Ignite

Ignite
Little Enzo (Four)


__ADS_3

Flashback


            Haejun sedang berjalan sendiri di koridor markas sambil membaca daftar nama-nama yang hari ini akan ikut di dalam kelas perakitan bomnya. Sesekali pria itu membolak-balikan kertas itu dengan dahi berkerut, dan itu cukup membuat aneh Yuka yang kebetulan sedang berjalan berlainan arah dengan Haejun.


            “Im Yuka.”


            Yuka menghentikan langkahnya malas ketika pelatihnya itu tiba-tiba memanggilnya. Padahal beberapa saat yang lalu ia sudah cukup bahagia ketika Haejun tampak asik dengan kertasnya dan sama sekali tidak memperhatikannya, namun tiba-tiba pria itu memanggilnya dan membuat mood positifnya hancur karena mentornya itu.


            “Ya kapten, anda memanggil saya.”


            Yuka mulai berbalik dan menunjukan sikap formalnya pada Haejun. Sembari menunggu Haejun melanjutkan kata-katanya, Yuka mulai berdoa dalam hati semoga Haejun kali ini tidak membebaninya tugas berat seperti minggu lalu hingga nyaris membuat kepalanya pecah karena ia begitu kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh Haejun.


            “Kau sudah mengerjakan tugas yang kuberikan padamu minggu lalu?”


            Tiba-tiba Yuka merasa menyesal karena ia harus melewati jalan yang sama dengan Haejun. Seharusnya tadi ia menerima ajakan Jaeho untuk makan di kafetaria, tapi ia justru menolaknya dengan harapan agar ia bisa sedikit mengistirahatkan matanya karena akhir-akhir ini jam tidurnya sedikit terganggu karena tugas-tugas yang


diberikan oleh Lee Haejun.


            “Tuu.. gas..? Sssudah kapten.” jawab Yuka tergagap. Sebenarnya ia belum menyelesaikan tugas-tugasnya dengan benar. Seminggu yang lalu Lee Haejun memberikan tugas padanya untuk menghafalkan rangkaian dasar bom waktu low explosive agar ia semakin mahir dalam membuat bom, tapi karena ia memang lemah dalam hal merangkai kabel-kabel dan meracik bahan kimia untuk membuat pemicu bom, akhirnya ia menyerah untuk mengerjakan tugas itu dan lebih memilih untuk mempelajari teknik-teknik menembak yang merupakan keahliannya.


            “Hmm bagus, kalau begitu kau ikut aku sekarang.” ucap Haejun tegas sambil berjalan cepat meninggalkan Yuka di belakang. Yuka yang awalnya sedikit kesal dengan kaptennya itu tiba-tiba menjadi panik ketika Haejun menyuruhnya untuk mengikutinya, karena itu berarti Haejun akan membawanya ke rooftop dan


menyuruhnya untuk menunjukan hasil belajarnya selama ini.


            “Tamatlah riwayatku, mentor kejam itu pasti akan menghukumku habis-habisan.” keluh Yuka frustasi sambil berjalan lemah menyusul langkah Haejun yang sudah berada jauh di depannya.


            Haejun mendorong kuat pintu kaca yang berada di depannya dan ia sedikit menengok ke belakang untuk melihat keberadaan Yuka. Tapi rupanya Yuka terlihat sangat lambat untuknya, sehingga ia merasa tidak sabar dan langsung meneriaki nama Yuka agar wanita itu segera bergegas berjalan menuju rooftop.


            “Im Yuka, jika kau tidak masuk dalam waktu sepuluh detik aku akan menghukummu untuk berlari keliling lapangan sebanyak lima belas kali.” teriak Haejun keras. Mendengar hal itu Yuka langsung panik dan segera berlari sekencang-kencangnya agar ia terhindar dari hukuman. Pasalnya empat hari yang lalu ia sudah mendapatkan hukuman dari Haejun karena ia terlambat untuk mengikuti pelatihan beladiri, dan sekarang ia tidak mau dihukum lagi oleh mentor galaknya itu.


            “Arghhh, dasar mentor gila!” gerutu Yuka kesal dengan nafas memburu karena ia harus berlari-lari di sepanjang koridor menuju ruang pelatihan yang berada di rooftop.


