
Yuka berlari-lari menyusuri sekolah Enzo yang luas dengan menggunakan kacamata dan juga wig berwarna bruntte sebahu. Meskipun ia tahu jika penampilannya saat ini sangat aneh, tapi ia tak memiliki pilihan lain selain menggunakan atribut-atribut itu karena hanya itu yang tersedia di dalam toko yang ia datangi sebelumnya.
Dari kejauhan Yuka melihat ibunya sedang melambaikan tangan ke arahnya dari sebuah ruang kelas yang kosong.
“Eomma, bagaimana keadaan Enzo hoshh hoshh hoshh..”
Yuka terengah-engah di depan ibunya sambil mengatur nafasnya yang memburu. Nyonya Im kemudian menarik tangan Yuka untuk masuk ke dalam ruang kelas putranya karena saat ini Enzo masih menangis kecil di atas lantai.
“Sayang.. apa yang kau lakukan di sana?”
Mendengar suara lembut Yuka yang mengalun di sebelahnya, Enzo langsung melompat berdiri dan memeluk Yuka erat hingga Yuka hampir saja terjatuh ke belakang.
“Momm hikss my, Ee.. Enzo iii.. ingin mommy melihat En hiss Enzo.”
Enzo menangis terseguk-seguk di bahu Yuka hingga Yuka merasa iba dengan kondisi putranya. Ia pikir kali ini ia memang harus meluangkan waktunya untuk Enzo dan menyerahkan semua pekerjaannya pada junior-juniornya di markas, lagipula ia sangat yakin jika mereka semua lebih dari mampu untuk mengerjakan tugas-tugas penyelidikan.
“Sshhh... sekarang mommy sudah di sini, Enzo jangan menangis lagi. Hari ini mommy akan melihat penampilan menyanyi Enzo bersama teman-teman, jadi Enzo harus bersiap-siap dan jangan menangis lagi, apa Enzo mau melakukannya untuk mommy?”
Enzo mengangguk-anguukan kepalan di atas pundak Yuka dan meminta Yuka untuk mengantarnya ke ruang ganti di belakang panggung.
“Eomma, aku akan mengantar Enzo bersiap-siap, eomma masuklah ke aula, aku akan segera menyusul eomma.”
Nyonya Im mengiyakan ucapan Yuka dan segera pergi menuju aula untuk mencari tempat duduk. Sementara itu Yuka langsung menggendong Enzo dengan cepat ke ruang ganti karena lima menit lagi acara pementasan akan dimulai.
-00-
Yuka merapikan kemeja biru yang digunakan Enzo sambil memberikan kedua jempolnya untuk menilai penampilan Enzo siang ini.
“Nah sekarang anak mommy sudah terlihat lebih tampan. Mommy akan memotretmu dan mengirimkannya pada daddymu yang super sibuk itu.” ucap Yuka sambil menyiapkan ponselnya untuk mengambil gambar putranya. Enzo tersenyum lebar menghadap kamera sambil menunjukan giginya yang putih. Ia kemudian memeluk leher Yuka sekilas sebelum ia berlari-lari kecil menghampiri teman-temannya yang sudah berbaris di samping panggung. Yuka kemudian mencari tempat sejenak untuk mengirimkan beberapa foto Enzo pada Haejun, ia yakin Haejun pasti akan sangat bangga pada putrnya yang dari waktu ke waktu telah tumbuh menjadi seorang anak kecil yang cerdas.
Sembari memilih-milih foto Enzo, tanpa sengaja ekor mata Yuka melihat potret seseorang yang tak sengaja ikut masuk ke dalam potret tubuh Enzo. Yuka kemudian semakin menyipitkan matanya untuk mengamati pria jangkung yang tak sengaja ikuti ia potret bersama Enzo. Tiba-tiba Yuka teringat akan foto Kim Sora yang ia temukan di dalam kamar wanita itu. Cepat-cepat Yuka menarik lembaran itu dari saku celananya untuk membandingkan foto pria yang bersama Kim Sora dengan foto pria yang berada di ponselnya.
“Pria ini...”
