Ignite

Ignite
Dark Atmosphere (Twenty Two)


__ADS_3

Yeri, Sehun, Lay, Minzi, dan Myungso langsung berdiri sigap ketika Haejun masuk ke dalam ruangan mereka dengan wajah datar dan terlihat terburu-buru. Mereka semua tampak begitu penasaran dengan hasil rapat yang dilakukan oleh para dewan jenderal, tapi mereka takut untuk menanyakannya karena ekspresi wajah Haejun yang benar-benar tidak bersahabat.


            “Bersiaplah, kita akan menangkap Park Jaejong.” ucap Haejun tegas. Kelima agent tersebut saling bertatapan satu sama lain, dan ketika Haejun kembali membentak mereka, mereka langsung kalang kabut kesana kemari untuk mempersiapkan diri.


            “Apa yang akam kita lakukan kapten, apa yang perlu kita bawa?” tanya Myungso mewakili rekan-rekannya. Haejun berdecak kesal dengan kinerja anak buahnya yang menjadi sangat lambat, padahal ia baru meninggalkan mereka selama satu minggu.


            “Bawa apapun yang menurut kalian berguna, karena kita akan menyergap Park Jaejong di bandara. Dan firasatku mengatakan jika itu tidak akan mudah karena ia akan memiliki banyak pengawal yang melindunginya.”


            Mereka berlima kemudian langsung mempersiapkan senjata mereka masinh-masing guna mengantisipasi adanya baku tembak. Haejun sendiri setelah mengatakan hal itu langsung berlari ke mobilnya tanpa mempedulikan anak buahnya yang lambat karena ia hanya ingin segera menyeret Park Jaejong ke markas untuk diintrogasi. Ia yakin jika selama ini Park Jaejong adalah kunci yang akan membawanya ke dalam sindikat mafia Korea dan untuk mengungkapkan berbagai kecurangan yang dilakukan oleh para menteri selama ini.


            Lima belas menit kemudian Haejun telah tiba di bandara Incheon untuk menyergap Park Jaejong. Lima menit yang lalu rekannya mengatakan jika saat ini Park Jaejong sedang berada di gerbang keberangkatan, dan pria itu tampak marah karena ia tidak dibiarkan pergi tanpa sebuah alasan yang jelas.


            “Park Jaejong ssi, apa kabar?”


            Pria pertengahan empat puluh itu menoleh cepat kearah Haejun dan ia langsung melemparkan tatapan tajamnya pada Haejun. Ia yang semula sedang berdebat dengan petugas bandara langsung berjalan cepat menghampiri Haejun sambil mengepalkan buku-buku tangannya hingga memutih.


            “Apa yang kau lakukan di sini kapten Lee?” tanya Park Jaejong dengan nada mencemooh. Seluruh pengawalnya yang berada tak jauh darinya langsung terlihat bersiaga ketika mereka melihat sebuah pistol yang terselip dibalik ikat pinggang Haejun. Namun Park Jaejong menyuruh mereka agar tetap tenang karena Haejun tidak akan mungkin melakukan penyerangan di tempat terbuka.


            “Aku ingin menjemputmu tuan Park Jaejong ssi yang terhormat. Kau terlibat kasus penyelundupan barang-barang ilegal di China dan kau juga telah membunuh salah satu agent kami.”


            “Hahaha... Untuk masalah penyelundupan itu memang benar, karena kau telah melihat semuanya beberapa minggu terakhir ini. Tapi mengenai membunuh salah satu agentmu? Sepertinya aku tidak melakukannya? Tapi beberapa saat yang lalu aku memang telah memerintahkan anak buahku untuk  mengambil apa yang berharga darimu sebagai balasan atas tindakanmu yang mengganggu bisnisku. Apa isterimu adalah salah satu agent di markasmu? Ckckckck, kudengar peraturan di markas intel negara sangat ketat, apa kau telah melanggar salah satu peraturannya?” tanya Park Jaejong dengan nada santai dan terkesan mencemooh. Haejun mengepalkan tangannya marah sambil bersiap menarik pistolnya untuk membunuh Park Jaejong. Persetan dengan posisinya yang sedang berada di tempat umum, ia yakin anak buahnya telah mengamankan tempat ini sekarang.


