Ibu Mertua, Aku Tidak Mandul

Ibu Mertua, Aku Tidak Mandul
31. Ada Apa Dengan Almera Dan Juga Mirna


__ADS_3

Siang itu Almera hanya duduk santai di teras belakang rumah nya saja, ibu mertuanya lagi di kamar lagi beristirahat, Almera saat ini lagi waspada dengan Carlin, karena hari ini Carlin tidak bekerja, ia ada di rumah ini.


Entah kenapa Almera sangat yakin kecelakaan yang menimpa nya waktu seminggu yang lalu itu ulah Carlin.


Terlebih lagi Carlin sangat sering dekat-dekat dengan Almera, kadang Almera menjauh saat Carlin mendekati nya, Almera harus waspada dengan Carlin ini.


"Al, kamu mau ibu buatin jus mangga tidak!" ujar Mirna menghampiri Almera yang duduk santai itu.


"Tidak usah repot-repot bu, al bisa membuatnya nanti!"


"Tidak apa, sekalian saja, ibu juga membuatnya, kamu tunggu di sini saja ya!" ujar Mirna


Almera mengangguk kecil, ia menghirup udara segar dari belakang rumahnya ini, di belakang rumah nya itu terdapat beberapa pohon yang rindang, jadinya udara di belakang rumah nya itu sangat sejuk.


Dari tadi Almera tidak melihat Carlin, mungkin dia lagi kamar nya.


Carlin tersenyum apa yang ia tunggu akhirnya terwujud juga, Carlin melihat ibu mertuanya itu yang lagi membuat jus. Ia berdiri di sebalik dinding menuju dapur itu.


Entah ini keberuntungan Carlin entah kenapa juga, Mirna pergi meninggalkan jus mangga itu, Carlin memiliki sebuah kesempatan untuk mengerjai Almera lewat jus mangga itu.


"Kali ini kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi Almera!"


Carlin mencampurkan sesuatu ke kedua gelas jus mangga itu, setelah ia mencampur kan sesuatu itu lalu ia langsung kabur.


"Mirna, Almera, kali ini kalian tidak akan bisa melawan ku!"


Mirna kembali ke dapur ia membawa jus mangga itu ketempat Almera, Mirna juga duduk di samping Almera itu.


"Silahkan di minum!" suguh Mirna


"Terima kasih bu!"


Mereka berdua meminum jus mangga itu, awalnya Almera tidak merasakan apa-apa setelah meminum jus mangga itu.


Almera memegangi perut nya yang terasa sakit itu, ia meringis karena perutnya terasa sakit.


"Bu, perut al terasa sakit!" beritahu Almera


"Ha? kenapa bisa?" panik Mirna


"Tidak tau bu, aaawss.. sakit bu!" ringis Almera memegangi perut nya itu.


Almera tidak dapat lagi menahan rasa sakit di perut nya itu.


"Bu... hiks... sakit banget perut al!" ujar Almera mulai menangis


Setelah meminum jus tadi, Mirna tidak merasakan apa-apa, hanya saja ia merasa sakit kepala sedikit.

__ADS_1


"Hiks... bu tolongin Almera bu, bawa al ke rumah sakit bu!" minta tolong Almera


Mirna mengangguk ia memapah tubuh Almera itu, Mirna sampai kaget saat ia melihat darah mengalir di kaki Almera itu.


"Ya Allah... al kamu pend*rah*n!" pekik Mirna


"Ibu... sakit bu... hiks... sakit...!" kali ini Almera tidak bisa lagi menahan sakit di perutnya itu.


"Bik, bik Yem bik...!" panggil Mirna


Bik Yem tergopoh-gopoh menghampiri Mirna yang memapah tubuh Almera itu.


"Astagfirullah alhazim, nona Almera kenapa nyonya?"


"Jangan banyak bicara bik, tolong bantu saya bawa Almera ke mobil!"


Mirna sangat panik dan juga khawatir dengan keadaan Almera saat ini, ia merasa bersalah sudah memberi Almera jus mangga tadi


"Ya Allah... bantu selamatkan cucu hamba ya Allah..." lirih Mirna


Mirna mengendarai mobil nya itu menuju rumah sakit, sedangkan Almera duduk di jok belakang bersama dengan bik Yem.