            “Kapten... hosh hosh hosh, maafkan saya.”


            Yuka terengah-engah sambil membukukan tubuhnya di depan Haejun. Melihat Yuka sedang kepayahan, Haejun langsung menunjukan stopwatchnya pada Yuka agar wanita itu melihat waktu yang dihabiskannya untuk berlari di sepanjang koridor markas.


            “Kau terlambat satu detik. Setelah latihan kau harus segera berlari mengitari lapangan sebanyak lima belas kali.”


            “Aapa? Ttapi kapten, saya hanya terlambat satu detik. Tolong berikan saya pengampunan untuk kali ini.” mohon Yuka dengan wajah memelas. Hari ini ia sudah berjanji pada teman-temannya akan makan bulgogi dan minum soju untuk merayakan ulang tahun Shinjung. Tapi jika Haejun menghukumnya untuk berlari mengelilingi lapangan ia tidak akan bisa bergabung bersama teman-temannya untuk merayakan pesta.


            “Kau tetap harus menjalani hukumanmu meskipun kau hanya terlambat satu detik, karena hukuman tetap hukuman.” ucap Haejun telak. Tiba-tiba Yuka merasa lututnya lemas dan ia ingin menangis berguling-guling di atas lantai. Ia merasa Haejun selama ini terlalu keras padanya dan memperlakukannya seperti seorang pria, padahal jelas-jelas ia adalah seorang wanita yang seharusnya diperlakukan sedikit lebih


istimewa dari yang lain.


            “Im Yuka, apa yang kau lakukan di sana? Cepat masuk ke dalam barisan, kau tidak ingin mendapatkan tambahan hukuman bukan?” bentak Haejun di sebelahnya. Dengan malas Yuka langsung berjalan gontai menuju barisan paling belakang. Hari ini ia sedang malas menatap wajah mentornya yang kejam itu.


            Ahh, dasar kapten menyebalkan! Meskipun wajahmu tampan, hatimu seburuk wajah monster!


            Selama Haejun menjelaskan mengenai cara-cara merakit bom dan menjinakan bom yang baik


dan benar, Yuka terus menyumpah serapahi Haejun dalam hati. Tak satupun dari penjelasan yang diberikan oleh Haejun didengarkan oleh Yuka. Saat ini ia benar-benar tidak dalam mood untuk melakukan pelatihan, dan seharusnya hari ini ia tidak mengikuti kelas merakit bom karena ia tidak terlalu mahir dalam hal merakit barang-barang kimia tersebut. Tapi lagi-lagi Haejun memaksanya dan menegaskannya untuk mengambil kelas itu karena ia pikir Yuka memang perlu mendapatkannya. Justru Haejun tak terlalu menyuruhnya untuk memperdalam tekhnik-tekhnik menembaknya karena dinilai tekhniknya selama ini sudah cukup hebat. Padahal seharusnya Lee Haejun memberikan pelatihan menembak yang lebih intensif seperti rekan rekannya yang lain, namun lagi-lagi pria itu justru tidak melakukannya dan membuatnya harus tersiksa dengan pelatihan yang tidak disukainya.


            “Im Yuka.”


            Tiba-tiba Haejun berseru keras dari depan dan menyuruh Yuka untuk maju ke depan. Dengan perasaan was-was Yuka mulai maju ke depan sambil berkomat-kamit dalam hati semoga Haejun tidak memberikan perintah yang aneh-aneh padanya karena ia sama sekali tidak mendengarkan semua penjelasan dari kaptennya itu.


            “Kau sudah mendengarkan semua penjelasan dariku bukan?”


            “Iiya kapten.”


            “Kalau begitu tunjukan pada rekan-rekanmu bagaimana cara merangkai bahan peledak ini menjadi sebuah bom waktu low exsplosive, kau sudah mencobanya kemarin malam bukan?” tanya Haejun dengan seringaian licik. Yuka menelah ludahnya susah payah sambil memandang bahan-bahan peledak yang ada di depannya. Kemarin malam ia sama sekali tidak berlatih merangkai bahan-bahan peledak dan justru mempelajari tekhnik-tekhnik menembak yang baru hingga ia tertidur di ruang latihan menembak. Dan sekarang jika Lee Haejun memintanya untuk merakit bom, sudah jelas jika ia tidak bisa melakukannya. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya!


