Ignite

Ignite
Forgotten Days (Seven)


__ADS_3

          Yuka bertopang dagu di dalam ruang kerjanya sambil memikirkan permasalahn pelik yang akhir-akhir ini


terjadi padanya. Semalam ia baru saja bertengkar dengan Haejun karena sikap pria itu yang terus-menerus terlihat misterius dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi saat ia menanyakannya secara langsung, Haejun pasti akan mengalihkan pertanyaannya dengan hal-hal lain yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Lalu puncaknya adalah semalam, Ia dengan terang-terangan menyela ucapan Haejun ketika pria itu lagi-lagi mengalihkan pertanyaanya dengan pertanyaan lain. Lalu tanpa diduga, Haejun justru marah dan mereka berakhir dengan saling adu mulut dan pisah ranjang.


            “Huh...”


            Yuka menghembuskan nafasnya lelah sambil meletakan kepalanya di atas meja. Bahkan hari ini mereka tidak berangkat ke markas bersama. Pagi-pagi sekali Haejun sudah menghilang dari rumah mereka tanpa mengatakan sepatah katapun padanya. Dan untung saja hari ini ia sama sekali tidak bertemu dengan pria itu di markas, karena jika ia bertemu dengan suaminya yang menyebalkan itu, mungkin ia akan menggunakan kesempatan itu untuk melanjutkan adu mulut mereka yang belum terselesaikan.


            “Senior Im, Kapten Lee memanggilmu di ruang kerjanya.”


            Yuka menoleh malas pada Yeri yang sedang berdiri dengan manis di ambang pintu. Baru saja ia memikirkan suaminya yang menyebalkan itu, dan sekarang pria itu sudah memanggilnya untuk masuk ke dalam ruang pribadinya yang beraura seperti ruang sidang nara pidana. Ahh, ia merasa malas.


            “Ada apa, mengapa kapten Lee tiba-tiba memanggilku? Bukankah hari ini kita tidak memiliki kasus apapun?” tanya Yuka malas. Yeri mengernyitkan dahinya heran dan ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan seniornya. Ia merasa jika hari ini sikap Yuka terlalu aneh, dan mungkin ia bisa mendapatkan sedikit bahan gosip untuk dibagikan dengan teman-temannya.


            “Tidak biasanya senior terlihat malas saat bertemu kapten Lee, apa kalian baru saja bertengkar?” selidik Yeri dengan wajah menggoda. Yuka memutar bola matanya malas sambil menatap Yeri tajam. Juniornya itu memang selalu menggunakan keadaan disekitarnya sebagai bahan gosip yang tidak penting di markas. Dan berita utama yang selalu gadis itu bawa adalah hubungannya degan Haejun yang menurut mereka misterius, padahal sudah berkali-kali ia menjelaskan jika mereka tidak memiliki hubungan apa-apa saat di markas, selain hubungan kapten dan junior, tapi mereka tetap saja tidak percaya dan terus menerus mencari kesempatan untuk mencari bukti kebersamaannya dengan Haejun.


            “Aku hanya lelah, mungkin kapten Lee hanya ingin mengatakan jika hari ini aku memiliki jadwal pemotretan.” jawab Yuka acuh. Yeri mengernyitkan dahinya tidak setuju sambil menunjuk ponsel milik Yuka dengan dagunya.


            “Bukankah kapten Lee bisa menghubungi senior langsung jika itu terkait pekerjaan senior yang lain? Hmm... aku mulai merasa aneh dengan hubungan kalian. Benarkah senior Im dan kapten Lee tidak memiliki perasaan apapun setelah apa yang senior lakukan selama ini bersama kapten Lee, rasanya itu seperti tidak mungkin.”


            “Ck, kau terlalu banyak menonton drama Kim Yeri, sudah kukatakan jika hubungan kami hanya sebatas senior dan junior, ia adalah kaptenku di markas.” jawab Yuka gusar dan sedikit ketus.


            “Senior.. kau tak perlu menutup-nutupi hubunganmu pada kami, katakan saja sejujurnya pada kami, kami tidak akan mengatakannya pada dewan jenderal jika senior memang memiliki hubungan khusus dengan kapten Lee.”


