Ignite

Ignite
Murderrer Behind The Wall (Eleven)


__ADS_3

            Satu jam setelah terjadinya pembunuhan, kantor agensi tempat Yuka bekerja menjadi penuh dengan garis polisi dan beberapa wartawan yang ingin mencari berita. Mereka semua berkerumun di depan agensi untuk menunggu Park Jaejong, selaku pemilik agensi agar mengklarifikasi kejadian yang terjadi di kantornya. Tapi seperti sengaja menyembunyikan dirinya, Park Jaejong tampak enggan untuk menemui wartawan-wartawan itu dan ia memilih untuk bersembunyi di dalam ruangannya sambil menunggu hasil dari tim penyelidik.


            Sementara itu Yuka dan rekan-rekan timnya langsung bergerak untuk mengevakuasi korban dan mencari barang bukti yang kemungkinan masih berada di dalam agensi, karena menurut penuturan petugas keamanan, semua crew yang hari ini bertugas masih berada di dalam, dan mereka belum keluar kemanapun kecuali pergi ke seberang jalan untuk membeli beberapa makanan. Jadi Yuka menyimpulkan jika pelaku pembunuhan Naeun masih berada di dalam agensi beserta dengan barang bukti pembunuhan.


            “Myungso ssi, apa kau sudah menemukan sesuatu terkait kematian korban?” tanya Yuka sambil berjongkok di sebelah tubuh Myungso. Myungso menolehkan kepalanya pada Yuka sambil menunjukan luka lebam yang berada di lengan korban dan di beberapa bagian tubuh korban.


            “Aku menemukan beberapa luka lebam di sekitar tubunya, lihatlah pada bagian perut dan punggungnya, korban pasti telah dipukuli terlebihdahulu sebelum tersangka memukulnya dengan keras di bagian kepala hingga korban meninggal.”


            Yuka tertegun sejenak melihat banyaknya luka lebam yang berada di tubuh Naeun. Padahal selama ini Naeun selalu terlihat ceria dan tidak pernah memiliki musuh. Namun tiba-tiba seseorang memukuli Naeun hingga Naeun kehilangan nyawa. Ia harus menyelidiki kehidupan Naeun lebih dalam.


            “Apa kalian sudah menemukan pelaku pembunuhan Jang Naeun? Para wartawan sudah berkerumun di depan untuk meliput berita, aku tidak bisa pergi kemanapun jika kalian tidak segera menemukan pelaku yang telah mencemari nama baikku. Apa kalian intel yang tidak berkompeten?”


           Tiba-tiba bos pemilik agensi, Park Jaejong, datang sambil menggerutu tidak jelas pada Sehun dan Minzi yang sedang melakukan penyelidikan. Pria sombong itu menyilangkan kedua tangannya angkuh sambil memandang remeh pada setiap agent yang sedang berusaha untuk menyelidiki kasus kematian Naeun. Yuka pun memberi kode pada Yeri untuk menenangkan Park Jaejong agar pria angkuh itu tidak terus menerus menggerutu dan mengganggu jalannya penyelidikan.


            “Maaf tuan, kami sedang berusaha untuk memecahkan kasus ini. Untuk sementara tuan bisa menunggu di ruangan tuan hingga kasus penyelidikan ini selesai dilakukan.” ucap Yeri sopan. Park Jaejong mendengus kesal pada Yeri dan segera meninggalkan tempat kejadian pembunuhan dengan wajah ditekuk yang menahan kesal. Sedangkan Yuka yang melihat hal itu hanya mampu terkikik pelan sambil menyuruh Myungso untuk melanjutkan penyelidikan pada mayat Naeun.


            “Kalian periksa setiap barang bukti yang ada, aku akan mencoba bertanya pada beberapa crew yang hari ini terlibat projek pemotretan denganku.”


            Semua agent yang berada di sana menganggukan kepalanya patuh dan kembali melakukan tugas mereka masing-masing. Yuka pun segera berjalan pergi untuk menemui beberapa crew yang saat ini sedang berkumpul di dalam studio. Beberapa menit yang lalu Lay menyuruh mereka untuk menunggu di dalam studio hingga para agent


selesai menyelidiki kasus kematian Naeun. Sedangan dirinya meminta ijin untuk pergi mengikuti junior-juniornya dengan dalih bahwa ia adalah seorang saksi yang akan dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kasus kematian Naeun.


