
Mirna dari tadi belum juga berhenti menyelidiki Almera, saat ini Mirna sedang mengawasi Almera yang sedang menyiram bunga di depan rumah mereka itu, Mirna mengintip Almera dari jendela yang bisa kelihatan keluar rumah itu.
Saat ini Almera sedang memakai baju gamis motif bunga-bunga, baju gamis yang ia pakai itu sangat besar di tubuhnya, seluruh tubuhnya itu di bungkus oleh baju yang kebesaran itu.
Akhir-akhir ini Mirna sering melihat Almera memakai baju yang sangat besar, apa mungkin Almera menyembunyikan perut besarnya itu di sebalik baju gamis yang besar itu? pikir Mirna
"Susah banget lihat nya, ini benaran atau tidak sih?"
Mirna terus saja memperhatikan setiap gerak-gerik Almera itu, ia tidak mau ketinggalan informasi tentang ini.
Angin berhembus dengan kencang pada siang hari ini, Almera yang lagi menyiram bunga itu kesusahan karena baju yang ia gunakan sangat besar dan dalam juga, terlebih lagi angin itu berhembus kencang sekali membuat baju nya terhembus oleh angin juga.
"Subhanallah kencang sekali angin nya!"
Angin siang itu sangat cocok nyantai di bawah pohon yang rindang, karena udaranya sangat sejuk.
Baju Almera itu terus di tiup-tiup oleh angin yang sangat kencang itu, sampai-sampai perut besar yang ia sembunyikan itu kelihatan dengan jelas.
Sayangnya Mirna tidak dapat melihat nya karena ia sudah beranjak tidak mengintip Almera lagi.
Mirna kembali mengintip Almera ternyata Almera sudah tidak ada di sana.
"Lah, kemana dia?"
Mirna mencari Almera kembali, ia menemukan Almera yang sedang membalikkan baju-baju yang sedang di jemur di jemuran baju itu.
Kali ini Mirna tidak akan kecolongan lagi, ia harus mendapatkan hasil dari kecurigaan nya selama ini.
Almera melihat ibu mertuanya itu yang sedang melihat ke arahnya, lalu Almera menyusul ibu mertuanya itu.
"Ada apa bu?"
"Nggak!" ketus Mirna
"Oh!"
Almera masuk ke dalam rumah ia kemudian Almera istirahat di sofa ruang keluarga, dia tidak boleh capek-capek karena di dalam perutnya ada bayi yang harus ia jaga.
"Anak mama baik-baik ya di dalam sana, mama sama papa menyayangi kamu!"
Sangat di sayangkan sekali Mirna tidak dapat mendengar ucapan Almera tadi, seperti nya semesta tidak mendukung nya untuk mengetahui kecurigaan nya itu.
Mirna juga ikut duduk di sofa ruang keluarga itu, arah pandang matanya terus memperhatikan perut Almera itu, Almera melihat ibu mertuanya itu sedang memandangi perutnya itu.
"Ibu kenapa bu?" sekali lagi Almera bertanya
"Tidak!" ketus Mirna seperti biasa
"Lalu kenapa aku perhatiin ibu selalu mengikuti ku?" tanya Almera
"Perempuan mandul seperti kamu itu jangan ge'er!" cela Mirna
"Bukan ge'er tapi waspada aja!" tutur Almera seakan Mirna jadi tersinggung
__ADS_1
"Apa maksud kamu?"
"Bukan apa-apa ya, tapi waspada aja takut di apa-apain sama mertua!" sindir Almera melirik Mirna dengan sinis
Mirna tidak boleh terpancing dengan ucapan Almera itu karena ia harus menemukan hasil kebenaran yang ia curigai itu, Mirna menarik napas untuk menstabilkan tekanan emosi nya yang sudah ke ubun-ubun itu.
Sabar!
Mirna diam ia mencari cara agar perut Almera itu bisa ia lihat dengan jelas, tapi dengan cara apa?
Karena sudah pusing mencari cara yang tidak tepat, akhirnya Mirna minggat dari sana, kini menyisakan Almera yang masih duduk di sana.
Almera tau ibu mertuanya itu sedang mencurigai nya, makanya Almera bersikap judes ke ibu mertuanya itu agar ibu mertuanya itu tidak selalu mengikuti nya, Almera di kasih tahu oleh bik Yem tadi jika Mirna sedang mencurigai nya, beruntung saja bik Yem memberitahu Almera.
"Seperti nya sudah tidak aman lagi!"
Almera masih diam duduk di sofa itu sambil merilekskan otot tubuhnya, di saat itulah fernand langsung memijat bahu Almera, Almera kaget dengan tindakan tiba-tiba orang memijatnya itu.