            Yeri terlihat semakin menjadi-jadi sambil merangkul Yuka sok akrab. Meskipun selama ini mereka memang akrab, tapi Yuka merasa kesal juga dengan sikap Yeri yang terlalu mencampuri urusannya itu. Dengan sedikit memaksa Yuka melepaskan rangkulan itu dari lengannya dan segera pergi menuju ruangan Haejun yang berada di depan ruangannya. Sedangkan Yeri yang merasa ditinggalkan oleh Yuka langsung menggerutu sebal karena ia gagal mendapatkan bahan gosip baru.


            “Ahh... menyebalkan! Tidak ada gosip untuk hari ini.” sungut Yeri kesal dan segera berjalan pergi meninggalkan ruangan Yuka.


-00-


Tok tok tok


            Yuka mengetuk pelan pintu kayu yang berdiri kokoh di depannya sambil sesekali ia tersenyum pada anggota intel lainnya yang kebetulan sedang lewat di depannya. Samar-samar Yuka mendengar suara bass suami tercintanya yang menyuruhnya untuk masuk. Sepertinya Haejun memang sudah mengira jika seseorang yang mengetuk pintunya adalah Yuka, isterinya.


            “Duduklah.”


            Haejun berseru datar tanpa menatap wajah Yuka. Pria itu terlihat asik dengan laptopnya dan juga beberapa kertas yang berserakan di atas meja. Merasa Haejun masih marah padanya, Yuka memilih untuk bersikap acuh dan hanya menuruti keinginan Haejun untuk duduk di depan pria itu. Lagipula ia yakin jika suaminya itu tidak akan


berlama-lama mendiaminya karena sebenarnya suaminya itu sangat bergantung padanya, terutama dalam urusan ranjang!


            “Ada apa oppa memanggilku, apakah ini mengenai jadwal pemotretanku yang beberapa hari lalu kau kacaukan? Untung saja pihak sponsor tidak menuntutku dan meminta uang denda sebagai hukuman atas kesalahanmu yang seenaknya saja membatalkan kontrak kerja, oppa harus segera menyelesaikan masalahku dengan agensi dan pihak sponsor.”


            “Jangan memancingku Lee Yuka, aku sedang tidak dalam kondisi ingin berdebat, aku hanya ingin memberikan tugas baru terkait pelaku perampokan bank Shinhan yang terjadi pagi tadi. Dan mengenai masalahmu dengan agensi, aku sudah mengatasinya, mereka memintamu untuk mengganti waktu pemotretan kemarin menjadi besok, jadi bersiaplah untuk datang ke studio foto yang berada di Ceondamdong.” ucap Haejun panjang lebar dan terlihat penuh penekanan. Yuka mendengus kesal dengan sikap Haejun yang lagi-lagi tidak bersahabat. Padahal ia sangat ingin mengintrogasi pria itu terkait pekerjaanya yang akhir-akhir ini terlihat misterius. Ia hanya takut jika Haejun sebenarnya menyembunyikan sesuatu yang penting darinya, ia mengkhawatirkan suaminya.


            “Ya aku tahu. Jadi kenapa oppa memanggilku, bukankah seharusnya oppa yang menyampaikan berita ini pada agen agen lain? Oppa tidak akan menugaskanku sendiri dalam pengejaran ini bukan?” tanya Yuka penuh selidik. Haejun melipat kedua tangannya di atas meja sambil menatap Yuka tajam. Sebenarnya ia sedikit kesal dengan sikap isterinya akhir-akhir ini yang sangat berisik dan juga pemarah. Terkadang ia harus ekstra bersabar jika Yuka sudah mulai mengeluarkan sisi menyebalkannya itu.

__ADS_1


            “Kau yang akan menggantikanku untuk menjelaskannya pada agen-agen yang lain, hari ini aku harus pergi ke China bersama dewan jenderal untuk mengurus sesuatu, jadi kuserahkan misi ini sepenuhnya padamu Lee Yuka.”