Krittt


            Yuka mendorong pelan pintu studio yang terlihat ramai itu. Semua crew yang hari ini terlibat dalam projek pemotretan bersamanya langsung menoleh serentak ke arahnya. Mereka semua tampak begitu syok dengan kematian Naeun yang sangat mengejutkan itu. Apalagi selama ini mereka mengenal Naeun sebagai gadis ceria yang tidak pernah terlibat masalah, tentu saja kematian Naeun menjadi pukulan tersendiri bagi mereka. Minah yang sejak tadi menangis sesenggukan langsung berlari menghampiri Yuka dan memeluk tubuh Yuka erat karena ia begitu sedih dengan kematian sahabat baiknya.


            “Nona Yuka, apa pelaku pembunuhan Naeun sudah ditemukan? Aku... aku... hikss, aku tidak menyangka jika ia akan meninggal dalam keadaan yang sangat menyedihkan seperti itu. Ia adalah wanita yang baik, ia adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki... hiks.”


            Yuka mengelus pelan bahu Minah untuk menenangkan wanita itu dari kesedihannya. Beberapa crew yang lain menatap Minah prihatin dan saling memberi semangat untuk menguatkan Minah.


            “Tenanglah Minah, mereka pasti akan segera menemukan pelaku pembunuhan Naeun. Tapi apakah kau sempat bertemu Naeun saat aku sedang melakukan pemotretan?”


            “Aku sempat mengobrol dengannya di ruang tunggu sebelum aku keluar untuk melihat proses pemotretan karena aku juga harus menyiapkan aksesoris-aksesoris yang harus kau pakai setelah ini, tapi setelah aku keluar aku berpapasan dengan Jinan yang akan masuk ke dalam ruang tunggu.”


            Seketika semua mata tertuju pada Jinan yang sedang duduk di ujung ruangan sambil  memainkan ponselnya. Sekilas diantara semua crew yang berkumpul di sana, hanya Jinan yang terlihat memasang ekspresi wajah biasa. Wanita itu terkesan cuek dan justru sibuk bermain-main dengan ponselnya.


            “Kim Jinan, apa yang kau lakukan di dalam ruang tunggu bersama Naeun?” tanya fotografer dengan tatapan menyelidik. Semua pekerja di studio itu tahu jika Jinan pernah bertengkar dengan Naeun karena Naeun merupakan pegawai baru yang langsung menjadi saingannya dalam segala hal.


            “Apa kalian mencurigaiku? Oh ayolah, aku tidak akan berbuat senekat itu hanya karena Naeun merebut segalanya dariku, aku bukan manusia yang sekeji itu. Lagipula tidak ada gunanya aku membunuh Naeun karena akhir-akhir ini aku merasa lebih giat bekerja setelah aku memiliki pesaing.” jawab Jinan apa adanya dengan nada


ketus. Wanita itu kemudian kembali memainkan ponselnya dan terlihat tak peduli dengan teman-temannya yang sedang mencurigainya. Yuka menghembuskan nafas pelan dan mencoba untuk mengamati gerak gerik setiap pekerja yang mungkin saja tampak mencurigakan. Tapi kemudian ia berpikir jika pelaku pembunuhan Naeun pastilah orang yang sangat mengetahui seluk beluk ruang tunggu karena pelaku itu telah merusak semua cctv yang berada di luar ruang tunggu, sedangkan di dalam ruang tunggu memang tidak dipasang cctv karena beberapa model kadang menggunakan ruangan itu untuk berganti pakaian. Yuka kemudian mengamati semua crew itu satu persatu, dari semua crew yang hadir pada siang ini, hanya ada lima crew yang benar-benar merupakan pekerja lama. Selebihnya mereka adalah para pekerja baru yang rata-rata baru bekerja selama enam bulan. Karena di agensi milik Park Jaejong setiap crew yang telah bekerja lebih dari satu tahun namun tidak menunjukan kompetensi yang memuaskan akan langsung dikeluarkan oleh Park Jaejong, sedangkan pekerja yang benar-benar memiliki kompetensi yang bagus akan tetap dipekerjakan di kantor agensi. Dari kelima pekerja itu, Yuka sudah


menginterogasi dua, Minah dan Jinan. Ia masih harus menginterogasi tiga orang yang lain, sang fotografer, Kim Minjung, dan Lee Eunjo, tapi menurutnya sang fotografer tidak termasuk dalam daftar tersangka karena sejak tadi sang fotografer terus berada di studio bersamanya, alibi sang fotografer benar-benar kuat dan tak bercela. Sedangkan Eunjo dan Minjung, ia sama sekali tidak memperhatikan mereka saat melakukan pemotretan karena tugas mereka adalah menata ruang untuk pemotretan dan mengambil beberapa perlengkapan di gudang, jadi mereka bisa saja menjadi tersangka dari pembunuhan Naeun.


