Ignite

Ignite
This Is Us (Two)


__ADS_3

Yuka mendorong dada Haejun pelan dan menyuruh pria itu untuk berhenti menciumnya. Yuka menghirup udara di sekitarnya dengan rakus sambil menghapus bekas lipstik yang menempel di bibir Haejun. Melihat lipstik


merah itu membuat Yuka justru merona dan memikirkan hal-hal kotor di dalam kepalanya.


            “Kau juga menginginkannya sayang?”


            “Ck, kita sedang bertugas oppa. Kita masih harus membereskan pria mesum itu dan mencari nama-nama yang terlibat di dalam bisnis kotornya. Aku yakin jika menteri luar negeri itu juga turut andil dalam penyelundupan mobil-mobil miliknya. Tidak mungkin ia dapat lolos begitu saja setelah presiden memberikan peraturan ketat mengenai barang-barang yang akan dikirim ke luar negeri jika tidak ada orang dalam yang membocorkannya.” ucap Yuka berapi-api.


            “Yah kupikir memang seperti itu. Menurut ayah saat ini pemerintahan sedang sangat kacau. Banyak menteri yang dicurigai berkhianat dan ingin menggulingkan pemerintahan presidan Park Boyoung karena presiden dinilai terlalu ketat dalam menjalankan pemerintahan. Para menteri tamak itu saat ini sedang merencanakan penggulingan pemerintahan Park Boyoung. Tapi untungnya Sungkyu dan yang lainnya sedang menyelidiki hal itu, sehingga kerusuhan itu bisa diredam untuk sementara waktu.”


            Yuka menganggukan kepalanya mengerti sambil menerawang jauh pada masa lalunya. Melihat Yuka yang mulai bersedih, Haejun langsung membawa Yuka ke dalam pelukannya. Sepertinya ia telah mengingatkan Yuka pada kejadian pembunuhan enam tahun yang lalu.


            “Apakah Park Boyoung akan bernasib sama seperti ayahku?”


            “Sssttt, Park Boyoung tidak akan bernasib sama dengan ayahmu. Orang sebaik Park Boyoung akan mendapatkan perlindungan yang sangat ketat dari pasukan pengamanan presiden dan para intel yang berkompeten di bidangnya. Dan soal ayahmu, kita pasti akan segera menemukan pembunuhnya.”


            Yuka menatap manik mata Haejun sambil menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah. Bayangan mengenai ayahnya yang mati dibunuh oleh sosok misterius di masa lalu selalu membuatnya terpukul dan terpuruk. Meskipun ibunya telah menyuruhnya untuk mengikhlaskan kematian ayahnya, tapi kejanggalan demi kejanggalan yang selama beberapa tahun ini ia temukan semakin membuatnya tidak terima dengan kematian ayahnya. Dan dugaan jika ayahnya mati dibunuh karena mengetahui rahasia terlarang sebuah organisasi ilegal semakin membuat Yuka berambisi untuk mencari orang tersebut dan memberikan hukuman seberat-beratnya pada mereka yang telah merenggut nyawa ayahnya dengan sadis.


            “Park Jaejong, aku mencurigainya.”


            Tiba-tiba Yuka berseru pelan sambil membongkar tas tangannya untuk mencari ponsel putihnya yang ia simpan di dalam sana. Kemarin saat ia melakukan pemotretan, tanpa sengaja ia melihat Park Jaejong sedang menghubungi seseorang secara diam-diam di dalam ruang ganti yang sepi. Beberapa kali Park Jaejong menyebutkan nama organisasi yang dicurigai olehnya sebagai dalang dibalik kematian ayahnya. Tapi sayangnya ia belum bisa menemukan bukti kuat mengenai keterlibatan Park Jaejong dalam organisasi itu karena apa yang didengarnya tidak bisa dijadikan tuntutan tanpa adanya bukti fisik yang meyakinkan. Sehingga setelah ini ia harus bekerja lebih keras lagi untuk menyelidiki Park Jaejong dan orang-orang jahat dibalik kematian ayahnya yang tragis.


