
Prang!
Seorang wanita yang sedang tertidur lelap di dalam kamarnya langsung membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar bunyi kaca pecah yang berasal dari jendela kamarnya. Hembusan angin yang begitu kencang perlahan-lahan menyusup ke dalam kamarnya yang terbuka dan mengalirkan hawa dingin yang begitu mencekam di sekitarnya. Wanita itu dengan langkah gemetar segera menghidupkan lampu kamarnya untuk mengecek kaca jendelanya yang baru saja dipecahkan oleh seseorang.
KYAAA!!
Wanita itu menjerit histeris ketika ia melihat noda merah yang mengotori lantai kamarnya berserta dengan sebuah kertas merah lusuh yang di dalamnya tertulis sebuah kalimat dengan tinta hitam yang telah meluruh karena terkena cairan merah yang terlihat seperti darah.
“Tttolong aku, seseorang telah melemparkan sesuatu yang sangat mengerikan ke dalam kamarku, orang itu terus menerorku sejak seminggu yang lalu.”
“.............”
“Aku bersungguh-sungguh, mereka menginginkanku mati. Hikss, tolong aku, kumohon.”
“..............”
“Eonni terimakasih, aku tahu kau akan selalu menjadi malaikatku.”
Wanita itu meletakan ponselnya ke atas nakas ranjang dengan tangan yang masih bergetar karena ketakutan. Dipungutnya kertas itu dan dibukanya perlahan kertas merah yang telah dilemparkan ke dalam kamarnya.
“Kau akan mati!” baca wanita itu dengan suara bergetar sambil meringkuk ketakutan di sudut kamarnya yang senyap.
-00-
“Kau mau kemana?”
Haejun menatap Yuka penuh ingin tahu sambil tengkurap di atas ranjangnya. Sedangkan Yuka terlihat sudah sangat rapi dengan celana kain panjang dan kemeja warna biru tanpa lengan yang terlihat pas di tubuhnya. Wanita yang sedang membubuhkan make upnya itu sedikit menoleh kearah suaminya sambil berkata jika ia akan pergi untuk bertemu dengan kawan lamanya.
“Seminggu yang lalu aku menemukan sahabat lamaku di facebook, lalu hari ini aku akan mengunjungi apartemennya untuk sekedar melepas rindu dan mengobrol ringan karena kami sudah lama tidak bertemu, kira-kira terakhir kali kami bertemu adalah enam tahun yang lalu saat aku sedang menjalani pelatihan menjadi intel.”
Haejun menatap wajah isterinya lekat-lekat dan langsung bangkit dari posisi tidurnya untuk menghampiri sang isteri yang sedang mematut dirinya di depan cermin.
“Siapkan baju untukku, aku akan mengantarmu.” ucap Haejun cepat sambil melesat ke dalam kamar mandi. Tak lupa pria itu mengambil semua kunci mobil yang tergletak di atas meja rias isterinya sambil tertawa penuh kemenangan.
“Ck, dasar menyebalkan!” gerutu Yuka kesal sambil berjalan menuju lemari pakaian suaminya untuk menyiapkan sebuah kaos santai dan juga celana pendek untuk mengantarnya menuju apartemen Jung Hyerin.
“Oppa cepatlah, atau aku akan pergi menggunakan taksi jika kau terlalu lama.” teriak Yuka nyaring dari luar kamar mandi sambil berkacak pinggang kesal. Padahal hari ini ia sengaja bangun lebih pagi agar ia tidak membangunkan suaminya yang sedang terlelap. Tapi sialnya suaminya itu justru langsung terbangun ketika mendengar suara langkah kakinya yang berjalan kesana kemari untuk mengambil pakaian dan beberapa perlengkapan make up.
Sembari menunggu suaminya membersihkan diri, Yuka mencoba untuk membuka akun facebooknya untuk mengirimi Jung Hyerin pesan jika hari ini ia akan datang ke apartement wanita itu. Setelah menemukan akun pribadi milik Jung Hyerin, Yuka segera mengetikan beberapa kalimat untuk menanyakan dimana letak apartement Jung Hyerin karena pagi ini ia akan datang berkunjung bersama suaminya.
