
Haejun berjalan dongkol di belakang Yuka dan Sehun yang sedang asik membicarakan berbagai hal dengan heboh. Beberapa orang yang sejak tadi berpapasan dengannya dan sibuk menyapanya tampak tak digubris sama sekali, karena fokus pandangannya hanya pada Yuka. Rasanya saat ini ia ingin menarik tangan Yuka dan mengatakan pada semua orang jika Yuka adalah miliknya dan ia telah memiliki seorang putra yang sangat menggemaskan dan juga tampan sepertinya.
“Senior Im, bagaimana jika kita mengadakan pesta setelah menyelesaikan kasus pembunuhan ini, sudah lama kita tidak berpesta bersama Yeri, Lay, dan Minzi.”
“Pesta? Eee.. bagaimana dengan kapten kita, apakah ia akan menyetujui hal itu?” tanya Yuka sambil berbisik di telinga Sehun. Haejun yang melihat isterinya dalam jarak sedekat itu dengan Sehun menjadi semakin gerah dan kesal. Ia pikir setelah ini ia harus memberikan pelajaran pada Yuka.
“Kita tidak perlu mengundangnya senior, lagipula kapten kita yang galak itu juga sangat membosankan.” balas Sehun sambil berbisik. Namun tanpa mereka sadari Lee Haejun sudah berada tepat di belakang mereka, sehingga sudah pasti jika kapten tampan itu mendengarkan semua yang dibicarakan oleh Sehun pada Yuka.
“Ehem, Oh Sehun kau bisa mengadakan pesta dengan siapapun kecuali dengan Yuka karena
ia harus melakukan pemotretan hingga tengah malam hari ini.” ucap Haejun tegas dengan nada sedikit mengancam. Oh Sehun mendelik sebal pada Haejun, namun ia tidak berani mengungkapnya secara terang-terangan sehingga ia hanya dapat menganggukan kepalanya lemah sambil menatap Yuka dengan wajah memelas.
Setibanya Yuka di dalam ruang meeting, Yuka langsung disambut heboh oleh junior-juniornya yang selama ini telah mengidolakan Yuka sebagai artis.
“Eonni!! Akhirnya kau datang juga, aku ingin meminta tanda tanganmu di cover depan majalah Grazia ini. Ya ampun... eonni terlihat sangat cantik dan seksi di sini. Tolong berikan tanda tangan eonni di sini.”
Yeri dan Minzi datang dengan heboh di depan Yuka sambil menyodorkan dua buah majalah Grazia edisi terbaru yang baru saja terbit minggu ini. Dengan senang hati Yuka mengambil spidolnya dan segera membubuhkan tanda tangannya di atas majalah-majalah yang disodorkan oleh rekan-rekannya. Terkadang Yuka merasa heran dengan kedua juniornya yang cantik itu, meskipun mereka adalah anggota dari intelijensi negara, tapi mereka seperti tidak kehilangan jati diri mereka sebagai seorang wanita. Mereka tetap bisa mengikuti trend fashion terbaru di awal musim, dan mereka juga tetap bisa berteriak-teriak heboh saat bercerita mengenai idol-idol yang sangat mereka gilai. Beberda dengan dirinya yang dulu benar-benar merasa terkekang karena Haejun selalu membatasi pergerakannya.
“Selamat pagi semuanya, hari ini aku akan memberikan kasus baru pada kalian, jadi kuharap kalian segera menempatkan diri kalian pada tempat duduk kalian masing-masing.”
Tiba-tiba Haejun masuk ke dalam ruang meeting dan menginterupsi kegiatan Yeri dan Minzi yang sedang heboh membicarakan idol-idol mereka yang sedang melakukan syuting atau pemotretan. Keduanya pun segera mendudukan diri pada kursi yang telah disediakan di tengah ruangan. Sementara itu, Haejun tampak sedang bersiap-siap di depan meja utama sambil menayangkan gambar-gambar mayat Kim Sora dibantu oleh Yuka di sebelahnya.
“Kapten ini rincian kasus yang dikirimkan oleh komisaris.”
“Terimakasih nona Im, sekarang kau boleh duduk di tempatmu.”
Yuka kemudian berjalan pergi menuju kursi miliknya yang berada tepat di sebelah Sehun. Dan ketika Yuka sudah duduk di sebelahnya, wajah Sehun langsung berubah menjadi berbinar-binar dengan senyum aneh yang tertarik ke kanan dan kiri.
“Baiklah karena sudah lengkap, mari kita mulai meeting kita pada pagi hari ini. Jadi...