            “Huh, pria itu lagi. Lebih baik kau segera keluar dari agensinya dan menfokuskan pikiranmu pada misi-misi negara yang semakin hari semakin rumit. Selain itu aku juga sudah lelah jika harus terus menerus berpura-pura menjadi asistenmu yang payah dan sama sekali tidak bisa diandalkan. Orang-orang itu selama ini mengejekku dengan mengataiku tampan, namun idiot. Mereka pikir aku ini adalah pria lemah yang hanya bisa mengekorimu kesana kemari sambil membawa berbagai macam alat make-up yang sangat memuakan dan menggelikan itu. Citraku sebagai kapten sudah benar-benar rusak karena sandiwara bodoh itu.” erang Haejun frustasi. Im Yuka terkikik geli dengan ekspresi mengenaskan yang ditunjukan oleh Haejun. Sebenarnya ia juga merasa kasihan pada Haejun yang harus mengorbankan harga dirinya demi misi mereka untuk mencari dalang dibalik pembunuhan ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, Lee Haejun sendiri juga tidak mengijinkannya untuk bertugas dengan rekannya yang lain selain pria itu, sehingga mau tidak mau Lee Haejun harus merelakan harga dirinya yang setinggi


langit itu untuk menolong dirinya menemukan dalang dibalik pembunuhan ayahnya.


            “Jika kau ingin terbebas dari pekerjaan menjijikanmu itu lebih baik kau ijinkan aku merekrut Sehun sebagai partnerku.”


            “Sehun? Pria ingusan yang sangat menggilaimu itu? Tidak tidak tidak, lebih baik aku mengorbankan diriku untuk menjadi si idiot Han Jino daripada harus membiarkanmu bersama Oh Sehun yang tak tahu diri itu.”


            Yuka tertawa terbahak-bahak di tempatnya sambil menutup mulutnya yang sudah terbuka dengan sangat lebar. Topik mengenai pria-pria yang menggilainya di kantor selalu membuatnya terhibur dan melupakan kerumitan yang bercokol di dalam kepalanya. Apalagi ekspresi menggelikan Haejun yang sangat jarang pria itu tunjukan di depan umum selalu menjadi hiburan tersendiri baginya. Oleh karena itu ia sering menggoda Haejun disaat pikirannya sedang kacau seperti tadi.


            “Ya Tuhan, wajah cemburumu memang yang terbaik oppa. Sekali-sekali kau harus menunjukan wajah itu pada junior-juniormu agar mereka tidak bergidik ngeri saat berpapasan denganmu.” saran Yuka masih dengan suaranya yang nyaring.


Dukk dukk dukk dukk!


Tiba-tiba suara gedoran kasar dari pintu utama menghentikan suara tawa Yuka yang nyaring. Wanita itu langsung menoleh bingung ke arah Haejun sambil bertatapan satu sama lain.


            “Jadi ini yang menyebabkan rekan-rekanmu gagal dalam meringkus Kangta. Lihat, Kangta rupanya telah menyelipkan sebuah alat pelacak dibalik kerah kemejanya. Alat ini sengaja dipasangnya agar para bodyguardnya tahu jika sewaktu-waktu ia menghilang atau disekap seperti ini. Sekarang kau cepat tangani mereka. Katakan pada mereka jika Kangta sedang tidur setelah percintaan panas kalian. Dan.. ck, ini merepotkan.”


            Haejun tiba-tiba melepaskan kemeja putihnya dan memberikan kemeja itu pada Yuka. Dengan tidak sabar pria itu mendorong Yuka untuk mengganti pakaianya di dalam walk-in closet yang berada di sudut ruangan.


            “Cepat pakai kemejaku dan beraktinglah seperti kau baru saja melakukan percintaan panas dengan Kangta.”


            Meskipun malas, Yuka tetap menuruti saran Haejun dan segera mengganti gaun merahnya dengan kemeja putih milik Haejun yang tampak kebesaran di tubuhnya. Ia kemudian meninggikan sedikit stokingnya agar pistol yang ia selipkan di bagian paha tidak menyembul keluar karena kemeja yang digunakannya sangat pendek dan hanya sebatas paha atasnya saja.


            “Nah, aku sudah siap. Pastikan Kangta tetap tertidur saat bodyguard-bodyguard itu berada di depan.” Bisik Yuka sebelum melangkah lebar-lebar ke arah pintu utama.