            “Aduhh bagaimana ini? Aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya sama sekali.” Gumam Yuka panik sambil mengambil kabel-kabel dan batu baterai yang berada di depannya. Dengan tangan kikuk, Yuka mulai mencoba menyambungkan kabel-kabel itu dengan batu baterai, lalu ia mulai mengambil bubuk mesiu, bubuk sulfat, dan bubuk arang untuk dicampurkan ke dalam satu wadah. Tapi sejujurnya ia tidak tahu seberapa banyak bubuk-bubuk itu harus di masukan, ia hanya melakukannya berdasarkan hati nurani dan juga insting. Di sebelahnya Haejun tampak begitu serius memperhatikan jari-jari lentik Yuka yang sedang mencampur bubuk-bubuk


pemicu bom agar bom dapat meledak dengan kuat. Namun beberapa kali ia memperhatikan Yuka yang terlalu berlebihan dalam mengambil bubuk mesiu dan juga bubuk sulfat sehingga ia yakin jika bom yang dirangakai oleh Yuka itu tidak akan berhasil sama sekali. Apalagi Yuka juga salah dalam merangkai pengatur waktu yang akan dipasangkan pada bom, wanita itu bukannya mengambil enam batu baterai, tapi hanya mengambil empat, sehingga Haejun tidak yakin jika timer bom itu akan menyala dengan akurat.


            “Bagaimana, apa kau bisa melakukannya?”


            “Bbbisa kapten, saya bisa melakukannya.” jawab Yuka bergetar dengan peluh yang semakin deras membanjiri wajahnya. Andai saja Haejun dapat mendengar suara detak jantung Yuka, pria itu pasti akan mengejeknya karena saat ini ia benar-benar sangat gugup.


            “Nah kalian semua perhatikan apa yang dilakukan nona Im di hadapan kalian, setelah itu kalian dapat membandingkannya dengan penjelasan yang telah kusampaikan pada kalian beberapa saat yang lalu, jadi seperti yang sudah kalian duga, nona Im sejak tadi tidak memperhatikanku sama sekali dan hanya sibuk melamunkan hal-hal yang tidak penting. Apakah aku benar nona Im?”


            Yuka mendongakan kepalanya dan menatap malu pada wajah teman-temannya yang saat ini sedang menertawakannya. Mereka semua menertawakan kebodohannya dalam merakit bom yang benar-benar sangat salah. Yuka kemudian menatap horor pada wajah Haejun yang sedang tersenyum puas menertawakan kebodohannya.


            “Sekarang kalian pergi ke tempat kalian masing-masing dan mulai merakit bom kalian seperti apa yang telah kujelaskan. Apa kalian mengerti?”


            “Ya, kami mengerti kapten.”

__ADS_1


            Para agen yang lain segera membubarkan diri dan bergegas ke meja mereka masing-masing untuk membuat bom rakitan. Sementara itu, Yuka masih setia berdiri di samping Haejun dengan wajah yang berkilat-kilat marah. Saat ini ia sedang mencoba mengontrol emosinya agar ia tak sampai mempermalukan dirinya lagi dengan berteriak pada pria menyebalkan yang sedang berdiri angkuh di sebelahnya.


            “Jadi kemarin kau benar-benar berlatih?”


            Yuka menoleh tajam pada Haejun yang sedang menatap lurus pada rekan-rekannya yang sedang merakit bom. Wanita itu dengan kesal menggelengkan kepalanya sambil berseru keras jika ia sama sekali tidak merakit bom. Semalam ia terlalu asik berlatih menembak hingga ia tertidur di dalam hanggar menembak. Toh percuma


saja ia berbohong jika kebohongannya itu sama sekali tidak menyelamatkannya, justru kebohongannya itu membuatnya semakin sial karena harus dipermalukan seperti ini.