Yuka bergumam tak percaya ketika ternyata pria yang tak sengaja ia potret adalah pria yang bersama Kim Sora. Yuka kemudian mulai menerka jika pria itu saat ini sedang mengunjungi keponakannya atau mungkin akan menonton pertunjukan seni yang akan ditampilka oleh keponakannya. Yuka kemudian menekan angka-angka yang dihafalnya di luar kepala untuk menghubungi Yeri.
“Halo, apa kau sudah mendapatkan data-data mengenai keluarga Kim Sora?” tanya Yuka langsung ketika Yeri mengangkat panggilannya.
“Sudah senior, kami menemukan informasi jika sudah sejak lama Kim Sora hidup sebagai seorang yatim piatu bersama kakak kembarnya, Kim Wonsik dan Kim Woori. Tapi satu tahun yang lalu Kim Woori dijebloskan ke dalam penjara oleh kakak kembarnya sendiri dengan tuduhan pencurian aset-aset milk Kim Sora, tapi sejak seminggu yang lalu Kim Woori dikabarkan telah kabur dari penjara dan saat ini tengah menghilang entah kemana. Sekarang Lay, Sehun, dan Minzi sedang mencari alamat rumah Kim Wonsik untuk meminta keterangan lebih lanjut mengenai adik kembarnya.” terang Yeri runtut. Yuka kemudian mengernyitkan dahinya heran sambil tetap mengawasi gerak-gerik pria asing yang merupakan salah satu dari kakak kembar Kim Sora. Andai saja ia tahu siapa nama pria itu, ia pasti dapat menyelidiki kasus ini lebih lanjut.
“Yeri, kirimkan aku fotonya.” perintah Yuka tegas. Yeri segera mengutak atik tabletnya untuk mengirimkan gambar wajah Kim Wonsik dan Kim Woori pada Yuka.
“Aku sudah mengirimkannya senior.”
“Baiklah, terimakasih.”
Yuka membuka ponselnya terburu-buru sambil tetap mengawasi target yang saat ini sudah mulai beranjak pergi entah kemana. Dengan mengendap-endap, Yuka mulai mengamati pergerakan pria asing yang saat ini mulai berjalan sendiri menyusuri lorong sekolah Enzo yang panjang.
“Hmm, Kim Woori memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Kim Wonsik. Ahh.. jadi pria itu.... Kim Woori. Gawat! Jika ia Kim Woori itu berarti ia adalah tahanan yang kabur dari penjara.”
Yuka hendak mengikuti kemana arah pria itu pergi, tapi ternyata Kim Woori masuk ke dalam aula dan memilih tempat duduk di barisan depan. Yuka pun dengan wajah datar mencoba untuk mendekati Kim Woori dan memutuskan untuk duduk di kursi kosong yang berada di sebelah kiri Kim Woori. Sembari menatap panggung besar yang berada di hadapannya, Yuka melirik Kim Woori yang sesekali tersenyum lembut sambil melambaikan tangannya pada seseorang. Merasa penasaran, akhirnya Yuka mengikuti arah pandang Kim Woori yang mengarah pada sudut panggung yang sedikit memiliki celah, rupanya di sana ada seorang anak lelaki yang sedang melambaikan tangannya dengan ceria pada Kim Woori.
Jadi itu adalah putra dari Kim Sora, Kim Hyunso....
Tak berselang lama seorang pembawa acara muncul dan mulai memberikan sambutan untuk acara pentas seni yang diadakan siang ini. Pembawa acara itu membacakan daftar penampilan murid-murid TK Kirin yang akan menunjukan bakat mereka siang ini. Dan setelah itu kelas pertama yang menunjukan bakatnya muncul dari balik tirai menggunakan kostum domba.
“Hyunsoooo....”
Yuka melirik Woori yang sedang berteriak heboh menyemangati keponakannya. Sekilas Yuka melihat tidak ada yang salah dengan Woori. Pria itu tampak baik dan sama sekali tidak terlihat jahat seperti yang dilaporkan oleh Yeri. Tiba-tiba ponsel di tangannya berbunyi samar-samar dan membuat Yuka sedikit terkejut dengan panggilan tersebut.
“Halo, ada apa oppa menghubungiku? Aku sedang berada di sekolah Enzo.” bisik Yuka sedikit ketus. Entah mengapa hari ini ia cukup kesal dengan sikap Haejun yang terkesan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Kau dimana? Aku berada di pintu masuk.”