            “Kau membunuh isteriku keparat!” desis Haejun penuh ancaman. Park Jaejong kembali tertawa sinis sambil memasukan kedua tangannya di dalam saku celananya dengan angkuh.


            “Ohh... Kurasa semua itu juga karena rasa ingin tahu isterimu yang besar. Menurut kesaksian anak buahku, agentmu yang bernama Im Yuka dengan nekat masuk ke dalam gudang penyimpananku dan mencuri dengar semua informasi yang tidak seharusnya didengarnya. Jadi, selain karena kesalahanmu, nyawanya melayang karena ia terlalu mencampuri urusanku. Ia berhak mendapatkan hukuman itu kapten Lee. Dan apa kau tahu jika anak buahku sempat mencicipi tubuhnya sebelum ia mati ditembak dan terbakar di dalam gudang itu? Justru sebenarnya aku menyelamatkanmu kapten Lee, karena kau pasti akan merasa jijik pada isterimu setelah ia diperkosa oleh semua anak buahku.”


            Haejun memejamkan matanya sambil membayangkan wajah Yuka yang mungkin saat itu sedang ketakutan karena anak buah Park Jaejong. Ia kemudian membuka matanya nyalang kearah Park Jaejong dan menodongkan pistol semi otomatisnya tepat di kepala Park Jaejong, bersiap untuk membunuh pria licik itu sekarang juga.


Cklek


Suara slot peluru yang ditarik oleh Haejun membuat seluruh anak buah Park Jaejong mengarahkan pistol mereka kearah Haejun. Kini Haejun tengah dikepung oleh puluhan anak buah Park Jaejong yang sedang menodongkan pistol kearahnya. Namun ia tidak peduli, saat ini yang bersarang di dalam hatinya adalah kesesakan karena ia memikirkan Yuka. Tak bisa ia bayangkan bagaimana menderitanya Yuka di detik-detik terakhir kematianya. Dan jika Yuka selamat, ia sendiri juga tidak akan tahu bagaimana sikap Yuka karena mungkin saja wanita itu akan mengalami guncangan mental yang sangat hebat.


            “Kau akan mati di tanganku Park Jaejong.”


Dorr


Sebuah peluru melesat kearah Park Jaejong dan menembus lengan kiri Park Jaejong hingga jas hitam yang dikenakan Park Jaejong kini terlihat sudah berubah warna karena rembesan darah yang keluar dari lengannya. Dan setelah itu suara tembakan yang saling bersahut-sahutan semakin menambah riuh suasana bandara yang sebelumnya hening karena telah dikosongkan oleh anak buah Haejun.


Dorr dorr


Haejun bersembunyi dibalik  pilar sambil mengamati Park Jaejong yang tengah menahan sakit sambil dikelilingi anak buahnya. Dilihatnya Minzi, Lay, Sehun dan yang lainnya tengah berusaha untuk menjatuhkan anak buah Park Jaejong yang juga melawan mereka. Ia pun kembali fokus pada Park Jaejong karena targetnya saat ini memang hanya Park Jaejong. Ia sengaja tidak membunuh Park Jaejong sekarang karena ia akan berguna untuk membongkar identitas bos besarnya. Dan bagaimanapun caranya ia harus menerobos pertahanan para pengawal itu agar ia dapat menyeret Park Jaejong ke markasnya untuk diintrogasi.


Dor dor


Haejun berhasil menjatuhkan dua anak buah Park Jaejong yang semula berdiri di depan Park Jaejong. Kini penjagaan pria itu semakin lemah karena satu persatu anak buahnya berhasil dijatuhkan oleh tim intelnya. Haejunpun memutuskan untuk sedikit mendekati posisi Park Jaejong yang berada tak jauh darinya. Ia hanya perlu menyingkirkan tiga anak buah lagi, dan setelah itu ia akan mendapatkan Park Jaejong.