Oh Sehun, tolong bersikaplah lebih wajar.” ucap Haejun tiba-tiba ketika ia merasa risih dengan sikap Sehun yang menurutnya sangat menjijikan itu. Seluruh anggota intel yang mengikuti meeting pada pagi itu tampak terkikik pelan menertawakan wajah kaku Sehun yang mendapatkan teguran langsung dari Haejun.
“Jadi pagi ini seorang artis bernama Kim Sora ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sebuah tempat pembuangan akhir yang berada di perbatasan Seoul. Diduga Kim Sora adalah korban pembunuhan berencana yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya karena cara tersangka membunuh korban terlihat sangat rapi dan halus. Bahkan pihak kepolisian sendiri cukup sulit untuk melacak keberadaan dari pembunuh itu karena pembunuh nyaris tidak meninggalkan petunjuk sama sekali untuk diselidiki. Pihak otopsi pagi ini hanya menemukan adanya bekas luka cakaran di leher korban yang diduga karena korban melakukan perlawanan ketika tersangka hendak membunuh korban dengan benda yang diperkirakan adalah sebuah tali panjang. Lalu tugas kita di sini adalah menemukan pembunuh itu dan mengungkapkan motif dibalik pembunuhan tersebut. Apa kalian sudah mengerti?”
“Ya, mengerti kapten.”
“Lay dan Minzi, kalian pergi ke ruang otopsi di rumah sakit Seoul untuk mengumpulkan
bukti-bukti yang ada di tubuh korban. Sehun, Yuka, dan Yeri, kalian pergi ke tempat pembuangan akhir dan rumah korban untuk menemukan bukti-bukti permbunuhan di sana. Sekarang kalian boleh pergi dan menjalankan tugas masing-masing.” tutup Haejun sebelum ia berjalan keluar dari ruang meeting. Yuka menatap kepergian Haejun dalam diam sambil memikirkan pria itu.
Kenapa kali ini Haejun oppa tidak ikut andil dalam penyelidikan kasus?
“Senior Im, ayo kita berangkat, apa yang kau lakukan di sana?”
Sehun memanggil Yuka cukup keras dari ambang pintu hingga Yuka sedikit terkejut. Wanita itu kemudian segera menghampiri Sehun dan berjalan keluar bersama dengan rekan timnya yang lain.
-00-
“Ughh... Kamar ini berantakan sekali.”
Yeri berseru pelan sambil mengamati kamar milik Kim Sora yang sangat berantakan di depannya. Kamar itu seperti baru saja dibobol oleh pencuri karena beberapa laci lemari tampak terbuka dan di atas lantai juga banyak berserakan kertas-kertas penting berisi identitas diri, passport, dan surat-surat berharga lainnya.
“Sebenarnya apa yang tersangka cari di rumah korban, senior Im apa kau menemukan sesuatu?”
Yeri berjalan menghampiri Yuka yang sedang membaca berkas-berkas yang berceceran di atas lantai, tak sengaja mata rusanya menemukan sebuah foto yang tergletak di bawah kertas-kertas yang berserakan di atas lantai. Dipungutnya segera foto itu dan Yuka mulai mengamati satu persatu wajah orang-orang yang berada di dalam gambar potret tersebut.
__ADS_1
“Bukankah itu Kim Sora bersama dengan putranya.” ucap Yeri di belakang Yuka. Yuka menoleh pada Yeri dan meminta Yeri untuk menjelaskannya lebih detail.
“Ya, bocah laki-laki yang digendong oleh Kim Sora ini adalah anak Kim Sora yang selama ini disembunyikan.”
“Bagaimana kau tahu jika ini adalah anak Kim Sora, bukankah selama ini media tidak pernah mengetahuinya sama sekali.” tanya Yuka dengan wajah penasaran. Bahkan meskipun tadi pagi ia menangkap basah seorang paparazzi tengah mengambil gambar putra Kim Sora di sekolah yang sama dengan Enzo, tapi ia tidak yakin jika paparazzi itu masih memiliki gambarnya karena ia telah mengambil kartu memori paparazzi itu.
“Sebenarnya aku pernah melihat Kim Sora di supermarket bersama anaknya untuk berbelanja. Meskipun ia sudah menggunakan atribut penyamaran, tapi aku dapat mengenalinya dari gelagat anehnya dan juga suara anaknya yang tanpa sengaja menunjuk-nunjuk gambar ibunya yang menjadi sampul depan sebuah majalah. Huhh, kira-kira bagaimana nasib anak itu sekarang? Ia pasti sangat terpukul dengan kematian ibunya.” desah Yeri perihatin sambil menatap foto anak Kim Sora dalam.
