
“Dimana Krystal?”
Park Jaejong langsung menanyakan dimana keberadaan Krystal setelah dua hari ini ia harus pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi di dalam Bloods.
“Nona Krystal sejak menyelesaikan misinya untuk melukai putra kapten Lee Haejun justru mengurung dirinya di dalam kamar, tuan.” lapor seorang anak buah yang bertugas menjaga kediaman Park Jaejong itu. Tak berapa lama Sehun muncul dengan santai sambil menggigit apel dari arah dapur.
“Kau hanya melebih-lebihkan. Krystal tidak separah itu, ia hanya mengurung diri di kamarnya karena ia sedang stress memikirkan semua hal-hal membosankan yang terjadi di dalam markas. Jika aku menjadi Krystal, pasti aku akan melakukan hal yang sama.”
“Lalu bagaimana dengan anak si keparat itu, apa Krystal berhasil melakukannya dengan baik?”
Sehun mengendikan bahunya acuh tak acuh, dan dengan tidak sopannya ia berjalan melewati Park Jaejong begitu saja untuk duduk di atas sofa yang nyaman.
“Krystal berhasil melakukan tugasnya dengan baik, saat ini anak itu sedang sekarat di rumah sakit. Dan jika kau beruntung, mungkin anak itu sudah mati.” ucap Sehun santai. Park Jaejong mengernyitkan dahinya muak dengan sikap Sehun yang terlihat tidak menaruh hormat sedikitpun padanya itu.
“Kenapa hari ini kau tampak kurang ajar? Apa kau sudah tidak ingin bersanding dengan Krystal lagi?”
“Huh, aku hari ini sedang kesal karena kau telah memberikan pekerjaan yang sangat berat pada Krystal. Kau baru saja memberikan misi untuk membunuh darah dagingnya sendiri. Apa kau tahu jika Yuka bereaksi seperti orang gila sesaat setelah ia menembakan peluru itu pada anaknya.” teriak Sehun geram. Akhirnya seluruh emos yang sejak kemarin ia tahan meledak keluar di depan Park Jaejong. Ia pikir semua rencana pria itu untuk menghancurkan Haejun melalui Krystal atau Yuka harus segera diakhiri, karena ia mulai curiga jika Krystal sedikit demi sedikit berhasil mengingat masa lalunya sejak ia bertemu suaminya, Lee Haejun.
“Kau bilang Krystal baik-baik saja, dan sekarang kau mengatakan jika Krystal tidak baik-baik saja setelah ia melukai putra pria brengsek itu. Sebenarnya bagaimana keadaan Krystal saat ini? Apa kau sedang bermain-main denganku Oh Sehun?” geram Park Jaejong kesal.
“Sejujurnya Krystal tidak baik-baik saja. Sesaat setelah menembakan peluru itu pada anaknya, Yu.. maksudku Krystal terlihat gemetar. Ia terus menatap kedua tangannya dengan wajah pucat seperti mayat dan ia juga beberapa kali meracaukan kalimat-kalimat aneh, seperti aku pembunuh dan juga darah. Tapi memang setelah
itu ia tidak terlihat aneh atau mencurigakan, ia terlihat seperti Krystal seperti biasanya. Bahkan tadi pagi ia sempat menodongkan pistol padaku saat aku hendak mengantarkannya pergi untuk menenangkan pikiran.”
Park Jaejong menoleh pada pengawal kepercayaannya yang ia tugaskan hari ini untuk mengklarifikasi semua cerita yang dikatakan oleh Sehun. Dan setelah pengawal itu menganggukan kepala, barulah Park Jaejong dapat mempercayai Sehun sepenuhnya.
“Lalu kemana perginya Krystal? Kenapa kau tidak meminta salah satu anggota Bloods untuk mengikutinya? Cari Krystal sekarang, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
“Aku di sini ayah”
Tiba-tiba Krystal atau Yuka muncul dari pintu depan sambil menunjukan wajah malas dan juga bosannya pada sang ayah. Sejak ia menginjakan kakinya di pintu utama, ia sudah bisa mendengar semua keributan yang terjadi karena ayahnya. Dan ia sebenarnya cukup risih dengan sikap posesif yang diberikan Park Jaejong padanya. Kentara sekali jika Park Jaejong sebenarnya sangat membutuhkannya, sehingga ia takut jika sampai ia menghilang barang sedetikpun dari rumahnya.