            “Apa? Apa yang akan oppa lakukan di sana? Mengapa akhir-akhir ini oppa sering pergi ke suatu tempat dan terkesan sedang menutupi sesuatu dariku? Jika oppa terlalu mengkhawatirkanku, kurasa itu sudah terlalu berlebihan. Pekerjaan kita memang selalu beresiko oppa. Jadi tidak ada alasan bagi oppa untuk menyembunyikannya jika oppa takut aku akan terluka.”


Cup


            Haejun mencium bibir Yuka yang setengah terbuka setelah wanita itu selesai mengeluarkan seluruh amarahnya pada pria itu. Tapi tentu saja hal itu tidak akan meluluhkan hati Yuka begitu saja, mengingat watak keras kepalanya yang tidak mungkin akan luluh hanya dengan sebuah ciuman yang sudah sering ia dapatkan setiap hari. Yuka mengusap kasar bibirnya dan setelah itu ia menyilangkan kedua tangannya dengan angkuh di depan Haejun.


            “Aku tidak akan luluh hanya dengan sebuah ciuman, sekarang oppa harus jujur padaku, sebenarnya apa yang oppa lakukan di luar sana? Kenapa oppa harus merahasiakannya dariku? Jika oppa tidak mau memberitahuku, aku akan mencaritahu sendiri.” ucap Yuka tegas. Wanita itu segera berdiri dari tempat duduknya dan hendak meninggalkan Haejun yang masih mematung di tempatnya. Namun sebelum Yuka benar-benar menarik kenop pintu di depannya, suara bass Haejun menghentikannya. Pria itu menyuruhnya untuk kembali duduk dan mendengarkan penjelasan darinya secara langsung.


            “Jadi kau berubah pikiran dan ingin memberitahuku semuanya?” tanya Yuka dengan wajah malas. Haejun menarik tangan Yuka mendekat dan menjatuhkan wanita itu di atas pangkuannya. Pria itu menatap manik coklat itu lekat-lekat sambil mengelus wajah cantik Yuka lembut. Di kepalanya, Haejun sedang mencoba menyusun berbagai macam kata agar Yuka tidak terus menerus memberondongnya dengan pertanyaan yang sama setiap hari. Lagipula isterinya itu memang memiliki tingkat kekeras kepalaan yang sangat parah, sehingga rasanya percuma saja jika ia hanya mendiami Yuka tanpa memberikan jawaban apapun, karena Yuka akan tetap mengejarnya hingga wanita itu puas dengan jawabannya.


            “Ini tentang saudara presiden yang menjabat sebagai duta besar di China, Kim Gura, ia berencana untuk mempertemukan Park Boyoung dengan presiden China untuk membuat kontrak kerjasama baru di bidang hukum karena menurut Kim Gura akhir-akhir ini penjahat-pejahat yang berasal dari Korea Selatan sering melarikan diri ke China, oleh karena itu aku harus mendampingi presiden untuk merundingkan masalah ini, apa kau sudah puas sayang?” tanya Haejun penuh penekanan. Yuka menatap manik Haejun lekat-lekat dan mencoba mencari kebohongan di mata sendu milik suaminya. Tapi semakin ia menggali lebih dalam manik sendu itu, ia justru semakin percaya jika Haejun memang mengatakan hal yang sebenarnya, pria itu sama sekali tidak berbohong padanya.


            “Benarkah? Oppa tidak sedang berbohong padaku bukan?” tanya Yuka memastikan. Haejun menganggukan kepalanya dan mencium bibir Yuka sekilas sebagai bukti atas kejujurannya pada wanita itu.


            “Baiklah, aku percaya. Jadi oppa akan pergi untuk berapa hari, aku tidak mau ditinggalkan terlalu lama untuk menjadi penggantimu, aku bukan tipe wanita yang suka memerintah bawahan seenaknya, jadi aku tidak mau menggantikan oppa terlalu lama.”


            “Kau menyindirku? Ck, kau memang harus dihukum. Sekarang kau push up sebanyak tiga puluh kali!”


            Yuka melongo di tempat sambil menanyakan kesungguhan Haejun yang akan menghukumnya. Tapi tanpa diduga, Haejun justru mengangguk dan menyuruh Yuka untuk segera melakukan push up di depannya sebelum ia menambah jumlah hukumannya pada wanita itu.