            “Tidak kapten, semalam saya berlatih menembak di hanggar.” ucap Yuka apa adanya. Lee Haejun tersenyum separuh ke arah Yuka sambil mencondongkan wajahnya tepat di depan wajah Yuka. Sebenarnya semalam ia datang ke hanggar untuk mengecek kelengkapan hanggar, tapi saat ia masuk ke dalam ia justru menemukan Yuka sedang tertidur nyenyak di dalam hanggar dengan posisi melengkung sambil memeluk pistol kaliber 6A nya. Merasa Yuka sangat ceroboh karena tidur sambil memeluk senjata berapi, akhirnya Haejun menarik pistol itu dari tangan Yuka dan meletakannya di sebelah tubuh Yuka agar pistol itu tidak sampai meledak saat Yuka sedang tertidur.


            “Huh, akhirnya kau mengakui kebohonganmu juga nona Im, dan aku menghargai kejujuranmu itu. Tapi karena kau sudah membohingiku, sekarang kau harus berlari mengelilingi lapangan sebanyak dua puluh lima putaran.”


            “Apa!” teriak Yuka syok. Cepat-cepat ia membungkam bibirnya rapat-rapat karena saat ini wajah Haejun masih berada tepat di depannya. Andai saja Haejun tidak sedang memarahinya, mungkin Yuka akan menggunakan kesempatan itu untuk mengagumi wajah tampan mentornya. Tapi sayangnya wajah tampan itu memiliki sikap yang sangat kejam dan semena-mena, membuat Yuka mengurungkan niatnya untuk mengagumi wajah tampan nan indah itu.


            “Mmmaafkan saya kapten, saya tidak bermaksud untuk membentak anda.” ucap Yuka tergagap dengan perasaan bersalah. Haejun mengangkat tangannya dan berhenti tepat di depan wajah Yuka. Pria itu dengan jahil mencubit pipi kanan Yuka sambil berteriak di depannya agar Yuka segera melakukan perintahnya sebelum ia menambah jumlah hukuman yang telah diberikannya sebelumnya.


            “Kalau begitu cepat lakukan perintahku, lari mengelilingi lapangan sebanyak dua puluh lima putaran sebelum aku menambahnya menjadi tiga puluh putaran karena kau baru saja berteriak di depan mentormu.”


            “Aaa.. iya kapten, saya akan segera berlari.”


            Yuka langsung berlari terbirit-birit meninggalkan Haejun setelah Haejun melepaskan cubitannya dari pipinya. Pria itu tersenyum tipis pada kelakuan ajaib Yuka sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


            “Ckckck, dasar gadis pembual.”


-00-


            Yuka berjalan pelan di pinggir lapangan sambil menetralkan hembusan nafasnya yang tak beraturan. Akhirnya ia dapat menyelesaikan hukumannya dengan berlari sebanyak dua puluh lima kali seperti yang telah diperintahkan oleh Haejun sebelumnya.


            Yuka menatap langit gelap  bersemburat jingga di atasnya dengan perasaan sedih dan kecewa. Hari ini ia gagal menyelesaikan hukumannya dengan cepat, sehingga ia tidak bisa datang ke acara ulangtahun Shinjung dan makan bulgogi sepuasnya dengan teman-temannya yang lain. Yuka kemudian terduduk sendiri di pinggir lapangan sambil meratapi nasib sialnya hari ini. Seharusnya ia mengatakan saja hal yang sesungguhnya saja pada Haejun jika ia memang tidak melakukan latihan. Daripada ia dipermalukan di hadapan teman-temannya yang lain, jujur sepertinya jauh lebih baik. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlambat. Ia terlanjur membohongi pria galak itu dan membuatnya harus mendapatkan hukuman ekstra karena perbuatannya yang memang keterlaluan.


            “Ck, sial sekali nasibku hari ini. Andai saja aku tidak membohongi kapten galak itu, semuanya pasti tidak akan menjadi seperti ini.” runtuk Yuka kesal pada dirinya sendiri. Ia kemudian menendang-nendang pelan kerikil kecil yang berada di depan kakinya untuk menyalurkan rasa kesal yang bercokol di hatinya. Disaat-saat sendiri seperti ini, ia merasa merindukan rumah.