“Krystal, darimana saja kau? Ayah mengkhawatirkanmu.”
Yuka masuk ke dalam pelukan Park Jaejong dengan perasaan muak dan juga umpatan yang sejak tadi menjerit-jerit di dalam hatinya. Ingin rasanya ia menembakan banyak timah panas ke dalam kepala atau jantung Park Jaejong hingga pria itu tidak bisa lagi mengusik kehidupan rumah tangganya yang bahagia.
“Aku hanya mencari udara segar, ayah tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu. Aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu diawasi sepanjang waktu, ayah.” ucap Krystal dengan nada kesal yang tidak ia tutup-tutupi. Namun Park Jaejong tidak akan pernah setuju dengan permintaan Krystal untuk membiarkannya tanpa pengawasan karena wanita itu sangat rentan. Ia bisa saja sewaktu-waktu mengingat masa lalunya atau terkena pengaruh buruk dari orang lain hingga membuatnya berpaling dari Bloods, sehingga ia harus selalu menjaga Krystal sepanjang hari, selama dua puluh empat jam.
“Kau adalah putri ayah, kau rentan untuk dibunuh. Jadi kemanapun kau pergi, kau harus membawa beberapa anggota Bloods untuk mengawalmu.”
“Terserah ayah!” jawab Krystal kesal sambil berlalu pergi dari hadapan ayahnya. Namun Park Jaejong langsung berseru lantang dan penuh peringatan pada Krystal agar wanita itu tetap di tempat karena ia masih ingin membicarakan banyak hal pada putri semata wayangnya itu.
“Krystal, apa kau sudah meminum obatmu?”
“Apakah aku harus selalu melapor seperti anak kecil setelah aku meminum obatku? Ayah, sakit kepala ini benar-benar menyebalkan, dan aku tidak mungkin bisa menahan rasa sakit itu tanpa meminum obat sakit kepalaku. Jadi jika ayah khawatir mengenai obatku, maka ayah tenang saja karena aku selalu meminumnya dengan teratur.”
“Bagus, sekarang kau bisa melajutkan kegiatanmu. Tapi turunlah ke meja makan pukul tujuh karena ayah ingin makan malam bersamamu hari ini.”
Tanpa mengatakan sepatah katapun Krystal langsung berlalu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Namun hari ini ia sudah memiliki rencana lain, karena malam ini ia akan menyelinap pergi untuk menjenguk Enzo di rumah sakit. Menurut dokter, Enzo akan dipindahkan ke ruang perawatan setelah operasi keduanya
berhasil dilakukan hari ini. Jadi jika ia beruntung, ia berharap bisa menjadi orang pertama yag dilihat oleh Enzo setelah anak itu pingsan selama dua hari.
-00-
Tok tok tok
Yuka mengetuk pintu kamar rawat Enzo pelan sambil menghembuskan nafasnya panjang-panjang tiga kali. Malam ini ia terlihat begitu gugup dan juga takut. Sayup-sayup ia mendengar suara seorang wanita yang mempersilahkannya untuk masuk. Dengan perasaan gugup, Yuka mulai membuka pintu itu perlahan sambil melongokan kepalanya ke dalam.
“Selamat malam.” sapa Yuka kikuk. Nyonya Im yang berada di sebelah Enzo langsung menatap Yuka penuh permusuhan dan langsung mengusir Yuka pergi dari ruangan cucunya.
“Mau apa kau datang ke sini, apa kau ingin menyakiti cucuku lagi? Pergi kau dari sini, atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari sini!”
__ADS_1
“Eomma...”
Yuka bergumam lirih sambil meneteskan air matanya haru, karena akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan eommanya. Namun ketika ia akan mendekat, nyonya Im langsung menghalanginya masuk dan mendorong tubuhnya keluar hingga ia jatuh tersungkur di atas lantai rumah sakit yang dingin.