Dengan cepat Yuka menoleh ke belakang dan ia langsung menemukan Haejun sedang menempelkan ponsel di tangan kirinya. Ia kemudian melambaikan tangannya sedikit tinggi ke arah Haejun dan meminta pria itu untuk duduk di kursi kosong di sebelahnya.
“Oppa sudah melihatku? Kemarilah, di sini masih tersisa satu kursi kosong.”
Haejun mematikan sambuangan teleponnya dan segera menyusul isterinya yang berada di barisan depan. Untung saja ia dapat keluar dari pertemuan itu sebelum Enzo tampil di atas panggung, tapi sepertinya ia telah membuat Yuka sedikit marah karena sikapnya hari ini.
“Jadi kapan Enzo akan tampil?” bisik Haejun di sebelah Yuka ketika pria itu telah mendaratkan pantatnya tepat di atas kursi di sebelah Yuka. Yuka menoleh sekilas pada Haejun dan berbisik pelan jika Enzo akan tampil setelah ini bersama teman-temannya.
“Oppa, pria yang berada di sebelahku ini adalah seorang tahanan yang beberapa hari lalu kabur dari penjara, ia adalah salah satu kakak kembar Kim Sora, artis yang hari ini ditemukan meninggal di tempat pembuangan sampah. Menurut oppa apa yang harus kita lakukan?”
Haejun sedikit melirik wajah Kim Woori yang sedikit tertutup topi hitam, tapi Haejun masih bisa melihat sedikit wajah itu meskipun tidak terlalu jelas.
__ADS_1
“Kau sudah menghubungi yang lain? Sebenarnya kita bisa saja langsung meringkusnya karena ia adalah seorang tahanan yang telah kabur dari penjara, tapi kita tidak bisa meringkusnya sekarang karena kita akan membuat panik seluruh tamu yang hadir disini. Apalagi disini juga banyak anak-anak, mereka akan mengalami
trauma jika menonton adegan penangkapan yang pasti akan dibumbui kekerasan. Lebih baik kau menghubungi Lay untuk mempersiapkan penyergapan di luar gedung, kita bisa mengarahkannya untuk keluar saat semua orang sedang sibuk menonton pertunjukan.”
Yuka mengangguk mengerti dan segera menghubungi Lay untuk datang ke TK Kirin. Tapi hingga enam kali melakukan panggilan, pria keturunan china itu tak kunjung menjawabnya juga, membuat Yuka merasa kesal dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi telepon markas.
“Halo, apakah agen Lay sedang bertugas? Sejak tadi aku tidak bisa menghubungi ponselnya.”
Kim Woori samar-samar mendengar suara Yuka yang membicarakan agen dan juga kantor kepolisian. Merasa jika wanita yang berada di sebelahnya mengenalinya sebagai buronan, Kim Woori kemudian memutuskan untuk menyelamatkan diri agar ia tidak dijebloskan kembali ke penjara.
Melihat Kim Woori telah berjalan pergi meningglkan kursinya, Yuka langsung menyikut lengan Haejun sambil memberikan kode jika target yang mereka incar sedang berjalan keluar meninggalkan aula.
“Oppa, Lay dan yang lainnya saat ini tengah menyergap Kim Wonsik, lebih baik oppa ikuti Kim Woori terlebihdahulu, mungkin saja oppa bisa mendapatkan kesaksian darinya. Sementara oppa mengikuti Kim Woori, aku akan mencoba meminta bantuan dari yang lain.”
Dengan berat hati Haejun berjalan keluar dari aula untuk mengikuti pergerakan Kim Woori. Padahal ia sangat ingin melihat bagaimana penampilan putranya, tapi sayangnya ia harus melakukan tugas di tengah-tengah acara pentas seni. Itu sungguh menyebalkan untuknya. Padahal ia sudah meminta ijin presiden untuk
keluar terlebihdahulu ketika sedang meeting pagi ini. Tapi ketika ia akan menonton pertunjukan menyanyi putranya yang pertama kali, justru ia harus menangani kasus pembunuhan Kim Sora, benar-benar sial!
