Ignite

Ignite
Little Enzo (Three)


__ADS_3

Yuka membuka matanya perlahan ketika sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Ibu muda itu tampak menggeliat beberapa kali untuk menghilangkan rasa pegal yang ia rasakan akibat terlalu lelah bekerja. Setelah dirasa kesadarannya cukup terkumpul, Yuka mulai menoleh ke samping untuk membangunkan sang suami. Tapi melihat sang suami dan sang putra tengah tertidur lelap sambil saling memeluk satu sama lain membuat Yuka merasa tidak tega untuk membangunkan mereka berdua. Rasanya hatinya begitu hangat saat melihat dua pria yang paling berharga dalam hidupnya sedang berada di sisinya dan saling memeluk satu sama lain. Yuka kemudian mengelus kepala Enzo pelan sambil mencium pipi chubby putra semata wayangnya itu.


            “Enzo-ya, mommy menyayangimu.” bisik Yuka lembut di telinga Enzo sebelum ia memutuskan untuk bangkit dan menyiapkan sarapan di bawah bersama ibunya. Tapi sebelum Yuka benar-benar keluar dari kamar, Yuka sempat mengguncang pundak Haejun pelan dan menyuruh pria itu untuk segera bangun.


            “Hmm, aku akan bangun setelah ini.” racau Haejun dengan mata setengah terpejam. Yuka tersenyum kecil memperhatikan pria manjanya, dan setelah itu ia benar-benar keluar dari kamarnya untuk menemui ibunya di bawah.


                                                                        -00-


            “Eomma.”


            Yuka memanggil ibunya pelan ketika ibunya sedang memotong-motong sayur di atas meja dapur. Nyonya Im yang melihat Yuka datang langsung melambaikan tangannya pelan dan mengangsurkan secangkir teh pada Yuka.


            “Ini minumlah. Bagaimana semalam, apa Enzo kesulitan tidur?”


            “Yah begitulah eomma, Enzo pasti akan merasa euforia setiap kali kami ada untuk menemaninya.” ucap Yuka dengan nada lelah sambil menopangkan dagunya di atas meja. Nyonya Im tersenyum lembut pada Yuka dan hanya memaklumi kelakuan cucu manisnya itu.


            “Wajar Enzo bersikap seperi itu, selama ini kalian jarang bersamanya dan menemaninya di rumah. Kau juga tidak pernah datang ke sekolahnya untuk melihat pertunjukan dramanya bulan lalu, jadi eomma kira itu wajar jika Enzo merasa senang dengan kehadiran kalian di rumah. Yuka, apa kau tidak ingin resign dan memutuskan


untuk menjaga Enzo di rumah? Terkadang eomma merasa kasihan pada Enzo, ia membutuhkan sosok ibu dan ayahnya di rumah. Setidaknya jika kau di rumah, kau masih bisa menggantikan sosok Haejun yang mungkin akan sering sibuk di luar rumah. Jadi Enzo masih memiliki sosok salah satu orangtuanya di rumah.” nasihat nyonya Im lembut. Yuka tak mempu berkata-kata dan hanya diam dengan pikirannya sendiri. Tentu saja sebagai seorang ibu ia juga menginginkan hal itu. Tapi ia perlu waktu, masih banyak hal yang harus ia selesaikan terkait dengan kasus kematian ayahnya yang janggal. Dan lagi selama ini semua rekan-rekannya tidak mengetahui statusnya yang telah menikah dengan Haejun. Mereka pasti akan sangat terkejut jika tiba-tiba ia mengajukan resign dengan alasan jika ia ingin fokus menjaga anak di rumah. Apalagi anak itu sebesar Enzo. Mereka pasti akan merasa marah padanya karena ia telah membohongi mereka selama bertahun-tahun.