“Lalu siapa dua orang pria ini? Mereka berdua terlihat sedikit mirip dengan Kim Sora.” tunjuk Yuka pada foto dua orang pria dewasa yang sedang berdiri di samping kanan dan kiri Kim Sora sambil berpose lucu menghadap kamera. Yeri menggelengka kepalanya tidak tahu sambil mengamati wajah pria itu dengan serius.
“Mungkin kita harus mencari tahu riwayat keluarga Kim Sora dari database, karena menurutku dua pria itu masih memiliki hubungan dekat denga Kim Sora, selain itu wajah mereka juga mirip, jadi kita harus mengecek database milik korban.” ucap Yuka sambil menyelipkan foto itu ke dalam sakunya.
“Senior Im, aku sudah mengecek seluruh cctv yang terpasang di area apartemen ini.”
Tiba-tiba Oh Sehun datang sambil membawa dua buah rekaman cctv di kedua tangannya. Pria itu mendekati Yuka dan melaporkan hasil penyelidikannya yang dilakukan di ruang monitor.
“Jadi dari seluruh rekaman cctv yang sudah kutonton, aku menemukan dua rekaman cctv yang menurutku janggal. Rekaman cctv yang pertama adalah rekaman cctv yang berasal dari lorong apartemen tempat dimana kamar korban berada, di dalam rekaman ini tampak korban sedang menerima tamu seorang pria pukul enam sore,
tapi tamu itu tidak lama berada di sini, karena dua puluh menit kemudian pria itu keluar dari apartemen Kim Sora sambil menundukan kepalanya dan ia terlihat seperti menyembunyikan wajahnya dari cctv. Lalu di rekaman ke dua, rekaman ini berasal dari cctv yang berada di basement, di sini Kim Sora tampak terburu-buru masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke suatu tempat, dan bahkan di sini Kim Sora hampir saja menabrak seorang pemabuk yang sedang berjalan sempoyongan di basement apartemen. Senior, kita harus menyelidiki rekaman ini lebih lanjut di markas untuk menemukan pelaku yang telah membunuh Kim Sora.” saran Sehun sambil memasukan rekaman-rekaman yang telah ia temukan ke dalam plastik bening berperekat.
“Ayo, kurasa kita memang harus pergi ke markas untuk menyelidikinya karena aku juga membutuhkan database milik Kim Sora untuk mengungkap latar belakang Kim Sora yang misterius.”
Ketiga intel itu segera meninggalkan apartemen Kim Sora untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Dan tanpa mereka sadari saat mereka berjalan melewati lorong apartemen yang sepi, seorang pria dengan wajah yang tertutup hoodie sedang bersembunyi dibalik tembok sambil mengamati kepergian Yuka dan rekan-rekannya. Pria itu mengerutkan alisnya tidak suka dan menyelinap masuk ke dalam kamar Kim Sora yang terbuka.
-00-
Di dalam sebuah kelas yang sepi Enzo tampak bersedih sambil melipat kedua lututnya di sudut ruangan. Pria kecil itu sesekali mengusap air matanya yang sejak tadi terus mengalir di kedua pipinya yang putih.
“Enzo-ya, apa yang kau lakukan di sana?”
“Enzo tidak mau tampil, Enzo ingin mommy dan daddy.” racau Enzo serak sambil mengibaskan tangan keriput halmeoninya yang sedang membujuknya untuk berdiri. Nyonya Im menghembuskan nafas pelan melihat kelakuan cucunya hari ini yang tidak mau tampil di acara kesenian sekolahnya, padahal hari ini Enzo harus tampil untuk bernyanyi bersama teman-temannya yang lain, jika Enzo tidak mau tampil maka grup paduan suara kelasnya tidak akan terlihat bagus karena Enzo berperan sebagai pemimpin dalam grup paduan suara tersebut.
“Enzo-ya, mommy dan daddymu sedang bekerja, tapi mereka pasti akan datang untuk melihat Enzo bernyanyi.”
“Bohong! Mommy dan daddy pasti tidak akan datang seperti biasanya, mereka memang tidak sayang pada Enzo.”
Bocah kecil itu semakin keras menangis di sudut kelasnya sambil menelungkupkan tubuhnya di atas lantai. Tak peduli apakah lantai itu kotor atau bersih, Enzo tetap menangis di atas lantai dengan histeris meskipun sang halmeoni sudah mencoba membujuknya dengan berbagai macam cara. Nyonya Im kemudian mengeluarkan
ponselnya untuk menghubungi Yuka karena wanita paruh baya itu sudah tidak bisa lagi membujuk cucunya yang keras kepala itu, padahal satu jam lagi pementasan itu akan dimulai, mau tidak mau Yuka dan Haejun harus datang ke sekolah Enzo dan membujuk putra mereka agar bersedia untuk tampil bersama teman-temannya yang lain.