            “Awas!! Cepat lindungi aku.”


            Samar-samar Haejun mendengar suara Park Jaejong yang berubah panik ketika anak buahnya semakin banyak yang berguguran di depannya. Sedangkan Haejun tampak begitu puas saat melihat ekspresi ketakutan Park Jaejong karena hal itulah yang diharapkannya sejak tadi. Bahkan ia juga menunggu saat-saat Park Jaejong berlutut di kakinya sambil memohon ampun.


Dorr


Tiba-tiba sebuah peluru melesat kearah Haejun dan membuat pria itu jatuh terduduk seketika sambil memegangi perut kananya yang baru saja tertembak. Namun sekuat tenaga Haejun tetap berdiri meskipun saat ini darah sedang menguncur dari perutnya dan membasahi lantai yang sedang dipijaknya.


            “Keparat kalian semua!!”


Dor dor dorr dorr


Haejun menembakan pelurunya ke berbagai arah seperti orang kesetanan tanpa peduli jika pelurunya akan membunuh orang-orang yang mungkin tidak bersalah. Tapi untungnya Haejun menembak dengan tepat, sehingga hanya orang-orang dari pihak Park Jaejong yang mati karena tembakannya yang membabi buta. Setelah itu Haejun langsung mendekati Park Jaejong dengan langkah terseok-seok karena pria itu telah kalah. Ia berhasil menjatuhkan semua anak buahnya dan menyisakan Park Jaejong sendiri untuk diintrogasi di markasnya.


            “Kali ini kau tidak kubiarkan mati karena kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Jadi ingatlah baik-baik jika kau hidup bukan karena kau berhak untuk hidup, tapi karena aku membiarkanmu tetap hidup.” desis Haejun mengerikan sambil mencengkeram kerah kemeja Park Jaejong kuat. Lay dan Minzi langsung


berlari-lari kearah Haejun untuk membawa kaptennya itu ke rumah sakit karena lantai yang dipijaki kaptennya saat ini telah dipenuhi oleh darah yang keluar dari perut Haejun. Mungkin karena kemarahannya, Haejun tidak sadar akan luka tembak yang telah melubangi perutnya. Tapi jika dibiarkan, maka Haejun akan mati karena kehabisan darah.


            “Kapten, kita ke rumah sakit sekarang!”


            Haejun sedikit meluruh ke lantai setelah ia merasakan rasa sakit yang begitu menyengat di perut bagian kanannya. Ia lalu menggunakan tangannya untuk menekan luka itu lebih kuat agar darahnya tidak terus keluar dan membuatnya mati kehabisan darah.


            “Argghh... bawa Park Jaejong ke markas, jangan sampai ia melarikan diri.”


            “Kapten!”


            Yeri tiba-tiba muncul dengan wajah pucat pasi yang begitu mengerikan. Sehun yang berada di belakangnya tampak heran dengan raut wajah Yeri yang terlihat begitu pucat hanya karena melihat kaptennya berdarah-darah. Padahal mereka sudah pernah melihat hal yang lebih mengerikan dari sekedar perut Haejun yang berlubang.


            “Lay, kau dan Yeri bawa kapten ke rumah sakit, aku akan membawa Park Jaejong bersama yang lainnya ke markas.” Ucap Sehun memberi perintah.


            “Tidak! Lay, kau yang membawa Park Jaejong ke markas, Sehun dan aku yang akan membawa kapten Lee ke rumah sakit. Ia tahu jalan pintas terdekat menuju rumah sakit.” ucap Yeri cepat pada Lay. Sehun dan Yeri sempat bertatapan cukup lama, sebelum mereka mengakhiri kontak mata mereka karena suara erangan Haejun.


            “Aku


membutuhkan dokter sekarang!”

__ADS_1


            Sehun dan Yeri degan sigap langsung memapah tubuh Haejun menuju mobil mereka. Sedangkan Minzi, Lay, dan Myungso langsung menyeret Park Jaejong yang saat ini tengah terborgol sambil berjalan terseok-seok karena menahan perih di lengannya.


