Ignite

Ignite
Murderer Behind The Wall (Ten)


__ADS_3

            Asap rokok membumbung tinggi ke udara menciptakan cawan kecil yang berputar-putar di atas ruangan kosong yang gelap. Seorang pria dengan stelan jas mahal sedang duduk dengan angkuh sambil menghisap cerutunya penuh nikmat. Akhir-akhir ini para penegak keadilan sering mengusik kegiatan bisnisnya yang selama ini selalu aman dari endusan para penegak hukum yang naif itu. Namun entah kenapa akhir-akhir ini mereka sering mengusik bisnisnya dengan melakukan sidak secara mendadak sebelum kapal-kapal yang berisi barang logistik miliknya diberangkatkan menuju ke beberapa negara di Asia dan Eropa.


            “Paman.”


            Pria itu mendongak dan menemukan keponakannya sedang berjalan masuk ke dalam ruangannya yang remang-remang. Sang keponakan mendudukan dirinya di depan sang paman sambil menuangkan scotch ke dalam gelas bening miliknya yang tinggi.


            “Ada perlu apa kau datang selarut ini kemari, apa kau memiliki masalah?” tanya pria itu tenang. Seakan sudah bisa membaca gelagat sang keponakan yang pasti akan datang menemuinya disaat ia memiliki masalah.


           “Ah, paman memang selalu tahu apa yang sedang terjadi padaku. Sebenarnya ini masalah perizinan bisnis kita, kemarin aku bertemu Nam Yulwon untuk membicarakan masalah perizinan bisnis kita yang seharusnya sudah diperbaruinya dua bulan yang lalu, namun hingga saat ini menteri serakah itu belum melakukan tugasnya


sama sekali dengan baik, padahal setiap bulan kita selalu mengirimkan uang yang jumlahnya lebih dari cukup untuk menyuapnya, tapi menteri tak tahu diri itu justru memanfaatkan kelemahan kita untuk mendapatkan bayaran yang sebesar-besarnya dari pihak kita. Paman, menurutku paman harus bertindak cepat karena Nam Yulwon


mengancam akan membeberkan bisnis ilegal kita pada seluruh rakyat Korea, jika hal itu terjadi maka tamatlah riwayat kita paman.” ucap sang keponakan khawatir. Pria paruh baya itu tersenyum miring sambil menghembuskan asap pekat ke udara. Tentu selama menjalani bisnis dengan orang-orang yang tak bisa dipercaya seperti Nam Yulwon ia telah menyiapkan banyak senjata untuk menghabisi orang itu jika batas kesabarannya telah habis. Lagipula hingga saat ini Nam Yulwon belum mengetahui perihal rahasia besarnya yang sudah lama ia ketahui, sehingga ia dapat menyerang Nam Yulwon kapan saja ketika pria serakah itu mulai macam-macam dengannya.


            “Jaejong-ah, saat ini yang harus kau bereskan adalah antek-antek dari Park Boyoung yang sedang mencoba untuk menyelidiki kecurangan bisnis kita. Masalah Nam Yulwon tidak perlu kau pikirkan karena paman sudah memiliki senjata yang akan membuatnya hancur hingga sehancur-hancurnya jika ia berani berbuat macam-macam pada kita. Besok berikan amplop ini pada Nam Yulwon dan katakan padanya jika aku telah mengetahui rahasia kelamnya sehingga ia jangan pernah coba-coba untuk mengotori perjanjian yang telah disepakati di awal kerjasama.”


            Pria itu melemparkan sebuah amplop coklat yang tertutup rapat di atas meja sambil menyeringai licik. Ia yakin setelah ini Nam Yulwon akan kembali membungkuk di hadapannya setelah melihat isi dari amplop tersebut.


            “Paman, mengenai Park Boyoung, sepertinya ia sudah memerintahkan beberapa intel untuk menyelidiki pergerakan bisnis kita, apakah paman memiliki seorang mata-mata yang bisa kita susupkan ke dalam markas intelijen, menurutku hal itu perlu kita lakukan untuk mengawasi setiap pergerakan Park Boyoung.”