            “Aku merindukan appa dan eomma.” gumam Yuka pelan dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu mengusap matanya kasar dan mencba mendongakan wajahnya agar air mata itu tidak semakin menganak sungai. Namun saat ia mendongakan wajahnya, ia justru dikejutkan dengan kemunculan Haejun yang telah berdiri di depannya.


            “Ini minumlah.”


            Haejun mengangsurkan sebotol air mineral pada Yuka yang langsung dibalas Yuka dengan pandangan bingung.


            “Kapten... apa yang anda lakukan di sini?”


            “Kau menangis?”


            “Ahh, oh tidak kapten. Ini bukan apa-apa.” ucap Yuka gelagapan. Ia hendak menghapus air mata itu dari pipinya, namun tangan lebar Haejun tiba-tiba sudah bertengger di atas pipinya dan mengusap air mata itu lembut dari pipinya.


            “Apa aku menghukummu terlalu keras?”


            Yuka yang masih tertegun dengan perilaku Haejun tampak tak merespon ucapan Haejun dan hanya terdiam di tempatnya seperti orang bodoh yang sedang membuka mulutnya lebar.


            “Nona Im, apa aku menghukummu terlalu keras?”


            “Ttidak kapten, hukuman itu tidak berat sama sekali. Aku hanya merindukan rumah.” ucap Yuka akhirnya dengan perasaan malu. Melihat Yuka yang sedang tersipu malu di depannya membuat Haejun merasa cukup gemas pada Yuka dan membuatnya secara tidak sadar menyunggingkan senyum manisnya pada wanita itu. Melihat Haejun yang tengah tersenyum lembut di depannya sambil mengusap pipinya pelan membuat jantung Yuka berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Pipinya yang awalnya berwarna pucat, kini tiba-tiba tampak merona kemerahan dan membuat Yuka terlihat lebih cantik dari sebelumnya.


            “Wajar jika kau merindukan rumah, bahkan rekan-rekanmu yang lain juga begitu. Oo ya, kudengar hari ini Shinjung mengadakan pesta bulgogi di kedai di depan markas, apa kau ingin pergi ke sana?”


            Pertanyaan yang dilontarkan oleh Haejun membuat wajah Yuka kembali mendung karena hari ini ia tidak bisa menghadiri pesta itu. Padahal ia sangat ingin hadir untuk minum soju sebanyak-banyaknya agar ia dapat melupakan seluruh masalahnya akhir-akhir ini.


            “Sejujurnya aku sangat ingin, tapi aku tidak bisa. Anda memberikanku banyak hukuman hari ini sehingga saya tidak bisa datang ke sana untuk bergabung bersama rekan-rekan saya yang lain.” ucap Yuka dengan mata berkilat-kilat tajam menyalahkan Haejun. Dengan sinis Haejun membalas tatapan itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Padahal baru saja ia akan bersikap sedikit lembut pada Yuka, tapi karena wanita itu sudah berani menantangnya dan menyalahkannya, ia tidak akan membirkan sikap lembut itu lagi pada Yuka. Menurutnya Yuka memang tidak pantas untuk hal itu.


            “Seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku telah menyelamatkanmu dari rekan-rekan priamu.”


            “Maksud anda?” tanya Yuka tidak mengerti. Dalam hati Yuka mencibir Haejun yang sebenarnya justru melakukan hal yang sebaliknya, pria itu membuatnya tidak bisa menikmati hidupnya dengan baik.


            “Tentu saja aku telah menyelamatkanmu, jika kau mabuk dan rekan-rekan priamu juga mabuk, apa yang akan kalian lakukan setelah itu? Bagaimana jika mereka memperkosamu saat kau tak sadarkan diri? Kau itu memang sangat ceroboh. Seharusnya kau menyadari statusmu sebagai satu-satunya wanita dalam kelompokmu.” ucap Haejun sakarstik. Yuka memutar bola matanya malas dengan jawaban pria itu.


            Memangnya apa salahnya dengan mabuk-mabukan bersama teman-temanku? Kurasa itu lebih baik daripada harus terjebak dengannya di dalam markas ini.


            Yuka menggerutu kesal dalam hati sambil memainkan sepatunya. Wanita itu sama sekali tidak mau menatap Haejun dan terus menunduk hingga Haejun merasa jengah dengan kelakuan anak didiknya.