To: Jung Hyerin
Hyerin-ah, pagi ini aku akan berkunjung ke apartementmu. Bisakah kau mengirimkan alamat apartementmu padaku?
Yuka menunggu pesan balasan dari Jung Hyerin sambil mengingat masa lalunya saat senior high school. Pertama kali ia mengenal Jung Hyerin, wanita itu adalah wanita ceria yang selalu bisa membuat suasana kelasnya terlihat lebih hidup. Selain itu Jung Hyerin juga sangat mudah bergaul dengan orang baru, sehingga saat ia pertama mengenal Jung Hyerin, ia langsung merasa akrab dengan wanita ceria itu. Pertemanan mereka terus berlanjut hingga mereka lulus dari senior high school dan kemudian memutuskan untuk memilih jalur mereka masing-masing. Dulu ia sama sekali tidak sempat untuk bermain-main dengan akun media sosialnya karena ia selalu kelelahan dengan semua jadwal latihan yang padat, dan akan langsung tertidur ketika malam. Namun akhir-akhir ini ia sedikit memiliki waktu luang untuk membuka kembali akun media sosialnya dan mencari teman-temannya yang sekarang sudah sukses dengan karir mereka di luar sana.
Ting
Sebuah pesan yang masuk dari Hyerin membuat Yuka tersenyum senang. Akhirnya setelah sekian lama ia tidak bertemu dengan sahabat baiknya itu, sekarang ia dapat kembali bertemu untuk saling mengobrol dan berbagi pengalaman satu sama lain.
To: Im Yuka
Benarkah kau akan mengunjungiku? Aku sangat tidak sabar untuk bertemu denganmu. Datanglah ke apartementku di jalan Cheog-gu nomor 17, apartementku berada di lantai empat nomor 23.
To: Jung Hyerin
Baiklah, sampai jumpa di apartementmu.
Jawab Yuka cepat sambil membayangkan wajah Jung Hyerin yang sudah lama tak ditemuinya. Bersamaan dengan itu ia melihat suaminya telah selesai dengan urusan mandinya dan saat ini sedang bersiap di sebelahnya.
“Kau sudah tahu dimana alamat apartementnya?”
“Hmm, dia tinggal di apartement Cheog-gu nomor 23. Baru saja ia mengirimkan alamatnya padaku.” ucap Yuka sambil menunjukan layar ponselnya yang masih tertera pesan dari Hyerin. Haejun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil memakai kaus polo berlengan pendek yang dipilihkan oleh isterinya.
“Cepat pakai celana pendekmu oppa, kau ini lama sekali.” gerutu Yuka tidak sabar sambil berjalan mendekati suaminya untuk menyisir rambut pendek suaminya yang masih basah.
“Ayo, aku sudah siap.”
Yuka meletakan sisir yang ia gunakan ke tempat semula dan segera berjalan mengekori Haejun yang telah terlebihdahulu keluar dari kamar mereka untuk memanasi mesin mobil sebelum mereka pergi.
-00-
Ting tong
Yuka menekan bel apartement itu sekali sambil menunggu sang pemilik apartement untuk membukakan pintu. Di sebelahnya Haejun sedang mengetuk-etukan sepatunya bosan sambil mengamati suasana sepi apartement milik sahabat isterinya.
“Ada yang bisa kubantu.”
__ADS_1
Seorang wanita dengan celana pendek selutut dan sebuah kaus santai muncul dari balik pintu sambil menatap bingung pada Yuka dan Haejun. Wanita itu tampak semakin mengernyitkan dahinya tidak mengerti ketika Yuka tiba-tiba memeluknya dengan erat hingga ia hampir saja terjungkal ke belakang.
“Hyerin-ah... lama tak berjumpa, kau pasti sudah lupa dengan wajahku.”
Hyerin masih terlihat bingung untuk beberapa saat, namun akhirnya ia membalas pelukan Yuka dan mempersilahkan Yuka untuk masuk ke dalam apartementnya.