Dukk dukk dukk dukk


“Tuan Kangta, apa anda baik-baik saja?”


            Suara gedoran itu semakin lama semakin nyaring dan semakin membuat Yuka gusar. Rasanya ia ingin memukul wajah siapapun yang telah mengganggu rencananya dan Haejun hari ini.


            “Ya, tunggu sebentar.” teriak Yuka dari ruang tamu sambil mengacak-acak rambutnya agar terlihat meyakinkan. Setelah semua dirasa sudah siap dan pas, Yuka kemudian mulai mengambil ancang-ancang untuk membukakan pintu coklat itu.


Cklek


Suara gagang pintu yang ditarik oleh Yuka perlahan-lahan membuat para bodyguard itu langsung berdiri siap di tempatnya. Dari celah pintu yang sempit, Yuka berpura-pura melongokan kepalanya sambil bertingkah seperti seorang wanita yang malu karena ia tengah tidak menggunakan pakaian.


            “Ada apa tuan-tuan datang mengganggu di depan kamar saya?”


            “Maaf nona, kami hanya ingin memastikan bagaimana keadaan tuan Kangta. Kami baru saja melihat dari layar monitor jika suhu tubuh tuan Kangta sedang menurun. Apa anda yakin jika tuan Kangta baik-baik saja?” selidik pria besar itu curiga. Yuka mulai memutar otak untuk mencari alasan yang tepat dan masuk akal untuk mengusir pria itu pergi dari kamarnya.


            “Ooo, mungkin karena suhu di dalam kamar sangat dingin. Setelah percintaan kami yang panas, aku memutuskan untuk merendahkan suhu pendingin ruangannya karena aku merasa kepanasan.” ucap Yuka dengan gaya polos. Para bodyguard itu terlihat mengenyit sambil menatap Yuka menuduh.


            “Apakah nona yakin jika anda dan tuan Kangta baru saja bercinta? Kami melihat suhu tubuh tuan Kangta sejak tiga puluh menit yang lalu semakin menurun dan tidak ada peningkatan kerja organ tubuh apapun. Nona, kau pasti sedang berbohong pada kami.” ucap pemimpin bodyguard itu marah sambil menunjukan sebuah tablet yang ia genggam di dalam tangannya.


            Dasar pria-pria menyusahkan!


            “Baiklah, tunggu sebentar aku akan mengambil pakainku, setelah itu kalian boleh masuk ke dalam.”


            Yuka kemudian menutup pintu itu dengan keras dan langsung berlari ke dalam untuk memanggil Haejun.


            “Oppa mereka memaksa untuk masuk. Kita harus menggunakan cara kekerasan, tidak ada jalan lain.” ucap Yuka terburu-buru. Wanita itu mulai menyiapkan pistolnya dan mengecek jumlah pelurunya yang berada di dalam slot peluru.


            “Okay, saatnya pertunjukan dimulai. Oppa, bersiaplah di sebelah pintu. Begitu aku membuka pintu itu, kau harus segera menyergap mereka.”


            “Ck, cepat buka pintunya. Aku tahu apa yang harus kulakukan.” ucap Haejun datar sambil memposisikan dirinya di seberang Yuka.


Ckrek


Suara flintlock pistol yang ditarik oleh Yuka terdengar begitu nyaring di tengah suasana sepi yang tercipta di antara keduanya. Yuka kemudian menatap Haejun sekali lagi untuk meminta persetujuan, dan setelah Haejun menganggukan kepalanya, Yuka langsung menarik gagang pintu itu lebar-lebar untuk mempersilahkan sang tamu tak diundang untuk masuk ke dalam kamarnya dengan Kangta.


            “Silahkan masuk tuan-tuan.” ucap Yuka ramah dan tampak tak mencurigakan sedikitpun. Namun


baru satu langkah mereka masuk ke dalam kamar itu, Haejun langsung menyerbu mereka dan melayangkan pukulan mematikannya tepat di rahang si pemimpin bodyguard.


Bughh


“Keparat! Cepat singkirkan mereka.” perintah sang pemimpin yang masih dalam posisi tersungkur di atas lantai. Keempat bodyguard yang lain kemudian segera mengejar Haejun dan Yuka yang langsung berlari ke dalam untuk menghindar.