“Aku bukan eommamu. Aku tidak punya seorang anak yang jahat sepertimu. Wajahmu hanya mirip dengan anakku, tapi kau bukan Yuka!”
“Eomma, aku Yuka. Aku Im Yuka, anak eomma. Eomma maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti Enzo. Mereka menjebakku eomma, mereka mencuci otakku dan membuatku tidak bisa mengingat semua masa laluku. Dan selama dua tahun ini mereka membentukku menjadi pribadi yang jahat dan juga seorang pembunuh eomma. Kumohon eomma, percayalah padaku. Aku adalah Im Yuka, putrimu.”
Nyonya Im menatap wanita yang terlihat seperti mendiang anaknya itu dengan hati bimbang. Sebagian hatinya sebenarnya juga mengatakan bahwa wanita itu adalah
putrinya. Tapi sebagian hatinya yang lain menolak hal itu karena ia teringat akan Enzo yang saat ini sedang terbaring lemah karena tembakan wanita jahat yang saat ini sedang mengaku sebagai putrinya.
“Jika kau putriku, kau tidak akan mungkin menembak cucuku, anakmu sendiri. Karena bagaimanapun kalian seharusnya tetap memiliki ikatan batin. Jadi sudah jelas jika kau bukan putriku!” ucap nyonya Im keras dan hendak menutup pintu putih di belakangnya. Namun Yuka dengan sekuat tenaga mencoba mencegah nyonya Im pergi dengan menghalangi pintu putih itu agar tidak bisa menutup.
“Eomma, aku dan Enzo memang memiliki ikatan batin. Tapi sayangnya hal itu sudah terlambat. Aku mendapatkan ingatanku setelah aku menembak Enzo. Eomma... kumohon ijinkan aku masuk untuk bertemu Enzo, aku sangat merindukannya dan aku ingin meminta maaf padanya karena aku telah menjadi ibu yang buruk baginya. Eomma, tolong percayalah padaku.” mohon Yuka frustasi dengan buliran air mata yang terus turun membanjiri wajahnya. Nyonya Im tampak tertegun di tempat sambil menimbang-nimbang keputusannya untuk memasukan Yuka ke dalam ruang rawat cucunya atau tidak. Tapi sejujurnya ia cukup takut untuk membiarkan wanita itu masuk ke dalam ruang rawat cucunya karena ia bisa saja sedang melakukan sandiwara untuk membunuh cucunya saat ia lengah.
“Kau tetap tidak boleh masuk. Bisa saja saat ini kau sedang menipuku dan berpura-pura menjadi putriku karena wajah kalian memang mirip. Lebih baik kau pergi sebelum aku berteriak dan memanggil petugas keamanan untuk membawamu ke kantor polisi.”
Nyonya Im berseru dingin pada Yuka sambil mendorong bahu Yuka keras agar wanita itu tidak menghalang-halanginya lagi untuk menutup pintu. Dan bersamaan dengan itu, tiba-tiba Haejun datang diantara mereka sambil memandang keduanya dengan dahi berkerut.
“Eommonim ada apa? Yuka, apa yang kau lakukan di sini?”
“Oppa, aku ingin bertemu Enzo.” ucap Yuka dengan mata sembap dan wajah memelas. Nyonya Im yang melihat menantunya tidak berekasi apapun pada wanita yang bewajah mirip dengan anaknya itu langsung menatap Haejun dengan wajah bingung.
“Eommonim, Yuka kemarin mengalami lupa ingatan. Penjahat itu mencuci otak Yuka untuk membalaskan dendam mereka padaku. Mereka lalu menggunakan Yuka untuk menyakiti keluarganya sendiri, sehingga kemarin ia terpaksa menembak Enzo. Tapi sekarang Yuka telah kembali. Ia sudah mengingat semuanya dan ingin menebus semua kesalahannya pada Enzo.”
“Bbbenarkah?”
Nyonya Im menatap Yuka berkaca-kaca sambil menangkup wajah Yuka penuh haru. Setelah itu ia langsung memeluk tubuh putrinya erat sambil terisak-isak di pundak Yuka karena akhirnya setelah dua tahun berpisah, mereka berdua dapat bertemu kembali.