            Untuk saat ini mereka telah berhasil menangkap Park Jaejong dan mereka berharap jika kasus mafia itu segera terungkap setelah mereka mengintrogasi Park Jaejong untuk mendapatkan nama-nama yang berdiri di belakang organisasi itu.


-00-


2 Jam sebelumnya~


“Bagaimana keadaanya?”


            “Sejauh ini denyut jantungnya stabil. Tapi ia harus segera mendapatkan tindakan medis lebih lanjut untuk memulihkan kondisinya.”


            “Bawa dia ke Amerika. Menurutnya gadis itu bisa menjadi pion yang sangat berguna.”


            Seorang pria yang menggunakan seragam putih langsung mengangguk patuh dan segera pergi untuk menyiapkan alat-alat yang akan dibutuhkannya selama menempuh perjalanan dari Korea menuju Amerika.


            Sementara itu Park Jaejong tampak begitu serius memperhatikan wajah seorang wanita yang


entah mengapa telah berhasil membuat perasaanya menjadi campur aduk.


            “Krystal Park, jangan pernah kecewakan ayahmu.” desis Park Jaejong pelan di depan wajah krystal yang tampak damai dengan berbagai alat-alat penunjang kehidupan yang terpasang di seluruh tubuhnya.


            “Tuan, intel-intel itu sudah mengendus pergerakan kita. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


            Seorang pria berwajah sangar masuk ke dalam ruangan Park Jaejong dengan terburu-buru. Park Jaejong tampak berpikir sejenak sambil menatap tubuh kaku krystal lama. Mereka tidak boleh mengetahui rencananya yang akan memindahkan putrinya ke Amerika. Dan sekarang sudah saatnya ia keluar dari sangkar emasnya.


            “Kita ke bandara sekarang. Aku akan menyerahkan diriku.” ucap Park Jaejong santai. Pria berwajah sangar yang sedang berdiri di depan bosnya langsung mengangkat kepalanya bingung dengan ekspresi terkejut yang tercetak jelas di wajahnya. Namun Park Jaejong dengan santai langsung berjalan kearahnya sambil menepuk bahu pria itu pelan.


            “Jangan pernah menoleh ke belakang. Saat kau memiliki kesempatan, segera bawa pergi putriku sejauh-jauhnya dari Korea. Dan suatu saat kau harus mengatakan padanya untuk menjemputku.”


            Setelah mengucapkan hal itu Park Jaejong langsung berjalan pergi meninggalkan kamar Krystal untuk segera berangkat menuju bandara. Hari ini ia akan mengorbankan dirinya untuk sebuah masa depan yang lebih baik. Dan demi kejayaan bisnis keluarganya yang sangat berharga.


-00-


            Haejun terbaring lemah di kamar rumah sakit setelah dokter berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di perut bagian kanannya. Peluru itu nyaris merobek dinding ginjalnya. Beruntung karena ia sering berolahraga untuk memperbesar otot-otot di tubuhnya, sehingga peluru itu hanya berhasil menembus lapisan ototnya saja.


            “Ck, aku bosan.”


            Haejun mendengus kesal pada dirinya sendiri karena tidak ada siapapun yang menemaninya setelah melakukan operasi. Padahal dulu... hah, dia sekarang mulai bosan mengingat masa lalunya. Sekarang yang ada hanya dirinya dan Enzo, selebihnya, ia hanya sendirian. Dan semenjak Yuka pergi, ia menjadi sadar apa  ituarti kehidupan, ia sadar jika semua manusia yang hidup ini nantinya akan mati. Jadi tidak ada alasan untuknya terus


menangisi Yuka, ia harus bangkit untuk melanjutkan hidup sebelum ia juga akan menyusul Yuka menemui Tuhan.



            Haejun memejamkan matanya rapat-rapat sambil menggenggam foto Yuka yang selama ini selalu ini selalu berada di dalam dompetnya karena ia tidak mungkin akan memasangnya di atas meja kerjanya. Tapi mungkin sekarang ia bisa  melakukannya. Setelah Yuka pergi, tak ada sandiwara yang perlu dimainkan lagi.