“Maaf, aku benar-benar sudah lupa dengan wajahmu, sekarang kau terlihat lebih cantik dan juga dewasa. Lalu siapa pria yang berada di belakangmu itu?” tanya Hyerin bingung sambil mengamati Haejun dengan canggung, pasalnya ia hanya menggunakan celana rumah yang terlihat lusuh dan juga kaus pendek yang benar-benar sangat tidak pantas untuk menyambut tamunya.
“Oh perkenalkan, dia suamiku, Lee Haejun.”
“Suamimu? Oh, aku Jung Hyerin, silahkan duduk. Maaf apartemenku sedikit berantakan karena aku baru saja bersih-bersih. Kalian duduklah dulu, aku akan mengganti pakaianku dan membuatkan minuman.” ucap Hyerin sambil berlari cepat menuju kamarnya. Yuka berteriak keras pada Hyerin agar wanita itu tidak perlu repot-repot membuatkan minuman.
“Temanmu sangat aneh.” gumam Haejun pelan di sebelah Yuka. Yuka menyikut lengan Haejun pelan dan menyuruh pria itu untuk diam karena ia takut ucapan suaminya itu akan didengar oleh Hyerin.
“Kurasa Hyerin sudah banyak berubah dari yang terakhir kali kuingat, ah.. dan dia juga sudah menikah.”
Yuka berjalan menyeberangi ruang tamu dan mulai melihat foto-foto pernikahan Hyerin yang cantik. Disana Hyerin tampak bahagia bersama suaminya yang sedang menggendongnya di depan altar.
“Lihat, dia menikah dengan kekasihnya saat senior high school.” tunjuk Yuka pada foto suami Hyerin saat menikah. Haejun menghampiri Yuka untuk melihat rupa sang suami yang dikatakan Yuka sebagai kekasihnya sejak senior high school.
“Perjalanan cinta mereka pasti tidak mudah. Bahkan aku tidak pernah bisa memiliki kekasih yang bertahan lama seperti sahabatmu ini.”
“Jadi oppa pernah memiliki kekasih?”
Tiba-tiba Yuka menoleh ke arah Haejun sambil menatap pria itu tajam. Haejun meringis kecil ke arah Yuka sambil mengelus lengan Yuka agar wanita itu tidak berubah menjadi wanita garang.
“Aku pernah memiliki beberapa teman wanita saat senior high school dan saat aku sudah bekerja sebagai intel, tapi semua kekasihku tidak ada yang bertahan lama karena mereka tidak bisa memahamiku dan pekerjaanku. Hanya kau satu-satunya wanita yang bisa memahamiku, sehingga aku memutuskan untuk cepat-cepat menikahimu ketika aku sudah mantap dengan pilihanku.”
“Dasar tukang rayu! Tidak perlu berkata manis di depanku jika oppa hanya ingin terhindar dari amukanku. Lagipula aku juga memiliki banyak mantan kekasih saat senior high school, jadi oppa jangan terlalu besar kepala karena pernah memiliki banyak kekasih.” dengus Yuka sebal. Haejun hanya tertawa geli memperhatikan kecemburuan isterinya yang sangat menggemaskan itu. Terkadang Yuka akan berubah menjadi wanita manja yang sangat menggemaskan, tapi terkadang ia juga bisa menjadi wanita kuat yang sangat tangguh, apalagi saat ia sedang bertugas untuk menyelesaikan sebuah misi.
“Sayang, siapa wanita ini?”
Haejun mengangkat sebuah pigura kecil yang terletak di samping sofa. Di dalam foto tersebut Hyerin tampak sedang berpose saling berpelukan dengan seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Jung Hyerin.
“Sepertinya itu Jung Hyura, adik kandung Hyerin yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Hyerin. Dulu saat senior high school banyak guru dan teman-temanku yang mengira jika mereka adalah anak kembar, padahal usia mereka terpaut dua tahun. Sejak dulu Hyerin sangat menyayangi adiknya. Apapun yang ia punya pasti akan ia bagi pada adiknya, begitu pun sebaliknya, Hyura juga sangat menyayangi Hyerin hingga ia rela menunggu Hyerin hingga selesai bimbingan belajar untuk pulang bersama. Padahal kelas Hyura selesai pukul satu, sedangkan kelas Hyerin selesai pukul empat, tapi Hyura tidak pernah keberatan untuk menunggu kakaknya pulang.”