“Yuka... Yuka, putriku. Akhirnya kau kembali nak.” ucap nyonya Im tersedu-sedu. Yuka memeluk eommanya dengan erat dan ia menumpahkan seluruh rasa rindunya pada sang eomma. Dan kini ia tidak lagi merasakan kehampaan seperti saat ia menjadi Krystal. Kini ia benar-benar telah menemukan keluarganya yang benar-benar memiliki ikatan batin dengannya.
Yuka menyeka bulir-bulir air mata yang masih menetes dari kedua matanya dan ia menggantinya dengan senyum manis yang sedikit ia paksakan. Nyonya Im kemudian membawa Yuka masuk ke dalam ruang rawat cucunya untuk saling bercerita satu sama lain.
“Eomma sangat sehat, tapi eomma merasakan kesedihan yang begitu mendalam saat kau pergi, lalu eomma memutuskan untuk tinggal di rumah kakekmu yang lama. Eomma merasa sedih jika terus menerus tingga di rumah itu karena disana banyak sekali kenanganmu dan juga appamu. Tapi syukurlah jika kau ternyata masih hidup dan sehat, eomma sangat bersyukur sekali karena kau baik-baik saja.”
Haejun manatap dari kejauhan sambil tersenyum kecil dengan apa yang ia lihat saat ini. Rasanya seperti mimpi saat Yuka tiba-tiba kembali ke dalam hidupnya dan akan mengisi kekosongan hatinya yang hampa. Namun saat ini ia belum bisa memeluk keluarga kecilnya dengan tenang karena Park Jaejong dan antek-anteknya masih berkeliaran di luar sana. Ia harus segera menyusun rencana dan melakukan meeting dengan anak buahnya di markas untuk menjalankan rencananya yang selanjutnya. Dan sebelum semua orang-orang jahat itu menyadari kembalinya ingatan Yuka, ia sudah harus menyerang mereka. Karena saat ini ia bisa menggunakan Yuka sebagai informan dan juga umpan untuk dapat mendekati Park Jaejong dan yang lainnya.
“Oppa, apa yang kau pikirkan? Sejak tadi kau hanya melamun.”
“Aku sedang memikirkan keluarga kita. Sampai Park Jaejong dan pamannya benar-benar dilumpuhkan, kita belum bisa merasakan hidup tenang seperti dulu.”
Yuka meremas lembut telapak tangan Haejun sambil menatap kedua manik sendu itu dalam. Ia tidak akan membiarkan Haejun menanggung sendiri beban berat di pundaknya untuk menghancurkan Park Jaejong. Karena ia pasti juga akan membantu Haejun untuk menghancurkan semua kejahatan yang dilakukan oleh Park Jaejong.
“Kita melakukannya bersama-sama oppa, kau tidak boleh memikirkannya sendiri. Mulai sekarang kau harus membagi semua bebanmu padaku. Seperti dulu, sekarang kita akan kembali bersatu untuk melindungi keluarga kita.”
Haejun menarik telapak tangan Yuka yang masih setia menggenggam tangannya dan mengecupnya lembut.
“Ya, dan kali ini aku tidak akan pernah mengijinkanmu lagi untuk pergi.”
“Daddy... Daddy”
Yuka dan Haejun langsung berlari kearah ranjang ketika suara Enzo yang lemah terdengar beberapa kali memanggil-manggil ayahnya. Tiga orang dewasa itu dengan wajah khawatir langsung menghampiri Enzo dan mengelilingi tubuh lemah bocah kecil itu sambil merapalkan doa masing-masing agar anak mereka dan cucu mereka dalam keadaan baik-baik saja. Pasalnya setelah melakukan operasi dua jam yang lalu, dokter mengatakan jika kondisi Enzo sudah cukup stabil. Dan mereka hanya perlu menunggu bagaimana kondisi Enzo selanjutnya setelah bocah kecil itu membuka mata.
“Daddy....”
