Ignite

Ignite
Consumate Love (Thirty Six)


__ADS_3

            “Krystal, apa kau baik-baik saja?”


            Sehun menatap Krystal cemas sambil terus berkonsentrasi pada jalanan di depannya yang cukup ramai. Sejak mereka meninggalkan halaman depan rumah Lee Haejun beberapa menit yang lalu, Krystal tampak linglung dan terkesan seperti orang gila. Ia beberapa kali menggumamkan kata-kata mengenai pembunuh dan juga darah yang membuat Sehun semakin khawatir dengan keadaan wanita itu.


            “Kau sudah melakukan hal yang benar, kau memang seharusnya membalas perlakuan bejat pria itu padamu. Kau hebat Krystal.” puji Sehun sambil mengelus pelan puncak kepala Krystal. Krystal hanya bergeming di tempatnya dan tak sedikitpun merespon ucapan Sehun. Saat ini ia bagaikan seorang mayat hidup yang terlihat begitu mengerikan. Wajahnya yang biasanya memancarkan aura membunuh yang berbahaya kini telah berubah pucat dan tak berwarna. Percobaan pembunuhan yang ia lakukan beberapa saat yang lalu berhasil membuat jiwa Krystal terguncang entah karena apa. Mungkinkah sesuatu telah terjadi padanya?


            “Sehun, aku ingin pulang.” ucap Krystal pelan. Sehun menganggukan kepalanya sambil menghembuskan nafas lega karena setidaknya Krystal masih mau berbicara dengannya. Sempat beberapa saat yang lalu ia berpikir jika Krystal atau Yuka telah berhasil mendapatkan ingatannya kembali karena Krystal tiba-tiba berseru pelan di depannya jika ia bukan Krystal. Tapi ketakutannya itu langsung terhapus seketika setelah ia mengamati gerak-gerik Krystal lebih lanjut. Wanita itu jika memang telah mengingat semuanya, ia pasti tidak akan bersikap bersahabat dengannya seperti saat ini. Krystal atau Yuka yang telah mengingat semua masa lalunya pasti akan langsung menghabisinya tanpa ampun. Karena bagaimanapun juga ia sudah terlibat cukup jauh dalam pemalsuan identitas Yuka hingga pembentukan kepribadian yang sangat mengerikan seperti ini.


            “Krystal, apa kau mencintaiku?”


            Tiba-tiba Sehun berseru dingin sambil menatap lurus pada pemandangan di depannya yang sebenarnya terlihat sangat membosankan.


            “Aku tidak tahu.” jawab Krystal singkat dan dingin. Sehun menalan riak pahit di tenggorakannya dengan susah payah sambil tersenyum masam untuk dirinya sendiri. Tentu saja sampai kapanpun ia tidak akan pernah mendapatkan cinta dari Krystal atau Yuka karena pria yang selalu mengisi hati wanita itu hanyalah Lee Haejun, tidak akan pernah ada yang lain.


            “Kita sudah sampai.”


            Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, Krystal sudah turun terlebihdahulu dari mobilnya sambil membanting pintu itu dengan keras. Dari kejauhan ia dapat melihat beberapa orang yang dibuat kebingungan dengan sikap Krystal yang aneh setelah ia berhasil menjalankan misinya. Dan tak berapa lama Yunho mengetuk pintu kaca mobil Sehun dan meminta Sehun untuk turun dari mobilnya.


            “Aku ingin bicara padamu.”


            “Mengenai apa? Krystal? Ya, hari ini ia memang aneh.” ucap Sehun malas. Yunho tak mempedulikan nada malas Sehun yang terdengar menyebalkan itu, justru ia semakin berhasrat untuk bertanya lebih jauh pada Sehun mengenai keadaan Krystal.


            “Apa sesuatu terjadi padanya saat ia sedang menjalankan misinya?”


            “Hmm, memangnya apa yang kau harapkan dari seorang ibu yang hampir membunuh anaknya?” tanya Sehun sakarstik. Sejujurnya ia tidak menyetujui ide gila Park Jaejong yang akan menggunakan Yuka untuk ajang balas dendamnya pada Haejun. Namun bagaimanapun bentuk penolakannya untuk rencana itu, Park Jaejong tidak mempedulikannya. Ia tetap menjalankan rencanaya dan membuat Krystal atau Yuka berakhir seperti orang gila karena baru saja melukai anaknya.