            “Sekarang lebih baik kau ikut denganku.” ajak Haejun mutlak dan terdengar tak ingin dibantah. Pria itu menyeret tangan Yuka untuk mengikutinya tanpa peduli pada rontaan Yuka yang memintanya untuk melepaskan tangannya.


            “Kapten... kapten.. Tolong hentikan langkah anda. Anda akan membawa saya kemana?” tanya Yuka ribut di belakang Haejun. Merasa terganggu, akhirnya Haejun memutuskan untuk melepaskan tangan itu dan sedikit menghentaknya ke belakang.


            “Kau ini berisik sekali, aku hanya ingin mengajakmu makan. Bukankah kau lapar?” tanya Haejun setengah berteriak. Yuka mengusap pergelangan tangannya yang sakit sambil menggerutu tidak jelas dengan sikap Haejun.


            “Saya tidak lapar, saya ingin beristirahat di kamar.” tolak Yuka halus. Namun Haejun


sama sekali tidak mau menerima penolakan. Sebisa mungkin ia akan tetap memaksa Yuka untuk makan bersamanya. Lagipula ia yakin jika sebenarnya Yuka sedang menahan lapar, hanya saja wanita itu sedikit gengsi dengan ajakannya.

__ADS_1


            “Tidak usah berbohong, aku bisa mendengar suara perutmu yang nyaring.”


            Refleks Yuka langsung memeluk perutnya sambil menatap Haejun tidak terima.


            “Perutku tidak.....”


            Cepat-cepat Haejun memasukan sebuah lolipop ke dalam mulut Yuka agar wanita itu berhenti berteriak. Lagipula ia sudah lapar dan lelah dengan teriakan Yuka yang cempreng. Saat ini yang ia inginkan adalah segera makan dan beristirahat di kamarnya yang nyaman.


            “Kmmppten... Lmmpaskannn!! Kmpptennnn!!”


            Yuka berteriak-teriak tidak jelas dengan tangan Haejun yang terus menariknya untuk keluar menuju restoran terdekat.


Flashback


Lee Haejun menatap aneh wajah isterinya yang sedang tertawa tidak jelas di sebelahnya. Haejun kemudian mengulurkan tangannya untuk meraba kening Yuka sambil sesekali memperhatikan lalu lintas di depannya yang padat.


            “Yuka, apa kau baik-baik saja?”


            “Ahh oppa! Kau merusak rambutku, aku baik-baik saja.” gerutu Yuka kesal sambil menyingkirkan tangan Haejun dari wajahnya. Melihat isterinya yang sedang berteriak-teriak tidak jelas, Haejun sedikit terkekh sambil tetap berkonsentrasi pada kemudinya.


            “Sejak tadi aku melihatmu terus tertawa aneh, ada apa?” tanya Haejun penasaran. Yuka kemudian teringat akan kenangan masa lalunya dengan Haejun yang membuatnya dapat mengenal suaminya itu lebih dekat hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.


            “Aku hanya sedang mengingat masa lalu kita yang lucu. Jika dipikir-pikir sepertinya sejak awal oppa sudah tertarik padaku.” ucap Yuka penuh percaya diri. Haejun mengernyitkan alisnya keberatan dengan jawaban Yuka karena ia sebenarnya tidak merasa seperti itu.


            “Percaya diri sekali kau nyonya Lee. Lebih baik kau segera turun dari mobil dan mulai membicarakan kasus kita hari ini daripada kau terus mengingat masa lalu kita yang aneh itu.”


            Haejun membuka sabuk pengamannya cepat dan mulai merepikan penampilannya sebelum keluar dari mobil. Tapi kemudian ia berbalik lagi pada Yuka dan langsung melumat bibir Yuka tiba-tiba.


            “Oppa!! Apa yang kau lakukan? Oh ya Tuhan, lipstikku...” teriak Yuka heboh ketika lipstiknya tampak belepotan kesana kemari. Sedangkan Haejun terlihat santai dan tidak peduli.


            “Aku belum mendapatkan morning kissku.”