            “Oppa, kau tangani dua pria gendut itu.” teriak Yuka yang tampak kewalahan untuk menghindari dua orang pria berwajah seram yang saat ini sedang mengejarnya.

__ADS_1


Dor


Satu tembakan dilayangkannya ke udara sebagai peringatan untuk kedua bodyguard yang hendak menyerangnya. Tapi mereka tampak tak terpengaruh sedikitpun dan justru semakin menghimpitnya ke tembok.


            “Kami sama sekali tidak takut dengan gertakanmu manis.”


            “Ck, pergi kalian dari jalanku atau kalian akan merasakan akibatnya.” ancam Yuka bersungguh-sungguh sambil mengarahkan tendangannya pada perut pria berwajah seram tersebut.


            Dilain tempat, Haejun terlihat sudah berhasil menjatuhkan salah satu bodyguard yang menyerangnya. Pria itu saat ini memilih untuk berkelahi menggunakan tangan kosong daripada mengeluarkan pistolnya yang sudah berada dalam mode siap. Pukulan demi pukulan ia arahkan pada pria besar yang sejak tadi juga menyerangnya dengan pukulan yang tak kalah keras dan sakit.


Bugh


“Ahh, sial!”


            Haejun terdorong ke belakang dan sedikit membentur sofa berwarna maroon yang berada di belakangnya. Rupanya bodyguard itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Mereka berdua jauh lebih berbahaya dari tampilan wajah mereka yang terlihat bodoh.


            “Baiklah, berhenti bermain-main dan segera selesaikan kekacauan ini.” ucap Haejun geram. Kini kesabarannya sudah mencapai ambang batas. Tidak masalah jika ia harus melenyapkan nyawa manusia manusia tidak penting itu, toh mereka sama sekali tidak berguna untuk mengorek informasi mengenai Kangta atau bisnis kotornya yang semakin hari semakin berkembang pesat. Sekarang adalah saatnya untuk menembak kepala mereka satu persatu.


Dugh


Bughh


Lee Haejun menendang salah satu perut bodyuard yang tadi memukulnya hingga tersungkur. Kemudian ia mengarahkan moncong pistolnya pada kepala pria itu dan bersiap untuk menembak kepala si bodyguard yang tak tahu diri itu.


            “Ada kata-kata terakhir?”


            “Jjjangantuan, jangan lakukan itu. Hey, cepat singkirkan pistolnya dari kepalaku.” teriak bodyguard itu panik pada kedua temannya, tapi bodyguard-bodyguard itu sama sekali tidak bergerak untuk melawan Haejun. Mereka berdua sama-sama takut dan masih menyayangi nyawa mereka. Apalagi mereka juga memiliki keluarga yang akan menanti mereka pulang ke rumah. Mereka sama sekali tidak mau mengambil risiko mati hanya karena salah satu teman mereka yang sedang sial.


Dor


Satu tembakan diarahkan Haejun pada bodyguard itu yang langsung menggelepar di atas lantai dengan darah yang mengucur deras dari kakinya. Kedua bodyguard yang lain dengan tidak bertanggungjawab langsung meninggalkan rekan mereka begitu saja yang saat ini tengah mengerang kesakitan karena salah satu kakinya baru saja ditembak oleh Haejun.


            “Berani kau menyerangku, bukan hanya kakimu yang berlubang, tapi kepalamu juga berlubang.” ancam Haejun dingin sebelum ia berjalan pergi untuk mencari Yuka. Meskipun Yuka adalah wanita tangguh yang menguasai seluruh teknik bela diri yang diajarkannya, tapi tetap saja ia masih menganggap Yuka sebagai wanita lemah yang membutuhkan perlindungan. Terakhir kali mereka bertugas untuk mengejar ******* yang hendak kabur menggunakan kapal, ia membuat Yuka terluka cukup parah di pergelangan tangan dan kakinya karena Yuka dikeroyok oleh anak buah ******* itu hingga menyebabkan beberapa tulangnya retak dan patah.


            “Yuka.”


