Ignite

Ignite
The Great Escape (Twenty Nine)


__ADS_3

        “Lee Enzo, apa yang kau lakukan di sini? Jika kau memang belum dijemput, lebih baik kau menunggu di dalam.”


            Enzo menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan guru kelasnya sedang menatapnya dengan tatapan khawatir. Bocah kecil itu menggeleng pelan dan bersikeras untuk tetap menunggu ayahnya datang di depan gerbang karena ia tidak mau merepotkan ayahnya yang harus masuk ke dalam sekolah untuk mencarinya jika ia menunggu didalam.


            “Aku akan menunggu daddy di sini, sebentar lagi ia akan datang menjemputku.”


            “Memangnya dimana bibimu yang biasanya menjemputmu?” tanya guru wanita itu penasaran. Enzo kemudian mengingat percakapannya dengan Jaekyung kemarin. Wanita berambut panjang itu kemarin mengatakan padanya jika untuk tiga hari ke depan ia tidak bisa menemani Enzo karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya di luar kota, sehingga untuk sementara waktu ia akan terus di jemput oleh ayahnya dan akan tinggal di rumah bersama neneknya yang kebetulan sedang berada di Seoul.


            “Aunt Jae sedang memiliki pekerjaan di luar kota. Sebentar lagi daddy akan datang, miss Song tidak perlu khawatir.”


            Wanita berambut sebahu itu mengangguk-angguk mengerti dan mengelus puncak kepala Enzo pelan sebelum ia berjalan pergi untuk masuk ke dalam sekolah yang terlihat sudah cukup sepi.


            Setelah guru kelasnya pergi, Enzo kembali melanjutkan kegiatannya dengan melamun sambil menghitungi setiap mobil yang melintas di depannya. Meskipun itu memang konyol, tapi setidaknya menghitungi mobil yang melintas di depannya sedikit mengurangi rasa bosannya karena menunggu sang ayah yang begitu lama. Ia tahu jika ayahnya sangat sibuk, dan ia akan terus menunggu hingga ayahnya menjemput. Pagi ini saat ayahnya datang, ia begitu senang hingga ia ingin langsung diantar oleh ayahnya ke sekolah. Dan untungnya ayahnya langsung mengiyakan keinginannya karena sang ayah rupanya juga cukup merasa bersalah karena sudah beberapa hari


ini meninggalkannya di rumah. Namun sebelum ia masuk ke dalam sekolahnya tadi pagi sang ayah sudah mengatakan padanya jika ia tidak bisa berjanji akan menjemputnya tepat waktu karena ia memiliki begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ia pun mengangguk tidak apa-apa pada sang ayah karena ia cukup mengerti dengan pekerjaan ayahnya yang super sibuk di markas.


            Tiba-tiba Enzo merasa lapar dan haus. Ia pun beranjak berdiri untuk pergi ke mini market yang berada di seberang jalan. Kebetulan jam sekolah sudah selesai sejak satu setengah jam yang lalu, sehingga suasana jalanan di depannya tidak terlalu ramai. Hanya beberapa mobil pribadi yang sesekali melintas di depannya. Ia pun mulai berdiri di pinggir jalan untuk menyeberang. Setelah dirasa jalanan cukup sepi, langkah kakinya yang kecil berjalan perlahan melintasi aspal yang membentang di depannya. Namun tiba-tiba sebuah sedan merah melaju dengan cukup kencang dari arah timur dan membuat Enzo terkejut. Bocah kecil itu refleks menghentikan langkahnya dan mematung di tempat dengan kaki gemetar. Kedua kakinya seperti terpaku di atas aspal dan ia tidak bisa menggerakannya sedikitpun. Dengan pasrah Enzo menutup matanya dan hanya membayangkan wajah ibunya yang telah lama pergi.


Ciiittt


            Samar-samar Enzo mendengar suara decitan ban yang beradu dengan aspal di depannya. Namun kelopak matanya sama sekali tidak berani membuka matanya karena bayangan sedan merah yang akan melindasnya terus berputar-putar di dalam kepalanya hingga membuatnya merasa ngeri dan hanya mampu mematung di tempat sambil menutup mata.