            “Hahaha, ternyata kau cukup paranoid juga keponakanku. Tapi asal kau tahu, paman sudah


menyusupkan seseorang di dalam markas itu untuk memberikan setiap informasi yang paman butuhkan. Sejauh ini tidak ada masalah apapun yang perlu dikhawatirkan, tapi kita memang harus mewaspadai putra dari Lee Taehyung yang sedang berusaha untuk membongkar bisnis ilegal kita. Tapi kau tenang saja, selama Lee Haejun, putra dari Lee Taehyung belum melangkah terlalu jauh ke dalam urusan pribadi kita, kita tidak perlu mengeluarkan tindakan apapun padanya. Namun jika ia sudah terlalu jauh masuk ke dalam urusan pribadi kita, maka ia harus dibunuh dengan sangat keji untuk menghilangkan jejak kotor kita, apa kau mengerti?”


           Park Jaejong mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil menyeringai licik kearah pamannya. Setidaknya untuk malam ini ia tidak akan dikhawatirkan dengan bisnis keluarganya yang mungkin akan diusik oleh Park Boyoung dan antek-anteknya. Namun ia tetap harus waspada untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan karena bagaimanapun bisnis itu sangat berharga untuk mereka.


-00-


           Yuka melangkah masuk ke dalam kantor agensi dengan senyum manis yang terkembang di wajahnya. Hari ini akhirnya ia dapat mengendarai mobil barunya sendiri setelah kemarin ia terus memohon-mohon pada suaminya untuk mengijinkannya menyentir sendiri menuju kantor agensi. Lagipula siang ini suaminya itu baru akan kembali dari China, sehingga mau tidak mau ia tetap harus menyetir sendiri untuk melakukan pemotretan yang dulu pernah dikacaukan oleh Haejun.


            “Nona Im, tumben kau tidak dibuntuti oleh asistenmu yang aneh itu, dimana dia?” tanya seorang petugas resepsionis pada Yuka. Yuka langsung terkikik geli membayangkan Haejun yang memang selama ini selalu menyamar sebagai Han Jino dan membuntutinya kemanapun ia pergi. Bahkan terkadang Haejun juga membuntutinya hingga ke dalam kamar mandi dan terkadang sedikit mencuri-curi kesempatan untuk menciumnya. Ahh, sekarang ia merasa merindukan suami tercintanya itu.


            “Hari ini Jino sedang izin karena ia memiliki keperluan mendadak di rumah ibunya, jadi ia tidak bisa menemaniku melakukan pemotretan hari ini.” jawab Yuka beralasan. Petugas resepsionis itu ber o ria dan segera memberikan izin untuk Yuka masuk ke dalam studio setelah Yuka berpamitan.


            “Nona Yuka, akhirnya kau datang juga, kupikir hari ini kau akan membatalkan jadwalmu lagi seperti dulu, saat itu kami hampir saja terkena amukan oleh bos besar karena kami dinilai tidak bisa mengajakmu untuk bekerjasama.”


            Naeun memeluk Yuka penuh kelegaan sambil membimbing Yuka untuk masuk ke dalam ruang tunggu. Mendengar hal itu Yuka langsung menyampaikan permintaan maafnya pada Naeun karena saat itu Jino atau suaminya hampir saja merusak kontrak pemotretannya. Tapi syukurlah pihak sponsor tidak terlalu marah dengan kejadian itu, sehingga mereka mau memberinya kesempatan untuk mengganti pemotretan hari itu di hari lain.


            “Oh maafkan aku, saat itu Jino terlalu lelah, sehingga ia bersikap gegabah dengan membatalkan kontrak pemotretan itu secara sepihak. Tapi sekarang ia telah meluruskan masalah itu dengan pihak sponsor, sehingga aku bisa mengganti jadwal pemotretanku hari itu menjadi hari ini.”


            Naeun tersenyum lembut pada Yuka melalui cermin sambil menyanggul rambut Yuka tinggi-tinggi ke atas. Hari ini tema pemotretan Yuka adalah powerfull Soul, sehingga Naeun perlu memberikan riasan yang cukup tebal terlebihdahulu di wajah Yuka sebelum merapikan sedikit rambut Yuka agar terkesan seperti seorang wanita karir yang penuh dengan aura menggebu-gebu di dalam dirinya.