            “Oppa benar-benar akan melakukannya? Ya Tuhan, bukankah kau sudah berjanji di altar akan selalu menjagaku dan membahagiakanku? Lalu sekarang kau menyuruhku untuk melakukan push up, dimana semua janji manismu itu tuan Lee?” ucap Yuka jengkel. Tapi wanita itu tetap menuruti perintah Haejun dengan melakukan push up  sebanyak tiga puluh kali.


            “Satu.”


            “Dua.”


            Setelah melepaskan pangutan bibirnya, Haejun kembali memberikan aba-aba pada Yuka untuk melakukan push upnya lagi. Dan ketika Yuka kembali mengangkat sikunya, Haejun akan memberikan satu kecupan yang begitu lembut dan manis. Haejun terus melakukannya berulang-ulang hingga hitungan ke sepuluh, dan setelah itu ia langsung menarik Yuka untuk berdiri dan memenjarakan wanita itu di dalam dekapannya yang hangat.


            “Apa kau lelah?”


            “Sedikit. Aku merindukanmu.” bisik Yuka lembut di telinga Haejun. Haejun menyingkirkan anak rambut Yuka yang sedikit berhamburan di wajah wanita itu. Dengan telaten Haejun juga menghapus titik keringat yang mengalir turun dari kening Yuka yang indah.


            “Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, dan aku merasa bersyukur karena masih memiliki perasaan itu.”


            “Kenapa? Ck, oppa pasti sedang mencoba untuk merayuku? Oh ayolah, kurasa oppa tidak pantas untuk melakukan hal itu.” ucap Yuka geli. Haejun tersenyum separuh pada Yuka sambil mengusap pipi Yuka dengan ibu jarinya.


            “Ya, meskipun itu menggelikan, tapi aku memyukainya. Terasa seperti... aku masih mencintaimu sayang.” bisik Haejun lembut. Pipi Yuka seketika berubah menjadi semerah tomat setelah ia mendengar kata-kata rayuan Haejun yang mematikan itu. Meskipun Haejun bukan tipe pria romatis, tapi pria itu selalu memiliki cara tersendiri untuk menunjukan padanya jika ia sangat mencintainya dan juga keluarganya.


            “Ohh... itu sungguh kata-kata yang manis. Jadi oppa ingin berbaikan denganku?”


            “Menurutmu? Bukankah kau sudah tahu jika aku memang tidak bisa mendiamimu terlalu lama, meskipun kau berisik dan suka marah-marah, aku tetap akan kembali padamu, hmm.”


            “Baiklah, aku akan memaafkan oppa. Tolong jangan menyembunyikan apapun lagi dariku.”

__ADS_1


Cup


            Haejun mencium kening Yuka sungguh-sungguh sambil menganggukan kepalanya penuh keyakinan. Pria itu menangkup wajah Yuka dan mendekatkan bibirnya tepat di depan bibir Yuka. Lalu ia berbisik pelan pada Yuka dan melumat bibir merah itu dengan lembut.


            “Kau bisa memegang kata-kataku sayang.” bisik Haejun lembut sambil melumat bibir Yuka.


Tok tok tok


Dugh


            Yuka mendorong dada Haejun keras hingga tubuh pria itu menabrak meja kayu di belakangnya. Wanita itu terlihat panik sambil merapikan bajunya serta bibirnya yang mungkin sudah terlihat bengkak karena ciuman Haejun yang begitu rakus.


            Sementara itu, Haejun tampak mendengus kesal pada si pengetuk pintu dan juga Yuka yang telah mendorong tubuhnya hingga ia menabrak meja. Rasanya punggungnya terasa sakit dan juga ngilu di beberapa tempat karena ia tidak siap untuk dorongan Yuka yang tiba-tiba itu.


            “Oppa, cepat rapikan dirimu dan suruh orang itu masuk. Ia akan curiga jika kau terlalu lama mempersilahkannya masuk.” bisik Yuka panik.


            “Masuk.”


            Haejun berseru keras pada sang pengetuk seperti yang diperintahkan oleh Yuka, tapi kedua matanya sama sekali tak beralih pada wajah Yuka yang terlihat gugup, namun wanita itu terlihat mencoba untuk tenang.


