Ignite

Ignite
This is Us (One)


__ADS_3

        Suara musik klasik yang lembut mengiringi langkah kaki seorang wanita cantik bergaun merah menyala yang sedang berjalan masuk ke dalam ballroom hotel bintang lima yang mewah. Lekuk tubuhnya yang indah dan


parasnya yang cantik mampu memukau siapapun yang sejak tadi menatapnya dengan mata terpana. Wanita itu dengan langkah anggun berjalan menuju ke arah seorang pria muda yang sedang menyesap segelas wine bersama dengan teman-temannya.


        “Selamat malam tuan-tuan, bolehkah saya bergabung?”


        Yuka tersenyum lembut pada seorang pria yang sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan kelaparan yang siap untuk menerkam mangsanya. Pria itu dengan senang hati menyambut Yuka dan merangkul Yuka dengan mesra ke dalam pelukannya.


        “Tentu sayang, bukankah kau adalah model dari agensi Park Jaejong?”


        “Oh rupanya anda telah mengenal saya. Ya, saya adalah model di agensi milik Park Jaejong.”


        “Jadi siapa namamu?” tanya pria muda itu sambil mengerling nakal. Yuka tersenyum lembut sambil menyingkirkan tangan nakal pria itu yang mulai berani menggerayangi pantat seksinya.


        “Anda bisa memanggil saya Yuka tuan.”


        “Wah, kau memiliki nama yang sama cantiknya dengan dirimu. Kangta ssi, wanita ini sangat cocok untuk menjadi model produk mobil yang bulan ini kau luncurkan. Aku yakin, mobil-mobilmu itu pasti akan laku keras di pasaran.” timpal pria gendut yang berada di sebelah Kangta. Yuka tersenyum santai sambil menanggapi ucapan lain dari pria-pria yang mengelilinginya. Namun Kangta terlihat yang paling berambisi untuk mendekatinya.


        Saat acara berdansa dimulai, Kangta langsung menarik tangan Yuka untuk berdansa bersamanya di tengah-tengah ballroom sambil memperkenalkan Yuka pada kolega-koleganya.


        “Cantik, mari kita berdansa di tengah-tengah ruangan.”


        “Oh tentu, dengan senang hati.”


        Yuka menerima uluran tangan dari Kangta dengan penuh sukacita dan mengikuti langkah Kangta yang perlahan-lahan membawanya ke tengah-tengah ruangan. Puluhan mata yang memandang mereka tampak berdecak kagum dengan keserasian Kangta dan Yuka. Apalagi akhir-akhir ini nama Kangta sedang melambung tinggi di berbagai majalah bisnis karena kesuksesannya dalam memulihkan bisnis mendiang ayahnya yang dua tahun lalu sempat bangkrut. Meskipun kabar burung yang tidak menyenangkan juga sering berhembus di


masyarakat, tapi orang-orang di luar sana masih banyak yang mengagumi sosok Kangta dan ingin mengetahui kehidupan pribadi pria itu. Dan malam ini para paparazzi seperti berpesta pora karena mereka baru saja menemukan bahan berita baru untuk majalah mereka esok pagi.


           “Apa kau sudah memiliki kekasih atau mungkin seorang suami?” tanya Kangta lembut tepat di sebelah telinga Yuka. Yuka terlihat sedikit geli dengan hembusan nafas Kangta yang mengenai sisi telinganya yang sangat sensitif. Sikap wanita itu yang semakin bergelayut manja di pundaknya membuat Kangta semakin senang dan semakin merapatkan pelukannya pada pinggang Yuka.


            “Hmm, menurutmu? Apa aku terlihat setua itu untuk memiliki seorang suami?”


            Melihat reaksi Yuka yang sedang berpura-pura marah di depannya membuat Kangta terkekeh geli dan semakin merapatkan tangannya pada tubuh Yuka. Bahkan tangannya yang bebas dengan berani mulai meraba-raba punggung telanjang Yuka yang terbuka.


            “Jika kau tidak keberatan, aku bersedia mengisi kekosongan itu.” Bisik Kangta mesra. Yuka terkikik geli di pundak Kangta dan mulai mengalungkan lengannya manja pada leher Kangta.