-00-


            Haejun turun dari pesawat dengan menggunakan kacamata hitam yang membingkai wajah lelahnya. Semalam ia hanya tidur dua jam karena ia harus menyelidiki gudang logistik yang berada di pelabuhan Chusang. Lalu pagi tadi saat ia hendak tidur kembali, ia mendadak mendapatkan panggilan dari presiden yang menyuruhnya untuk segera pulang ke Seoul karena presiden ingin mengetahui hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Haejun secara langsung. Lalu saat ia hendak memejamkan matanya di pesawat, ia terus diganggu dengan suara berisik bayi yang sejak ia mendudukan diri di bangku peswat tidak henti-hentinya menangis, sehingga ia tidak bisa tidur dengan tenang dan hanya sekedar memejamkan mata di dalam pesawat.


            Haejun mendesah lega ketika ia melihat seorang supir telah berdiri di depan gate kedatangan sambil membawa papan yang bertuliskan namanya. Untung saja Park Boyoung sangat pengertian padanya, sehingga ia tidak perlu repot-repot mencari taksi.

__ADS_1


            “Tuan Lee Haejun.”


            Haejun mengangguk pada supir itu sambil menurunkan kacamata hitamnya yang sejak tadi terus menutupi mata lelahnya dari pandangan semua orang. Supir itu kemudian bergegas untuk membantu Haejun membawakan satu kopornya dan segera membukakan kursi penumpang untuk Haejun.


            “Silahkan tuan, presiden Park telah menunggu anda di Blue House.”


            “Terimakasih, kita langsung menuju Blue House sekarang.” ucap Haejun tegas sambil memejamkan matanya di kursi penumpang.


-00-


Klik klik klik


            Kilatan blitz kamera berkali-kali menghujani tubuh Yuka seiring dengan gerakan tubuhnya yang sedang berpose di depan sang fotografer. Wanita itu dengan profesional menunjukan pose angkuhnya seperti tema yang sudah ditentunkan oleh sang fotografer sebelumnya. Ketika sang fotografer menyuruhnya untuk sedikit mencondongkan tubuhnya ke kanan, Yuka segera melakukannya dengan patuh dan tanpa banyak membantah. Lagipula ia ingin segera menyelesaikan sesi pemotretannya agar ia bisa segera pulang dan menyambut kedatangan Haejun. Dan setelah ini ia masih memiliki satu sesi pemotretan dengan menggunakan gaun bernuansa merah menyala rancangan salah satu desainer ternama kota Seoul.


            “Ya, kita break tiga puluh menit sebelum melanjutkan sesi berikutnya.” ucap sang fotografer memberitahu. Yuka tampak menghembuskan nafasnya lega sambil berjalan menuju salah satu crew yang akan membantunya untuk melepaskan aksesoris-aksesoris yang melekat di tubuhnya. Setelah ini ia harus kembali merias wajahnya dengan riasan yang sedikit lebih berani dari sebelumnya, karena sesi pemotretan setelah ini akan memberikan kesan wanita api yang penuh dengan ambisi membara, oleh karena itu Yuka perlu mempertegas sedikit riasannya di ruang tunggu.


            “Minah ssi, bisakah kau membantuku untuk melepaskan aksesoris rambutku? Setelah ini aku harus berpose dengan rambut tergerai dan terlihat berkibar-kibar di depan kamera.” ucap Yuka pada Hong Minah yang sedang menata beberapa gelang di atas meja panjang. Wanita berambut pendek itu segera menghampiri Yuka dan mengatakan pada Yuka jika Naeun telah menunggunya di ruang tunggu sejak tujuh belas menit yang lalu untuk melakukan riasan terakhir pada wajah Yuka.


            “Naeun sudah menunggumu sejak tadi di ruang tunggu model, ia terlihat begitu bersemangat untuk meriasmu sebagai wanita api.” ucap Minah terkikik. Yuka tersenyum kecil menanggapi candaan Minah dan segera pergi menuju ruang ganti setelah semua aksesoris rambutnya terlepas.


           “Naeun-ah, apa kau sudah menunggu lama?”


            Yuka melongokan kepalanya ke dalam ruang tunggu model yang terlihat sepi. Padahal biasanya ruang tunggu model selalu terlihat ramai, terlebih saat pergantian sesi pemotretan. Tapi Yuka tidak ingin terlalu banyak berspekulasi karena mungkin saja semua crew sedang berkumpul di luar karena ini merupakan sesi terakhir pemotretan.