“Tipikal keluarga yang bahagia.” komentar Haejun sambil lalu. Pria itu kembali duduk di tempatnya semula sambil memperhatikan setiap dekorasi yang memenuhi sudut-sudut ruang tamu milik Jung Hyerin.
“Maaf aku terlalu lama, silahkan dimakan dan diminum.”
Hyerin tiba-tiba muncul dari arah dapur sambil membawa secangkir teh dan juga beberapa makanan ringan di atas nampan. Yuka membantu Hyerin untuk meletakan makanan-makanan itu di atas meja dan mengangsurkan secangkir teh kearah Haejun.
“Hyerin-ah, jadi pada akhirnya kau menikah dengan Kang Shinjung, kekasihmu saat senior high school? Tak kusangka kalian akan bertahan hingga selama itu. Ngomong-ngomong dimana suamimu sekarang?”
“Shinjung oppa telah meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan mobil.” jawab Hyerin pelan. Yuka dan Haejun saling bertatapan satu sama lain dengan Yuka yang merasa sangat bersalah karena ia telah membuat sahabatnya kembali bersedih.
“Hyerin-ah maafkan aku, aku tidak tahu jika Kang Shinjung telah meninggal. Aku turut berduka cita.” ucap Yuka dengan wajah menyesal. Hyerin tersenyum kecil dan mengelus lengan Yuka pelan.
“Tidak apa-apa, sekarang ia sudah berada di tempat yang lebih indah dan lebih baik. Setelah kematian Shinjung oppa aku berusaha untuk lebih tegar dan mencoba untuk hidup lebih mandiri, karena selama ini aku selalu bergantung padanya dalam segala hal. Dan ketika polisi menghubungiku saat Shinjung oppa mengalami kecelakaan, aku terus pingsan berkali-kali hingga dua hari setelah pemakamannya. Tapi kemudian Hyura menguatkanku dan mengatakan padaku jika semuanya akan baik-baik saja tanpa Shinjung oppa karena ia berjanji akan selalu berada di sampingku.”
“Lalu dimana Hyura sekarang, apa ia sedang bekerja?”
“Tiga hari ini ia pergi ke desa untuk mengunjungi pamanku. Mungkin besok ia akan kembali.”
Drt drt drt
Tiba-tiba ponsel milik Hyerin yang berada di atas meja bergetar nyaring dan menimbulkan suara yang berisik. Cepat-cepat wanita itu mengangkatnya sambil memberi kode pada Yuka untuk menuggunya sebentar.
“Halo...”
“...............”
Tidak ada jawaban apapun dari sang penelpon. Yang terdengar hanyalah suara hembusan nafas berat yang terdengar begitu mengerikan di telinga Hyerin. Dengan panik, Hyerin mulai melihat nomor telepon sang penelpon dan ia semakin panik ketika ia sadar jika yang sedang menelponnya saat ini adalah sang penerornya.
“Halo! Katakan sesuatu atau aku akan menutupnya.” gertak Hyerin keras. Yuka dan Haejun saling bertatapan satu sama lain sambil memperhatikan gerak-gerik Hyerin yang mulai gelisah. Melihat hal itu Yuka semakin menajamkan indera pendengarannya untuk menguping pembicaraan yang terjadi antara Hyerin dan si penelepon.
“Baiklah, aku akan menutup teleponnya sekarang.”
“Pengkhianatanmu dan perilaku kejimu akan mendapatkan balasan yang setimpal, yaitu kematian!”
Tuutt tutt ttutt
Penelpon itu memutuskan sambungan teleponnya sepihak setelah ia mengucapkan kata-kata mengerikan yang berhasil membuat Hyerin bergidik ngeri. Wanita itu langsung melemparkan ponselnya ke atas lantai sambil menangis sesenggukan di atas meja.
