
“Permisi, apakah anda pemilik kafe ini?” Tanya Yuka ramah pada seorang wanita muda yang sedang duduk di belakang meja kasir. Wanita itu mengangguk ramah sambil menyapa Yuka hangat.
“Saya adalah pemilik kafe ini, nama saya adalah Kang Jina.”
“Oh kebetulan sekali, kami adalah tim penyidik dari divisi dua yang ingin melihat video cctv yang terpasang di kafe ini untuk mencari pelaku pembunuhan yang mungkin saja sempat datang ke kafe ini untuk membeli sesuatu, apa kau bersedia untuk menunjukannya pada kami?”
Jina tampak sedikit terkejut dengan penuturan Yuka yang mengatakan jika seorang pembunuh mungkin baru saja datang ke kafenya. Wanita muda itu cepat-cepat menyuruh salah satu pegawainya untuk menunjukan pada Yuka dan Lay dimana ruang monitor cctv kafenya.
“Tentu saja kalian boleh melihatnya. Ya Tuhan, apa kafeku baru saja mendapat kunjungan dari seorang pembunuh?” tanya Jina merinding. Yuka tersenyum kecil menenangkan Kang Jina jika hal itu belum tentu terjadi karena mereka masih memiliki banyak nama yang harus dicuragai selain Eunjo.
“Kau tenang saja, orang yang datang ke kafemu pagi tadi belum tentu seorang pembunuh, kami hanya ingin menguatkan alibinya saja jika ia tadi benar-benar datang ke sini.”
“Oh syukurlah, semoga orang yang datang ke kafeku bukan pembunuh yang kau cari.” ucap Jina ngeri. Yuka pun meminta ijin untuk masuk ke dalam bersama salah satu pegawai kafenya untuk melihat rekaman cctv yang dipasang di sekitar kafe. Tapi tiba-tiba saja lengannya dicekal oleh seseorang dan membuatnya harus menghentikan langkahnya untuk berbalik.
“Lay kau yang melihat rekaman cctv itu bersama Yeri, aku memiliki urusan sebentar dengan nona Im.”
Haejun manatap kedua iris Yuka tajam tanpa menatap Lay yang sedang kebingungan di sebelahnya. Namun pria itu segera berlalu pergi ketika ia sadar jika suasana diantara kapten dan juga seniornya sedikit kurang nyaman.
“Ada apa kapten, apa kau membutuhkan sesuatu dariku?” tanya Yuka santai dan terlihat tidak peduli. Haejun menarik Yuka ke salah satu meja kosong dan memaksa Yuka untuk duduk di depannya dengan mendorong bahu Yuka pelan.
“Kau tidak memberitahuku jika hari ini telah terjadi pembunuhan di agensi Park Jaejong, apa kau sudah melupakan statusku sebagai kapten kalian?” tanya Haejun geram. Seharusnya semua kasus yang menjadi tanggungjawab divisi dua harus dilaporkan padanya terlebihdahulu karena ia merupakan penanggungjawab di divisi dua.
“Maafkan aku kapten, kukira kau sedang sibuk dengan wanitamu, sehingga aku merasa tidak enak untuk mengganggumu.” sindir Yuka tajam. Haejun mendengus kesal dengan sikap kekanakan Yuka yang sangat tidak pantas untuk ditunjukan itu.
“Ini bukan saatnya untuk main-main, dan wanita itu hanyalah putri dari teman appa, jadi kau tidak seharusnya menunjukan sikap cemburumu yang kekanakan itu.” bisik Haejun pelan dengan penuh penekanan. Yuka tampak tak peduli dengan penjelasan Haejun dan memilih untuk menatap pemandangan lain disekitar kafe. Dilihatnya wanita yang beberapa saat yang lalu sedang bersama suaminya saat ini tengah mencuri-curi pandang ke arahnya.
“Kau egois, kau tidak mengijinkanku pergi dengan pria manapun, tapi kau bebas pergi dengan wanita manapun. Meskipun itu putri dari sahabat abeoji, aku tidak peduli! Bahkan kau melarangku untuk terlalu dekat dengan Sehun, padahal ia jelas-jelas adalah juniorku dan aku tidak mungkin memiliki hubungan dengannya. Sedangkan kau, kau bisa.....”