Woori berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor sekolah yang tampak sepi. Sesekali ia menoleh ke belakang dengan panik ketika ia merasakan kehadiran seseorang yang tengah mengikutinya. Woori pun semakin mempercepat laju jalannya sambil menurunkan topi hitamnya agar dapat menyembunyikan wajahnya dari orang orang, karena ia tidak boleh ketahuan dan harus lolos dari polisi-polisi yang mungkin
saat ini sedang mencarinya.
“Ck, kenapa sejak tadi pria itu mengikutiku? Apakah ia salah satu anggota kepolisian yang akan menangkapku?” gumam Woori panik. Merasa ketakutan, akhirnya Woori memutuskan untuk berlari. Karena ia harus berlari sejauh-jauhnya agar orang yang membuntutinya tidak dapat menangkapnya.
Melihat Woori yang berlari ketakutan, Haejun langsung memacu langkahnya lebih cepat agar ia dapat menangkap Woori. Targetnya saat ini sedang berlari menuju tangga dan bersiap untuk kabur dari TK Kirin. Haejun pun langsng mempercepat langkahnya untuk menyusul Woori yang telah lebih dulu menuruni tangga.
“Berhenti! Kim Woori berhenti kau atau aku terpaksa menggunakan cara-cara kasar!” bentak Haejun gusar sambil berlari di belakang Woori. Mendengar suara Haejun yang nyaring, Woori merasa ketakutan dan justru semakin mempercepat laju larinya.
“Tidak!! Aku tidak boleh tertangkap. Aku harus bersembunyi. Aku tidak boleh tertangkap. Aku tidak boleh tertangkap.” racau Woori seperti kaset rusak yang terus mengulang-ulang ucapannya. Ia terus mempercepat laju larinya menuruni satu demi satu anak tangga yang cukup curam. Ingin rasanya ia berhenti dan menetralkan deru nafasnya yang sudah memburu, tapi pria mengerikan yang berada di belakangnya terus mengejar langkahnya, sehingga ia tidak memiliki pilihan lain selain tetap berlari meskipun nafasnya sudah hampir putus.
Brukk
“Kau tidak bisa pergi kemanapun lagi Kim Woori.”
Tiba-tiba Haejun melompat dari undakan tangga paling tinggi dan mendarat tepat di depan tubuh Kim Woori yang bergetar.
“Tttu tuan, tolong jangan tangkap saya. Saya tidak bersalah, saya harus mengurus keponakan saya yang baru saja ditinggal pergi oleh ibunya. Tuan kumohon jangan tangkap saya... saya tidak bersalah.” ucap Woori memelas dengan wajah pucat. Haejun menatap datar pada pria mengenaskan yang saat ini sedang berlutu di depannya. Namun pada akhirnya ia tetap menarik tangan Kim Woori dan memborgol kedua tangan itu ke belakang.
“Kita akan membuktikan kau bersalah atau tidak di kantor polisi.” putus Haejun tegas sambil membawa Kim Woori menuju mobilnya.
-00-
Haejun memanggil Yuka pelan ketika ibu muda itu sedang berfoto ria dengan Enzo dan nyonya Im. Wanita itu kemudian menoleh pada Haejun dan tersenyum riang pada pria itu.
“Enzo-ya, daddymu datang.”
“Daddy.....” teriak Enzo riang sambil menghambur ke dalam pelukan Haejun. Bocah kecil itu kemudian menunjukan medali kecilnya yang melingkar di lehernya. Haejun tersenyum bangga pada putranya yang menggemaskan itu sambil mengacak rambut putranya pelan.
“Maafkan daddy karena daddy terlambat.”
“Aku sudah merekamkannya untuk oppa, jadi oppa bisa melihatnya di rumah.” ucap Yuka riang sambil menunjukan ponselnya pada Haejun. Pria itu tersenyum kecil pada isterinya sambil tetap memeluk Enzo. Padahal ia sangat ingin melihat pertunjukan seni anaknya secara langsung, tapi ia memiliki tanggungjawab untuk mengamankan negara dari para penjahat, sehingga lain kali ia akan berusaha lebih baik untuk menyeimbangkan antara keluarga dan pekerjaan.