            Haejun memanggil nama Yuka dengan kencang untuk mengecek dimana keberadaan Yuka. Tak berapa lama, sosok wanita cantik itu muncul dari balik pintu sambil tersenyum aneh pada Haejun.


            “Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


            Ia kemudian melemparkan kemeja putih Haejun yang sebelumnya ia pakai dan menyuruh pria itu untuk segera mengenakan kemejanya karena saat ini Kangta telah sadar dari pingsannya.


            “Pria itu baru saja sadar, kita harus segera mengintrogasinya.”


            Yuka pun berjalan pergi meninggalkan Haejun yang masih berkutat dengan kemejanya. Wanita itu melangkah tenang melewati dua bodyguard yang sudah berhasil ia tumbangkan. Tapi meskipun begitu, Haejun selalu saja menganggapnya sebagai wanita lemah yang perlu dilindungi. Meskipun ia tahu jika Haejun menyayanginya dan hanya menginginkan yang terbaik untuknya, tapi rasanya hal itu sangat menyebalkan dan terlalu berlebihan. Ia risih dengan sikap over Haejun yang terkadang membuatnya jengah. Untung saja semua rekannya di markas tidak tahu mengenai hubungannya dengan sang kapten, dan hal itu bisa ia manfaatkan untuk menjauh dari Haejun dan berbaur dengan rekan-rekannya yang lain saat mereka ditugaskan secara bersama-sama.


            “Selamat malam tampan. Akhirnya kita bertemu lagi. Apakah tidurmu nyenyak?” sapa Yuka dengan suara manis. Kangta tampak mendengus jijik dengan Yuka dan langsung meronta-ronta di atas ranjang untuk dilepaskan dari tali-tali yang mengikat kaki dan tangannya.


            “Ssshhhh, jangan terlalu banyak bergerak tampan, atau kau akan melukai pergelangan tanganmu.”


            “Bagaimana? Apa dia sudah bisa kita introgasi?”


            Tiba-tiba Haejun muncul dari ruang tamu dengan pakaian rapi dan wajah yang lebih segar. Meskipu luka lebam itu masih dapat terlihat jelas di wajahnya, tapi aura tampan pria itu seolah-olah dapat memghapus luka lebam yang saat ini bersarang di sudut bibirnya dan pelipisnya.


            “Ohh, sekarang ia terlihat takut padaku oppa, padahal beberapa jam yang lalu ia terus menggerayangi tubuhku dengan tangan kurangajarnya itu. Mungkin ia akan lebih menurut denganmu.” Ucap Yuka cuek dengan aksen dibut-buat. Haejun menyeringai kejam pada Kangta dan mulai berjalan tenang untuk menghampiri pria itu. Di


tangannya sudah tersedia sebuah pistol semi otomatis dengan peluru-peluru runcing yang baru saja dimasukannya. Jika pria itu tidak bersedia untuk bekerjasama dengannya, maka dengan terpaksa ia akan memisahkan nyawa pria itu dengan tubuhnya.


            “Jadi aku akan langsung memulai pertanyaan pertamaku, sudah berapa lama kau menyelundupkan mobil-mobil itu ke luar negeri?”


            Kangta meneguk air liurnya susah payah dan tampak enggan untuk menjawab. Pria itu justru terus meronta-ronta di tempatnya sambil merintih kesakitan karena kedua tangannya yang terluka.


            “Lepaskan aku! Aku tidak pernah menjual mobil-mobil itu ke luar negeri tanpa membayar pajak. Mereka pasti salah dan telah menfitnahku, aku tidak mungkin melakukan hal picik seperti itu.” teriak Kangta berbohong. Yuka dan Haejun saling bertatapan satu sama lain sambil tersenyum penuh arti. Dengan santai Yuka mendekati Kangta dan mengelus pipi pria itu dengan lembut.


            “Ohh, jadi kau tidak melakukan hal picik itu ya? Hmm, menarik. Lalu siapa yang


mengetik pesan ini dan melakukan panggilan dengan petugas ekspedisi di pelabuhan?” tanya Yuka santai sambil menunjukan ponsel hitam milik Kangta yang sekarang berada di dalam genggaman tangannya. Wajah pria itu langsung pucat pasi dan ia menjadi tidak bisa berkata-kata apapun. Bukti kini telah di depan mata. Jika kedua manusia yang menyekapnya ini melaporkannya kepada pihak polisi, ia tentu akan dipenjara dan bisnisnya yang susah payah ia bangun akan kembali bangkrut seperti dua tahun yang lalu.