            “Kapten... Oh senior Im, selamat siang.”


            Lay menganggukan kepalanya sedikit pada Yuka ketika ia menyadari keberadaan seniornya itu di dalam ruangan kaptennya. Yuka yang melihat hal itu langsung membalas sapaan Lay dan berusaha untuk tenang dengan sugestinya sendiri.


            “Ada apa Lay, kau ingin melaporkan sesuatu?”


            “Begini kapten, baru saja kami mendapatkan laporan jika perampok yang menyerang bank Shinhan pagi tadi, siang ini kembali beraksi, perampok-perampok itu baru saja menyerang bank Woori yang berada tak jauh dari lokasi bank Shinhan. Lalu baru saja jenderal menghubungiku untuk memberitahukan berita ini pada kapten agar kapten menugaskan salah satu agen di divisi dua untuk menjadi pemimpin menggantikan anda yang akan bertugas ke China siang ini. Jadi siapa yang akan memimpin penyelidikan hari ini?”


            Haejun melirik Yuka sekilas dan memberikan tatapan penuh arti pada wanita itu. Sedangkan Yuka, ia sejak tadi sudah menggelengkan kepalanya sambil memberikan isyarat pada Haejun agar pria itu tidak memilihnya. Lagipula rumor mengenai kedekatannya akan semakin menyebar luas dan menimbulkan banyak spekulasi jika ia dipilih lagi oleh Haejun untuk memimpin penyergapan, karena hal itu akan terlihat tidak adil di mata agen lain.


            “Aku akan menunjuk Yuka sebagai pemimpin dalam penyergapan kali ini. Kalian bersiaplah karena setelah ini Yuka akan menjelaskan ciri-ciri tersangka pada kalian.” ucap Haejun mantap disertai seringaian menyebalkan ke arah Yuka.


            “Kapten, bukankah kapten bisa menugaskan Lay atau Sehun, kupikir mereka lebih pantas untuk menjadi pemimpin. Lagipula saya adalah wanita, jadi rasanya itu sedikit tidak pantas.” protes Yuka gusar. Haejun menggeram kecil di sebelah Yuka karena ia jelas-jelas tidak ingin dibantah. Dan tujuannya menjadikan Yuka pemimpin adalah agar Yuka dapat memberikan perintah pada agen-agen yang lain untuk menyelesaikan penyergapan kelompok perampok itu, sehingga Yuka tidak perlu melakukan pekerjaan berat atau membahayakan dirinya.


            “Aku tidak ingin dibantah nona Im. Lay kau boleh keluar sekarang.” usir Haejun pada Lay. Merasa mendapat usiran yang terang-terangan, Lay segera membungkukan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan sang kapten.


            Sementara itu Yuka masih berada di dalam ruangan Haejun sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


            “Kenapa oppa memilihku? Mereka semua juga memiliki kemampuan yang sama hebatnya denganku, bahkan lebih. Kompetensi mereka jelas tidak bisa diragukan begitu saja. Seharusnya sekali-sekali oppa memberikan kesempatan untuk mereka.” gerutu Yuka panjang lebar. Haejun tampak tak peduli dengan ucapan Yuka dan justru terlihat menyibukan diri dengan beberapa berkas yang akan ia bawa ke China.


            “Ini adalah gambar sketsa pelaku perampokan hari ini. Aku percayakan kasus ini padamu, dan yakinlah jika semua ini bukan hanya masalah kompetensi, tapi ini untuk kebaikanmu. Sampai jumpa sayang, jaga dirimu baik-baik.”


            Haejun menutup acara berpamitannya dengan ciuman lembut di pipi Yuka. Setelah itu ia langsung berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruangannya dengan membawa sebuah tas besar yang menggantung di pundaknya.


            Yuka mendesah pelan dengan kelakuan suaminya yang selalu mengatasnamakan keselamatannya dalam keputusan sepihaknya. Padahal ia sendiri merasa yakin jika ia bisa menjaga dirinya sendiri, tanpa harus melibatkan intel-intel yang lain.

__ADS_1


            “Ck, kapan oppa akan memberikan kepercayaan itu padaku?” gumam Yuka frustasi sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan Haejun.


__ADS_2