            “Aku tidak bisa terus menerus berada di sini seperti orang cacat, aku harus kembali ke markas untuk mengintrogasi Park Jaejong keparat itu.”


Srek


Haejun mencabut jarum infus yang menempel di punggung tangannya. Kemudian ia segera mencari bajunya yang berada di lemari di sebelah blangkarnya. Sambil sedikit merintih kesakitan, Haejun segera memakai semua kemejanya dengan lengkap dan bergegas untuk pergi ke markas. Persetan dengan larangan dokter yang tidak mengijinkannya untuk terlalu banyak bergerak, karena ia masih memiliki banyak tugas yang harus ia selesaikan.


-00-


            Yeri berjalan pelan di dalam lorong markas sambil memikirkan semua kejadian yang terjadi hari ini. Sekelebat ingatan ketika sang kapten tumbang karena terkena timah panas yang menembus perutnya kembali


terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Ia sebenarnya ingin tidak mempercayai indera penglihatannya, tapi apa yang ia lihat hari ini benar-benar nyata. Ia melihat Sehun menembakan peluru itu pada Haejun. Tapi sungguh ia sangat


berharap jika sebenarnya Sehun hanya salah sasaran. Ia takut jika sebenarnya Sehun adalah mata-mata lain yang dimaksudkan Jaeshin.


            “Yeri.”


            Yeri terlonjak kaget sambil menatap Sehun horor. Baru saja ia memikirkan pria itu, dan sekarang pria itu sudah berada di depannya dan sedang menatapnya dengan tatapan bingung dan juga khawatir.


            “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.” komentar Sehun sambil mengamati wajah Yeri dari dekat. Yeri menghalau wajah Sehun yang tepat berada di depannya sambil berdecak kesal.


            “Aku tidak apa-apa, jangan ganggu aku.”


            “Tapi kau sepertinya sedang tidak baik-baik saja, apa kau ingin kuantarkan ke dokter?”


            Yeri menatap Sehun dalam dan langsung menarik tangan Sehun menuju sudut lorong yang terlihat sepi. Wanita itu menatap Sehun sungguh-sungguh, sedangkan Sehun tampak geli dengan ekspresi Yeri yang tidak seperti biasanya.


            “Apa kau sedang ingin meniru adegan di dalam drama? Seorang wanita yang menarik tangan prianya kearah dinding, lalu menciumnya. Apa kau ingin melakukan hal seperti itu padaku?”


            “Tutup mulutmu Oh Sehun, aku sedang tidak ingin bercanda denganmu. Katakan padaku apa kau yang menembak kapten Lee?”


            Sehun tertawa keras dengan tuduhan Yeri yang menurutnya tak masuk akal itu.


            “Apa aku terlihat sejahat itu? Untuk apa aku menembak kapten Lee, jangan konyol Kim Yeri.” ucap Sehun meremehkan. Yeri mendorong dada Sehun ke dinding sambil mencengkeram kerah kemeja Sehun erat. Ia harus membuat Sehun terpojok agar pria itu mau mengakuinya.


            “Aku tahu semuanya Oh Sehun, kau...”

__ADS_1


            “Apa yang kau ketahui Kim Yeri?”


            Tiba-tiba Haejun muncul di belakang mereka sambil menatap bingung pada dua orang manusia yang sedang berdiri di sudut lorong yang begitu sepi seperti itu.


            “Kkkapten? Apa yang kapten lakukan di sini? Bukankah kapten sedang sakit?”


            “Itu tidak penting Kim Yeri, apa yang kalian sembunyikan dariku?”


            Haejun menatap kedua manusia itu penuh selidik, namun tidak ada diantara mereka yang ingin angkat bicara.


            “Aaaku.. aku tahu jika Oh Sehun mencintai senior Im kapten, ttadi aku membaca buku hariannya.”