            “Tapi sayangnya aku bukan wanita yang berkomitmen, aku hanya membutuhkan pria untuk bersenang-senang.”


            “Tidak masalah, aku siap menjadi persinggahan sementaramu.” balas Kangta dengan kerlingan nakal.


            Mereka berdua kemudian kembali berdansa dengan sangat mesra di tengah-tengah ballroom, membuat orang-orang yang melihat pasangan itu menjadi berdecak iri dan kagum. Dari kejauhan seorang pria dengan seragam pelayan terus mengintai pergerakan Yuka sambil sesekali menawarkan cocktail yang dibawanya. Pria itu menatap datar pada pasangan kasmaran yang sedang bercumbu mesra di tengah-tengah ballrom, dan setelahnya pria itu langsung menghilang dibalik pintu besar yang menghubungkan ballroom dengan dapur.


-00-


Brukk


            Kangta menjatuhkan tubuh Yuka tepat di atas ranjang hotel sambil mengagumi keindahan tubuh Yuka dari tempatnya berdiri di pinggir ranjang.


            “Kau memang sangat cantik. Aku sudah tidak sabar untuk menyentuh setiap jengkal kelembutan kulitmu dengan lidahku.” bisik Kangta penuh gairah. Yuka tersipu sambil bergelung manja di atas ranjang. Kedua tangannya terlihat menggapai-gapai tubuh Kangta untuk segera mendekat ke arahnya.


            “Jangan terlalu terburu-buru sayang, nikmatilah waktumu dengan santai.” bisik Yuka serak. Kedua manusia itu kembali melanjutkan pergulatan mereka yang panas dengan Kangta yang terlihat mendominasi permainan.


Namun sebuah suara misterius yang muncul di dalam kamar mereka, membuat Kangta segera menghentikan permainan panas mereka untuk melihat sumber dari suara misterius itu.


Cekrek


            Tiba-tiba sebuah benda dingin tertempel dengan sempuran di ujung pelipis Kangta, membuat Kangta langsung menaikan kedua tangannya di atas kepala karena ia menyadari jika benda dingin yang sedang tertempel di pelipisnya adalah moncong sebuah pistol. Dengan sedikit gemetar, Kangta mencoba untuk berbalik ke belakang, tapi pergerakannya langsung terhenti ketika suara bass yang dingin itu menggertaknya.


            “Jangan coba-coba untuk berbalik atau melawan jika kau masih menyayangi nyawamu.”


            Kangta meneguk ludahnya takut-takut dan mulai menatap Yuka dengan khawatir. Saat ini wanita itu juga terlihat sama khawatirnya dengan Kangta sambil mematung di tempat dengan penuh keterkejutan. Tapi sedetik kemudian, Yuka tiba-tiba mengangkat kakinya dan melayangkan satu pukulan tepat di kepala Kangta hingga Kangta tak sadarkan diri di depannya.


Dukk!!


            “Dasar pria mesum! Itu untuk sikap kurang ajarmu yang menjijikan!” maki Yuka kesal. Wanita itu segera bangkit dari atas ranjang king size yang ditempatinya sambil merapikan gaun merahnya yang sedikit berantakan. Ia kemudian menolehkan kepalanya pada pria tampan yang saat ini sedang berdiri di belakang tubuh Kangta dengan perasaan bersalah dan juga tidak enak.


            “Sayang, maafkan aku.” ucap Yuka memohon. Lee Haejun menatap datar pada Yuka sambil menyeret tubuh Kangta ke atas ranjang. Sungguh malam ini ia sangat kesal dengan Yuka karena wanita itu berani-beraninya menggunakan gaun yang sangat ketat dan menawarkan ide gila seperti ini, menyuruhnya menjadi pelayan dan mengumpankan dirinya sendiri pada pria hidung belang mesum seperti Kangta. Padahal sebelumnya mereka telah sepakat untuk menyamar menjadi pelayan dan petugas recepsionist, tapi dengan nekatnya Yuka justru membohonginya dan bersikap layaknya wanita murahan malam ini. Ia sungguh marah pada wanita itu.

__ADS_1


            “Oppa... apa kau marah padaku?” kejar Yuka gigih. Wanita itu terus mengikuti pergerakan Haejun yang sedang mengikat kedua tangan dan juga kedua kaki Kangta. Setelah ini mereka harus mengintrogasi Kangta ketika pria itu sadar dari pingsanya mengenai bisnis ilegalnya yang sudah ia lakukan selama dua tahun terakhir.