            “Oh ya ampun, kau ini kekanakan sekali oppa. Lihat, kau merusak dandananku.” pekik Yuka heboh sambil membersihkan noda lipstik yang belepotan disekitar wajahnya.


            “Oppa, bersihkan juga bibirmu, mereka nanti akan melihatmu aneh dengan bibir merah


bekas lipstik seperti itu.” Ucap Yuka sambil menyodorkan selembar tisu pada Haejun. Namun Haejun mengabaikan tisu itu begitu saja dan justru menarik pinggang Yuka agar semakin mendekat padanya.


            “Aku ingin kau yang membersihkannya.... dengan bibirmu.”


            “Mphh oppa... ada yang datang.”


            Yuka mendorong tubuh Haejun menjauh dan segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah tangan nakal Haejun. Cepat-cepat Yuka membersihkan sisa-sisa lipstiknya dari bibir Haejun dan bibirnya karena ia mendengar suara langkah kaki sedang mendekat ke arah mobil mereka.


Tok tok tok


“Senior Im.”


            Sehun mengetuk pintu kaca di sebelah Yuka sambil tersenyum manis pada Yuka. Yuka yang melihat Sehun sedang berdiri menunggunya langsung membukakan pintu dengan penuh sukacita tanpa mempedulikan ekspresi wajah Haejun yang berubah menggelap.


            “Selamat pagi agen Oh, apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Yuka sambil mengamati keadaan basemen disekitarnya yang tampak sepi.


            “Aku baru saja datang dan melihat senior Im sedang bersama kapten Lee, kalian baru saja menyelesaikan kasus penyelundupan mobil milik perusahaan Kangta Corp?”


            “Ya, kami baru saja menyelesaikannya semalam, lalu pagi ini kapten Lee menemaniku pergi ke kantor agensi untuk mengurus kontrakku sebagai model.” bohong Yuka sambil melirik Haejun yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Sehun yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk paham sambil memasang wajah sedikit tidak suka karena ia sebenarnya sejak awal ingin sekali menggantikan posisi Haejun sebagai asisten Yuka, tapi beberapa kali Yuka menolaknya dengan alasan jika ia tidak enak pada Haejun karena Haejun sejak awal telah membantunya untuk menangani kasus kematian ayahnya.


            “Lalu apakah sudah ada kemajuan mengenai kasus kematian tuan Im?”


            “Kami sudah semakin dekat dengan pelakunya.”


            Tiba-tiba Haejun angkat bicara mengenai kasus pembunuhan tuan Im yang memang sudah diketahui oleh seluruh agen di markas. Tapi tujuannya menjawab pertanyaan Sehun adalah karena ia sudah jengah dengan pria itu. Sejak awal bergabung dengan tim intel Seoul, Sehun sudah menunjukan gelagat aneh jika Yuka sedang berada di dekatnya. Dan hal itu cukup membuat Haejun gerah dan sedikit gemas dengan tingkah Sehun yang menyebalkan itu.


            “Benarkah? Anda memang hebat kapten Lee. Senior Im, mari kita masuk ke dalam, kudengar hari ini kita mendapatkan misi bari dari komisaris untuk mengungkap kasus kematian Kim Sora. Apakah senior Im sudah mendengarnya?”


           “Ya kami baru saja mendapatkan pesan dari komisaris, setelah ini kapten Lee akan memimpin meeting untuk menentukan tim mana yang akan bertugas untuk mengungkap kasus ini.”


            “Kalau begitu....”


            “Hei kalian cepatlah, aku tidak mau anggotaku terlambat untuk mengikuti meeting.”


            Lee Haejun berseru keras meneriaki Yuka dan Sehun yang sedang asik bercakap-cakap di area basement, sedangkan Haejun sudah menunggu mereka dengan bosan di dalam lift yang hampir tertutup.


            “Ck, kapten Lee memang galak.” gerutu Sehun pelan di samping Yuka hingga membuat Yuka terkikik dengan gerutuan pria tampan di sebelahnya.


            “Ssstt, kau akan membuatnya semakin marah jika ia sampai mendengarnya.”


            Kedua manusia itu cepat-cepat masuk ke dalam lift sambil menahan tawa yang hampir meledak dari keduanya.

__ADS_1


__ADS_2