I'M Not Perfect

I'M Not Perfect
15. Perubahan Besar.


__ADS_3

Audrey sudah mulai bisa bersosialisasi dengan lingkungan kampus. Kini ia tidak takut lagi untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Teman sekelas Audrey pun mau menerima Audrey apa adanya. Kini Audrey bisa hidup normal seperti yang lain. Meski ia belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalunya yang kelam, namun setidaknya Audrey sudah mulai bisa kembali melangkah keluar dari dunianya yang selama ini gelap.


Seperti biasa, setiap pulang kuliah, Audrey selalu menunggu Eric bekerja sampai pulang. Namun kali ini, Audrey tidak lagi menunggu di luar. Kini Audrey juga sudah akrab dengan tuan Mario. Audrey selalu menghabiskan waktu di Cafe dengan bermain-main dengan Boris.....anjing kesayangan tuan Mario. Dan Eric tentu saja tambah bersemangat karena bisa bekerja dengan ditemani oleh sang pacar.


"Eric, bawa ini pulang." Ucap tuan Mario setelah Eric selesai menutup cafenya.


"Apa ini, tuan." Tanya Eric sambil mengambil rantang yang di berikan tuan Mario.


"Tadi istriku masak banyak, ia menitipkan ini untuk ku berikan padamu. Makanlah itu begitu kalian sampai di rumah nanti."


"Terima kasih, tuan."


Tuan Mario tersenyum.


"Ya suda sana pulang, hati-hati di jalan." Pesan tuan Mario.


Eric mengangguk.


Setelah berpamitan, lalu Eric dan Audrey pulang.


"Tuan Mario benar-benar sangat baik. Aku senang bisa mengenalnya." Ucap Audrey.


"Kau benar. Aku beruntung bisa bekerja padanya. Dia sudah seperti ayahku sendiri. Dulu aku selalu berpikir bahwa dunia ini tidak adil padaku. Aku merasa takdir begitu kejam padaku. Tapi belakangan ini aku mulai menyukai dan mensyukuri takdirku karena saat ini aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku." Ucap Eric sambil menatap kearah Audrey.


Audrey tersipu malu di balik maskernya.


Eric ingin sekali melihat ekspresi wajah Audrey yang tengah malu-malu. Perlahan tangannya terulur, membuka masker yang menutupi wajah manis pacarnya. Wajah manis dengan semburat merah di pipinya itu akhirnya terlihat.


Sangat manis.


Membuat Eric tidak tahan ingin menciumnya.


Semenjak mereka resmi pacaran, Eric tidak pernah lagi mencium Audrey. Rasa canggung luar biasa selalu menjulang diantara mereka setiap kali moment romantis tercipta. Selain itu, Eric takut jika trauma Audrey kambuh.


Perlahan tangan Eric mengusap wajah Audrey lembut.


"Audrey, aku pikir kau sudah bisa mulai mencoba sedikit demi sedikit menjalani kehidupanmu tanpa masker. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja."

__ADS_1


Audrey mengerutkan dahinya.


"Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau tidak rela jika wajahku dilihat oleh banyak orang?"


Eric sontak memakaikan maskernya lagi pada wajah Audrey.


"Iya, kau benar. Aku tidak akan pernah rela."


"Kau ini aneh..."


Eric terkekeh geli.


"Aku bercanda, Audrey. Tentu saja kau boleh membukanya jika kau sudah benar-benar siap. Lagi pula aku ingin membuat semua orang iri padaku karena aku memiliki pacar yang manis sepertimu." Ucap Eric lembut.


Lagi-lagi Audrey tersipu malu.


Lalu Eric dan Audrey kembali melangkah sambil bergandengan tangan.


"Eric, sebelum ujian akhir semester nanti bukankah ada pertandingan basket antar kampus?"


Eric mengangguk.


Eric menghentikan langkahnya.


"Aku sudah keluar dari team basket, Audrey."


"Tapi aku yakin Jordi dan yang lainnya masih berharap kau bisa ikut main dengan mereka."


Eric terdiam.


"Pertandingannya tinggal beberapa hari lagi. Kau masih bisa ikut bermain bersama mereka. Aku tahu, kau sangat manyukai basket kan? Karena kalau tidak, kau tidak akan bisa bermain sebagus itu."


"Sudalah, lupakan soal itu Audrey. Aku sudah cukup sibuk dengan pekerjaanku. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain."


Audrey menatap intens kedalam mata Eric. Audrey yakin sekali bahwa Eric mengatakan yang lain.


"Baiklah." Ucap Audrey akhirnya.

__ADS_1


Tidak ada lagi percakapan diantara mereka setelah itu, sampai mereka tiba di apartement. Eric mengantar Audrey sampai didepan pintu apartementnya.


"Sebentar lagi kita akan memasuki ujian untuk kelulusan. Jadi untuk saat ini kita fokus belajar saja, oke?"


Audrey mengangguk.


"Selamat malam, Eric."


Eric tersenyum.


"Malam." Jawab Eric singkat.


Lalu Audrey membalikkan tubuhnya.


"Audrey!" Panggil Eric.


Audrey menoleh.


Eric membuka masker Audrey, lalu menatapnya dengan intens.


Jantung Audrey berdetak cepat seketika saat Eric menatapnya dengan sedemikian rupa. Perlahan wajah Eric semakin mendekat ke arahnya. Audrey sontak memejamkan matanya disaat bibir Eric hampir menyentuh bibirnya.


Audrey memejamkan matanya sambil mengernyit.


Eric menghentikan aksinya, lalu tersenyum tipis saat melihat ekspresi wajah Audrey. Akhirnya Eric mengangkat sedikit kepalanya, lalu mencium kening Audrey lembut.


Audrey merasakan bibir Eric mengecup keningnya. Lalu perlahan Audrey membuka matanya.


Eric melepaskan bibirnya.


"Have a nice dream..." Lirih Eric pelan.


Audrey mengangguk, lalu bergegas masuk kedalam apartementnya dengan detak jantung yang terus bergemuruh hebat.


Padahal hanya sebuah kecupan dikeningnya, namun cukup membuat jantung Audrey kehilangan kontrol kecepatannya.


Eric tersenyum saat melihat tingkah malu-malu Audrey. Tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah datar di saat ia teringat ucapan Audrey mengenai pertandingan basket. Setelah itu Eric pun masuk kedalam apartementnya.

__ADS_1


__ADS_2