            “Berhentilah mengikutiku. Lebih baik kau bersiap untuk mengintrogasi pria brengsek ini saat ia sadar.”


            Yuka mendengus kesal dengan sikap kekanakan Haejun. Selalu saja pria itu marah padanya jika ia melakukan hal-hal yang di luar persetujuan pria itu. Padahal semua ini demi kesuksesan pekerjaan mereka. Dalam misi ini mereka tidak boleh gagal seperti agen-agen yang lain. Sebenarnya tugas untuk meringkus Kangta bukanlah pekerjaan mereka, tapi rekan-rekan mereka yang lain selalu saja gagal dalam menjebak Kangta, sehingga pemerintah pusat memerintahkan mereka untuk turun tangan dalam meringkus Kangta, padahal selama ini mereka selalu dihadapkan dalam masalah-masalah yang lebih sulit, seperti masalah ******* dan mata-mata yang beberapa bulan terakhir ini mereka temukan sedang menyusup ke dalam negara mereka.


            “Oppa, Kangta sepertinya baru saja menyelundupkan mobil-mobil baru keluaran perusahaannya ke China, ia sengaja memberangkatkannya hari ini karena besok petugas bea cukai akan melakukan sidak. Ck, dia benar-benar pria kaya yang sangat pelit, dia sengaja menyelundupkan mobil-mobil itu agar ia tidak harus membayar pajak untuk mobil-mobilnya yang dijual ke luar negeri.” dengus Yuka sambil mengutak-atik ponsel pintar milik Kangta. Haejun sendiri setelah menyelesaikan tugasnya untuk mengikat Kangta ke atas ranjang langsung berjalan menghampiri Yuka yang sedang duduk bersandar di atas sofa bulu yang nyaman, tak jauh dari tempat Kangta diikat.


            “Siapa yang mengijinkanmu memakai gaun terbuka seperti ini?”


            Yuka menoleh ke arah Haejun sambil meringis kecil. Akhirnya Haejun buka suara juga mengenai pakaiannya dan kelakuannya hari ini. Sudah dapat dipastikan jika setelah ini Haejun akan menceramahinya panjang lebar hingga telinganya panas.


            “Maafkan aku oppa, aku hanya merasa gemas dengan rekan-rekan kita yang tidak bisa melakukan tugas ini dengan benar. Bukankah ini pekerjaan mudah? Tapi mereka selalu saja gagal.” gerutu Yuka kesal. Lee Haejun menarik Yuka ke dalam dekapannya dan langsung melumat bibir Yuka dengan rakus. Ia ingin menghapus


bekas bibir Kangta yang beberapa saat lalu dengan seenaknya bergerilya di atas kulit mulus wanitanya. Untung saja pria itu tidak melakukan hal yang lebih dari sekedar mencium Yuka, jika sampai itu terjadi, mungkin ia tidak akan berpikir dua kali untuk menarik pelatuk pistolnya dan memecahkan kepala pria itu sekarang juga. Berani-beraninya ia menyentuh wanitanya yang berharga!


            “Ini untuk ciuman pria keparat itu di wajahmu.” bisik Haejun parau dan kembali melumat bibir Yuka dengan bibirnya. Kedua manusia itu saling melumat mesra di atas sofa dengan Yuka yang semakin bergelung manja di leher Haejun. Terkadang ia merasa geli dengan sikap Haejun yang sangat posesif padanya, padahal ia bisa menjaga dirinya sendiri. Lagipula ini hanya sekedar untuk menjalankan misi mereka. Ia tidak akan berani bermain api di belakang Haejun, apalagi dengan pria tua mesum seperti Kangta, ia jelas-jelas tidak akan sudi untuk


melakukannya. Tapi selalu saja Haejun memperlakukannya dengan berlebihan dan menganggapnya telah melakukan hal-hal yang melebihi batas. Hal ini membuatnya teringat akan masa-masa trainingnya dulu yang sangat mengesankan dan juga sebagai awal pertemuannya dengan Haejun.