            “Jadi anak itu belum mati? Bagaimana bisa? Kupikir Krystal akan membunuh anak itu di depan ayahnya.”


            “Apa kau pikir mereka tidak memiliki ikatan batin? Meskipun kita berhasil mencuci seluruh isi otaknya, ia tetap akan memiliki ikatan batin dengan anaknya. Apalagi selama ini ia hanya membunuh orang-orang yang terbukti bersalah padanya, dan seorang anak kecil yang sama sekali tidak memiliki salah padanya tidak seharusnya menjadi target. Aku justru khawatir kejadian hari ini akan membuka ingatannya tentan masa lalunya yang sudah coba kita hilangkan dari kepalanya.” jelas Sehun sedikit emosi. Yunho hanya menatap Sehun datar dan tampak tak terlalu ambil pusing dengan masalah Yuka dan anaknya. Lagipula hingga sejauh ini Krystal atau Yuka belum menunjukan tanda-tanda akan kembali mengingat masa lalunya. Untuk saat ini ia hanya perlu menekan Krystal lebih kuat agar wanita itu tidak memiliki belas kasihan sedikitpun di dalam dirinya. Krystal harus tumbuh menjadi seorang yang tangguh dan tak memiliki perasaan.


            “Ketakutanmu itu tidak beralasan Oh Sehun. Hingga sejauh ini Krystal belum mengingat masa lalunya. Padahal ini sudah lebih dari dua tahun sejak ia mengalami percobaan pembunuhan yang sangat mengerikan itu. Lebih baik kau terus awasi gerak gerik Krystal selama aku tidak berada di sisinya. Karena beberapa hari ini aku akan sibuk menemani bos besar untuk menangani dua pengkhianat yang telah menyusup ke dalam kelompok kita.”


            “Tapi kita tetap tidak boleh lengah dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Jika Krystal atau Yuka sadar siapa dirinya yang sesungguhnya, kita semua akan mati.”


            “Huh, mengapa kau bisa berpikiran seperti itu Oh Sehun?” tanya Yunho menyeringai. Sehun mengendikan bahunya acuh dan kemudian berlalu masuk ke dalam rumah utama yang dipenuhi anggota Bloods.


            “Entahlah, aku hanya memiliki firasat.” jawab Sehun sambil lalu.


-00-


Dor!! Enzooooo!!


            Krystal tersentak kaget dari tidurnya dengan nafas memburu dan keringat dingin yang menetes dari pelipisnya. Sudah dua hari ia mengurung dirinya di dalam kamar tanpa mengijinkan siapapun untuk mengusiknya. Dan malam ini ia kembali dihantui bayangan mengerikan dua hari yang lalu ketika ia hampir membunuh Enzo, anaknya sendiri.


            “Enzoo... hiks hiks hiks..”


            Yuka menangis pilu sambil memeluk lututnya dengan perasaan sakit yang luar biasa menusuk jantungnya. Sejak ia melihat bayangan-bayangan aneh di dalam kepalanya, Krystal atau Yuka mulai menghentikan semua obat yang ia minum. Ia merasa penasaran dengan semua bayangan itu dan perasaan asing yang selalu  menyusup ke dalam hatinya setiap bayangan itu berputar-putar di kepalanya. Dan puncaknya adalah dua hari yang lalu, saat ia dengan kejamnya menembak anaknya sendiri hingga ia melihat tubuh kecil Enzo melayang di udara dengan peluru yang bersarang di punggungnya. Andai saja ia bisa mengingat semuanya sebelum kejadian itu terjadi, Enzo pasti tidak akan mengalami hal yang sangat mengerikan seperti dua hari yang lalu. Apalagi sekarang ia mengingat semua hal yang terjadi pada dirinya saat ia berperan sebagai Krystal. Ia ingat beberapa kali sempat bertemu Enzo dan mereka juga sempat bercaka-cakap. Dan dalam percakapan itu Enzo selalu mengatakan padanya jika ia merindukan ibunya. Tapi bagaimana bisa jika ibunya yang selama ini ia rindukan dan harapkan justru hampir membunuhnya sendiri?


            “Enzo... maafkan mommy. Mommy jahat padamu, mommy hampir membunuhmu. Maafkan mommy nak...”