“Hyerin, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku mendengar kata-kata yang begitu mengerikan dari penelpon itu?” tanya Yuka lembut. Hyerin mendongakan kepalanya dengan air mata yang masih membanjiri wajah cantiknya yang terihat pucat.
“Aku mendapatkan teror. Seminggu setelah Shinjung oppa meninggal aku sering mendapatkan telepon dari orang yang tak kukenal. Awalnya kukira itu hanyalah kelakukan orang iseng semata. Tapi semakin lama peneror itu semakin bertingkah mengerikan. Selain menerorku dengan ucapan-ucapan mengerikan dan ancaman, beberapa kali ia mengirimkan paket padaku berisi boneka yang telah ditusuk-tusuk dengan pisau dan diberi darah kucing atau melemparkan sesuatu melalui jendela kamarku seperti yang kualami tadi malam.”
__ADS_1
“Boleh kami melihat barang-barang yang dikirim oleh si peneror itu?”
Tiba-tiba Haejun berucap dan meminta Hyerin menunjukan barang-barang yang telah dikirimkan si peneror padanya.
“Tunggu sebentar, aku akan memperlihatkannya pada kalian.”
Hyerin bangkit berdiri menuju kamarnya dengan suara sesenggukannya yang memilukan.
Sementara itu, Yuka langsung merosot lemas di sebelah Haejun karena lagi-lagi mereka mendapatkan kasus disaat mereka akan menghabiskan waktu liburan mereka dengan tenang.
“Aku lelah oppa, kapan kita bisa benar-benar hidup tenang? Bahkan saat liburpun kita mendapatkan kasus dadakan seperti ini.” gerutu Yuka kesal sambil meluruskan kakinya di atas karpet. Haejun mengendikan bahunya ringan dan hanya mampu tersenyum kecil menanggapi gerutuan Yuka.
“Bukankah dulu sudah kubilang untung jangan menjadi agent jika kau tidak siap dengan semua kemungkinan buruk yang ada? Lebih baik kau menjadi model jika kau merasa lelah dengan pekerjaanmu sekarang, aku sangat mengijinkannya.”
“Tidak oppa, aku hanya bercanda. Bukankah kau tahu jika aku sangat menginginkan pekerjaan ini, jadi aku tidak akan meninggalkan pekerjaan ini begitu saja meskipun memang terkadang aku merasa bosan dengan rutinitas yang ada.”
Yuka dan Haejun menoleh bersamaan kearah Hyerin ketika wanita itu datang dengan terburu-buru sambil membawa beberapa kotak di tangannya. Wanita itu menjatuhkan kotak-kotak itu di depan Yuka dengan wajah pucat dan tangan bergetar yang terlihat kentara di indera penglihatan Yuka.
“Hyerin, kau baik-baik saja?”
“Baru saja aku menerima teror lagi, sebuah plastik yang berisi cairan merah dilemparkan begitu saja dari luar kamarku hingga membuat kamarku kotor penuh dengan bercak merah seperti darah. Yuka, apa yang harus kulakukan sekarang? Dari hari ke hari peneror itu terus menghantuiku dengan berbagai macam hal-hal mengerikan yang membuatku semakin takut. Malam ini Hyura akan datang karena aku
sudah menghubunginya agar ia cepat pulang. Aku takut berada di apartement ini sendirian, setelah ini aku akan mencari apartement baru agar aku terhindar dari peneror sialan itu.” ucap Hyerin frustasi sambil menelungkupkan kepalanya diantara lututnya. Yuka memberi kode pada Haejun untuk masuk ke dalam kamar Hyerin dan mengecek bagaimana keadaan kamar itu setelah si peneror melakukan aksinya. Mungkin saja selama ini peneror itu juga meletakan cctv atau perekam disekitar kamar Hyerin, sehingga ia dapat dengan mudah mengontrol berbagai aktivitas yang dilakukan Hyerin.