Flashback


            Pagi itu sepuluh kandidat yang lolos dalam ujian seleksi menjadi anggota intelijensi negara tampak bersiap untuk upcara penyambutan mereka sebagai anggota baru. Kesepuluh anggota itu terlihat begitu antusias saat memasuki aula besar gedung intelijensi negara yang sebentar lagi akan menjadi markas mereka. Yuka yang


merupakan satu-satunya wanita yang lolos menjadi anggota intelijensi negara terlihat begitu mencolok diantara para pria yang berjalan di depannya. Wanita itu meskipun hanya minoritas, tetapi ia tetap terlihat percaya diri dan tampak tak gentar sedikitpun. Menjadi anggota intelejensi negara adalah cita-citanya sejak kecil. Dulu ayahnya yang bekerja sebegai seorang polisi selalu bercerita mengenai kehebatan para intel negara yang berhasil menyelamatkan negara dari serangan ******* atau serangan mafia kejam yang hendak merusak moral-moral para


pemuda Korea. Dan sejak saat itu ia selalu berambisi untuk menjadi anggota badan intelijen negara. Meskipun ia tahu akan menjadi kaum minoritas di tempatnya bertugas nanti, tapi ia tidak peduli. Niat dan tekadnya untuk menjadi salah satu anggota intel Korea telah bulat, dan ia akan melakukan apapun demi mendapatkan posisi yang sangat diimpikannya selama ini.


            “Beri hormat pada jenderal Lee.”


            Sungkyu yang merupakan pria tertua dalam barisan itu segera memberi aba-aba pada rekannya untuk memberikan hormat pada jenderal Lee Taehyung yang saat ini berdiri di depan mereka. Pria setengah baya itu kemudian membalas sikap hormat para anggota baru dengan sikap hormat formal dan tersenyum hangat.


            “Selamat datang para intel-intel Korea yang kubanggakan, kalian sekarang adalah bagian dari kami, para intel senior yang akan melanjutkan perjuangan kami untuk menumpas kejahatan yang terjadi di Korea. Sebelumnya perkenalkan, aku adalah jenderal Taehyung, pemimpin badan intelijensi Korea Selatan. Dan di sebelah kananku ini adalah Kim Hyunno, dia adalah tangan kananku sekaligus wakilku di markas ini. Lalu di sebelah kiriku adalah putraku yang akan menjadi mentor kalian, dia adalah Lee Haejun. Selebihnya kalian akan melakukan sesi perkenalan dengan para senior yang lain saat kalian melakukan pelatihan. Apa kalian mengerti?”


            “Siap, mengerti jenderal.” jawab kesepuluh anggoota intel baru itu kompak. Jenderal Lee mengangguk puas dengan kualitas intel-intel baru yang tampak lebih baik dari tahun sebelumnya. Tahun ini badan intelijensi negara melakukan penyaringan yang sangat ketat untuk memilih para intel terbaik yang akan meneruskan para generasi senior yang sebentar lagi akan purna tugas. Oleh karena itu jumlah anggota yang bergabung tahun ini jumlahnya lebih sedikit dari anggota-anggota yang terdahulu, namun kemampuan yang mereka miliki jelas tidak bisa diremehkan dan benar-benar merupakan orang-orang dengan kualitas nomor satu


            Lee Haejun mengangguk tegas pada ayahnya sambil tersenyum sekilas pada ayahnya sebelum sang ayah keluar dari aula besar besar. Sepeninggal tuan Lee, Haejun segera berjalan mendekati para juniornya satu persatu dari ujung kanan hingga ujung kiri.


            “Siapa namamu?”


            “Nam Sungkyu kapten.”


            “Hmm, jadi kau kapten dari tim ini? Sekarang tunjukan kemampuanmu padaku.”


            Lee Haejun meminta Sungkyu untuk menunjukan bakatnya yang telah ditunjukannya saat ujian masuk untuk menjadi anggota intel. Tapi saat ujian masuk Lee Haejun tidak ikut serta dalam menguji mereka, sehingga ia ingin melihat langsung apa saja kemampaun yang dimiliki oleh juniornya. Selain itu ini akan memudahkannya untuk menugaskan mereka sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.


            “Kemampuan saya adalah bela diri.”


            “Kalau begitu tunjukan padaku.”