“Kita lanjutkan nanti.” bisik Haejun kesal sambil berjalan menghampiri Yeri dan Lay yang baru saja muncul dari ruang monitor.
“Bagaimana, apa kalian menemukan sesuatu?”
“Crew yang bernama Eunjo, ia benar-benar datang ke kafe ini pukul sepuluh lebih sepuluh, lalu ia berada di sini hingga pukul sepuluh empat puluh untuk menunggu pesanannya dimasak oleh koki kafe, jadi Enjo bukanlah pelaku dari pembunuhan Jang Naeun.” ucap Lay menyimpulkan. Yuka mengangguk mengerti dan mengeluarkan
note kecilnya untuk mencoret nama Eunjo dari daftar nama tersangka. Tapi mereka masih memiliki tiga nama yang belum terbukti tidak bersalah, yaitu Minah, Jinan, dan Minjung, ketiga wanita itu memiliki alibi yang sangat lemah, terutama Jinan karena Sehun terbukti menemukan obat panyakit lambung di dalam tas Jinan. Sedangkan Minah, wanita itu beberapa kali berada disekitar Naeun karena mereka merupakan sahabat dekat, jadi Minah juga memiliki kemungkinan untuk membunuh Naeun, meskipun Yuka sedikit ragu karena hubungan mereka selama ini selalu baik.
“Lebih baik sekarang kita kembali ke markas untuk melihat hasil otopsi yang dilakukan Myungso dan Minzi.” putus Yuka pada Lay dan Yeri.
Setelah berpamitan pada pemilik kafe, mereka berempat segera berjalan pergi meninggalkan kafe untuk pergi ke markas. Tapi Jaekyung tiba-tiba menahan lengan Haejun dan membuat Yuka dan yang lainnya menghentikan langkah mereka bingung.
“Lee Haejun ssi, kuharap lain kali kita bisa makan siang bersama lagi, kurasa aku tertarik padamu.”
Yeri terkikik geli disamping Lay sambil memalingkan wajahnya ke kiri. Ia benar-benar tak habis pikir dengan wanita anggun seperti Jaekyung yang dengan percaya dirinya menyatakan ketertarikannya pada sang kapten. Namun ia juga tidak bisa menyalahkan Jaekyung begitu saja, karena bagaimanapun kaptennya itu memang tampan dan menarik.
“Aku akan memikirkannya lagi nanti. Sekarang aku harus pergi, tolong lepaskan tanganmu dari lenganku.”
Jaekyung langsung melepaskan tangannya dari lengan Haejun sambil tersenyum sumringah penuh kebahagiaan. Namun Yuka justru tampak kesal dan langsung berjalan pergi meninggalkan Haejun, Lay, dan Yeri untuk mengambil mobilnya di kantor agensi.
“Ada apa dengan senior Im, kenapa ia meninggalkan kita?”
“Ssstt..... senior Im sedang cemburu karena kapten Lee karena memiliki kekasih baru. Lihatlah ekspresi wajah senior Im, ia terlihat sangat kesal dengan wanita itu, dan seperti ingin memakan wanita itu hidup-hidup.”
“Ehem, Lay, Yeri, apa yang kalian lakukan di sini? Kalian tidak sedang bergosip bukan?” sindir Haejun yang tiba-tiba sudah muncul di belakang mereka. Sontak Lay dan Yeri saling bertatapan satu sama lain sambil mempercepat langkah mereka untuk menyusul Yuka. Daripada mereka mendapatkan hukuman dari kapten mereka yang galak, lebih baik mereka segera pergi dan menyusul Yuka.
__ADS_1
-00-
“Ya Tuhan, kenapa aku begitu ceroboh dan meninggalkan kacamataku di ruang tunggu model, padahal ruangan itu pasti sedang dalam keadaan steril karena Naeun baru saja terbunuh di sana. Tapi aku harus tetap mengambil kacamataku karena aku tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata.” gumam Jinan panik sambil melangkah sendiri ke dalam lorong kantornya yang sepi.