“Daddy.. ayo kita beli es krim, Enzo ingin makan es krim bersama mommy, daddy, dan halmeoni.” teriak Enzo girang. Haejun mengangguk-anggukan kepalanya mengiyakan sambil menggendong Enzo keluar dari aula sekolahnya.
“Baiklah, kali ini Enzo boleh makan es krim sepuasnya.”
“Asiiikkk.!!! Enzo sayang daddy.”
“Oppa, bagaimana dengan Kim Woori, apa oppa sudah mengamankannya?” bisik Yuka pelan di samping Haejun. Pria itu menghentikan langkahnya sambil menepuk jidatnya pelan.
“Ah, aku lupa bertanya padamu, apa Lay dan yang lain sudah memberikan informasi terkait Kim Wonsik, karena selama aku membawa Kim Woori ke kantor polisi, pria itu terus meracau mengenai kakaknya yang jahat dan ingin menguasai harta adiknya yang terkenal itu.”
Drtt drtt drtt
“Sebentar oppa, Sehun menghubungiku.”
Yuka segera mengangkat panggilan dari Sehun sambil menatap wajah Haejun penuh arti.
“Halo, apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai Kim Wonsik?”
“Halo, senior kami baru saja menangkap Kim Wonsik, pria itu hampir saja melarikan diri ke luar negeri untuk menghilangkan jejaknya karena ia baru saja membunuh adik kandungnya, Kim Sora. Saat ini kami sedang menuju sekolah putra Kim Sora untuk menjemputnya karena pamannya, Kim Woori, sepertinya selama ini tidak bersalah. Tapi kami akan menyelidikinya setelah ini.”
“Jadi apa Kim Wonsik sudah mengakui semua kesalahannya?”
“Ya, kami berhasil memaksanya untuk jujur. Dan besok Kim Wonsik akan diadili di pengadilan pusat. Oh, senior aku sedang melihatmu sekarang.” ucap Sehun riang. Dengan wajah pucat, Yuka langsung menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan Sehun. Karena saat ini ia sedang bersama Enzo dan eommanya, akan sangat gawat jika Sehun mengetahui semuanya sebelum ia menceritakan yang sebenarnya pada seluruh anggota timnya.
__ADS_1
“Kkau dimana?”
“Aku berdiri di depan aula, aku melihatmu senior, kau sedang berdiri di dekat seorang pria yang sedang menggendong anak kecil.”
Yuka langsung menelan ludahnya gugup karena pria yang dimaksud oleh Sehun adalah suaminya, Lee Haejun. Tapi untung saja saat ini Haejun sedang berdiri membelakangi pintu aula sehingga Sehun tidak dapat melihat wajah Haejun.
“Aku akan menghampirimu, kau tunggulah di sana.” ucap Yuka terburu-buru dan langsung menutup teleponnya. Yuka kemudian berjalan cepat meninggalkan Haejun yang tampak bingung di belakangnya.
“Yuka, kau mau kemana?”
“Oppa, Oh Sehun sedang menungguku di depan aula, ia akan menjemput anak Kim Sora untuk di bawa ke markas. Oppa tunggulah di dalam mobil, aku akan segera menyusul.”
Dengan berat hati Haejun melepaskan pergelangan tangan Yuka dan membiarkan isterinya pergi menemui Oh Sehun. Lagipula ini akan menjadi semakin rumit jika ia tidak membiarkan Yuka pergi.
“Ayo eommoni, kita tunggu Yuka di mobil.”
“Daddy, mommy kemana?”
“Mommy akan menyusul kita ke mobil, eomma sedang memiliki urusan sebentar.” ucap Haejun menenangkan anaknya. Sedetik kemudian Enzo tampak lupa pada Yuka dan terlihat sibuk memainkan medali yang melingkar di lehernya. Namun Haejun masih sempat melihat ke arah Yuka dengan wajah yang sulit diartikan.
Kita pasti akan segera mengakhiri sandiwara ini Yoong...
-00-
“Senior!”
Sehun melambaikan tangannya antusias ketika melihat Yuka sedang berjalan ke arahnya. Yuka tersenyum kecil pada Sehun dan bergegas mempercepat langkahnya untuk mendekati Sehun.