            Haejun mempersilahkan Sungkyu untuk melawannya dan menunjukan semua tekhnik yang dimiliki oleh pria itu. Sungkyu kemudian mulai menyerang Haejun dengan tekhnik bela dirinya yang sudah ia pelajari bertahun-tahun. Tendangan dan pukulan ia arahkan pada Haejun, meskipun awalnya ia sempat ragu, tapi ketika Haejun juga memukulnya dengan keras, akhirnya Sungkyu mulai mengeluarkan semua kemampuan yang ia miliki dengan sungguh-sungguh.


            Para junior yang belum mendapatkan giliran untuk menunjukan bakat mereka tampak antusias saat menonton bagaimana aksi rekan mereka saat sedang melawan mentor mereka. Sesekali mereka bertepuk tangan riuh untuk menyemangati Sungkyu yang terlihat sedang mencoba menjatuhkan Haejun. Yuka yang menjadi satu-satunya wanita dalam barisan itu juga terlihat begitu antusias dengan kemampuan Sungkyu dalam melawan mentornya, menurutnya kemampuan Sungkyu sudah sangat bagus, ia hanya perlu sedikit berlatih agar semakin berpengalaman seperti Haejun dan dapat menyerang dengan gerakan halus.


Bruk


            Sungkyu berhasil dikalahkan oleh Haejun dalam satu kali tendangan telak. Pria itu tampak terengah-engah di atas matras sambil mengelap peluhnya yang menetes turun dari keningnya. Tak lama kemudian Haejun mengulurkan tangannya tepat di depan Sungkyu untuk membantu pria itu berdiri. Sembari menarik tangan Sungkyu


untuk berdiri, Haejun memuji bakat pria itu dan akan memasukannya ke dalam tim eksekusi.


            “Keterampilan bela dirimu sangat hebat, kau akan dimasukan ke dalam tim eksekusi. Setelah ini tujuh puluh persen waktu pelatihanmu akan digunakan untuk mengasah kemampuan bela dirimu. Apa kau siap?”


            “Ya, siap kapten.”


            Sungkyu mengangguk penuh hormat pada Haejun dan segera berjalan kembali ke dalam barisannya.


            Mata elang Haejun kini mulai menelusuri setiap junior yang saat ini sedang berdiri tegang di depannya. Suara riuh yang beberapa menit lalu terdengar memekakan telinga kini berubah menjadi suara hembusan nafas yang tampak tercekat. Mereka semua terlihat begitu gugup untuk menunjukan bakat mereka di depan Haejun.

__ADS_1


Selain karena Haejun adalah mentor mereka, mereka juga merasa kurang percaya diri saat harus beradu kepintaran bersama Haejun. Ekor mata Haejun tiba-tiba berhenti tepat pada wajah Yuka. Sejak awal ia begitu penasaran dengan sosok Yuka yang sesungguhnya. Selain karena ia adalah satu-satunya wanita dalam kelompok tersebut, wanita itu juga terlihat tidak cocok untuk menjadi anggota intel yang seharusnya berwajah sangar. Menurutnya wanita itu lebih tepat jika menjadi seorang artis atau model.


            “Kau, siapa namamu.”


            Semua orang yang melihat arah telunjuk Haejun sedang mengarah pada Yuka langsung mencuri-curi pandang untuk menatap wajah Yuka yang sebentar lagi akan berhadapan dengan Haejun. Mereka pikir Yuka akan terlihat takut dan gentar saat berhadapan dengan Haejun, tapi nyatanya yang mereka lihat saat ini adalah wajah angkuh Yuka yang sedang menatap Haejun dengan wajah mendongak.


            “Saya Im Yuka kapten.” jawab Yuka lantang. Tidak ada nada keraguan atau ketakutan di dalamnya. Wanita itu benar-benar sangat percaya diri dengan apa yang dimilikinya saat ini.


            “Hmm, kau adalah satu-satunya wanita yang bergabung di dalam tim intel ini. Apa kau yakin akan melanjutkannya? Jika kau merasa takut dan berubah pikiran, kau masih bisa mengundurkan diri dan keluar dari markas ini. Tapi jika kau...”