Sore ini Jinan kembali ke kantor tempatnya bekerja karena ia melupakan kacamata minusnya yang tertinggal di atas meja rias. Padahal siang tadi polisi telah memasang garis pembatas disekitar tempat kejadian pembunuhan, tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain nekat mengambilnya karena itu adalah kacamata satu-satunya yang ia miliki. Lagipula ia sudah meminta ijin pada petugas keamanan di depan, sehingga ia bisa sedikit menerobos garis polisi itu untuk sekedar mengambil kacamatanya yang tertinggal.
Setibanya di depan ruang tunggu model, Jinan merasa bulu kuduknya berdiri. Sore ini keadaan agensi benar-benar sepi karena semua pekerja dipulangkan lebih awal karena polisi harus melakukan penyelidikan disekitar gedung. Tapi sore ini Jinan sama sekali tidak melihat adanya polisi atau detektif seperti siang tadi yang begitu banyak berkerumun di depan ruang tempat terjadinya pembunuhan. Dengan sedikit takut, Jinan mulai mendorong pintu itu perlahan tanpa menimbulkan suara. Tapi samar-samar Jinan mendengar suara gaduh, disusul dengan suara langkah kaki yang baru saja keluar dari kamar mandi tempat mayat Naeun ditemukan. Cepat-cepat Jinan bersembunyi dibalik pintu sambil mengintip keluar untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.
“Huh, untung saja detektif itu belum mengecek pipa westafel ini, mereka pasti berpikir jika pipa ini terkena cipratan darah Naeun, padahal pipa ini merupakan alat yang kugunakan untuk memukul Naeun hingga nyawanya melayang. Hahaha, Naeun memang pantas mati, ia memang harus menderita karena telah mematahkan hati Jiwon oppa dan membuat Jiwon oppa mengalami depresi berat di rumah sakit jiwa. Tapi detektif itu pasti akan mengira Jinan sebagai pelaku pembunuhan Naeun karena Jinan mengonsumi obat lambung yang sama dengan obat lambung yang kuberikan pada Naeun. Segera setelah detektif itu melakukan otopsi, Jinan pasti akan dijadikan tersangka dalam pembunuhan ini.”
Jinan menutup mulutnya tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Ternyata pelaku pembunuhan Naeun adalah orang yang selama ini selalu terlihat baik dihadapan semua orang. Dan parahnya orang yang membunuh Naeun adalah orang yang memiliki alibi kuat untuk menyangkal semua tuduhan yang dilayangkan padanya.
Jinan bergetar ketakutan sambil mencoba mengambil ponselnya untuk menghubungi petugas keamanan yang berjaga di lantai satu. Tapi tiba-tiba ponselnya justru berbunyi nyaring dan menyebabkan sang pembunuh menoleh keji pada Jinan.
“Kim Jinan, apa yang kau lakukan di dalam sana?” ucap pembunuh itu pelan dengan seringaian menakutkan.
-00-
Yuka dan anggota intel lainnya masih menyelidiki kasus pembunuhan Naeun yang sampai saat ini belum menunjukan titik terang. Dua jam yang lalu Myungso telah memberikan hasil otopsinya dan mengatakan pada semua orang jika Naeun memang terbukti mengonsumsi obat lambung sebelum meninggal. Tapi Yuka kemudian membantah tuduhan Sehun yang mengatakan jika Kim Jinan adalah pelaku pembunuhan Naeun, karena meskipun Sehun menemukan obat lambung yang sama dengan yang dimiliki Jinan, tapi tetap saja hal itu tidak bisa dijadikan alasan karena Naeun meninggal akibat pukulan benda tumpul, bukan karena keracunan obat. Tapi kemudian Lay menambahkan jika di dalam obat lambung yang dikonsumsi Naeun terdapat zat yang dapat membuat peminumnya menjadi mengantuk, sehingga mungkin saja Jinan memberikan obat itu untuk membuat Naeun sedikit mengantuk dan saat Naeun lengah, Jinan langsung memukulkan benda tumpul itu ke tubuh Naeun hingga ia meninggal.