            Sehun membulatkan matanya tak percaya sambil menatap Yeri sebal. Bisa-bisanya wanita itu mengarang cerita yang sangat menggelikan seperti itu. Setelah ini harga dirinya sebagai pria sejati pasti akan rusak karena bualan Yeri.


            “Hmm, kau mencintai isteriku, itu hakmu. Aku tidak berhak melarangnya.”


            Setelah mengucapkan hal itu Haejun segera berlalu pergi dari hadapan mereka berdua sambil berjalan tertatih- tatih menahan rasa nyeri yang menjalar disekitar perutnya. Mungkin setelah ini ia harus menyuntikan sedikit obat penghilang rasa sakit, atau morfin untuk mengurangi siksaan fisik yang menyakitkan itu.


            “Dengar, aku akan membongkar rahasiamu Oh Sehun. Aku akan mengungkapkan kebusukanmu apakah kau pengkhianat itu atau bukan.” Bisik Yeri penuh peringatan sebelum meninggalkan Sehun sendiri dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.


            “Aku bukan pengkhianat. Dan kau tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sesungguhnya atas dugaanmu itu Kim Yeri ssi.” desis Sehun marah sambil memandang kepergian Yeri yang telah menghilang dibalik lift.


-00-


            Di dalam sebuah klub yang berisik, seorang pria tua dengan dua orang wanita di kanan dan kirinya tengah menyesap whiskeynya santai sambil menikmati setiap stripes yang menjajakan tubuh mereka di depannya. Pria itu sesekali mencium pipi wanita muda di sebelah kananya sambil membelai paha wanita itu dengan gerakan seduktif. Malam ini ia sedang menikmati kemenangannya karena ia telah berhasil menjebak para intel itu dan membuat mereka mengira jika Park Jaejong akan berguna untuk mereka. Padahal sejak awal Park Jaejong adalah umpan. Pria itu meskipun telah ditangkap oleh Haejun dan anak buahnya, ia tidak akan memberikan jawaban apapun karena ini memang bagian dari rencana mereka. Pria itu sengaja menggunakan keponakannya untuk mengecoh para intel itu, sedangkan ia akan terus bergerak dengan bisnis ilegalnya yang akan semakin berkembang pesat.


            “Mari kita rayakan kemenangan kita.”


            Pria tua itu mengangkat gelas whiskeynya tinggi-tinggi sambil bersulang dengan para rekan-rekannya yang selama ini juga telah bersembunyi dibalik kekuasaanya yang begitu besar.


            “Keponakanmu sudah menjadi tahanan negara, lalu apa yang akan kau lakukan padanya untuk membebaskan Jaejong? Kau tidak mungkin akan menahannya bersama para intel itu bukan?”


            “Hahaha... untuk saat ini aku akan membiarkan Jaejong berada di penjara itu bersama dengan para intel busuk yang selalu mengganggu bisnisku. Lagipula di sana aku sudah menempatkan orang-orangku untuk mengawasinya, sehingga ia akan tetap baik-baik saja meskipun berada di area musuh. Lagipula aku ingin mengetes kekuatan putrinya. Jika ia sudah sadar nantinya, aku akan menggunakannya sebagai pionku.”


            Pria itu menyulut sebatang cerutu dan menghembuskan asapnya dengan gaya ponggah yang terlihat begitu berkuasa.


            “Tapi siapa yang akan menjaga wanita itu di Amerika?”


            “Dia sudah memiliki Yunho, pria itu yang akan menjadi pengawal dan juga pelindung hingga wanita itu siap digunakan, cucuku, Krystal Park.”


 -00-


            Jaekyung berlari-lari heboh sambil menggandeng tangan Enzo menyusuri lorong-lorong yang berada di markas. Setelah ia menghubungi Haejun dan pria itu mengatakan jika ia sedang terluka, Jaekyung dengan panik langsung pergi menyusul Haejun ke markas bersama Enzo yang tampak tidak mengerti dengan perubahan sikap Jaekyung yang semakin bar-bar itu.


            “Lee Haejun!! Apa kau baik-baik saja?”