            “Naeun-ah aku sudah siap untuk menjadi wanita api.”


            Yuka sedikit mengeraskan suaranya untuk memanggil Naeun, tapi wanita itu tetap tak menyahut panggilannya yang cukup nyaring itu.


           Tiba-tiba Yuka melihat sesuatu yang sedikit ganjil di ujung ruang tunggunya. Melalu cermin, Yuka dapat melihat sebuah noda merah yang tampak memanjang di sekitar sudut tembok ruangannya.


            “Naeun...” panggil Yuka pelan sambil berjalan menyusuri ruang tunggu model yang sunyi itu. Yuka terus melangkah mengikuti bercak merah yang semakin lama terlihat semakin banyak bercecer disekitar dinding dan juga lantai putih yang dipijaknya. Yuka kemudian mendorong pintu kamar mandi yang berada di ujung ruangan dengan perasaan tidak enak. Firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada Naeun.


            “NAEUN!!”


            Yuka menjerit histeris sambil berlari menghampiri tubuh Naeun yang bersimbah darah. Cepat-cepat Yuka mengecek pergelangan tangam Naeun dan juga denyut nadi Naeun yang berada di sekitar leher, tapi sayangnya denyut nadi Naeun sudah berhenti, wanita itu sudah meninggal.


            Yuka kemudian bergegas untuk menghubungi markas agar rekan-rekannya segera datang untuk menyelidiki kasus kematian Naeun yang misterius. Menurut firasatnya Naeun meninggal bukan karena sebuah kebetulan, tapi karena memang sudah direncanakan oleh seseorang. Apalagi beberapa saat yang lalu ia masih bersenda gurau dengan Naeun dan ia melihat jika wanita itu sedang dalam keadaan yang baik, jadi tidak mungkin jika kematian Naeun hari ini karena wanita itu bunuh diri. Seseorang pasti telah membunuh Naeun.


            “Yeri, cepat datanglah ke studio pemotretan milik Park Jaejong di Gangnam, baru saja salah satu crew yang merupakan make up artis kutemukan sudah tergletak di dalam kamar mandi dalam keadaan tak bernyawa, sepertinya Naeun telah dibunuh dengan menggunakan sebuah benda tumpul berbahan keras, karena aku menemukan luka lebam disekitar lengannya dan juga kepala bagian belakangnya pecah, kau dan yang lain harus segera ke sini karena aku tidak bisa melakukan penyelidikan dengan statusku sebagai seorang model, apa kau mengerti?”


            “...............”


            “Baiklah, jangan lupa untuk mengajak Myungso karena dia sekarang adalah salah satu anggota divisi dua yang bertugas dibagian forensik.”


            “..............”


            “Aku akan mencoba mengamankan ruangan ini agar tetap steril dari jangkauan warga sipil. Dan kupikir pelaku pembunuhan Naeun adalah orang dalam studio ini.” ucap Yuka menganalisis sambil memeriksa tubuh Naeun. Setelah itu ia segera menutup sambungan teleponnya setelah Yeri memutuskan sambungan telepon mereka lebih dulu.

__ADS_1


            Sembari menunggu kedatangan Yeri, Yuka mencoba memanfaatkan waktu untuk mengecek keadaan ruang tunggu. Mungkin saja barang bukti yang digunakan untuk membunuh korban adalah barang-barang yang memang berada di dalam ruangan tersebut, seperti kursi, meja lampu, kipas angin, atau...


            Payung....


-00-


            Haejun merentangkan tangannya beberapa kali ke udara setelah supir pribadi presiden Park memberitahukannya jika mereka telah sampai di rumah dinas presiden. Selama perjalanan dari bandara menuju rumah dinas presiden, Haejun sempat tertidur beberapa menit dengan pulas, sehingga keadaanya sekarang bisa dikatakan jauh lebih baik daripada keadaanya yang mengenaskan beberapa saat yang lalu.


            “Terimakasih. Ahjussi, bisakah aku meminta tolong ahjussi untuk memanggilkanku taksi, setelah ini aku berencana untuk pergi ke suatu tempat, jadi aku tidak ingin merepotkan ahjussi lebih jauh.”