            “Saya sangat yakin dengan apa yang saya pilih, jadi saya tidak akan pernah mundur ataupun keluar dari markas ini karena menjadi intel negara yang rela mati demi rakyat Korea adalah cita-cita saya sejak kecil.” Potong Yuka tanpa keragu-raguan. Sejenak Haejun merasa kagum dengan kesungguhan Yuka untuk menjadi intel. Rasanya harga dirinya sebagai seorang pria sedikit tertampar dengan kegigihan dan semangat Yuka dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak keadilan. Sekarang ia merasa yakin jika Yuka adalah wanita yang tangguh dan akan cocok dengan iklim keras yang akan sering terjadi di sekitarnya. Yuka pasti akan menjadi seorang intel yang sangat hebat untuk Korea.


            “Hmm, kalau begitu tunjukan bakatmu.”


            Yuka berjalan ke depan dan mengambil sebuah pistol FN 57 yang merupakan pistol semi otomatis yang dilengkapi dengan peluru kecil dengan ujung runcing. Pistol FN 57 adalah pistol khusus yang dibuat oleh perusahaan senjata Austria untuk kalangan penegak hukum elit, salah satunya adalah badan intel Korea Selatan.


            Lee Haejun mengamati pergerakan Yuka dalam diam sambil menerka kejutan apa yang akan ditunjukan wanita angkuh itu padanya. Dan ia harap wanita itu tidak mengecewakannya sama sekali.


            “Kau sudah siap?”


            “Ya, saya siap kapten.”


            “Sekarang kau tembak enam kaleng itu, jika kau bisa menjatuhkan keenam kaleng itu dengan mulus, kau akan kutempatkan di kelompok sniper, tapi jika tidak... kau harus keluar dari gedung ini dan mengundurkan diri sebagai intel. Apa kau bisa melakukannya, gadis angkuh?”


            Kedua mata Yuka menatap tajam pada Haejun dengan berkilat marah. Ia jelas tidak terima dengan keputusan sepihak pria itu yang dengan seenaknya menyuruhnya untuk mundur setelah ia berada di posisi setinggi ini. Ia sangat yakin jika sebenarnya Lee Haejun saat ini sedang mengibarkan bendera perang padanya. Dan ia bersumpah akan membuktikan pada pria arogan itu jika ia layak menjadi anggota dari kelompok penegak hukum elit itu.


            “Kau sengaja ingin menjebakku dan mengeluarkanku dari sini? Ini tidak adil! Aku sudah melalui semua tahap seleksi dengan susah payah, dan sekarang kau dengan mudahnya ingin mengambil posisi yang sudah lama kuinginkan. Kau kapten yang tidak berkompeten!” maki Yuka marah. Lee Haejun tampak bergeming di tempat dan


sama sekali tidak ingin membalas ucapan wanita itu, toh itu sama sekali tidak berguna dan justru membuang-buang waktu. Lebih baik ia diam dan melihat bagaimana wanita itu menunjukan bakatnya yang terpendam.


            “Kau boleh memulainya sekarang.”


            Dengan mendengus gusar, Yuka langsung memposisikan dirinya di depan kaleng-kaleng putih yang berjarak sepuluh meter di depannya. Tentu tantangan menembak ini akan sangat sulit, karena ia harus menembak di jarak yang sangat dekat. Biasanya jarak paling dekat yang ia gunakan untuk menembak adalah empat puluh


lima meter, dan sekarang ia harus menembak di jarak sepuluh meter. Benar-benar pria itu sudah gila menurutnya. Ia yakin jika Lee Haejun pasti sengaja melakukan hal itu untuk membuatnya kesulitan dan gagal dalam tantangan menembak ini, sehingga ia akan di depak keluar dari organisasi ini dengan mudah. Tapi, tentu saja ia tidak akan menyerah begitu saja, karena ia sangat yakin dengan kemampuan menembaknya.


            Yuka mulai mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu dan tepat di depan matanya. Salah satu matanya sedikit menyipit untuk memperkirakan jarak ujung pistol dan jarak kaleng pertama yang berada di depan matanya. Kali ini ia harus menghitung akurasi peluru dengan sangat tepat, karena jika tidak, peluru itu justru akan melesat terlalu cepat dan tidak akan mengenai kaleng-kaleng itu sama sekali.