            Haejun menatap Jaekyung datar dan kembali menekuni berkas-berkasnya yang berserakan di atas meja. Ketika Enzo datang menghampirinya dan meminta untuk duduk di atas pangkuan Haejun, Haejun langsung mengangkatnya sambil mengelus puncak kepala Enzo pelan.


            “Hey, apa yang kau lakukan hari ini di rumah? Apa semuanya baik-baik saja?”


            “Hari ini aku memasak pancake bersama aunty Jae, tapi masakannya tidak seenak mommy.” Bisik Enzo pelan di telinga Haejun. Rasanya Haejun ingin tertawa dan mengejek Jaekyung. Tapi mengingat kebaikan wanita itu yang sudah mau membantunya untuk menjaga Enzo, rasanya itu tidak pantas untuk dilakukan.


            “Mungkin lain kali aunty Jae akan melakukannya dengan lebih baik.”


            “Apa? Kalian sedang membicarakanku?” Tanya Jaekyung kesal sambil berkacak pinggang. Sungguh hari ini merasa sangat lelah karena ini adalah pengalaman pertamanya menjaga seorang anak kecil. Dan ia tidak tahu jika Enzo adalah tipe anak kecil yang begitu kritis akan hal-hal kecil hingga membuatnya lelah karena harus menjawab berbagai macam pertanyaan Enzo yang tidak ada habisnya.


            “Terimakasih, kau telah menjaga Enzo hari ini.”


            Jaekyung tersenyum lembut pada Haejun sambil menganggukan kepalanya pelan. Akhirnya pengorbananya hari ini untuk menjaga Enzo tidak sia-sia karena ia mendapatkan sebuah ucapan terimakasih yang begitu tulus dari Haejun. Dan baginya ucapan terimakasih yang keluar dari bibir Haejun adalah sebuah keajaiban yang mungkin tidak akan didengarnya di lain waktu.


            “Oya, apa kau baik-baik saja? Kudengar hari ini kau terluka karena menyergap seorang mafia. Aku sangat panik dan juga khawatir saat menerima panggilan darimu.”


            “Daddy tertembak?"


            Enzo terlihat khawatir sambil meneliti tubuh daddynya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sepertinya kematian Yuka membuat pria kecil itu mengalami trauma. Terbukti saat ini ia begitu ketakutan dan seakan-akan ia akan kehilangan daddynya sebentar lagi.


            “Jangan pergi, jangan tinggalkan Enzo.”


            “Daddy baik-baik saja. Hey, tidak ada yang perlu kau takutkan. Daddy akan tetap di sini bersama Enzo. Jangan cengeng, jangan tunjukan kelemahanmu di hadapan orang lain, terutama wanita.”


            Haejun mengingatkan ajarannya selama ini pada Enzo bahawa seorang pria harus selalu bersikap jantan dan tangguh, apapun yang terjadi.


            “Syukurlah jika kau baik-baik saja. Eee... apa kalian ingin makan? Aku akan....”


            “Jangan pernah memasak makanan apapun, karena masakan aunty Jae tidak enak.”


            Haejun tertawa terbahak-bahak mengejek Jaekyung yang saat ini sedang mengerucutkan bibirnya lucu karena tersinggung dengan tawa Dongha eyang mengejek. Tapi seketika ia merasa bersyukur dengan ketololannya dalam hal memasak, karena berkat kebodohannya itu, sekarang ia bisa melihat tawa lepas Haejun yang benar-benar lepas. Dan ini adalah tawa pertama Haejun setelah Yuka meninggalkannya.


            “Lebih baik kita mencari restoran terdekat dan makan bersama. Aku tidak mau mengambil resiko keracunan karena makananmu Jae.”


            Jaekyung hanya mengangguk pasrah sambil berjalan mengekori Haejun dan Enzo yang sudah

__ADS_1


berjalan mendahuluinya sambil terkikik kecil entah karena apa. Tapi yang jelas saat ini wanita itu bersyukur karena ia dapat melihat senyum Haejun lagi setelah apa yang terjadi pada pria itu akhir-akhir ini.


__ADS_2