            “Astaga, kau tidak apa-apa nak. Apa kau terluka?”


            Sekumpulan pejalan kaki menggiringnya untuk menepi ke seberang jalan. Seorang ibu muda menyodorkan segelas air pada Enzo untuk menenangkannya yang terlihat syok. Tanpa berkata apa-apa, Enzo langsung menegak air itu hingga tandas dengan nafas yang masih terengah beberapa kali.


            “Permisi, apa ia baik-baik saja?”


            Enzo menurunkan gelas plastiknya dan langsung berhadapan dengan sang pengemudi mobil. Wanita berambut blonde itu menatap Enzo khawatir sambil mengamati tubuhnya untuk memastikan jika Enzo sama sekali tidak terluka. Namun tiba-tiba Enzo melompat dari tempat duduknya dan langsung memeluk wanita itu hingga ia hampir terjengkang ke belakang karena dorongan Enzo yang cukup kuat.


            “Mommy...”


            Semua pejalan kaki yang masih mengerubungi Enzo langsung berbisik-bisik pelan ketika Enzo langsung memeluk erat sang penabrak yang mereka pikir adalah ibu Enzo.


            “Maaf, aku bukan ibumu.”


            “Mommy... Aku merindukanmu.” ucap Enzo lagi tanpa mengindahkan ucapan wanita asing yang dipeluknya. Salah satu ibu muda yang memberikan Enzo segelas air menepuk pundak si penabrak pelan sambil berseru pelan.


            “Kenapa kau tidak mengakui anakmu sendiri, lihat dia sangat ketakutan.”

__ADS_1


            Wanita itu kemudian memutuskan untuk membiarkan Enzo memeluknya sambil menunggu para pejalan kaki itu pergi dari tempatnya berdiri karena ia cukup merasa aneh dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba menghujaninya dengan tatapan sinis karena mereka mengira jika ia adalah ibu jahat yang hampir saja menabrak anaknya dan tidak mengakui anak yang hampir ia tabrak sebagai anaknya.


            “Hey, apa kau baik-baik saja? Aku bukan ibumu, dimana ibumu sekarang? Aku akan mengantarmu pada ibumu.” ucap wanita itu pelan sambil mendorong tubuh Enzo sedikit menjauh agar ia dapat menatap wajah Enzo secara langsung. Sekilas wanita itu menemukan sebuah kerinduan dan kesedihan yang cukup pekat dari mata bocah kecil itu. Tapi ia memilih untuk mengabaikannya karena semua kesedihan yang dirasakan oleh pria kecil itu bukan urusannya.


            “Dimana ibumu? Aku akan mengantarmu pada ibumu.”


            “Kau mirip seperti mommyku. Mommyku sudah meninggal.” ucap Enzo ringan. Wanita itu merasa tertegun dengan ucapan Enzo dengan perasaan ganjil yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa ada sebuah tangan tak kasat mata yang sedang mencubit hatinya lalu meremasnya hingga ia merasakan rasa sakit ketika bocah polos itu mengatakan jika ia tidak memiliki ibu. Dan ngomong-ngomong mengenai ibu, ia juga tidak memilikinya. Jadi mereka sama.


            “Kau tidak pulang?” tanya wanita itu sedikit lembut. Ia memutuskan untuk mengambil tempat di sebelah Enzo sambil menatap bocah kecil itu dengan mata lembutnya. Mata lembut yang seumur hidup belum pernah ia tunjukan pada siapapun. Hanya pada Enzo ia menunjukan sisi lembutnya yang selama ini terkubur dalam di dalam jiwanya.


            “Aku menunggu daddyku. Kupikir kau adalah mommyku, aku sangat merindukannya.”


            Krystal mengelus puncak kepala Enzo lembut. Ia sebenarnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan Enzo. Karena ia tidak berpengalaman dengan anak-anak.


            “Mungkin kami hanya mirip, tapi aku bukan ibumu. Apa kau terluka?”


            Enzo menggeleng pelan sambil menatap tangan dan kakinya yang masih terlihat baik-baik saja, tanpa lecet sedikitpun.


