
.
.
.
.
.
"Hhh ... Haah! Hhh ... Haah!"
Audrey terengah-engah dalam tidurnya. Kepalanya bergerak gelisah. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh keringat dingin.
Mimpi buruk itu datang kembali. Lagi dan lagi. Hampir setiap malam. Lagi-lagi Audrey terbangun dari tidurnya dengan posisi terduduk, napasnya semakin memburu. Audrey menangis sambil membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Audrey sudah lelah dengan mimpi buruk ini. Mimpi yang mengingatkannya akan masa lalunya yang kelam.
Audrey kembali berbaring, berusaha untuk kembali tidur. Namun tidak bisa, mimpi buruk itu selalu terbayang dibenaknya. Sampai akhirnya bayangan seseorang yang tinggi, tampan yang beberapa minggu terakhir ini sering ia temui, sedang menatapnya dengan tersenyum. Hati Audrey menghangat.
Pikiran-pikiran tentang mimpi buruknya perlahan menghilang. Audrey akhirnya bisa memejamkan matanya. Dia mulai terlelap, memasuki dunia tidur yang tenang tanpa mimpi buruk yang selama ini menghantuinya.
***
Audrey mulai terbiasa dengan kehadiran Eric yang tiba-tiba muncul di dekatnya. Ia tidak berusaha untuk menghindarinya lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Saat di kantin, tiba-tiba Eric duduk di samping Audrey, ia tak lagi menghindar seperti sebelumnya, Eric hanya sekedar duduk disampingnya, tidak ada obrolan atay sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Namun hal itu bermakna cukup besar bagi Eric.
Saat jam kosong pun, Eric selalu berdiri diluar, melihat kearah kelas Audrey yang berada tepat disamping lapangan. Dan disaat pulang kuliah pun, Eric kadang-kadang mengikutinya dari belakang, hanya sekedar untuk menjaga Audrey sampai di rumahnya dengan selamat.
***
Siang ini terasa sangat panas.
Setelah makan siang dikantin, Audrey pergi ke belakang fakultas ekonomi. Ia berteduh di bawah pohon-pohon besar, kedua kakinya berselonjor kedepan, dengan kepala bersenderan di pohon. Audrey menikmati semilar angin sejuk dan alunan musik yang terdengar dari aerphone yang dipakainya. Audrey hampir saja tertidur, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menindih pahanya. Audrey yang hampir tertidur sontak langsung membuka matanya.
Audrey melihat laki-laki bernama Eric itu tengah memejamkan mata diatas pahanya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Audrey mengamati wajah Eric dari jarak dekat. Matanya yang terpejam, membuat bulu-bulu matanya semakin telihat panjang. Hidungnya yang mancung, kulit yang putih tanpa cacat, dan juga bibirnya yang merah.
Perlahan tangan Audrey terangkat keatas, menyentuh dadanya. Suara hentakan didadanya semakin kuat. Tiba-tiba Eric membuka matanya. Mereka saling menatap selama beberapa detik. Sampai akhirnya Audrey tersadar dan sontak menggerakan kakinya membuat Eric bangun, lalu duduk di sampingnya.
Audrey menunduk.
__ADS_1
Berusaha menetralkan detak jantungnya yang semakin kuat.
Eric tersenyum.
Lalu perlahan ia membuka aerphone yang ada di telinga Audrey.
"Maaf mengganggu mu. Aku hanya ingin menikmati suasana tenang ini bersamamu. Kau tidak keberatankan?"
Audrey terdiam.
"Audrey .... boleh aku menjadi temanmu?" Tanya Eric lembut.
Audrey mengangkat kepalanya menatap ke arah Eric. Eric tersenyum dengan lembut, Audrey lagi-lagi kembali menunduk.
"Tidak perlu seperti hubungan pertemanan umumnya, hanya dengan kau mengizinkan aku menemanimu makan di kantin, menemanimu pulang, dan menikmati angin disini pun tidak apa-apa. Kau boleh mengabaikanku tapi jangan hindari aku. Aku hanya ingin berada di dekatmu, agar kau tidak merasa kesepian." Ucap Eric.