            Yuka terus meracau di dalam kamarnya yang gelap sambil menenggelamkan kepalanya diantara lututnya. Beberapa kali ia mendengar suara Sehun yang terus mengetuk pintu kamarnya, namun ia memilih menulikan semua pendengarannya dari semua orang yang ada di dalam rumah ini karena ia membenci mereka semua. Terutama Park Jaejong dan Park Junhyuk, karena mereka semua adalah dalang dibalik semua kebiadaban yang ia lakukan selama ini.


Tok tok tok


            “Krystal, apa kau baik-baik saja? Kau belum makan sejak kemarin, keluarlah.”


            Yuka mendengar suara Sehun yang pagi ini telah ia dengar lebih dari sepuluh kali dari kamarnya. Ia pun untuk kesekian kalianya kembali menulikan pendengarannya dengan menelungkupkan kepala di atas lututnya. Namun ia tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya dan segera membersihkan penampilannya. Ia tidak bisa hanya


terus merenung di dalam kamarnya dan menangisi semua yang terjadi. Ia harus bergerak dan segera menyusun rencana untuk membalas mereka semua. Dan kali ini ia bersumpah, ia akan menghabisi seluruh anggota Bloods dan para pemimpin mereka hingga tak akan ada satupun yang hidup di dunia ini.


            “Krystal, kau baik-baik saja?”


            Sehun berseru keras ketika akhirnya Yuka keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi yang menandakan jika ia akan pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


            “Minggir Oh Sehun, aku ingin pergi ke suatu tempat.” Ucap Yuka dingin. Sekarang ia benar-benar muak pada Sehun karena ternyata ia adalah pengkhianat yang  selama ini menyusup ke dalam markas. Andai dulu ia tahu jika Sehun adalah pengkhianat, ia pasti akan langsung membunuh Oh Sehun dengan tangannya sendiri.


            “Kau ingin pergi? Aku akan menemanimu.”


Ckrek


            Yuka menodongkan pistol tepat di pelipis Sehun dan membuat Sehun seketika mengangkat tangannya ke udara dengan wajah bingung yang tercetak jelas di wajahnya.


            “Aku akan pergi sendiri. Dan kau jangan coba-coba untuk mengikutiku, karena aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu jika kau mengikutiku.” ancam Yuka bersungguh-sungguh. Sehun tetap mengangkat tangannya di udara sambil menggeleng pelan pada Yuka dan mempersilahkan Yuka untuk pergi. Dan sepeninggal Yuka dari hadapannya, Sehun langsung menurunkan tangannya sambil menatap Krystal penuh curiga.


            “Ada apa denganmu Krystal? Kenapa kau menjadi seperti ini?”


-00-


            Yuka berdiri di depan rumah sakit Seoul dengan perasaan gugup dan takut yang menyeruak brutal di dalam dirinya. Kemarin ia tak sengaja mendengar Sehun menyebut rumah sakit Seoul sebagai tempat dimana Enzo dirawat. Dan sekarang disinilah ia berada untuk bertemu Enzo, Haejun, dan juga ibunya. Tapi ia takut. Ia takut mereka akan membencinya dan mengusirnya pergi dari sini karena ia hampir saja membunuh Enzo.


            “Oppa...”


            Dari kejauhan Yuka sudah bisa melihat Haejun sedang menundukan kepalanya di ruang tunggu dengan raut wajah yang terlihat frustasi. Di sebelahnya berdiri seorang wanita yang sedang mengelus punggung suaminya dengan lembut sambil membisikan kata-kata yang tak dapat didengarnya.


            “Oppa, maafkan aku.”


            Yuka terisak pelan dari tempatnya berdiri dengan suara pilu. Ia pun memutuskan untuk berjalan semakin dekat pada Haejun agar ia bisa meminta maaf pada pria itu atas semua hal yang telah ia lakukan selama ini padanya.


            “Kau!”


            Jaekyung berjengit kaget sambil menunjuk Yuka yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Sontak Haejun langsung mendongakan wajahnya dan langsung menatap penuh siaga pada Krystal atau Yuka yang saat ini sedang berdiri di depannya dengan wajah yang dipenuhi air mata.


            “Apa yang kau lakukan di sini? Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Enzo atau keluargaku yang lain. Pergi kau dari sini sebelum aku benar-benar membunuhmu.”