            Dengan ancang-ancang yang mantap, Yuka mulai menghitung mundur dalam hati. Sambil berdoa, ia mulai menggerakan jari telunjuknya untuk menarik pelatuk pistolnya yang pertama.


Dor


            Bunyi suara senapan yang memekakan telinga langsung menyerbu ke dalam gendang telinga masing-masing anggota dan juga Haejun yang berada di dalam ruangan itu. Perlahan-lahan Yuka mulai membuka bulu mata lentiknya untuk melihat hasil tembakannya yang pertama. Dan betapa kecewanya Yuka ketika ternyata tembakannya meleset. Peluru yang ditembakannya justru menghantam tembok yang berada di belakang kaleng itu. Dengan lesu, Yuka langsung berjalan menghampiri Haejun dan menyerahkan pistol itu pada sang kapten.


            “Saya gagal kapten, saya akan mengundurkan diri sekarang juga.”


            Haejun hanya menatap datar pada Yuka. Ia pikir wanita itu akan kembali bersikap angkuh dan penuh percaya diri seperti sebelumnya, tapi ternyata tidak. Wanita itu terlalu cepat putus asa dan kehilangan kepercayaan dirinya dalam satu kali kegagalan. Haejun tersenyum miring pada Yuka dan langsung menarik tangan Yuka untuk berdiri di tempat semula ia berdiri. Pria itu kemudian menggenggam kedua tangan Yuka dan memposisikannya tepat di depan kaleng kedua. Kali ini Haejun sedikit berbaik hati untuk memberikan kesempatan pada Yuka dan mengajari wanita itu bagaimana cara menembak kaleng itu dengan akurat.


            “Sebelum menembak, kaki dan tanganmu harus dibuka sama lebarnya. Lalu posisi matamu harus lurus sejajar dengan moncong pistol ini. Setelah itu kau harus melihat target tembakanmu dengan sungguh-sungguh. Kali ini terget tembakanmu jauh lebih mudah karena ia tidak akan lari ataupun menghindar, bagaimana jika terget


tembakanmu adalah manusia ataupun penjahat kelas kakap, bisa-bisa kau justru akan mati terbunuh di tangan mereka. Sekarang lihat kaleng itu baik-baik, bayangkan peluru panas ini akan melesat, meluncur ke dalam kaleng itu dan mengoyakan isinya hingga hancur berkeping-keping. Jika kau sudah membayangkannya, maka sekarang adalah saatnya.”


Dor


            Yuka menatap laju peluru itu dengan mata terpana dan berkaca-kaca. Rasanya ia sangat bahagia karena peluru itu saat ini benar-benar berhasil mengenai sasaran dengan sempurna. Suara tepuk tangan rekan-rekannya langsung menggema di dalam ruangan kedap suara tersebut, memberikan semangat untuk Yuka agar ia tidak putus asa dan meghentikan begitu saja cita-citanya yang sangat ingin ia gapai selama ini. Yuka kemudian berbalik menghadap Haejun sambil membungkuk sembilan puluh derajat untuk berterimakasih pada pria itu.


            “Terimakasih kapten atas pelatihan singkatnya, kali ini saya akan melakukannya dengan sungguh-sungguh, seperti apa yang kapten ajarkan pada saya.”


            “Bagus, sekarang jatuhkan sisa kaleng itu dan buat aku terkesan dengan bakatmu.”


            Yuka tersenyum manis pada Haejun dan langsung memposisikan dirinya untuk menembak kembali ke empat kaleng yang tersisa. Kali ini ia bersumpah akan melakukan yang terbaik untuk sang kapten yang telah memberikan kesempatan ke dua untuknya.


            Sementara itu Lee Haejun diam-diam tersenyum kecil saat memperhatikan Yuka yang sedang bersiap untuk menembak ke empat kaleng yang tersisa. Ia rasa setelah ini ia akan mengajukan diri untuk menjadi mentor pribadi wanita itu. Selain karena Yuka adalah wanita yang berbakat, ada satu hal yang sejak tadi terus menggelitik rasa penasaran Haejun. Wanita itu entah mengapa mampu membuatnya sangat penasaran dengan sisi misterius yang ditunjukan oleh Yuka.


            Yuka.... Kurasa kau berhasil mendorongku untuk mengenalmu lebih jauh.


Flashback end

__ADS_1


__ADS_2