"Bertahan ya nona al!" ucap bik Yem juga ikut khawatir


"Hiks... sakit... hiks... ibu... sakit bu... bik sakit.." tangis Almera mengadu kepada orang yang ada di tempat nya itu.


Mirna melajukan mobilnya itu sangat kencang, jalanan cukup macet, sampai mereka tidak bisa tiba di rumah sakit lebih cepat lagi, Mirna sudah di banjiri keringat sebesar biji jagung, ia sangat takut kehilangan cucu nya itu.


"Hiks... bu sakit, bu... hiks..."


"Sabar al kita sebentar lagi akan sampai!"


Mereka sampai di depan rumah sakit itu, Mirna berteriak memanggil suster yang bekerja di rumah sakit ini.


"Suster... tolong bawa brankar ke sini, menantu saya butuh pertolongan!" sorak Mirna itu sangat kencang sampai-sampai pengunjung rumah sakit ini melihat ke arah Mirna


Suster membawa brankar itu ke mobil yang Mirna bawa tadi, Almera di tidurkan di brankar itu, lalu di bawa ke ruang UGD


"Selamatkan cucu dan menantu saya!" pekik Mirna itu


Mirna tidak bisa berdiam diri, ia mondar-mandir mencari dokter yang sangat lama masuk ke UGD yang sudah ada Almera itu.


"Dok... dokter... tolong bantu menantu saya... dokter...!" pekik Mirna memanggil dokter


Jika kalian lihat saat ini Mirna seperti orang tidak waras karena ia berteriak-teriak.


"Kalian tidak profesional sekali, tolong selamatkan menantu saya!" hardik Mirna itu saat dokter baru saja tiba.

__ADS_1


"Sabar bu, kita pasti akan membantu menantu ibu!" ucap dokter itu


"Do not talk too much!" bentak Mirna ke dokter itu


Dokter tersebut menghela napas lalu masuk ke ruang UGD itu, di sana Almera sudah terbaring lemah.


Di luar ruang UGD itu Mirna mondar-mandir ia sangat takut sekali, tidak tau kenapa siapa ia harus mengadu.


"My son!"


Mirna baru ingat ia belum memberitahu fernand tentang Almera yang sekarang masuk rumah sakit.


"I have to tell my son!"


Mirna menelepon fernand tapi tidak ia angkat, sekali lagi Mirna menelepon fernand tapi tidak ia angkat juga.


"Fer, ayo angkat telepon ibu, Almera membutuhkan kamu!"


Mirna terus menghubungi nomor putra nya itu, tapi tidak juga di angkat.


"Tidak bisa di biarkan!"


"Bik Yem, tolong hampiri fernand ke kantor nya, dari tadi saya telepon ia tak angkat-angkat, tolong ya bik!"


"Baik nya!"


Mirna sangat cemas sekali dengan keadaan seperti ini, kenapa ia harus mengulangi lagi kejadian seperti ini lagi, dimana dia harus bersabar dan berdo'a untuk kesembuhan menantu nya itu.


Mirna seakan mau ambruk, karena ia di serang oleh rasa takut.


"Jangan sekarang Mirna, go kamu harus kuat, jangan sekarang!" Mirna duduk di kursi tunggu itu sambil memijat pelipisnya.


"Mirna kamu harus kuat, jangan sekarang, Almera membutuhkan kamu!"


Mirna kembali di serang orang rasa panik dan ketakutan akan kehilangan itu, ia mulai tidak bisa mengontrol dirinya.


"Ya Allah... tolong bantu hamba!"


Kepala Mirna terasa pusing, pandangan nya sudah mulai kabur, "Mirna sadar Mirna, jangan sekarang!"


Brukk


Tubuh Mirna ambruk ke lantai, beruntung saja di depan ruang UGD itu banyak orang yang berlalu lalang.


"Tolongin, tolongin ibu itu!"


Tubuh Mirna di angkat ke brankar dan di bawa ke ruang UGD juga.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2