            “Tttolong jangan laporkan aku pada pihak polisi. Aku akan memberikan apapun yang kalian inginkan. Kalian ingin uang, rumah, atau kau ingin wanita-wanita yang cantik? Aku bisa memberikannya.” tawar Kangta panik. Yuka yang mendengar hal itu semakin merasa kesal dan marah pada Kangta. Apalagi pria itu berani-beraninya menawarkan hadiah wanita pada Haejun, benar-benar pria itu cari mati rupanya.


            “Kau berani menyuap kami? Hukumanmu justru akan bertambah jika kau melakukan hal itu.” geram Haejun kesal. Rasanya ia ingin memukul pria itu dan melemparkan ke kejaksaan untuk segera diadili, tapi ia masih membutuhkan nama dari pria itu terkait orang-orang yang terlibat di dalam bisnis kotornya.


            “Siapa saja orang-orang yang terlibat dalam bisnis kotormu? Bukankah menteri-menteri itu juga terlibat?” tanya Yuka penuh selidik. Ekspresi wajah Kangta langsung menegang seketika ketika Yuka mulai menyinggung masalah keterlibatan menteri dalam bisnis kotornya.


            “Tttidak, tidak ada menteri ataupun orang-orang dalam pemerintahan Park Boyoung yang terlibat dalam bisnis kotorku, semuanya kulakukan sendiri.”


Brakk


Lee Haejun memukul nakas kayu yang berada tepat di atas kepala Kangta dengan emosi. Pria itu, jelas-jelas semua kebohongannya telah diketahui, tapi tetap saja ia tidak mau mengakui semua kejahatannya dan komplotannya yang berdiri di belakangnya.


            “Jangan coba-coba untuk membohongi kami atau kepalamu akan meledak setelah ini.”


Ckrek


Haejun menarik flintlock pistolnya dengan cepat dan langsung menempelkan benda dingin itu tepat di pelipis kanan Kangta.


            “Jjjangan bunuh aku, aaaku akan memberikan kalian nama-nama yang kalian inginkan. Tttolong jauhkan benda itu dari kepalaku.” ucap Kangta ketakutan. Lee Haejun tetap menempelkan benda itu di pelipis kanan Kangta tanpa mengindahkan permintaan pria itu yang ketakutan.


            “Semakin cepat kau mengatakannya maka benda ini tidak akan meledak di kepalamu.” peringat


Haejun dingin. Dengan takut-takut Kangta mulai menceritakan awal dari kebangkitan bisnisnya yang misterius. Seharusnya sejak awal bisnis itu tidak mungkin berdiri lagi karena bisnis itu telah benar-benar bangkrut dan tidak ada satupun yang tersisa dari bisnis itu. Bahkan para investorpun tidak ada yang berani untuk menanamkan saham mereka pada perusahaan mendiang ayah Kangta karena kondisi perusahaan itu yang tidak mungkin untuk berjaya kembali. Tapi tiba-tiba perusahaan itu kembali berjaya dan semakin menuai kesukesan dari hari ke hari. Dan sejak satu tahun yang lalu badan intelijensi negara mulai mencurigai adanya orang-orang adikuasa yang berdiri di belakang perusahaan milik Kangta.


            “Sebenarnya aku tidak tahu siapa yang menginvestasikan uang sebanyak itu pada perusahaan ayahku. Sejak awal perusahaan milik ayahku sudah tidak mungkin untuk bangkit kembali, tapi tiba-tiba menteri Nam Yulwon datang dan menawariku sebuah kucuran dana yang akan mengembalikan kejayaan perusahaanku. Karena saat itu aku sudah benar-benar frustasi, akhirnya aku menerima tawaran yang diberikan oleh menteri Nam Yulwon tanpa bertanya mengenai sumber dana itu. Lalu keesokan paginya menteri Nam mengirimkan sebuah buku rekening yang berisi uang sebanyak dua puluh lima miliar won. Meskipun aku tidak percaya dengan menteri Nam, tapi aku

__ADS_1


tidak bertanya lebih lanjut mengenai uang itu pada menteri Nam, aku sudah cukup berhutang budi padanya dan aku tidak ingin merusak hubungan baikku dengannya hanya karena sumber dari uang itu. Jadi hanya sebatas itu yang kutahu. Tolong lepaskan aku.” mohon Kangta memelas. Yuka kemudian mengambil ponselnya dan menyuruh rekannya untuk memblock kapal ekspedisi yang berisi mobil-mobil ilegal milik Kangta.