“Kau sudah menemukan putra Kim Sora?”
“Aku sudah meminta salah satu guru untuk memanggilnya. Ngomong-ngomong apa senior mengalami kesulitan saat meringkus Kim Woori?”
Yuka mengernyitkan dahinya tidak mengerti ketika Sehun menanyainya mengenai Kim Woori karena yang meringkus Kim Woori bukan dirinya, melainkan Haejun.
“Memangnya kenapa?”
“Oh tidak, menurut petugas kepolisian Kim Woori datang sendiri ke dalam kantor polisi tanpa ada seorang pun yang mengawalnya, jadi kupikir senior mungkin sedang memiliki masalah sehingga terburu-buru pergi meninggalkan Kim Woori di depan kantor polisi.”
Yuka menyimak penjelasan Sehun dalam diam sambil memikirkan sikap Haejun yang sedikit aneh pagi ini. Ia pikir Haejun akan terlibat dalam masalah pembunuhan ini, tapi pria itu nyatanya tampak tidak mau terlihat memiliki andil dalam masalah ini. Seperti... ia sedang memiliki kasus sendiri yang harus ia tangani.
“Senior, itu Kim Hyunso sudah datang.”
Dari kejauhan Yuka melihat seorang guru muda sedang menggandeng tangan Kim Hyunso untuk menemui Sehun.
“Halo, aku Oh Sehun dan ini adalah nona Im Yuka, kami akan mengantarmu ke tempat pamanmu.” sapa Sehun ramah pada Hyunso sambil berjongkok di depan bocah kecil itu. Guru muda yang mengantar Hyunso tampak bercakap-cakap dengan Yuka sebentar sebelum ia akhirnya pergi meninggalkan Hyunso pada Yuka dan Sehun.
“Aku tidak mau bersama paman Wonsik, ia jahat. Aku ingin paman Woori.” ucap Hyunso dengan mata berkaca-kaca. Yuka dan Sehun saling menatap satu sama lain sambil memikirkan suatu hal yang sama.
“Tenanglah, kami akan mengantarmu pada paman Woori.” ucap Sehun menenangkan sambil menggandeng tangan Hyunso untuk berjalan ke mobilnya.
“Senior, apa yang kau lakukan di sana? Ayo kita ke markas.”
“Maaf, aku masih memiliki urusan lain. Kau duluan saja.”
Setelah mengucapkan hal itu Yuka segera berlari meninggalkan Sehun yang sedang menatapnya penuh tanda tanya. Namun ia memilih untuk diam dan kembali menarik tangan Hyunso untuk menuju mobilnya.
-00-
Brukk
Yuka menghempaskan tubuhnya keras pada sandaran kursi mobil sambil menatap penuh rasa bersalah pada Enzo dan suaminya yang sudah lama menunggunya. Dilihatnya di kursi penumpang eommanya sedang memangku Enzo dengan senyuman lembut memaklumi.
“Maaf aku lama. Enzo-ya maafkan mommy ya.”
“Tidak masalah mom, kami akan selalu menunggu mommy selama apapun mommy pergi.” jawab bocah kecil itu riang. Yuka langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan langsung dibalas Enzo dengan pelukan hangat.
“Enzo ingin duduk di depan.” rengek Enzo manja. Haejun tersenyum kecil menanggapi
permintaan putranya yang manja itu dan segera melanjutkan mobilnya keluar darI halaman sekolah Enzo yang luas. Rasanya hari ini ia sangat bahagia karena dapat melihat semua keluarganya sedang berkumpul dalam keadaan sehat dan tanpa kurang suatu apapun. Ia harap sampai kapanpun keluarganya akan tetap seperti ini dan mungkin ia akan mempertimbangkan untuk memiliki calon anggota keluarga baru.
“Oppa... sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan dariku?”
Tiba-tiba Yuka berseru pelan di sebelahnya dengan pandangan tajam yang menusuk tepat ke arahnya. Sedangkan Haejun yang mendengar pertanyaan itu hanya mampu membungkam bibirnya rapat-rapat tanpa berniat untuk menjawabnya.
Belum saatnya kau tahu Yuka.
__ADS_1