            Yuka semakin menitikan air matanya deras sambil menatap nanar pada Haejun. Bahkan saat ini suaminya sangat membencinya. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk meminta maaf pada pria itu?


            “Oppa... oppa!!”


            “Oppa... maafkan aku. Aku hampir membunuh Enzo, aku telah melukainya. Oppa, tolong maafkan aku.”


            “Huh, apa kau ingin membodohiku? Setelah kau menembak putraku tanpa perasaan, kau ingin mengaku sebagai Yuka? Benar-benar picik! Aku tidak akan pernah tertipu dengan sandiwara murahanmu itu!” teriak Haejun penuh emosi. Jaekyung berusaha menenangkan Haejun dengan mendorong Haejun menjauh dari Yuka. Tapi semakin Jaekyung menjauhkan tubuh Haejun dari Yuka, Yuka justru semakin mendekat sambil merangkak di kaki Haejun untuk mencoba meyakinkan pria itu jika ia benar-benar Yuka yang telah sadar dari lupa ingatannya.


            “Oppa... ini aku Lee Yuka, istrimu. Aku.. aku sudah mengingat semuanya oppa. Mereka telah menghapus ingatanku selama ini. Kumohon percayalah padaku.”


            Haejun tertegun di tempat sambil memandang Yuka tidak percaya. Ia pun dengan penuh kerinduan segera menarik Yuka berdiri dan mendekapnya dengan erat hingga Yuka saat ini benar-benar meringsek di dalam dadanya.


            “Yuka... kau kembali, kau benar-benar Yuka?” tanya Haejun dengan luapan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya. Jaekyung yang melihat semua kejadian haru itu, memilih untuk pergi perlahan-lahan dari sekitar mereka berdua karena saat ini hatinya benar-benar terasa sakit. Dan ia tidak bisa melihat kebersamaan dua


orang itu lebih lama lagi, karena saat ini air  matanya sudah menggenang di kedua pelupuk matanya, siap untuk ditumpahkan sekarang juga.


            “Yuka... bagaimana bisa?” tanya Haejun tak habis pikir. Ia menarik Yuka untuk duduk di sebelahnya sambil tetap menggenggam kedua tangan Yuka erat.


            “Ceritanya panjang oppa, tapi selama ini mereka memanfaatkanku untuk menjadi Krystal dan menyuruhku untuk membunuh banyak orang di luar sana. Oppa.... sekarang aku seorang pembunuh. Aku jahat oppa, aku pembunuh.”


            Yuka kembali terisak sambil menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. Haejun yang melihat hal itu langsung membawa Yuka ke dalam pelukannya dan menenangkan wanita itu agar tidak semakin histeris.


            “Ini bukan kemauanmu, jadi kau tidak bersalah. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab atas semua hal buruk yang terjadi padamu. Tenanglah, kau tidak akan menjadi Krystal yang jahat lagi. Sekarang kau adalah Lee Yuka, istriku dan ibu dari Enzo.”


            “Oppa... bagaimana dengan Enzo, apa ia baik-baik saja?”


            Haejun menatap Yuka berat dan segera membawa Yuka ke dalam ruang rawat Enzo yang terlihat sunyi. Dan ketika Yuka sudah berdiri tepat di samping ranjang rumah sakit Enzo, Yuka kembali menangis sambil memeluk Haejun dengan erat karena ia tidak bisa melihat anaknya dalam keadaan yang menyedihkan terlalu lama. Ia terlalu takut dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi pada Enzo kecilnya.


            “Kemarin dokter sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya. Tapi akibat


dari peluru  itu, tulang punggung Enzo mengalami patah dan merobek otot punggungnya, sehingga hari ini ia harus


melakukan operasi kedua untuk memulihkan cedera punggung yang dideritanya.

__ADS_1


Tapi, dokter belum bisa mengoperasi Enzo hari ini.” ucap Haejun terlihat frustasi. Yuka langsung menatap Haejun penuh khawatir sambil mengguncang lengan pria itu agar memberitahu semua hal yang disembunyikan darinya.


            “Dokter sedang mencari donor darah untuk Enzo, rumah sakit kekurangan satu kantong darah untuk operasi Enzo hari ini.”