Audrey mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap kedua mata Eric.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Audrey datar.
Deg!
"Karena aku ingin masuk kedalam duniamu. Izinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh. Izinkan aku berada di dekatmu. Aku mohon ..." Lirih Eric pelan.
Audrey sontak berdiri. Eric terkejut, lalu ia ikut berdiri.
"Aku hanya sosok yang tidak terlihat oleh siapapun, jangan susah payah mendekatiku. Anggap aku tidak ada di kehidupanmu, seperti orang lain yang tidak pernah menganggap keberadaanku" Ucap Audrey lalu ia pergi meninggalkan Eric.
Eric menatap kepergian Audrey, sampai ia menghilang di balik gedung.
"Sayangnya aku tidak bisa menganggapmu tidak ada. Keberadaanmu telah mengisi hatiku, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan berusaha untuk mendapatkanmu" Lirih Eric pelan.
***
Audrey terbangun saat tengah malam. Bukan karena mimpi buruk lagi. Tapi mimpi yang lain.
Semenjak peristiwa buruk yang menimpanya beberapa tahun lalu, Audrey tidak pernah memimpikan hal lain selain mimpi buruk itu.
Namun malam ini tiba-tiba Audrey memimpikan hal lain. Audrey melihat dirinya ada ditepi jurang, lalu tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampirinya, kemudian mengulurkan tangan ke arahnya. Audrey sempat ragu meraihnya, tiba-tiba Audrey terpeleset, hampir jatuh kedalam jurang. Namun sosok laki-laki tersebut dengan cepat menarik tangan Audrey kearahnya. Audrey pun terjatuh menimpa laki-laki tersebut, kemudian mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.
Wajahnya yang tidak terlalu jelas, perlahan mulai terlihat jelas.
__ADS_1
Audrey terkesiap.
Audrey mengenali wajah tampan dan menenangkan itu.
Eric!
Disaat itulah Audrey langsung terbangun. Tidak lagi dengan napas yang terengah-engah dan keringat dingin yang nembasahi tubuhnya, tetapi dengan perasaan lain yang terasa hangat. Mimpinya kali ini membuat hati dan pikirannya merasa tenang. Audrey melirik jam di sudut kamarnya, baru jam setengah satu malam. Audrey kembali berbaring berusaha untuk kembali tertidur.
Tiba-tiba Audrey mendengar suara langkah kaki. Audrey merasa takut dan sangat panik. Lalu ia bangkit dari tempat tidurnya. Audrey berdiri didekat pintu kamarnya, suara-suara itu semakin terdengar jelas, seperti sedang mencari sesuatu.
Akhirnya Audrey memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan pelan-pelan menuju pintu utama. Lalu ia membuka pintunya dengan hati-hati. Saat pintu terbuka, Audrey sontak terkejut melihat sosok tinggi yang berada di depannya.
"AAARRGGHHHH...!" Teriak Audrey sambil menutupi wajahnya.
Tiba-tiba orang yang berada didepannya menyentuh bahunya yang bergetar.
"Audrey! Ini aku!"
Audrey merasa familiar dengan suara itu.
Perlahan Audrey menurunkan tangannya, berusaha mengenali seseorang yang berdiri di depannya. Wajahnya tidak telalu kentara karena suasananya gelap.
"Ini aku ..." Lirihnya lagi.
Tiba-tiba perasaan takut Audrey perlahan menghilang. Audrey mulai mengenali siapa orang yang berada di depannya ini.
Orang yang beberapa minggu ini selalu berada di dekatnya.
Orang yang tadi siang menawarkan pertemanan kepadanya.
Satu-satunya orang yang menganggap keberadaannya ada.
Orang yang baru saja muncul dalam mimpinya.
Eric Phiravich!
Audrey merasa haru dan tenang di hatinya. Perasaan Audrey semakin meluap.
Audrey menumbruk tubuh Eric tanpa ragu.
Audrey menangis di dalam pelukan Eric.
__ADS_1