            “Sebenarnya aku juga tidak tega pada Enzo, tapi aku tida bisa resign begitu saja dari kantor. Rekan-rekan kami selama ini tidak mengetahui hubungan kami yang sebenarnya. Mereka hanya mengira jika kami berdua adalah rekan kerja di lapangan, jadi aku dan Haejun oppa membutuhakn sedikit waktu untuk mengatakan semua ini pada Sehun, Yeri, Lay, dan rekan kami yang lain. Lagipula kami sudah melakukan banyak kebohongan pada mereka, dimulai dari kebohonganku saat aku hamil, saat itu Haejun oppa memberikan alasan jika aku tengah mengambil study lanjutan di London, padahal nyatanya saat itu aku tengah mengandung Enzo dan tinggal di rumah Eommonim di Nami. Lalu setelah itu kami menjadi sering berbohong untuk menutupi hubungan kami yang sudah berkembang hingga sejauh ini. Bahkan sebelum kami memutuskan untuk menikah, abeoji juga sudah mengingatkan kami tentang risiko yang akan kami hadapi, tapi saat itu kami sudah berjanji satu sama lain untuk saling menguatkan satu sama lain hingga pada akhirnya kami benar-benar menikah dan memiliki Enzo. Eomma, tolong bantu aku untuk memberikan pengertian pada Enzo.” mohon Yuka dengan wajah memelas.


            “Eomma pikir akan sangat sulit untuk memberikan pengertian pada Enzo disaat usianya baru menginjak empat tahun. Anak sekecil Enzo tidak akan mengerti tentang pekerjaanmu dan Haejun, ia hanya memahami cara bermain-main dan bersenang-senang layaknya teman-temannya yang lain, jadi satu-satunya cara


untuk menjelaskannya pada Enzo adalah kau tetap ada untuknya dan memberikan pengertian padanya sedikit demi sedkit. Karena bagaimanapun juga Enzo sangat membutuhkan sosok ibu dan ayahnya di sampingnya.” ucap nyonya Im lembut. Yuka mengangguk pasrah dan tampak tak berdaya dengan nasihat yang diberikan oleh


ibunya. Karena apa yang dikatakan oleh ibunya memang benar, Enzo membutuhkan kehadirannya untuk mendampingi tumbuh kembangnya, dan sebagai seorang ibu ia tidak boleh egois hanya karena tujuannya untuk mengungkap kematian ayahnya belum berhasil.


            “Kurasa eomma benar, aku harus bisa membagi waktuku untuk Enzo dan juga pekerjaan. Terimakasih eomma, eomma memang yang terbaik.” Wanita itu memeluk ibunya lama seperti saat dulu ia belum menikah. Terkadang Yuka sangat merindukan masa-masa tenangnya dulu dan saat ia bisa bermanja-manja dengan ayah atau ibunya. Namun waktu rupanya terlalu cepat bergulir. Kini Yuka bukan lagi seorang anak kecil yang selalu digendong oleh ayahnya atau ditemani oleh ibunya ketika tidur. Kini Yuka sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang telah memiliki seorang suami yang tampan dan juga seorang anak yang menggemaskan.


            “Mommy...”


            Yuka langsung menoleh ke arah suara sang anak yang sedang digendong oleh Haejun sambil mengucek-ucek matanya lucu. Ayah dan anak itu tampak sangat kompak dengan wajah bangun tidur mereka yang terlihat berantakan. Yuka kemudian merentangkan tangannya pada Enzo dan langsung mengambil alih tubuh sang anak


untuk digendong.

__ADS_1


            “Hmm, saatnya jagoan kecil mommy berangkat ke sekolah. Apa Enzo sudah menyiapkan buku-buku yang akan Enzo bawa?”


            Enzo menggeleng kecil sambil memeluk leher Yuka erat. Pria kecil itu terlihat enggan untuk menyudahi kebersamaanya dengan sang ibu pagi ini.


            “Enzo tidak mau pergi ke sekolah, Enzo ingin mommy dan daddy.” ucap anak itu pelan. Yuka dan Haejun saling menatap satu sama lain setelah mendengar ucapan dari anak mereka yang sedang merajuk. Rupanya kali ini Yuka harus sedikit mengeluarkan jurus rayuannya untuk memaksa Enzo pergi ke sekolah.


            “Enzo tidak mau pergi ke sekolah? Apakah Enzo ingin dihukum oleh songsaenim?” tanya Haejun sedikit tegas. Melihat ayahnya yang jelas tidak suka dengan keinginannya, Enzo langsung mendelik takut dan semakin menenggelamkan wajahnya di dalam cerukan leher ibunya, padahal Haejun sendiri tidak bermaksud menakuti anaknya, ia hanya sekedar bertanya pada Enzo, namun nada suaranya yang terbiasa untuk memerintah anak buahnya membuat Enzo ketakutan.


            “Hey, daddy tidak bermaksud memarahimu, daddy hanya bertanya.”