            “Kalau begitu aku saja yang menjadi donor darah untuk Enzo. Aku adalah ibunya, aku pasti memiliki golongan darah yang sama dengan Enzo.” ucap Yuka terburu-buru dengan wajah panik. Namun Haejun langsung menenangkan Yuka dan meminta Yuka untuk duduk di sebelah Enzo terlebihdulu sebelum ia memanggil perawat untuk mengecek darah Yuka.


            “Kau duduklah dan tenangkan pikiranmu. Beberapa saat lagi perawat akan datang untuk mengecek darahmu dan membawa Enzo ke ruang operasi. Yuka, apa yang terjadi selama kau bersama Park Jaejong? Apa yang mereka lakukan padamu selama ini?”


            “Mereka mencuci otakku. Mereka mengubahku menjadi Krystal, putri Park Jaejong yang telah lama mati karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Oppa... aku benar-benar tidak sanggup memikirkan semua kejahatanku selama aku menjadi Krystal. Aku... aku telah melakukan banyak kesalahan, bahkan aku pernah


menembakmu saat di Chicago dan... dan aku pernah menjadi stripper di sana. Ya Tuhan, aku sangat malu oppa. Aku malu dengan diriku yang sangat murahan dan jahat ini.”


            “Sssttt...”


            Haejun membawa Yuka ke dalam pelukannya dan menyuruh Yuka untuk tenang karena sekali lagi semua itu bukan kemauannya. Keadaanlah yang membuat Yuka terpaksa menjadi seorang wanita nakal yang benar-benar jahat seperti monster.


            “Kau tidak boleh terus menerus menyalahkan dirimu. Kau justru harus bangkit dan membalaskan semua rasa marahmu pada Park Jaejong dan...”


            “Park Junhyuk.” jawab Yuka cepat.


            “Ya, bos besar yang merupakan pemimpin mereka selama ini. Kita harus membuat mereka membayar atau semua kesakitan yang menimpa keluarga kecil kita Yoong. Apa kau tahu jika semalam aku terpaksa memulangkan eommonim karena sejak semalam ia terus menangisi Enzo hingga aku merasa khawatir dengan keadaan eommonim. Ia sepertinya mengalami trauma karena ia melihat semua kejadian yang dialami Enzo dengan sangat jelas di depan matanya.”


           “Kejadian kemarin pasti membuat eomma sangat ketakutan, karena eomma pernah kehilangan appa dalam keadaan yang hampir sama dengan Enzo. Tapi yang membuat eomma bisa tetap tegar selama ini karena eomma tidak melihat sendiri bagaimana proses kematian yang terjadi pada appa. Eomma pasti akan sangat membenciku.” ucap Yuka frustasi.


            “Eommonim tidak akan membencimu, kau adalah putrinya. Selama dua tahun ini eommonim begitu terpuruk hingga ia memutuskan untuk tinggal di desa dan meninggalkan Seoul. Tapi sejak beberapa hari yang lalu eommonim memang datang ke Seoul untuk mengunjungi cucunya. Dan jika ia bertemu denganmu nanti, ia pasti akan sangat senang. Eommonim sangat merindukanmu.”


            Yuka tersenyum getir pada Haejun dan beralih pada Enzo sambil mengelus pelan punggung tangan Enzo yang dingin. Lalu semuanya tiba-tiba menjadi hening ketika Yuka memutuskan untuk tidak mengucapkan apapun dan lebih memilih untuk memandangi wajah Enzo lebih lama. Sedangkan Haejun, ia merasa perlu memberikan


kesempatan untuk mengobati kerinduan Yuka pada Enzo. Meskipun saat ini ada banyak hal yang ingin ia lakukan pada Yuka, tapi ia tidak mau mengganggu momen yang terjadi antara ibu dan anak di depannya.


            “Yuka...”


            Tiba-tiba Haejun berseru pelan ketika ia mengingat sesuatu yang ia lupakan sejak dua hari yang lalu. Dan sekarang karena Yuka sudah berada di depannya, maka ia akan menanyakan pertanyaan itu pada Yuka.


            “Oh Sehun, dia masih hidup?”


            “Ya, dia hidup oppa. Kecelakaan itu tidak membunuh Sehun karena ia langsung terjun ke dalam sungai Han dengan cepat sebelum mobil SUV miliknya meledak. Setelah itu ia segera bersembunyi untuk menghindari tim pencarian yang saat itu sedang mencari jasadnya di sekitar sungai Han. Oppa, Sehun adalah pengkhianat.