            “Minjung ssi dan Eunjo ssi, apakah kalian sempat bertemu Naeun hari ini?”


            “Aku hari ini tidak sempat bertemu Naeun karena aku terlalu sibuk menata ruangan dan hanya keluar sebentar untuk membeli makanan di kafe depan.” Jawab Eunjo lancar.


            “Aku beberapa kali sempat bertemu Naeun karena aku yang mengambilkan perlengkapan make upnya yang tertinggal di studio lima. Hari ini ia mengeluhkan sakit perut karena ia tidak sempat sarapan, lalu aku membantunya untuk mengambilkan perlengkapan make upnya yang tertinggal di studio lima. Tapi saat aku kembali sepertinya ia sudah jauh lebih baik karena ia terlihat sedang memegang bungkus obat.” jelas Minjung jujur. Yuka menganggukan kepalanya mengerti sambil mencatat semua hal penting yang baru saja dikatakan Eunjo dan Minjung. Setelah ini ia akan menemui Myungso dan memintanya untuk melakukan otopsi pada mayat Naeun untuk membuktikan ucapan Minjung apakah Naeun benar-benar mengonsumsi obat lambung atau tidak.


Cklek


            Tiba-tiba pintu studio terbuka lebar dan menampilkan sosok Sehun dan Yeri yang terlihat memberi kode pada Yuka. Mereka berduapun masuk ke dalam studio dan memberikan informasi terkait hasil penyelidikan mereka hari ini.


            “Hari ini kami telah selesai melakukan penyelidikan pada kasus kematian Naeun, tapi kasus ini akan kami usut lebih lanjut setelah kami melakukan otopsi dan menganalisis bukti-bukti pembunuhan yang baru saja kami temukan. Oleh karena itu kami meminta para pekerja di studio ini untuk meninggalkan kartu identitas agar sewaktu waktu kami dapat menghubungi salah satu diantara kalian untuk menggali informasi lebih lanjut terkait korban. Dan untuk nona Yuka, anda kami minta untuk mengikuti kami ke markas sebagai seorang saksi.”


            Yuka tersenyum kecil melihat Yeri yang sedang memberikan alasan untuk membawanya ke markas. Ia pun berpamitan pada crew yang lain dan segera mengikuti Sehun yang sudah terlebihdahulu berjalan keluar dari studio.

__ADS_1


            “Sehun-ah, apa kau sudah menggeledah seluruh tas para crew yang hari ini terlibat dalam projek bersamaku?”


            “Ya, aku sudah melakukannya, memangnya ada apa? Apakah aku harus melakukannya lagi?”


            “Bukan, bukan itu. Apa kau menemukan obat lambung di dalam tas salah satu crew? Menurut Minjung, Naeun sempat mengonsumsi obat lambung sebelum meninggal, jadi mungkin saja pelaku bertindak gegabah dengan memasukan obat lambung ke dalam tasnya. Lagipula obat-obatan seperti obat lambung hanya akan dibawa oleh orang-orang yang sering mengalami gangguan lambung, jadi tidak setiap orang akan membawa obat-obatan seperti itu.”


            Sehun tampak berpikir sejenak sambil mengingat-ingat semua wajah crew yang hari ini ia selidiki. Tapi sepertinya ia memang sempat menemukan obat lambung di dalam tas salah satu crew.


            “Aku menemukan obat lambung di dalam tas wanita yang sedang bermain ponsel di ujung sana, apa senior mengenalnya?”


            “Jinan? Kau menemukannya di dalam tas Jinan?”


            “Ya, aku menemukannya di dalam tas wanita itu. Saat aku bertanya, dia mengatakan jika ia sering mengalami masalah lambung karena pola makannya yang tidak teratur, oleh karena itu ia selalu membawa obat lambung di dalam tasnya. Lebih baik kita segera membawa mayat korban ke markas untuk dilakukan otopsi dan


membuktikan apakah korban benar-benar mengonsumsi obat lambung sebelum meninggal atau tidak.”


            “Kalau begitu kau, Myungso, dan Minzi pergilah ke markas terlebihdahulu, aku akan pergi ke kafe di seberang jalan bersama Yeri dan Lay untuk membuktikan alibi Eunjo.”


            “Siap senior, laksanakan!” jawab Sehun tegas sambil memberikan hormat pada Yuka. Yuka terkekeh geli dengan tingkah Sehun dan langsung memukul lengan Sehun pelan.


            “Dasar, kau membuatku terlihat seperti kapten Lee.”