"Mas! kok pulangnya cepat?" tanya Almera berbalik menghadap fernand
"Kangen kamu sama bayi kita ini!" jawab fernand mencolek hidung Almera
"Serius lho aku nanya kenapa cepat pulang? tidak biasanya pulang tengah hari gini!" tutur Almera
"Kerjaan udah beres ya cepat pulang, lagi pula aku malas ke kantor Carlin!" ujar fernand
Almera menoleh ke wajah fernand ia menatap wajah itu dalam-dalam penuh selidik
"Ngapain ke sana?" selidik Almera
"Aaakh... aduh sakit sayang...!" rintih fernand
"Makanya ngomong yang jujur!" desak Almera
"Buat meeting, mas malas ke sana, makanya mas kirim aja Roy ke sana, malas bertemu nenek lampir!" beritahu fernand
Almera mengangguk lalu ia mengerutkan keningnya, "perusahaan mas kerjasama sama Carlin?" tebak Almera yang langsung di angguki oleh fernand
Almera terdiam, kalau perusahaan fernand menjalin kerjasama dengan perusahaan Carlin, tidak tutup kemungkinan mereka akan sering bertemu.
"Kenapa melamun?" suara fernand membuat Almera terkejut
"Hah?"
Almera tampak bingung dan juga kikuk, ia menyingkirkan tangan fernand yang memijat bahu nya itu.
Fernand bingung dengan perubahan sikap Almera itu, kenapa tiba-tiba Almera malah menyingkirkan tangan nya.
"Kenapa?" tanya fernand
Almera menggeleng
"Kamu marah?"
__ADS_1
"Marah kenapa?" ucap Almera dengan nada datar
"Aku tau kamu marah, jangan bohong!" ujar fernand
"Marah? marah kenapa mas, perasaan kamu aja mungkin!" ujar Almera
"Aku tau kamu marah karena aku memiliki hubungan kerjasama dengan perusahaan Carlin itu, aku juga tidak tau perusahaan CA itu milik Carlin!" jelas fernand agar Almera tidak salah paham lagi dengan fernand
"Nama pemimpin nya kan ada, kayaknya kamu sengaja ya mas berpura-pura tidak tau, sebelum kalian meeting pasti kalian melihat nama pemimpin pemilik perusahaan itu!" tegas Almera
"Ya Allah... Almera ku kamu kenapa seperti ini? kenapa kamu curiga dengan ku? baiklah, yang menerima berkas itu Roy, jadi dia yang membaca semuanya, aku hanya setuju jika dia bilang itu baik untuk perusahaan FA, sekarang kamu percaya kan?" ujar fernand
Almera masih belum percaya dengan ucapan fernand itu.
"Aku tidak percaya!" ujar Almera
Almera sangat takut jika fernand berpaling dengan nya tidak tutup kemungkinan fernand tidak ada rasa dengan Carlin, sering bertemu maka mereka pasti akan banyak bicara walaupun yang di bahas tentang perusahaan.
Almera berlari ke kamarnya, fernand ngeri melihat Almera bisa-bisanya berlari di saat ia sedang mengandung.
"Al, jangan lari al!" cegah fernand
Almera tidak menggubris ucapan fernand itu, ia masuk ke kamar itu dan membanting pintu itu dengan kasar.
Brakk
Almera berbaring di ranjang lalu ia memeluk guling dan membenamkan wajahnya di guling tersebut.
Fernand menghampiri Almera itu, ia menghadapkan tubuh Almera ke arah nya, Almera sempat bersikeras tidak mau menghadap fernand, dan sampai akhirnya ia mau juga menghadap fernand, wajahnya cemberut dan bola matanya sudah basah.
"Nanti aku akan memutuskan kerjasama ku dengan perusahaan Carlin!" bujuk fernand
"Sudah jangan ngambek lagi, kalau kamu ngambek kamu jelek lho!" goda fernand
Almera masih tetap diam, bahkan ia tidak mau melihat fernand.
"Kamu mau apa? mau pergi jalan sama aku!" bujuk fernand
Almera menggeleng
"Terus mau apa?"
"Diam!" tukas Almera
Terpaksa fernand langsung bungkam ia tidak ingin banyak tanya lagi, yang ada Almera akan tambah marah.
...
Bersambung...
Ig : purna_yudiani
jangan lupa follow Instagram author ya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, berserta vote nya ya, untuk komentar sesuai dengan apa yang akan kalian sampaikan tentang alur cerita ini, kalau ada kata-kata yang salah dalam cerita itu mohon di mengerti ya🙏, membuat sebuah cerita itu membutuhkan waktu ⏲️ yang lama dan ide nya pun juga harus dipikirkan dengan matang, pemilihan kata-kata nya pun harus sesuai juga, agar pembaca merasa tidak bosan dan cerita ini tidak terlalu monoton juga.
Jangan lupa beri vote dan dukungan kalian ya, satu like yg kalian berikan sangat berharga bagi author 😊🙏🤗