            “Aku baik-baik saja. Mobilmu tidak sempat menabrakku. Ahh, itu mobil daddyku, aku harus pergi.”


            Enzo berseru keras ketika ia melihat mobil sang ayah yang sedang merayap pelan di depan pintu gerbang sekolahnya. Bocah laki-laki itu kemudian berlari cepat sambil melambaikan tangannya pada Krystal untuk menghampiri sang ayah yang telah menunggunya di dalam mobil.


            Krystal tersenyum kecil melihat kepergian Enzo yang telah berlari kencang ke seberang jalan untuk menghampiri mobil ayahnya yang telah terparkir rapi di sana. Sejenak Krystal merasa ingin memiliki seorang anak yang akan meramaikan kehidupannya yang sepi dan membosankan. Tapi kemudian ia segera membuang jauh-jauh pikiran sesaatnya mengenai seorang anak karena ia jelas tidak pantas untuk mendapatkannya. Kehidupan gelap yang telah ia jalani selama ini terlalu beresiko jika ia memiliki seorang anak. Jika ia memiliki seorang anak, ia


justru akan dipusingkan dengan masalah keselamatan anaknya yang tidak akan pernah mendapatkan kehidupan tenang tanpa kekerasan karena selama ini ia selalu dikelilingi oleh suasana hitam itu. Suasana hitam yang berisi dendam, kemarahan, dan kematian.


            “Huh, aku memang konyol.”


            Krystal tersenyum getir pada dirinya sendiri sambil memasang kacamata hitamnya kembali untuk menyamarkan wajahnya dari orang-orang yang mungkin sedang mengincarnya.


-00-


            “Enzo darimana saja kau? Daddy mencarimu.”


            Haejun berjalan cepat kearah Enzo sambil menatap Enzo penuh kekhawatiran karena ia baru saja masuk ke dalam sekolah putranya namun tidak mendapati sang putra berada di dalam halaman sekolahnya. Namun setelah menemukan Enzo dalam keadaan baik-baik saja, kekhawatiran itu perlahan-lahan memudar, digantikan dengan perasaan lega yang tiba-tiba membuncah di dalam hatinya. Sejak tadi ia terus membayangkan berbagai kejadian buruk karena bagaimanapun nyawa Enzo selalu dalam bahaya sejak berita mengenai pernikahannya dan kematiaan Yuka terkuak ke media.


            “Enzo hanya membeli minum di depan sana, Enzo juga bertemu dengan...”


            Enzo menolehkan kepalanya ke belakang, namun ia tak menemukan mobil wanita yang bewajah mirip dengan ibunya. Dengan sedikit kebingungan ia menoleh kesana kemari untuk mencari dimana keberadaan mobil itu. Tapi sayangnya mobil itu sudah benar-benar pergi dari sana.

__ADS_1


            “Siapa? Siapa yang kau temui?”


            “Seseorang yang mirip dengan mommy, tapi sepertinya ia sudah pergi. Ayo kita pulang dad.” Ajak Enzo dengan wajah lesu sambil berjalan pelan menuju mobil ayahnya. Haejun mengernyit kearah Enzo sambil menatap seluruh sudut mini market yang terlihat sepi.


            “Kau pasti merindukan mommymu, ayo kita pergi melihat mommy di pemakaman.”


            Enzo langsung mengangguk antusias sambil berseru keras.


            “Ayooo.. Aku ingin bertemu mommy.” Teriak bocah kecil itu girang. Haejun tersenyum kecil melihat tingkah Enzo yang begitu bersemangat. Tak terasa kini Enzo telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia enam tahun yang telah meninggalkan taman kanak-kanaknya. Betapa waktu berjalan begitu cepat setelah Yuka pergi


meninggalkan mereka. Namun hidup harus tetap berlanjut. Ia harus tetap membesarkan Enzo dengan penuh semangat agar kelak ia menjadi anak yang dapat membanggakannya dan juga Yuka. Bagaimanapun Enzo adalah malaikat kecil mereka yang membawa seribu harapan yang ingin mereka wujudkan di masa depan. Meskipun sekarang Yuka telah pergi meninggalkannya, namun ia tetap harus mewujudkan semua harapan-harapan itu hingga nanti ia sudah tidak bisa mewujudkannya dan pergi meninggalkan dunia.