“Tenanglah, kami akan menolongmu, kami akan menemukan si peneror itu. Kami janji.” ucap Yuka bersungguh-sungguh di depan Hyerin. Wanita itu memeluk Yuka erat dan menangis sesenggukan di atas pundak Yuka dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan.
“Aku menemukan ini di dalam kamar Hyerin, selama ini peneror itu telah memata-matainya.”
Tiba-tiba Haejun muncul dengan sebuah alat perekam kecil dan juga sebuah kabel yang telah diputus Haejun dengan paksa. Melihat apa yang dibawa oleh Haejun, Hyerin semakin menangis histeris karena ternyata ia telah diawasi dengan cukup lama oleh sang peneror. Yukapun kembali menenangkan Hyerin dan menyuruh Haejun untuk melaporkan apa yang dialami Hyerin pada pihak polisi agar Hyerin memiliki badan hukum yang melindunginya. Tapi ia dan Haejun tetap akan melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan Hyerin dari penerornya yang sudah kelewat batas itu.
“Hey, berhenti kau!”
Yuka dan Hyerin menoleh bersamaan kearah pintu utama yang baru saja dibuka Haejun. Baru saja mereka mendengar suara Haejun yang berteriak keras sebelum mereka mendengar suara langkah kaki Haejun yang bergerak ribut disepanjang lorong apartement Hyerin yang sepi. Cepat-cepat Yuka dan Hyerin berlari ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi pada Haejun, namun ketika di depan pintu mereka kembali menemukan sebuah paket yang berisi pisau dengan lumuran cairan merah di atasnya. Dengan hati-hati Yuka mengangkat box itu dan membuangnya ke dalam tong sampah karena ia tak ingin Hyerin semakin ketakutan dengan semua barang-barang yang dikirimkan si peneror ke apartementnya. Lalu tak berapa lama Haejun muncul dengan nafas ngos-ngosan dan juga sebuah benda di tangannya.
“Hoshh.. aku hoshh... menemukan ini di depan pintu tangga darurat sebelum orang misterius itu kabur entah kemana.”
Haejun menunjukan sebuah anting-anting di tangannya pada Yuka dan Hyerin. Hyerin yang melihat itu langsung mengangkatnya dan membuangnya ke dalam tong sampah dengan tubuh gemetar dan ketakutan.
“Aku tidak mau melihatnya, tolong jauhkan aku dari benda-benda terkutuk itu.” jerit Hyerin histeris sambil berlari masuk ke dalam kamarnya. Yuka segera memungut anting-anting itu dari dalam keranjang sampah dan menyuruh Haejun untuk menyimpannya karena mungkin saja anting-anting itu dapat dijadikan alat untuk mengungkap jati diri si peneror sebenarnya.
“Oppa, sepertinya masalah peneror ini benar-benar serius, kita harus terus mendampingin Hyerin hingga pelaku peneror itu ditemukan. Oppa, apa kau bisa melacak nomor si peneror itu?”
“Seharusnya aku bisa melakukannya, tapi di sini kita tidak memiliki peralatan pelacak canggih seperti yang berada di markas.”
Yuka mendesah lesu dan mulai mencari cara agar mereka tetap bisa melacak si peneror itu meskipun mereka tidak memiliki peralatan canggih di apartement Hyerin. Lalu Yuka mulai mengutak-atik ponselnya dan bertanya pada rekannya yang bekerja di bagian teknik jaringan. Ia pikir rekannya itu pasti memiliki solusi lain untuk masalah keterbatasan alat yang mereka miliki.
“Oppa, kita tetap bisa melacak si peneror itu dengan software yang baru saja dikirimkan Sungjae padaku. Lihat, ia sudah mengirimkan softwarenya padaku.”
Yuka menunjukan software pelacak yang baru saja dikirimkan Sungjae padanya. Ia pun mengambil alih ponsel milik Yuka dan mulai mengutak-atik software tersebut agar bisa digunakan untuk melacak si peneror.
“Kita bisa melacaknya saat peneror itu menghubungi Hyerin. Cepat katakan pada Hyerin jika kita bisa melacak keberadaan si peneror itu jika si peneror mulai menghubunginya lagi.”