“Halo Yuka, apakah kau sedang sibuk?”
“.........”
“Tidak, ini mengenai Enzo, ia sekarang sedang menangis di dalam kelasnya karena kau dan Haejun tidak datang untuk menonton pertunjukannya. Apa kau bisa datang? Paling tidak salah satu dari kalian harus datang untuk membujuk Enzo karena Enzo memiliki peran penting dalam pementasan ini.” ucap nyonya Im setengah memaksa. Nyonya Im mendengar putrinya saat ini sedang mendesah di seberang sana karena saat ini putrinya sedang dalam perjalanan menuju TKP pembunuhan.
“..........”
“Lalu bagaimana dengan Lee Haejun, apakah ia juga sedang mengerjakan kasus yang sama denganmu?”
“.........”
“Kalau begitu eomma akan mencoba menghubunginya, kau selesaikanlah kasusmu terlebihdahulu, setelah itu datanglah ke sekolah Enzo untuk melihatnya tampil, selama ini kalian juga tidak pernah datang untuk melihatnya, jadi tolong jangan kecewakan Enzo.” pesan nyonya Im sebelum ia menutup sambungan teleponnya.
Nyonya Im kemudian beralih pada cucunya yang masih setia menangis di atas lantai, namun sekarang Enzo tidak lagi berguling-guling seperti beberapa saat yang lalu. Bocah itu saat ini sedang meringkuk sedih di atas lantai dengan nafas yang tersenggal-senggal.
__ADS_1
“Enzo-ya, halmeoni pasti akan membuat mommy dan daddymu datang.” janji nyonya Im sungguh-sungguh sambil mengelus puncak kepala Enzo sayang.
-00-
Di lain tempat Yuka sedang mencoba menghubungi Haejun yang sejak tadi sangat sulit untuk dihubungi. Beberapa kali ia menghubungi Haejun untuk menyuruh pria itu datang ke sekolah Enzo, tapi panggilan teleponnya justru selalu dijawab oleh suara operator. Dan wajah Yuka yang tampak gusar itu berhasil menarik perhatian Sehun yang sedang menyetir disampingnya.
“Ada apa senior, kau tampak kesal.”
“Aku sedang kesal dengan kapten Lee karena sejak tadi ia tidak bisa dihubungi, padahal aku ingin menanyakan banyak hal padanya.” gerutu Yuka kesal sambil mencoba menghubungi Haejun sekali lagi. Wanita itu tampak tidak sabar untuk menunggu Haejun mengangkat teleponnya, tapi ketika ia hendak menyerah dan mematikan ponselnya, tiba-tiba pria yang sejak tadi ditunggunya akhirnya mengangkat panggilan teleponnya.
“Halo, kapten Lee.”
Yuka sengaja mengeraskan suaranya saat menyapa Haejun agar Haejun tahu jika ia sedang bersama rekan-rekan timnya yang lain.
“Ada apa, aku sedang meeting bersama presiden.”
Yuka mengernyitkan dahinya ketika ia mendengar suara Haejun yang sedikit menggema, sepertinya Haejun sedang menerima telepon di dalam kamar mandi.
“Kapten, apa kau sedang sibuk?”
“Aku sangat sibuk Yuka, cepat katakan tujuanmu menelponku.”
Yuka mendengus kesal dengan sikap Haejun yang terkesan memburunya, dan juga pria itu sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Selama ini jika suaminya itu akan melakukan meeting dengan presiden atau sedang menangani suatu kasus, pasti suaminya itu akan memberitahunya terlebihdahulu. Tapi pagi ini Haejun tidak mengatakan apa-apa dan tiba-tiba pergi bersama presiden untuk melakukan meeting. Bukankah itu aneh?
“Baca pesanku sekarang, itu penting!” bisik Yuka penuh penekanan. Sehun yang berada di sebelahnya langsung menoleh penuh ingin tahu ketika Yuka mulai berbisik-bisik pada Haejun.
“Kau sedang menghubungi kapten?” tanya Sehun ingin tahu. Yuka menoleh pada Sehun sekilas dan menganggukan kepalanya pelan sebagai jawaban.
“Ck, aku akan segera membacanya. Sampai jumpa.” tutup Haejun dengan decakan kesal. Yuka menatap layar ponselnya gemas dan ingin menggerutu. Tapi melihat Sehun dan Yeri sedang memperhatikan sikapnya, Yuka cepat-cepat memasukan benda persegi itu ke dalam saku celananya dan segera mengalihkan perhatian mereka berdua dengan kasus Kim Sora yang sedang mereka tangani.