“Lalu bagaimana dengan dua crew yang lain, bukankah mereka sama-sama tidak memiliki alibi yang kuat?”Tanya Haejun menengahi perdebatan antara Yuka, Lay, dan Sehun.
“Minjung dan Minah memang tidak memiliki alibi yang kuat, tapi mereka tidak menunjukan
gerak-gerik yang mencurigakan sedikitpun, sehingga untuk sementara mereka bebas dari tuduhan.” Ucap Minzi menjelaskan. Tapi Haejun tampak tidak puas dengan jawaban Minzi karena kedua orang itu juga memiliki peluang yang sama besar dengan Jinan untuk membunuh Naeun. Apalagi Minah adalah orang terdekat Naeun, jadi ia justru memiliki akses yang besar untuk membunuh Naeun karena selama ini ia selalu terlihat bersama Naeun.
“Apa kalian sudah menggeledah barang-barang milik ketiga wanita ini dan loker mereka? Mungkin saja salah satu barang milik mereka dapat menjadi kunci untuk menguak kasus ini.”
“Sedangkan di dalam loker milik Jinan kami menemukan beberapa tisu gulung, obat lambung, buku notes, headset, beberapa buku panduan make up dan majalah fashion. Sebenarnya Kim Jinan sama sekali tidak memiliki benda tajam di dalam lokernya.”
“Lalu bagaimana dengan loker milik Minah?”
“Di dalam loker milik Minah kami menemukan gunting, pemotong kuku, bolpoin, dan beberapa majalah fashion, ia tidak memiliki benda berbahaya apapun di dalam lokernya. Tapi kami menemukan kertas yang telah diremas-remas di dalam lokernya, seperti sebuah surat namun sudah robek di beberapa bagian.”
Sehun mengangsurkan sebuah kertas yang terlihat sudah robek dan kusut di permukaanya. Kertas itu berisi deretan kata-kata yang tertulis rapi, namun karena sudah sobek, maka Yuka tidak bisa membaca surat itu secara lengkap. Namun Yuka sempat membaca beberapa kata yang mengungkapkan rasa bersalah dan juga permintaan maaf, tapi sayangnya Yuka tidak tahu siapa yang telah menulis surat itu karena beberapa bagian dari surat itu sudah tidak utuh.
“Surat ini sebenarnya mencurigakan, tapi aku tidak bisa menyimpulkannya dengan surat ini karena surat ini sudah tidak utuh dan di beberapa bagian. Emm.. adakah diantara kalian yang mengecek kamar mandi, karena aku baru sadar jika kamar mandi di ruangan itu sedikit mencurigakan. Sebelum melakukan sesi pertama pemotretan, aku sempat menggunakan kamar mandi itu untuk mencuci tangan, tapi pipa di bagian wastafel itu sedikit bocor dan membasahi sepatuku, jadi adakah diantara kalian yang mengeceknya karena aku curiga jika pipa itu sebenarnya adalah alat yang digunakan untuk memukul Naeun hingga meninggal.”
Sehun dan Minzi yang bertugas untuk mengecek bagian kamar mandi saling berpandangan satu sama lain karena mereka sepertinya telah melewatkan bagian itu karena pipa itu sudah penuh dengan noda darah yang cukup banyak.
“Kita harus kembali ke sana dan memastikan sendiri pipa itu karena mungkin saja pipa itu adalah alat yang digunakan untuk memukul korban hingga meninggal.” putus Haejun tegas dan segera beranjak untuk pergi ke kantor agensi Park Jaejong.
-00-
“Kim Jinan keluar kau sekarang juga, aku tahu kau masih berada di gedung ini dan sedang bersembunyi dariku.”
