tiba-riba Eric datang.


"Audrey ... Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Eric.


Audrey diam.


"Audrey, apa kau yakin akan ikut dengan kakakmu?"


Audrey masih diam.


"Maafkan aku, Audrey. Tadi aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung masa lalumu. Aku hanya..."


"Eric..." Potong Audrey cepat.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin liburan dirumah kakakku." Sambung Audrey berusaha setenang mungkin.


"Audrey, apa kau yakin dengan keputusanmu?"

__ADS_1


Audrey mengangguk pelan.


"Baiklah, tapi sebelumnya tolong berikan aku nomor kakakmu."


"Untuk apa?"


"Ku mohon Audrey..."


Audrey terdiam sejenak.


"Baiklah." Ucap Audrey akhirnya.


Lalu Audrey meraih ponselnya di dalam tasnya, kemudian memberikan nomor Aurel kepada Eric.


"Hati-hati, jaga dirimu baik-baik." Lirih Eric.


Audrey mengangguk pelan.


"Aku akan merindukanmu." Ucap Eric lagi sambil menggenggam tangan Audrey.


"Audrey! Ayo cepat. Kita bisa kemalaman nanti." Ucap Aurel di dalam mobil.


Audrey menoleh ke arah Aurel sekilas.


"Aku pergi, Eric..." Ucap Audrey.


Eric mengangguk.


Setelah itu Audrey pun masuk ke dalam mobil Aurel, lalu meninggalkan Eric yang masih berdiri mematung di tempatnya.


***


"Audrey, kita sudah sampai. Ayo kita turun." Ucap Aurel membuyarkan lamunan Audrey yang di sepajang perjalanan tadi hanya melamun.


"Ah, iya kak."


Lalu Aurel turun terlebih dulu dari mobilnya. Kemudian mengeluarkan koper Audrey dari bagasi mobilnya. Sementara Audrey masih duduk terpaku di dalam mobil. Audrey mulai merasa ragu untuk turun. Sekujur tubuh Audrey bahkan sudah berkeringat dingin.


"Audrey!" Panggil Aurel dari dekat pintu rumahnya.


"Ayo kita masuk."


Akhirnya Audrey pun terpaksa turun dari mobil. Audrey menyeret kakinya yang terasa berat, menuju rumah Aurel.


Ting tong ting tong!


Aurel menekan bel rumahnya sekali lagi.


Pintu pun perlahan terbuka. Menampilkan sosok laki-laki tinggi yang dulu pernah menjadi bagian dari masa lalu Audrey yang kelam.


Tubuh Audrey semakin bergetar hebat. Rasa mual tiba-tiba menyerang alat pencernaannya.


Audrey berusaha menahan bobot tubuhnya agar tidak ambruk.

__ADS_1


__ADS_2