Seharusnya sejak dulu kita membunuhnya atau menjebloskannya ke penjara karena ia selama ini ia telah menjual banyak informasi pada Park Jaejong dan pamannya yang jahat itu.” ucap Yuka geram.


            “Aku tahu jika ia memang pengkhinat, tapi semuanya telah terlambat. Sekarang kita harus mencari cara untuk menghancurkan Park Jaejong dan seluruh Bloods karena aku sudah muak dengan mereka semua dan menginginkan keluargaku kembali utuh seperti semula. Yuka.. aku sangat merindukanmu. Saat kukira kau sudah pergi meninggalkanku dan Enzo, aku benar-benar terpuruk. Setiap hari rasanya sangat melelahkan karena aku memikulnya sendiri. Dan sekarang melihatmu telah kembali ke sisiku, aku merasa lega. Karena aku tidak akan berjuang sendiri lagi.”


            “Oppa...”


            Yuka menatap wajah Haejun berkaca-kaca sambil mengelus lembut wajah pria itu. Sejujurnya ia juga sangat merindukan Haejun dan keluarga kecilnya. Tapi sayangnya ia tidak bisa kembali pada keluarganya sekarang. Ia harus menyelesaikan pertempurannya hingga Park Jaejong benar-benar kalah.


            “Terimakasih karena kau telah menungguku.” bisik Yuka lirih sambil memajukan wajahnya untuk mencium bibir Haejun. Mereka berduapun akhirnya saling menyalurkan rasa rindu mereka masing-masing dengan saling berbagi ciuman penuh perasaan yang didasari oleh kerinduan dan cinta. Tapi sayangnya semua perasaan itu masih belumlah lengkap karena saat ini Enzo masih terbaring kritis di samping mereka.


            “Sayang, kita pasti bisa melalui ini dengan baik. Sama seperti biasanya.”


            Haejun menutup kalimatnya dengan sebuah kecupan lembut penuh perasaan yang ia sematkan di dahi Yuka. Dan Yukapun hanya mampu menganggukan kepalanya sambil berharap semoga kali ini mereka memang bisa melaluinya dengan lancar, sama seperti dulu.


            “Oppa, tadi aku sempat melihat seorang wanita yang berdiri di sampingmu saat kau berada di ruang tunggu, siapa wanita itu?”


            Haejun mengernyitkan dahinya sejenak sambil menatap Yuka dengan wajah bingung. Namun setelahnya ia dapat mengerti, siapa wanita yang dimaksudkan oleh Yuka beberapa saat yang lalu.


            “Dia adalah Kim Jaekyung, dia yang selama ini membantuku mengurus Enzo saat aku harus menyelesaikan pekerjaanku di markas. Jaekyung, wanita itu sangat baik dan juga selalu membantuku selama kau tidak ada.”


            “Benarkah? Lain kali jika aku bertemu dengannya lagi, aku harus mengucapkan banyak terimakasih padanya karena ia telah menggantikan posisiku selama aku tidak berada di samping kalian.”


            “Ya, tapi tidak ada seorangpun yang menggantikan posisimu di hatiku, kau tetaplah


yang terakhir untukku. Kau selamanya akan menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku.” ucap Haejun lembut. Mereka berdua saling berbagi kebahagiaan satu sama lain tanpa  menghiraukan seseorang yang saat ini sedang mengintip mereka dari balik pintu dengan perasaan hancur dan kecewa. Sekian lama ia bersabar dan terus berusaha agar ia bisa menempati hati Lee Haejun, tapi nyatanya ia tidak pernah bisa mendapatkan Lee Haejun, karena pria itu sampai kapanpun hanya terikat pada Yuka dan tidak pernah mengijinkan wanita manapun untuk masuk ke dalam hatinya.

__ADS_1


            Setelah menangis cukup lama di depan ruang rawat Enzo, Jaekyung memutuskan untuk pergi dari tempat itu agar ia bisa mengobati rasa sakit hatinya yang benar-benar terasa perih. Mungkin sebotol alkohol dapat membuatnya melupakan semua rasa sakitnya dan juga rasa cintanya yang bodoh itu. Hari ini ia akan mabuk sepuasanya dan melupakan pria itu.


__ADS_2