            “Kapalmu sekarang sedang dalam pengejaran tim patroli laut, sebentar lagi bisnismu akan hancur.” ucap Yuka dingin. Kangta langsung memejamkan matanya frustasi dan tampak tak berniat untuk berkomentar. Sejak ia sadar dari pingsannya ia sudah menduga jika ini akan terjadi. Semuanya yang telah ia bangun dengan susah payah akan segera hancur dan hilang tak berbekas.


Drt drt drt


“Oppa, ponselmu bergetar.”


            Haejun merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda hitam yang tampak bergetar-getar berisik di tangannya. Pria itu kemdian segera menscroll layar ponselnya dan menerima panggilan darurat itu dengan cepat.


            “Ya, kalian sudah memblock kapal itu?”


            “.........”


            “Sesuatu pasti sedang terjadi di sana, ada apa? Katakan saja.” ucap Haejun gusar. Sepertinya sang lawan bicara sedang berbelit-belit dan tak kunjung mengatakan berita yang sebenarnya.


“.............”


            “Apa? Tabung-tabung yang berisi gas beracun? Kau juga mengirim senjata genosida?”


            Tiba-tiba Lee Haejun beralih pada Kangta sambil menggeram marah pada pria itu. Sedangkan Kangta yang sejak tadi mencuri dengar percakapan antara Haejun dan rekannya tampak mengernyit tidak mengerti dengan tuduhan yang dilayangkan kepadanya.


            “Bawa barang bukti ke markas, aku akan melihatnya setelah petugas kejaksaan datang untuk membawa Kangta.”


            Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Haejun segera beralih pada Kangta untuk mengitrogasi pria itu lebih lanjut.


            “Kau selama ini menyelundupkan senjata genosida?”


            “Apa? Tidak, aku sama sekali tidak melakukannya. Aku hanya menyelundupkan mobil-mobilku ke beberapa negara di Asia dan timur tengah agar aku tidak perlu membayar pajak. Aku sama sekali tidak menyelundupkan apapun selain mobil, aku berani bersumpah atas nama Tuhan. Lagipula aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan senjata genosida yang kau tuduhkan. Untuk apa aku menyelundupkan senjata genosida jika tujuanku melakukan penyelundupan itu agar keuntungan yang kudapat semakin banyak, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan senjata genosida itu.”


            Yuka tampak memperhatikan ekspresi bersungguh-sungguh Kangta sambil mengangguk kecil pada Haejun. Ia rasa pria itu telah mengatakan semuanya dengan jujur, pria itu sama sekali tidak tahu mengenai senjata genosida yang berada di dalam kapal ekspedisi miliknya.


            “Kita harus menyelidiki hal ini lebih lanjut terkait dengan menteri Nam Yulwon dan orang misterius yang menginvestasikan dana sebesar itu untuk perusahaan milik Kangta yang bangkrut.”


            “Ya aku tahu, hubungi petugas kejaksaan sekarang.” perintah Haejun tegas. Tanpa menunggu dua kali, Yuka segera menghubungi rekannya yang bertugas di kejaksaan untuk membawa Kangta. Penyidikannya untuk malam ini telah selesai. Setidaknya mereka mendapatkan nama untuk diselidiki berikutnya. Dan mengenai sosok misterius yang berada di balik kebangkitan perusahaan Kangta, mereka akan segera menyelidikinya setelah ini, karena semua senjata genosida yang ditemukan di dalam kapal ekspedisi milik Kangta kemungkinan adalah milik dari sosok misterius itu.