            “Tapi terkadang senior memang terlihat seperti kapten Lee, apalagi jika senior sudah berteriak-teriak untuk menyuruh kami ini itu, senior benar-benar terlihat


seperti kapten Lee.”


            “Awas ya, aku akan mengadukanmu pada kapten Lee karena kau baru saja membicarakannya.” ancam Yuka bercanda sambil menjulurkan lidahnya mengejek pada ekspresi wajah Sehun yang berubah pucat.


-00-


            “Apa kau yang mengirimkan pesan ke ponselku?”


            Haejun berseru dingin pada seorang wanita yang sedang melamun menghadap ke arah jalan.


            “Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggumu sejak tiga puluh menit yang lalu.”


            Wanita itu mempersilahkan Haejun duduk di sebelahnya dengan wajah ramah yang terlihat bersahabat. Namun Haejun justru bersikap sebaliknya dengan memberikan ekspresi wajah datar yang terlihat tidak menyenangkan.


            “Jadi apa tujuanmu menyuruhku untuk datang ke sini? Kuharap kau tidak sedang bermain-main karena sekarang aku sedang memiliki banyak pekerjaan.”


            “Perkenalkan, aku Kim Jaekyung, aku...”


            “Kau putri dari paman Kin Junwo bukan? Ck, paman itu rupanya tidak main-main dengan ide gilanya.” decak Haejun kesal dan langsung bangkit berdiri untuk pergi dari kafe. Lagipula untuk apa ia meladeni permintaan paman itu jika nyatanya ia telah memiliki isteri dan seorang anak laki-laki yang menggemaskan. Setelah ini ia harus memperingatkan Kim Junwo untuk tidak menjodohkannya dengan anaknya.


            “Tunggu, kau mau kemana? Kau baru saja tiba, aa aku sudah memesan makanan, duduklah dulu.” ucap Jaekyung terkejut sambil menahan lengan Haejun. Haejun memberikan tatapan tajamnya pada tangan Jaekyung agar wanita itu melepaskan tangannya dari lengannya karena ia tidak suka disentuh oleh wanita lain selain Yuka.


            “Oh, maafkan aku, tapi duduklah sebentar. Aku hanya ingin sedikit mengobrol denganmu agar aku tidak mengecewakan ayah, ia terlihat begitu bersemangat untuk memperkenalkanku padamu, padahal aku sudah memiliki kekasih. Jadi kumohon duduklah sebentar, anggap saja ini hanya acara makan siang biasa, dan kau tidak perlu merasa canggung seperti seseorang yang akan dijodohkan.”


            Haejun tampak menimbang-nimbang ajakan Jaekyung sambil melirik wajah memelas Jaekyung yang membujuknya untuk tetap tinggal.


Bruk


            Haejun meletakan kopornya malas dan segera mendudukan dirinya di depan Jaekyung. Untuk kali ini ia akan menuruti permintaan wanita itu untuk tetap tinggal dan makan siang bersama. Anggap saja Kim Jaekyung adalah teman lama yang tidak pernah ia temui selama ini.


            “Baiklah, tapi hanya sekedar makan siang, setelah itu aku akan langsung pergi.”


            “Deal, hanya makan siang.” ucap Jaekyung

__ADS_1


gembira sambil mengatupkan tangannya girang di depan dada. Setidaknya hari ini ia bisa memberikan jawaban pada ayahnya jika ayahnya menuntut untuk menceritakan kegiatan kencannya hari ini dengan Lee Haejun. Dan sebenarnya ia cukup penasaran dengan pribadi Lee Haejun karena pria itu berhasil menunjukan sisi misteriusnya yang membuat seorang Kim Jaekyung merasa tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh.


-00-


           Yuka, Lay, dan Yeri berjalan beriringan menuju kafe yang berada di depan kantor agensi milik Park Jaejong. Setelah mengijinkan semua crew dan pekerja di agensi itu untuk pulang, Yuka dan junior-juniornya bergegas menuju kafe bernuansa klasik itu untuk mengecek cctv yang berada di dalam kafe.


            “Senior, apa kau sangat mengenal baik korban?” Tanya Yeri membuka percakapan. Yuka menganggukan kepalanya dan memandang sedih pada Yeri karena ia teringat akan Naeun yang selama ini sangat baik padanya.


           “Ia wanita yang baik dan ceria. Selama ini aku berteman baik dengannya dan sering mengobrol ringan megenai fashion, aku benar-benar tidak menyangka jika ia akan pergi secepat ini.”


            “Aku turut berduka cita atas meninggalnya Jang Naeun.”