Perlahan-lahan Enzo membuka matanya sambil mencoba menatap wajah ayahnya yang pada awalnya masih terlihat kabur. Namun semakin lama ia membuka matanya, wajah tampan ayahnya semakin terlihat jelas di depannya. Dan kini semua orang terlihat lebih lega karena hingga sejauh ini Enzo masih terlihat baik-baik saja.
“Sayang, apa yang kau rasakan sekarang? Apa Enzo menginginkan sesuatu?”
Suara Yuka yang lembut langsung membuat Enzo menegang untuk beberapa saat dan membuat bocah kecil itu memalingkan wajahnya kearah kanan untuk melihat wajah sang pemilik suara. Namun setelah itu raut wajah Enzo justru tampak ketakutan dan ia langsung berteriak histeris pada ayahnya untuk menjauhkan Yuka dari kamarnya.
__ADS_1
“Daddy, Enzo takut. Enzo takut pada wanita itu. Meskipun wajahnya mirip dengan mommy, tapi dia telah melukai Enzo. Enzo takut daddy, tolong Enzo.”
Haejun mencoba menenangkan Enzo dengan menyuruh bocah kecil itu tetap berbaring karena luka di punggungnya masih belum mengijinkannya untuk bergerak kesana kemari sesuka hatinya. Lalu ia memberkan isyarat pada Yuka untuk sedikit menjauh, karena Enzo terus menerus histeris ketika Yuka mencoba mendekatinya.
“Sayang, ini mommy. Mommy minta maaf karena telah menembakmu. Mommy tidak sengaja sayang.”
Yuka lagi-lagi menitikan air matanya pilu ketika sekarang putranya sendiri telah berbalik membencinya.
“Yuka, sebaiknya kau pergi dulu. Nanti jika kondisi Enzo sudah lebih baik, kau bisa mendekatinya perlahan-lahan.” ucap Haejun lembut memberi pengertia. Nyonya Im menatap Yuka prihatin sambil memberikan elusan ringan di pundaknya. Mungkin saat ini Enzo memang belum bisa menerima Yuka sebagai ibunya karena ia memiliki trauma yang cukup pekat di kepalanya. Tapi Yuka sudah bertekad jika ia akan mencoba mendekati Enzo perlahan-lahan. Ia akan mengambil kembali keluarganya dan menghancurkan Park Jaejong untuk selama-lamanya.
-00-
Park Jaejong termenung sendiri di dalam ruangannya sambil menyesap winenya penuh nikmat. Pria paruh baya itu kemudian meletakan gelas winenya di atas meja dan mulai mendesah lagi ketika ia melihat jarum jam yang telah menunjukan pukul dua pagi. Ia pun memutuskan untuk kelur dari ruangannya dan mengecek sendiri keberadaan Krystal di kamarnya untuk memastikan apakah putrinya itu sudah kembali atau belum.
“Tuan, selamat malama.”
Yunho membungkukan tubuhnya hormat pada Park Jaejong ketika pria itu baru keluar dari kamarnya.
“Apa yang kau lakukan di pagi buta seperti ini?” tanya Park Jaejong sedikit memincingkan matanya. Yunho lagi-lagi menganggukan kepalanya hormat pada Park Jaejong untuk meminta maaf pada atasannya itu.
“Maafkan saya jika anda merasa terganggu tuan, tapi saya sedang menunggu nona Krystal.”
“Jadi Krystal belum pulang? Kemana perginya anak itu. Bahkan tadi ia tidak bergabung
untuk makan malam bersama denganku. Apa ia pergi untuk mabuk-mabukan lagi?” tanya Park Jaejong dengan wajah khawatir. Yunho menggelengkan kepalanya tidak tahu, dan setelah itu ia berusaha mendapatkan informasi lain dari ponselnya.
“Menurut beberapa anggota Bloods yang saya perintahkan untuk mencari nona Krystal di seluruh klub di kota Seoul, mereka sama sekali tidak menemukan nona Krystal di sana. Jadi, malam ini pasti nona Krystal tidak sedang mabuk-mabukan tuan.”
“Lalu kemana perginya anak itu. Menurut Sehun ia sedikit aneh setelah membunuh putra dari kapten itu. Apa menurutmu ingatan Krystal sudah kembali? Jika iya, maka kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi karena ia membawa banyak informasi penting terkait Bloods dan seluruh bisnisku.”