            “Baik tuan, saya akan memesankan taksi untuk anda. Lebih baik sekarang tuan masuk ke dalam karena presiden Park sejak tadi sudah menuggu anda.”


            Haejun menganggukan kepalanya sekilas dan segera beranjak untuk menemui presiden Park di kediamannya. Lagipula kali ini ia juga memiliki banyak pertanyaan di benaknya yang sejak beberapa hari yang lalu ingin ia tanyakan secara langsung pada presiden Park. Dan pertanyaanya ini menyangkut keluarga kecilnya, Yuka dan Enzo.


            “Selamat siang presiden Park.”


            Haejun membungkukan tubuhnya sembilan puluh derajat di depan pintu ruangan presiden. Melihat kedatangan Haejun, presiden Park langsung melambaikan tangannya dan menyuruh Haejun untuk segera masuk ke dalam ruangannya.


            “Kemarilah kapten, ada beberapa hal yang ingin kubicarakan padamu terkait dengan penyelundupan di Chunsang, Xinyang, dan Guanzi, karena ketiga pelabuhan itu adalah pelabuhan terbesar di China dan merupakan tempat transit bagi beberapa kapal yang membwa cargo. Selama kau bertugas, apa kau menemukan sesuatu yang ganjil di sana?”


            “Sebenarnya saya menemukan banyak hal ganjil di sana, tapi saya menemukan sesuatu yang lebih ganjil dari yang lainnya, yaitu truk pengangkutan cargo yang tiba-tiba datang dan langsung mengambil bahan logistik yang berasal dari Korea. Truk itu benar-benar tidak melewati bagian pemeriksaan dan dapat keluar dengan mudah dari area pelabuhan tanpa melewati pemeriksaan bea cukai. Lalu ketika saya menanyakan hal itu pada beberapa crew kapal yang membawa cargo, mereka mengatakan jika hal itu sudah biasa terjadi sejak tujuh tahun yang lalu. Jadi salah satu pabrik makanan di China memang selalu lolos dari pemeriksaan bea cukai dan dapat mengambil barang kirimannya dengan mudah tanpa perlu mengeluarkan banyak uang untuk melakukan pajak.” Cerita Haejun runtut. Park Boyoung mengusap dagunya gamang sambil berpikir.


            “Kurasa masalahnya semakin hari semakin pelik. Tapi menurutku itu semua terjadi karena seseorang yang selama ini bersembunyi dibalik Nam Yulwon, Kangta, dan beberapa nama lainnya yang terlibat dalam hal kotor itu. Apa kau sudah menemukan kepala dari komplotan mereka?”


            “Sejauh ini saya sedang menyelidikinya, dan saya menambahkan Park Jaejong sebagai salah satu dari anggota mereka karena Park Jaejong terlihat begitu mencurigakan dengan beberapa aset yang dimilikinya. Untuk ukuran seseorang yang hanya bekerja sebagai bos agensi, Park Jaejong seperti memiliki kekayaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang konglomerat, tapi untuk memastikannya saya akan menyelidiki latar belakang Park Jaejong terlebihdahulu.”


            Presiden Park menganggukan kepalanya puas dengan hasil kinerja Haejun. Tak salah ia memilih Haejun untuk menyelidiki kasus ini karena sejak awal ia sangat yakin jika Haejun pasti dapat menanganinya. Tapi ada satu hal yang membuatnya sedikit kecewa dengan Haejun, yaitu statusnya sekarang yang terbukti telah menikah


dengan salah satu juniornya, padahal peraturan di markasnya jelas-jelas tertulis jika agent-agent intel tidak boleh menikah dengan sesama agent. Dan sebenarnya yang ia kecewakan bukan status Haejun, melainkan akibat dari status itu yang akan membuat Haejun menjadi lemah nantinya karena ia memiliki orang-orang yang sangat rentan untuk menjadi target musuh.


            “Bukankah isterimu bekerja di agensi milik Park Jaejong?”


            Haejun membeku di tempat ketika tiba-tiba president Park menanyakan sesuatu yang terdengar seperti sebuah pernyataan. Sejak awal ia sudah mengira jika sebenarnya president sudah mengetahui statusnya yang telah menikah. Tapi yang ia takutkan sekarang adalah jika presiden akan melarangnya untuk bertemu dengan keluarganya selama ia menjalankan misi ini.