Jinan bergetar ketakutan sambil memeluk lututnya dibalik properti pemotretan yang berada di studio tiga. Hatinya terus menjerit ketakutan dan ia ingin meminta tolong pada petugas keamanan yang berjaga di bawah. Tapi sayangnya ia menjatuhkan ponselnya ketika berada di ruang tunggu model karena ia terlalu takut dengan nasibnya yang mungkin akan berakhir sama seperti Jang Naeun.
“Dasar pengecut, jika kau mengaku pemberani maka keluarlah sekarang karena aku akan segera menghabisimu agar kau juga bisa menyusul Naeun di neraka. Bukankah kalian selama ini saling bersaing? Jika kau keluar dari tempat persembunyianmu sekarang aku akan mempercepat kematianmu agar kau dapat bertemu dengan Naeun di neraka.”
Jinan terus merapalkan doa dalam hati sambil menyeka bulir-bulir air mata yang telah membanjiri wajah pucatnya. Andai saja hari ini ia tidak memutuskan kembali untuk mengambil kacamatanya, mungkin ia tidak akan bernasib sial seperti ini.
Brak!
__ADS_1
Jinan berjengit kaget ketika ia mulai mendengar suara barang-barang yang dijatuhkan di dalam studio tiga. Ia pun semakin mendekap mulutnya agar suara isakannya yang melengking tidak sampai terdengar nyaring di luar sana, karena sang pembunuh saat ini sedang mencarinya dan hendak membunuhnya dengan keji.
“Hong Minah, menyerahlah sekarang dan angkat tanganmu ke atas.” teriak Haejun dari ambang pintu. Minah yang sedang mencari Kim Jinan langsung menjatuhkan pipa yang ia gunakan untuk memukul Naeun dan segera mengangkat tangannya ke atas karena terkejut. Sedangkan Yuka yang berada di belakang Haejun langsung
menghambur masuk ke dalam studio untuk mencari Jinan yang sedang bersembunyi ketakutan diantara barang-barang properti pemotretan.
“Lay, Sehun, bawa tersangka ke kantor polisi.”
“Jangan tangkap aku, aku tidak bersalah, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Tuan, tolong jangan bawa aku ke kantor polisi, aku harus mengurus Jinwo oppa yang sedang mengalami depresi di rumah sakit jiwa. Nona Yuka tolong selamatkan aku, aku tidak mau mendekam di dalam penjara.”
Minah terus meronta-ronta ketika Lay dan Sehun menyeretnya keluar untuk dibawa ke kantor polisi. Sedangkan Yuka hanya mampu memandang prihatin sambil menghela nafas pelan karena ternyata persahabatan yang terjalin antara Naeun dan Minah tidak seindah yang ia bayangkan. Persahabatan mereka harus ternoda karena Naeun pernah menyakiti hati kakak laki-laki Minah dan menyebabkan pria itu mengalami depresi berat karena mendapatkan penolakan yang sangat menyakitkan dari Naeun.
“Jinan, syukurlah kau selamat.”
“Nona Im... Ohhh, aku sangat takut.” ucap Jinan lemas di dalam dekapan Yuka. Yuka pun segera memapah Jinan untuk keluar dari gedung agensi agar Jinan dapat dapat menenangkan dirinya yang sedang ketakutan.
-00-
Yuka meluruskan kakinya di atas ranjang sambil memabaca majalah fashionnya dengan acuh. Haejun yang baru saja keluar dari kamar mandi sama sekali tak digubris Yuka
setelah karena mereka berdua masih dalam mode gencatan senjata. Sebenarnya hanya Yuka yang melakukan gencatan senjata, Haejun sendiri lebih memilih untuk bersikap kalem dengan mengabaikan kemarahan Yuka. Tapi lama-lama ia jengah juga dengan sikap Yuka yang sejak tadi terus mengabaikannya. Bahkan ia harus memasak makan malam sendiri karena Yuka menolak untuk memasakan makanan untuknya.
“Jadi hari ini Enzo tidak berada di sini?”