            Akhirnya Yuka mencoba mengklarifikasi sikap Haejun pada Enzo agar anaknya itu tidak semakin takut pada Haejun. Meskipun Enzo memang cukup manja pada Haejun, namun


anak itu juga sangat takut pada Haejun. Pernah suatu kali Haejun marah karena kerja salah satu anak buahnya yang tidak becus dan memarahi anak buahnya melalui telepon, Enzo langsung berlari ketakutan memeluknya dan tidak mau menatap wajah Haejun ketika Haejun beberapa menit kemudian mendatangi mereka di kamarnya.


            “Nah mandilah bersama daddymu, mommy akan menyiapkan bekal untukmu dan hari ini mommy dan daddy akan mengantarmu ke sekolah.” teriak Yuka dari dapur ketika ayah dan anak itu sudah menaiki tangga. Samar-samar Yuka dapat mendengar suara teriakan Enzo yang kegirangan karena kedua orangtuanya akan mengantarkannya ke sekolah.


            “Lihatlah, bukankah dia sangat gembira. Yang ia butuhkan hanya perhatianmu dan Haejun.”


            “Yah kami akan mencoba untuk mengatur jadwal kami nantinya eomma agar kami tetap bisa memantau tumbuh kembang Enzo di sela-sela kesibukan kami.” ucap Yuka dengan senyuman manis yang tersungging di wajahnya.


-00-


            “Jangan lupa kacamatamu.” ucap Haejun memperingatkan. Yuka mengambil kacamata hitam itu


sambil merapikan rambutnya agar menutupi sedikit wajahnya karena orang-orang di luar sana tidak boleh mengetahui statusnya yang sebenarnya. Apalagi selama ini ia dikenal sebagai seorang model bernama Im Yuka yang berstatus single sehingga orang-orang tidak boleh melihatnya saat ia sedang bersama Enzo.


            “Mommy, kenapa mommy selalu memakai kaca mata dan topi saat mengantar Enzo, apa mommy malu dengan wajah mommy?” tanya Enzo ingin tahu. Anak itu akhirnya mempertanyakan mengenai sikap ibunya yang tak biasa itu karena selama ini ia selalu melihat orangtua teman-temannya yang tidak pernah bersikap aneh seperti Yuka.


            “Mommy hanya ingin terlihat keren sayang.” ucap Haejun membantu Yuka yang tampak kehabisan kata-kata. Bocah kecil berusia empat tahun itu mengangguk-angguk mengerti dengan jawaban sang ayah sambil mengamati penampilan ibunya yang memang terlihat keren setelah menggunakan kacamata.


            “Mommy, Enzo juga mau kacamata.”


            “Nanti mommy dan daddy akan membelikan Enzo juga.”


            “Asiikkk, terimakasih dad, Enzo sayang daddy.”

__ADS_1


            Bocah kecil itu memeluk Haejun erat sambil mencium pipi ayahnya girang. Ia kemudian segera turun bersama Yuka untuk masuk ke dalam kelasnya karena waktu sudah menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit.


            Sembari menunggu Yuka mengantar Enzo masuk ke dalam kelasnya, Haejun mulai membuka ponselnya yang semalam ia matikan. Pertama kali Haejun membuka ponselnya, beberapa pesan dari kejaksaan dan markasnya langsung berlomba-lomba untuk masuk ke dalam kotak masuk ponselnya hingga menimbulkan suara yang berisik.


            “Ck apa lagi ini? Apa mereka tidak bisa menanganinya sendiri?” decak Haejun kesal sambil menggeser turun layar ponselnya ke bawah. Tiba-tiba jemari Haejun berhenti pada sebuah pesan yang berisi berita kematian seorang artis yang karirnya sedang melambung minggu ini. Cepat-cepat Haejun membuka pesan itu dan


mendapatkan laporan jika semalam polisi menemukan mayat artis wanita itu berada di tempat pembuangan sampah di daerah Beiji. Dan karena polisi cukup kesulitan untuk mencari tersangka pembunuhan itu, komisaris Kang meminta Haejun dan timnya untuk turun tangan dalam memecahkan kasus tersebut.


Bugh


Yuka menutup keras-keras pintu mobil di sebelahnya sambil melepaskan semua atribut penyamarannya yang ia gunakan. Wanita itu terlihat lebih kesal dan ia juga langsung melemparkan atribut penyamarannya begitu saja ke belakang.


