
***
"Setelah selesai kau pulang saja. Sisanya biar aku yang mengerjakan." Perintah tuan Mario.
"Baik, tuan." Jawab Eric sambil merapikan barang-barang di dekat kasir.
Tuan mario menatap keluar. Ada gadis mungil tengah berdiri disana.
Sudah beberapa hari ini tuan Mario melihatnya datang pada saat malam. Dan menunggu sampai Eric selesai bekerja.
"Eric, siapa gadis itu?" Tanya tuan Mario.
Eric menoleh ke arah tuan Mario.
"Gadis yang mana tuan?"
"Itu di luar. Sudah beberapa hari ini aku melihatnya selalu menunggumu sampai kau pulang."
Eric mengalihkan pandangannya ke luar.
"Oh, dia temanku. Dia tinggal di samping apartement ku." Jawab Eric.
"Teman?! Sampai setiap hari datang kesini hanya untuk menunggu pulang?" Ucap tuan Mario menegaskan.
Eric mengusap lehernya.
"Iya tuan, teman ..."
"Ya sudah, cepat selesaikan tugasmu. Jangan biarkan dia terlalu lama menunggu. Cuaca malam ini sangat dingin."
"Baik, tuan."
Setelas selesai menutup toko, lalu Eric pun pulang.
Saat ini Audrey sudah pindah ke samping apartement Eric. Dengan begini, Eric bisa lebih merasa tenang.
Audrey selalu datang kecafe saat sore atau malam hari, hanya untuk sekedar menunngu Eric pulang. Tapi Audrey selalu menolak setiap kali Eric menyuruhnya untuk menunggu didalam.
"Audrey ...."
Seperti biasa, selalu Eric yang memecah kesunyian diantara mereka.
Audrey menoleh ke arah Eric.
__ADS_1
"Kau pernah ke kebun binatang?"
Audrey diam sejenak. Kemudian ia mengangguk.
"Kapan terakhir kali kau kesana?" Tanya Eric lagi.
"Waktu kecil."
"Wah, lumayan lama sekali ya?"
Audrey mengangguk lagi.
"Bagaimana kalau besok kita kesana?"
Audrey menghentikan langkahnya, menatap kearah Eric.
"Besok aku libur, kau juga libur kan? Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?"
Audrey masih terdiam sambil menunduk.
Audrey masih belum bisa keluar betul dari dunianya. Audrey masih tidak terbiasa dengan lingkungan yang ramai.
Eric tahu apa yang saat ini dirasakan Audrey, tapi Eric sedikit demi sedikit menaril Audrey keluar dari dunianya, kemudian melangkah perlahan pada dunia luar yang selama ini Audrey hindari.
"Ak......aku ..."
Eric tersenyum, lalu tangannya terulur. Rasanya Eric ingin sekali menggenggam telapak tangan yang dingin itu, namun saat tangannya hampir saja menyentuh tangan Audrey, tiba-tiba Eric menghentikah aksinya. Tangan Eric mengepal, lalu Eric kembali meletakan tangannya disisi tubuhnya.
"Kau tidak perlu takut. Ada akau disisi mu. Kau harus mulai terbiasa dengan lingkungan sekitarmu."
Audrey menghentikan langkahnya.
Eric pun ikut berhenti.
"Aku sama sekali tidak berniat untuk keluar dari duniaku." Ucap Audrey dingin.
"Audrey ....ah, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ...hanya ...." Ucap Eric tergagap.
"Jika kau tidak nyaman dengan duniaku, kau tidak perlu bersusah payah untuk masuk ke duniaku. Tetaplah berada di duniamu." Sambung Audrey.
"Audrey, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin kau terlepas dari traumamu. Terlepas dari bayang-bayang masa lalumu. Aku ingin kau bisa hidup normal seperti orang lain. Kau pantas bahagia. Jangan perlakukan dirimu seperti ini. Ini tidak adil bagi dirimu sendiri. Ku mohan, jangan egois, Audrey ..."
Audrey terdiam, kepalanya menunduk semakin dalam.
__ADS_1
"Kau juga harus ingat. Kau masih mempunyai orang-orang yang menyayangimu. Kakakmu, keponakan-keponakanmu. Setidaknya kau masih beruntung dari pada aku karena masih ada orang yang peduli padamu. Sedangkan aku?! Aku bahkan tidak tahu siapa kedua orang tuaku."
Perlahan Audrey mengangkat kepalanya.
Eric bisa melihat gurat-gurat kebencian di wajah Audrey meski tertutup masker.
Eric tahu ia tak pantas berbicara seperti itu pada Audrey. Tapi Eric hanya ingin Audrey bangkit dari keterpurukannya selaam ini.
Eric terkejut saat tiba-tiba Audrey berlari meninggalkannya.
Begitu cepat sampai Eric kewalahan mengejarnya.
Audrey berhasil masuk ke gedung apartement mereka terlebih dahulu. Saat Audrey hendak masuk kedalam apartementnya, tiba-tiba Eric menarik tangan Audrey hingga membuatnya berteriak ketakutan.
Eric dengan segera melepas tangannya.
"Audrey, maafkan aku. Aku sama sekali tidak berniat membuatmu takut."
Tubuh Audrey bergetar.
Masker Audrey pun basah karena airmata yang entah sejak kapan sudah meleleh dari matanya.
"Audrey ..." Lirih Eric dengan nada menyesal.
Bruukk!
Audrey bergegas masuk dan menutup pintunya begitu saja.
Eric memejamkan matanya kuat-kuat.
Mengepalkan tangannya, kemudian menghembuskan nafasnya yang terasa sesak.
"Aarrgghhh ...!" Teriak Eric frustasi.
Akhirnya Eric masuk kedalam apartementnya. Eric menghempas tubuhnya keatas kasur, dan menutup matanya dengan lengannya.
Mengapa begitu sulit mencintaimu, Audrey? Aku sudah berusaha mendekatimu, mengerti keadaanmu, bahkan memasuki duniamu. Tapi kenapa kau masih begitu sulit dijangkau? Aku hanya ingin kau bahagia. Aky ingin membawamu keluar dari masa lalumu yang kelam, kemudian mengajakmu kedunia yang lebih indah dari yang kau pikirkan.
"Audrey...." Lirih Eric pelan.
Padahal Eric bermaksud membawa Audrey jalan-jalan ke kebun binatang. Eric berharap setelah mengajaknya jalan-jalan, pikiran Audrey akan jauh lebih jernih. Tapi ia malah membuat Audrey marah padanya.
Eric berpikir untuk menyerah. Tapi perasaannya pada Audrey sudah terlanjur kuat. Eric tidak semudah itu melepaskan Audrey.
__ADS_1
Eric memejamkan matanya berusaha untuk tidur.