            “Darimana anda tahu mengenai hal itu?” tanya Haejun tenang. Pria itu berusaha menutupi kegugupannya dengan menunjukan wajah datar yang terlihat meyakinkan, meskipun jantungnya kini sedang berdegup kencang.


            “Maaf, mungkin ini akan sedikit mengusikmu, tapi selama ini aku menempatkan seorang mata-mata untuk menyelidiki latar belakangmu, dan setelah mendapatkan hasilnya, aku cukup terkejut dengan statusmu yang ternyata sudah menikah dan memiliki seorang putra yang sekarang sedang duduk di bangku taman kanak-kanak. Sejujurnya aku tidak masalah jika kau memang sudah menikah, terlebih kau menikah dengan juniormu sendiri, tapi aku hanya mengkhawatirkan keselamatan keluargamu karena kita tidak tahu kapan musuh akan bergerak. Jika musuhmu sampai mengetahui hal ini, aku khawatir mereka akan memanfaatkan kelemahanmu ini untuk menjatuhkanmu.” ucap presiden Park dengan wajah sendu. Haejun mengamati perubahan ekspresi wajah presiden sambil membayangkan kejadian lima belas tahun yang lalu saat presiden masih merupakan anggota militer negara. Saat itu presiden juga sedang melakukan sebuah misi rahasia, tapi karena terlalu gegabah, presiden justru membuat adiknya dalam bahaya karena sang adik berhasil diculik oleh komplotan mafia yang sedang diselidiki presiden Park, dan pada akhirnya adik perempuan presiden Park dibunuh oleh komplotan itu setelah sebelumnya sang adik diperkosa dengan sangat keji. Oleh karena itu ia merasa maklum jika presiden Park mengatakan hal itu padanya, karena presiden Park tidak ingin ia mengalami hal yang sama seperti dirinya di masa lalu.


            “Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih atas pengertian presiden terhadap status saya, dan setelah ini saya akan lebih berhati-hati dalam menjalankan misi agar para penjahat itu tidak mengetahui titik lemah saya. Lagipula selama saya menyelidiki kasus ini, saya sudah mengurangi intensitas saya untuk bertemu


dengan isteri maupun anak saya, tapi saya merasa tidak bisa melakukan hal itu terlalu lama, karena mereka adalah segalanya untuk saya.”


            “Menurutku hal itu wajar, karena keluarga adalah hal terpenting dalam hidup kita. Lakukanlah apa yang menurutmu baik dan tinggalkanlah apa yang menurutmu buruk, kupikir kau sudah lebih dari dewasa untuk memikirkannya, jadi berhati-hatilah.” pesan presiden Park bijak. Haejun menganggukan kepalanya mengerti dan segera pamit undur diri pada presiden karena ia masih memiliki beberapa pekerjaan lain yang harus ia selesaikan di markas. Untuk sementara ia akan menghentikan penyelidikannya karena ia ingin menyelidikinya secara bertahap, sehingga pada akhirnya nanti ia benar-benar akan mendapatkan sang kepala yang selama ini selalu sulit untuk ditangkap.


            “Sampai jumpa nak, semoga Tuhan selalu melindungimu.”


            Lee Haejun berjalan keluar sambil menghembuskan nafasnya pelan. Akhirnya ia bisa kembali ke rumah setelah berhari-hari ia menghabiskan waktunya di negara tetangga untuk menyelidiki kasusu mafia yang sejak dulu selalu menebarkan mimpi buruk di negaranya.

__ADS_1


Drt drt


            Tiba-tiba Haejun merasa ponselnya bergetar. Pria itu segera merogoh saku celananya dan menemukan dua panggilan tak terjawab dan sebuah pesan singkat dari nomor yang tak dikenalnya. Ia pun segera membuka pesan itu dan menemukan sebuah chat yang berisi ajakan untuk bertemu. Merasa penasaran dengan sang pengirim pesan yang misterius, akhirnya Haejun memutuskan untuk menemui orang tersebut di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari agensi tempat Yuka melakukan pemotretan. Lagipula ia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menjemput Yuka dan pulang bersama isterinya menggunakan mobil baru yang ia berikan sebagai hadiah untuk ulang tahun pernikahan mereka.


__ADS_2