Yuka pun segera bergegas masuk menyusul Hyerin yang sedang meringkuk ketakutan di dalam kamarnya. Sedangkan Haejun mulai menyiapkan software pemberian Sungjae untuk melakukan pelacakan pada si peneror. Tapi ketika ia tengah asik dengan software itu, tiba-tiba ponsel milik Hyerin yang tergletak di atas karpet berdering kembali. Dengan cepat Haejun segera mengangkat panggilan itu sambil mengaktifkan software pelacaknya untuk melacak jejak si peneror yang meresahkan itu.
“Halo! Siapa kau sebenarnya, keluarlah dan hadapi kami dengan berani. Dasar kau pengecut!” maki Haejun keras dengan penuh kebencian. Namun si peneror itu tak kunjung membuka suara untuk membalas makian Haejun. Justru yang terdengar oleh Haejun adalah suara hembusan nafas dan juga suara gemerisik daun yang begitu berisik di belakangnya.
“Kalian tidak akan bisa menangkapku..... brzttt brztt brtzzztt.”
Klik
Haejun mengernyitkan dahinya ketika peneror itu akhirnya mematikan sambungan teleponnya setelah beberapa kali ia mendengar suara seperti sinyal jaringan yang tidak stabil dan suara gemrisik daun yang terdengar begitu nyaring di belakangnya. Haejun pun mulai mengecek software pelacaknya yang mulai memunculkan informasi berupa angka geografis dimana si peneror itu berada. Cepat-cepat Haejun menuliskan angka-angka itu di atas sebuah kertas telepon yang ia temukan di atas meja lampu agar ia bisa segera mengetahui dimana keberadaan si peneror itu berada.
“Bagaimana oppa, apa peneror itu sudah menghubungi ponsel Jung Hyerin lagi?”
“Lihat, software pelacak itu berhasil menemukan titik koordinat dimana si peneror itu berada. Segera setelah kita menafsirkan titik-titik koordinat ini, kita dapat menemukan dimana keberadaan si peneror itu sekarang.”
Yuka menganggukan kepalanya mengerti dan segera membantu suaminya untuk menafsirkan angka-angka geografis itu. Lagipula saat ini Hyerin sudah tenang setelah ia menyuruh wanita itu untuk memejamkan matanya sejenak agar ia tidak terus dilanda kepanikan karena memikirkan si peneror yang mungkin saja akan mendatanginya dan membunuhnya hari ini.
“Yuka, aku tahu dimana keberadaan si peneror itu.”
Setelah berkutat dengan angka-angka itu selama tiga puluh menit lamanya, Haejun dapat menafsirkan titik-titik koordinat itu hingga menciptakan sebuah alamat yang begitu lengkap mengenai keberadaan sang peneror itu. Dan setelah Yuka mencari alamat itu melalui internet, mereka menemukan tempat dimana si peneror itu bersembunyi selama ini.
“Pemakaman Ilsan.” gumam Yuka tak mengerti sambil menunjukan hasil pencariannya pada sang suami. Haejun pun membaca alamat tempat itu dengan seksama dan menemukan sebuah fakta jika alamat yang mereka dapat dari software pelacak mengarah pada pemakaman Ilsan yang berjarak lima kilometer dari apartement Jung Hyerin.
“Kita haru segera kesana untuk memastikan si peneror itu masih berada di sana atau tidak. Lagipula saat ini Hyerin sedang tertidur pulas di kamarnya, jadi kita bisa meninggalkannya sebentar untuk mengecek pemakaman.”
“Ayo kita pergi sekarang, sebelum hari semakin sore karena sebentar lagi matahari akan terbenam, pemakaman Ilsan pasti akan sangat gelap saat malam hari.”
__ADS_1
Yuka dan Haejun segera membereskan barang-barang mereka dan bergegas menuju pemakaman Ilsan untuk menyelidiki keberadaan si peneror. Sebelum pergi tak lupa Yuka menempelkan note di depan kamar Hyerin agar wanita itu tidak mencari-carinya setelah terbangun nanti.
“Ayo oppa kita berangkat.”