Sebuah pertanyaan yang sangat bodoh baru saja dilontarkan Haejun untuk membuka percakapan dengan Yuka. Jelas-jelas sejak tadi ia tidak menemukan keberadaan anaknya di dalam rumahnya, sudah pasti malam ini anaknya berada di rumah orangtua Yuka, namun dengan bodohnya ia justru menanyakan hal itu dan membuat Yuka semakin bersikap acuh padanya.
“Hhuhhh baiklah, aku menyerah dengan sikap keras kepalamu yang seperti batu itu, jadi ayo kita berbaikan.”
“Berbaikan? Apa kita sedang bertengkar?” ucap Yuka balik bertanya membuat Haejun semakin kesal karena kesabarannya sedang diuji oleh isterinya.
“Yuka, kupikir kau tidak sedang mengalami amnesia, sehingga aku sangat yakin jika kau masih mengingat pertengkaran kecil kita di kafe tadi. Aku minta maaf, aku mengaku salah karena telah makan siang bersama wanita tadi.”
Haejun terduduk pasrah di sebelah Yuka seperti seorang terdakwa yang hendak diadili. Sedangkan Yuka tampak mulai luluh dengan kata-kata pengakuan Haejun yang terdengar jujur itu.
“Jadi siapa sebenarnya wanita tadi? Oppa tidak sedang mencari wanita lain untuk menggantikanku bukan?” tanya Yuka penuh selidik sambil menujulurkan jari telunjuknya untuk mencolek hidung Haejun. Haejun segera menepis tangan itu dari hidungnya sambil menatap Yuka lekat-lekat.
“Dia adalah Kim Jaekyung, putri dari sahabat appa, Kim Junwo. Selama ini aku selalu menolak tawaran paman Junwo untuk bertemu dengan putrinya, lalu hari ini ia menggunakan cara licik dengan mengatakan jika ia adalah korban kekerasan yang memerlukan pertolongan dariku. Tapi setelah aku tiba di kafe itu, ternyata Kim Jaekyung sudah menungguku sambil menawarkan makan siang padaku agar nanti saat
ayahnya bertanya mengenai pertemuannya denganku ia dapat menjawab pertanyan itu dengan lancar. Jadi tidak ada apapun yang terjadi diantara kami. Ia hanya putri dari sahabat appa.” ucap Haejun jujur dan bersungguh-sungguh. Rasanya sekarang Yuka ingin tertawa melihat wajah Haejun yang begitu memelas meminta pengampunan. Tapi biasanya jika suaminya itu bersikap seperti itu, ia pasti sedang menginginkan sesuatu darinya. Apalagi beberapa hari yang lalu ia dengan baiknya memberikan hadiah mobil sebagai kado ulang tahun pernikahan mereka, sudah pasti pria itu sedang menginginkan sesuatu darinya.
“Apa yang kau inginkan dariku oppa?” tanya Yuka datar dengan wajah yang pura-pura tidak peduli. Seketika Donghe langsung menyunggingkan senyum cerahnya sambil mengkat kedua tangan Yuka ke depan bibirnya untuk dikecup.
“My Love Lee Yuka, kau memang isteri yang sangat pengertian, terimakasih sayang. Malam ini aku hanya menginginkan dirimu, hmm.”
Yuka menutup majalahnya dengan keras dan segera meletakan majalah itu di atas nakas. Malam ini adalah waktunya untuk memanjakan sang suami agar ia tidak semakin merengek seperti Enzo ketika tidak dibelikan mainan.
“Kau boleh menyentuhku hari ini tapi dengan satu syarat, jangan buat aku hamil!”
“Deal, aku tidak akan membuatmu hamil sayang.” janji Haejun girang dan langsung menrjang tubuh Yuka yang sedang duduk di sebelahnya. Namun sebelum Haejun sempat mencium bibir Yuka, wanita itu menahan dada Haejun agar pria itu tidak langsung menciumnya.
“Oppa sudah mematikan kompor, mengunci pintu, memasukan sisa makanan ke kulkas, mencuci piring kotor yang oppa gunakan, memmpphhhhh....”
“Kau terlalu berisik sayang.” Bisik Haejun gusar sebelum kembali melumat bibir Yuka dengan brutal.
__ADS_1