“Apa Lay dan Minzi sudah memberikan informasi yang mereka dapatkan di di rumah sakit?” tanya Yuka mengalihkan. Yeri yang sejak tadi mendapatkan pesan-pesan dari Lay segera membuka ponselnya dan memberikan benda persegi itu pada Yuka.
“Lay dan Minzi mengatakan jika mereka tidak menemukan apapun di rumah sakit selain hasil otopsi yang sebelumnya juga dikirimkan pihak rumah sakit ke markas, lalu ketika mereka pergi ke TKP mereka hanya menemukan kotak rotan yang digunakan untuk membuang mayat Kim Sora, sepertinya kita memang harus menyelidiki pria-pria yang bersama Kim Sora jika kita ingin melacak jejak pembunuh itu, karena menurutku kasus pembunuhan ini melibatkan mereka.” ucap Yeri memberikan hipotesis. Yuka menganguk-anggukan mengerti lalu memerintah Yeri untuk menghubungi tim vector agar mereka mencarikan data-data terkait Kim Sora.
Sementara Yeri sedang berkutat dengan tim Vector, Yuka tampak menyibukan diri dengan berkirim pesan dengan ibunya. Saat ini ibunya mengabari jika Enzo masih menangis dan tidak mau tampil bersama teman temannya meskipun guru-gurunya yang lain telah membujuknya dengan berbagai cara. Yuka kemudian mendesah frustasi dengan keadaannya yang sedang tidak memungkinkan ini. Tapi pertunjukan itu akan diadakan tiga puluh menit lagi, jika ia tidak datang maka Enzo akan tetap menangis dan mengecewakan teman-temannya yang lain.
Aku harus mengambil tindakan sekarang!
“Oh Sehun, tolong turunkan aku di depan.”
Sehun menoleh bingung dengan perintah Yuka yang tiba-tiba. Namun ia tetap menuruti permintaan Yuka dengan menepikan mobilnya di lajur kanan.
“Ada apa senior, apa senior membutuhkan sesuatu?”
“Tidak, aku hanya ingin pergi ke TK Kirin, baru saja kapten Lee menyuruhku untuk mengawasi anak Kim Sora, karena sepertinya anak itu akan dalam bahaya. Lagipula kita juga tidak tahu selama ini anak itu diasuh oleh Kim Sora sendiri atau orang lain, jadi aku harus ke sana untuk mengawasinya.” bohong Yuka lancar. Entah darimana ide itu muncul di kepalanya. Mungkin itu karena naluri keibuannya yang sedang terdesak.
“Kalau begitu aku akan mengantar senior ke sana.”
“Ah tidak perlu.” tolak Yuka cepat. Lagipula setelah ini ia harus menyiapkan sedikit penyamaran agar guru-guru Enzo dan wali murid yang lain tidak mengenalinya sebagai Im Yuka, model berbakat yang sedang naik daun itu.
“Aku akan pergi menggunakan taksi, kalian lebih baik segera ke markas dan kabarkan padaku jika kalian telah menemukan data-data mengenai dua pria yang berada di dalam foto tadi.” ucap Yuka cepat sambil membuka pintu mobil milik Sehun. Setelah itu Yuka segera berlari pergi dan menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas di depannya.
“Oh Sehun, apa menurutmu senior Im sedikit aneh setelah menelpon kapten Lee?” tanya Yeri penuh selidik. Oh Sehun menatap sebal wajah Yeri melalui kaca spion, kemudian pria itu segera menjalankan mobilnya menuju markas.
“Jangan membuatku panas Kim Yeri, aku tahu kau hanya ingin menggodaku.” jawab Sehun sakarstik dan membuat Yeri tertawa terbahak-bahak di belakangnya. Sejak dulu wanita itu memang selalu menggodanya terkait seniornya dan kaptennya yang memiliki hubungan yang sangat dekat. Bahkan dulu ia sempat mengira jika Yuka dan Haejun adalah sepasang kekasih, tapi hal itu langsung dibantah keras oleh Oh Sehun karena pria itu adalah penggemar nomor satu Im Yuka.
__ADS_1
“Dasar pria sensitif. Lagipula aku lebih setuju jika senior Im bersama kapten Lee, mereka lebih terlihat serasi.” ucap Yeri memanas-manasi. Sehun kemudian memilih untuk mendengarkan musik dari musik playernya keras-keras agar ia tidak perlu mendengarkan ocehan Yeri yang tak berguna itu.