            “Dad, apa nanti malam kau akan menginap di markas?”


            Haejun menganggukan kepalanya sambil sesekali menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap wajah Enzo.


            “Daddy memiliki banyak pekerjaan di markas. Ada apa?”


            “Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya merindukan daddy. Kapan kita bisa bermain bersama seperti dulu? Aku ingin bertanding game dengan daddy lagi.”


            Haejun mengacak rambut anaknya beberapa kali sambil terkekeh pelan.


            “Jadi itu maksudmu menanyakan hal itu pada daddy, tunggulah sebentar. Besok kita akan bertanding game seharian di rumah.” ucap Haejun bersungguh-sungguh. Enzo berseru girang sambil mengangkat kedua tangannya di atas. Rupanya bocah laki-laki itu benar-benar merindukan ayahnya hingga rencana untuk bertanding game seharian di rumah membuatnya begitu senang bukan main.


            “Aku benar-benar tidak sabar untuk mengalahkan daddy dalam semua permainan yang akan kita mainkan besok karena selama ini aku selalu berhasil mengalahkan aunty Jae.” ucap Enzo terdengar puas. Haejun menggelengkan kepalanya pelan dengan tingakah Enzo yang terkadang terlihat begitu puas ketika ia berhasil membuat Jaekyung berteriak-teriak marah karena ulah bocah itu.


            “Jangan suka mengganggu aunt Jae, mengalahlah padanya.”


            “Tapi aku suka melihat aunty Jae saat berteriak, ia terlihat lucu.” ucap Enzo sambil terkikik geli membayangkan wajah garang atau wajah kesal Jaekyung ketika ia menggodanya di rumah. Ia akui sebenarnya Jaekyung adalah wanita yang baik dan juga penyayang, namun terkadang ia sedikit berisik dan terlalu mencampuri urusannya, membuatnya merasa risih jika wanita itu sudah berkeliaran di sekitarnya.


            “Ayo turun, ayo kita bertemu mommy.”


            Enzo melepas sabuk pengamannya buru-buru ketika mobil yang dikemudikan ayahnya telah terparkir sempurna di dalam sebuah pemakaman umum yang terlihat sepi. Dengan lincah, Enzo berjalan melewati jejeran batu nisan yang terhampar di sekitarnya untuk mencapai makam milik ibunya yang berada di ujung jalan setapak yang dilewatinya.


            “Mommy, aku datang. Apa kabar?” ucap Enzo ringan pada makam ibunya sambil mengelusnya pelan. Bocah kecil itu kemudian membersihkan makam ibunya dari rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu nisan yang bertuliskan nama Im Yuka di atasnya.


            “Yuka, aku datang bersama Enzo. Kami merindukanmu.”


            Mereka berdua berjongkok di depan makam Yuka dan mendoakan wanita yang sangat berarti bagi hidup mereka dengan khidmat. Haejun mengatupkan kedua tanganya sambil memejamkan matanya rapat di depan makam Yuka. Di dalam doanya ia berharap semua Yuka selalu bahagia di atas sana dan hidup tenang sambil menunggunya yang suatu saat juga akan menyusulnya untuk pergi meninggalkan hiruk pikuk kehidupan di dunia yang tidak ada habisnya.

__ADS_1


            “Mommy, aku sangat sangat merindukanmu. Hiduplah dengan baik di atas, sampai jumpa. Aku akan datang lagi untuk mengunjungimu bersama daddy lain waktu.” janji Enzo sambil mengelus nisan milik Yuka sekali lagi sebelum ia beranjak berdiri dan mengikuti langkah Haejun yang sedang berjalan di depannya untuk meninggalkan area pemakaman. Pasangan ayah dan anak itu kemudian masuk ke dalam mobil hitam yang dikendarai Haejun dalam diam dengan berbagai emosi yang membuncah di hatinya karena mereka sama-sama merasakan kerinduan yang mendalam pada Yuka.


__ADS_2