Yunho terlihat ragu untuk menyampaikan pemikirannya pada Park Jaejong. Namun gerak gerik Yunho yang terlihat mencurigakan itu membuat Park Jaejong semakin penasaran dan meminta Yunho untuk berkata jujur padanya.
“Kau merahasiakan sesuatu dariku? Ada apa?” tanya Park Jaejong penuh selidik. Yunho menggosok-gosokan kedua tangannya ragu, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya pada Park Jaejong.
“Tuan, bagaimana jika kita membongkar kamar milik nona Krystal? Karena beberapa hari ini saya cukup merasa curiga dengan tingkah laku nona Krystal. Apalagi semenjak menyelesaikan misi itu, nona Krystal terus mengurung dirinya di kamar. Kemungkinan besar saat ini nona Krystal sedang menyembunyikan sesuatu dari kita semua.”
Park Jaejong terdiam sejenak untuk mencerna semua kata-kata yang diucapkan Yunho. Dan setelah ia yakin dengan keputusannya, Park Jaejong segera memberi perintah pada Yunho.
“Bongkar kamar Krystal, dan kita lihat apa yang disembunyikannya di dalam sana.”
Kedua orang itu langsung berjalan beriringan menuju kamar Krystal yang berada di lantai dua. Dan saat ini Yunho telah siap dengan kunci cadangan milik Krystal untuk membongkar seluruh rahasia yang dimiliki wanita itu. Sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya ia sudah cukup curiga pada Krystal yang selalu menolaknya untuk menemaninya pergi kemanapun. Padahal selama ini Krystal tidak pernah menghindarinya sedikitpun dan selalu bergantung padanya dalam segala hal. Jadi sekarang ia benar-benar harus mewaspadai gerak-gerik Krystal yang tampak mencurigakan itu.
“Kira-kira apa yang disembunyikan Krystal di dalam kamarnya?”
“Lebih baik kita lihat sendiri tuan.”
Yunho membuka pintu kamar Krystal lebar-lebar dan mendapatai kamar itu gelap dan tampak lenggang. Yunhopun segera menghidupkan saklar lampu di sudut kamar Krystal dan membuat kamar itu dalam sekejap berubah menjadi terang benderang. Setelah mendapatkan ijin dari Park Jaejong untuk menggeledah kamar Krystal, Yunhopun segera bergerak kesana kemari untuk mencari hal-hal mencurigakan yang mungkin disembunyikan oleh Krystal di kamarnya. Dan sasaran pertama Yunho, jatuh kepada lemari kecil Krystal yang tersimpan di sudut ruangan karena lemari itu adalah satu-satunya barang yang paling mudah dijangkau diantara semua barang-barang milik Krystal yang tertata rapi di dalam sana.
“Semoga kita bisa segera mendapatkan petunjuk tuan.”
Dalam sekali tarikan, Yunho langsung membuka laci-laci meja itu dan membongkar seluruh isinya di atas lantai.
Srakk
Klang
Yunho dan Park Jaejong saling berpandangan satu sama lain ketika sebuah botol obat tiba-tiba terjatuh dari tumpukan berkas-berkas yang disimpan Krystal di dalam lemarinya. Park Jaejong lalu memungut benda kecil itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara untuk memastikan jika obat itu adalah obat yang sama seperti yang diberikan oleh dokter pribadi krystal atau Yuka di Amerika untuk menekan ingatan masa lalu Yuka.
“Kita harus mencarinya, wanita itu sudah kembali. Ia bukan lagi anakku.” desis Park Jaejong marah sambil melemparkan botol itu ke atas lantai, menciptakan bunyi gemericik nyaring khas obat-obatan yang bercecer di atas lantai. Pria itu lalu segera mengumpulkan anggota Bloods untuk mencari dimana keberadaan Krystal. Apapun
yang terjadi mereka harus mendapatkan Krystal sebelum wanita itu melaporkan mereka semua pada pihak kepolisian dan juga menghancurkan seluruh bisnisnya yang telah lama ia jalani.
__ADS_1