            “Ada apa dengan wajahmu, kau terlihat kesal?” tanya Haejun penasaran. Yuka kemudian membalikan tubuhnya ke arah Haejun dengan ekspresi wajah kesal yang masih tercetak jelas di wajahnya.


            “Ada seorang paparazzi di sana, ia membuntutiku hingga ke dalam sekolah Enzo. Arghh, kenapa paparazzi  itu bisa ada di sana, untung saja aku berhasil menghajarnya dan mengambil kartu memori kameranya, tapi untungnya dia tidak mengenaliku sebagai Im Yuka, dia justru menyebut Kim Sora beberapa kali ketika aku merampas kameranya, benar-benar aneh. Mungkinkah wajahku mirip dengan Kim Sora?” cerita Yuka panjang lebar dengan berbagai ekspresi. Mendengar nama Kim Sora disebut, Haejun kemudian menyodorkan ponselnya pada Yuka dan meminta Yuka untuk membaca pesan baru yang berasal dari komisaris Kang.


            “Kita mendapatkan kasus baru.” ucap Haejun datar. Pria itu mulai menjalankan mobilnya lagi meninggalkan halaman sekolah putranya yang luas.


            “Lagi? Akhh, padahal hari ini aku ingin sedikit bersantai. Sore ini aku ada pemotretan untuk majalah Elle, padahal aku sudah menolaknya dan kau juga sudah mengajukan negosiasi pada pihak sponsor, tapi pagi ini aku mendapatkan pesan jika mereka tidak mau mengganti model lain selain aku, sehingga aku harus tetap datang ke


lokasi pemotretan sore ini. Oppa, kau tidak lupa membawa alat-alat penyamaranmu kan?” tanya Yuka sedikit terkikik ketika ia membayangkan Haejun yang sedang berperan sebagai Han Jino.


            “Sponsor sialan! Mereka memang suka sekali menyiksaku agar aku berperan sebagai Han Jino idiot itu. Berapa lama lagi kontrakmu akan berakhir? Aku tidak mau berperan menjadi Han Jino lagi, lebih baik kita menggunakan pendekatan dengan cara lain selain menjadi seorang artis dan asistennya yang idiot itu.”


            “Bukankah oppa yang mengatur bagian kontrak untuk pemotretan? Lagipula bukankah oppa dulu sudah berjanji akan membantuku mencari dalang dibalik kematian appa, kenapa oppa tiba-tiba ingin menghentikannya?” tanya Yuka sakarstik. Haejun menoleh sinis ke arah Yuka sekilas karena wanita itu jelas-jelas telah salah paham dengan maksud ucapannya.


            “Aku tidak akan menghentikannya, aku hanya ingin menggantinya dengan cara lain.” ucap


Haejun dengan penuh penekanan. Namun Yuka tampak mengabaikan begitu saja ucapan Haejun dan lebih memilih untuk membaca pesan baru dari komisaris Kang. Lagipula pagi ini ia sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun, jadi lebih baik abaikan saja jika Haejun sudah mulai mengeluarkan taringnya.


            “Lee Yuka, aku sedang berbicara denganmu.”


            “Lupakan saja oppa, lebih baik kita fokus pada misi baru kita. Jadi paparazzi tadi bukan ingin mengambil gambarku, tapi ia ingin mengambil gambar putra Kim Sora yang selama ini disembunyikan dari publik? Ahh, aku jadi merasa bersalah.”


            Yuka mendesah pelan karena hari ini ia mungkin telah menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaanya karena ia baru saja mengambil satu-satunya sumber mata pencaharian paparazzi tadi.

__ADS_1


            “Kau memang harus mengontrol kepercayaan dirimu yang memang berlebihan itu. Bukankah sejak awal aku sudah mengatakan padamu, kau lebih cocok menjadi seorang artis daripada menjadi seorang intel.”


            “Tapi jika aku menjadi seorang artis, kau tidak mungkin akan bertemu denganku dan kita tidak akan memiliki Enzo.” balas Yuka enteng sambil tersenyum-senyum aneh. Wanita itu tiba-tiba teringat akan masa-masa pelatihannya dulu bersama Haejun. Masa dimana tunas-tunas cinta itu mulai muncul diantara dirinya dan suaminya, Lee Haejun.


__ADS_2