            Ketiga manusia itu kembali melanjutkan perjalanan dalam diam untuk memasuki restoran klasik yang sempat didatangi Eunjo. Ketika mereka melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam kafe, Lay langsung menyenggol lengan Yuka sambil menunjuk seorang pria yang sedang menyantap makannya dalam diam ditemani oleh seorang wanita yang terlihat begitu aktif mengajak sang pria untuk berbicara.


            “Senior Im, bukankah itu kapten Lee? Sepertinya ia sudah kembali dari China.”


            Yuka


mengikuti arah telunjuk Lay dan menemukan suaminya sedang makan siang bersama


dengan seorang gadis cantik bersurai panjang di depannya. Tiba-tiba saja Yuka


merasa sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Padahal tadi pagi suaminya itu mengatakan jika ia akan tiba pukul setengah dua siang. Tapi sekarang pria itu sudah tiba di Korea dan sedang makan siang bersama dengan seorang wanita cantik saat jam masih menunjukan pukul satu siang. Dengan malas Yuka berjalan menuju arah yang berlawanan dan berpura-pura untuk tidak melihat Haejun. Namun Yeri dengan menyebalkannya justru menghampiri Haejun dan menyapa Haejun yang sedang asik menyantap makan siangnya bersama Jaekyung.


            “Selamat siang kapten, selamat datang kembali di Korea.”


            Haejun menaikan alisnya bingung dan langsung memutar tubuhnya ke belakang untuk menemukan Yuka. Dan benar saja, saat ia membalikan tubuhnya, ia dapat melihat tubuh ramping isterinya yang sedang bercakap-cakap dengan pemilik kafe.


            “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”


            “Kami sedang menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi di agensi milik Park Jaejong, salah satu crew yang bertugas sebagai make up artis, Jang Naeun, hari ini ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa oleh senior Im di ruang tunggu model ketika senior Im akan bersiap-siap untuk melakukan pemotretan.” terang Yeri


rinci. Haejun mengernyitkan alisnya gusar sambil menatap tubuh Yuka yang masih bercakap-cakap dengan pemilik kafe.


            “Ia tidak memberitahuku jika hari ini telah terjadi pembunuhan di kantor agensi Park Jaejong.”


            “Eee... mungkin senior Im mengira anda masih berada di China, sehingga senior Im belum memberitahukan kasus ini pada kapten. Lagipula sebenarnya hari ini kami sedang libur, tapi tiba-tiba senior Im membertitahu jika terjadi kasus pembunuhan di kantor agensinya, jadi kasus ini benar-benar mendadak kapten.” ucap Yeri beralasan.


            “Apa kau pikir kasus pembunuhan dapat terjadi karena sebuah kesengajaan? Ck, aku ingin bertemu dengan senior kalian.”


            Jaekyung yang sejak tadi menyimak percakapan antara Yeri dan Haejun langsung mencekal tangan Haejun ketika pria itu akan pergi meninggalkannya.


           “Kau mau kemana?”


            “Menyelesaikan kasus pembunuhan bersama anak buahku.”


            “Lalu bagaimana denganku? Kau belum menghabiskan makananmu.” cegah Jaekyung kukuh. Yeri mencibir pelan di sebelah Haejun sambil membalikan tubuhnya ke arah lain agar wanita yang sedang bersama kaptennya itu tidak tahu jika ia sedang mencibirnya.


            “Kau bisa menghabiskannya sendiri, aku harus segera pergi sekarang.”


            “Tapi kita belum melakukan apapun sejak tadi, maksudku kau belum memperkenalkan dirimu secara formal dan kau belum menceritakan latar belakangmu padaku. Serahkan saja kasus itu pada anak buahmu, lagipula mereka sudah melakukannya hingga sejauh ini.”


            Haejun melepaskan cekalan tangan Jaekyung di lengannya dengan sedikit menggeram marah. Sejak dulu ia tidak suka bertemu wanita yang terlalu mengatur hidupnya. Apalagi wanita itu adalah wanita asing yang baru saja bertemu dengannya hanya untuk sekedar makan siang, ia rasa ia tidak perlu meladeni wanita itu lebih jauh.


            “Maafkan aku Jaekyung ssi, tapi ini adalah tugasku dan pertemuan kita sudah cukup sampai di sini.”


            Jaekyung menatap kepergian Haejun tak percaya sambil melempar sumpitnya dengan kesal ke dalam mangkuk. Baru kali ini ia benar-benar diabaikan oleh seorang pria dan mendapatkan perlakuan yang sangat dingin. Ia bersumpah setelah ini ia justru akan mengejar Haejun dan menaklukan pria itu hingga ia bertekuk lutut padanya.

__ADS_1


__ADS_2