-00-


           Yuka bersandar di dalam kursi mobil milik Haejun sambil bernafas lega. Akhirnya tugasnya hari ini telah selesai. Ia kemudian memejamkan matanya sejenak sambil memikirkan semua masalah pelik yang terjadi di sekitarnya. Dan sudah dua hari ini ia tidak pulang karena harus menangani semua masalah-masalah itu.


            “Yuka, ada panggilan masuk di ponselmu.”


            Haejun mengguncang bahu Yuka pelan dan memberikan ponsel putih itu pada sang pemilik. Setelah menerima benda persegi itu, Yuka langsung mengangkatnya tanpa melihat nama sang pemanggil.


           “Ya eomma, aku akan segera pulang.” jawab Yuka malas. Sudah sejak kemarin ibunya meneleponnya dan memintanya untuk pulang, tapi pekerjaanya yang menumpuk bersama Haejun membuatnya tidak bisa pergi begitu saja dan melangkah dengan tenang ke rumah.


            “........”


            “Aku pulang bersama Haejun oppa.”


            “........”


            “Ya, kami akan tiba dalam dua puluh menit. Jalanan sangat lenggang, jadi mungkin kami akan tiba lebih cepat.”


            “........”


            “Iya eomma, aku tidak akan berbohong seperti kemarin, kali ini aku benar-benar akan pulang.”


            “.......”


            “Ya, sampai jumpa.”


            Yuka membuang ponsel putihnya asal ke belakang sambil mendesah frustasi. Sejak awal ia telah menduga jika pekerjaan ini tidak akan mudah, apalagi dengan kehadiran sosok keluarga yang akan selalu menjadi kelemahannya. Ia harus menyembunyikan identitas keluarganya dan semua hal yang berhubungan dengan keluarganya dari pekerjaannya. Apalagi setelah ayahnya meninggal, ia menjadi sangat paranoid dengan  eluarganya sendiri. Terkadang ia merasa jika keluarganya sedang dimata-matai oleh seseorang, tapi Haejun selalu berhasil meyakinkannya jika semua ketakutan itu tidak nyata. Tidak ada yang mengetahui identitas


keluarganya dan tidak ada yang sedang memata-matai keluarganya. Semua keluarganya kini dalam keadaan aman.


            “Apa yang eommamu katakan?” tanya Haejun memecah keheningan diantara mereka. Yuka membuka matanya lebar-lebar dan langsung menoleh pada Haejun yang sedang berkonsetrasi pada setir kemudinya.


            “Eomma menyuruhku pulang. Ahh, aku lelah oppa. Pekerjaan ini membuatku selalu dihantui perasaan was-was.” erang Yuka frustasi. Haejun mengulurkan tangan kanannya yang bebas dan menggenggam tangan wanitanya erat. Ia tahu, menjadi seorang intel adalah sesuatu yang sangat sulit, karena selain mempertaruhkan nyawanya sendiri, seorang intel juga harus siap dengan segela kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan terjadi pada anggota keluarganya. Oleh karena itu mereka tidak diperkenankan untuk menjalin hubungan antar sesama intel dan diwajibkan untuk menyembunyikan identitas mereka, karena semua itu untuk menjamin keselamatan keluarga mereka. Tapi semua itu tidak berlaku untuk mereka. Ia dan juga Yuka telah berjanji bersama-sama untuk saling menjaga satu sama lain agar kehidupan mereka tetap berjalan damai meskipun mereka selalu dihadapkan pada masalah sulit negara yang pelik.


            “Sebentar lagi kita akan sampai.”


            Haejun mengarahkan setir kemudinya ke arah sebuah rumah bergaya minimalis yang ditumbuhi berbagai macam tanaman di depannya. Eomma Yuka adalah wanita pensiunan sebuah perusahaan swasta, sehingga sejak tuan Im meninggal nyonya Im lebih sering menghabiskan waktunya untuk merawat bunga-bunganya di taman.


Apalagi anak semata wayangnya juga jarang pulang untuk menemaninya, sehingga nyonya Im lebih suka menyibukan diri dengan hal-hal yang disenanginya.


            “Ayo turun, kau pasti sudah merindukannya bukan?”


            Haejun menarik tangan Yuka untuk keluar dari mobilnya dan merangkul Yuka untuk masuk ke dalam rumah. Sesekali ekor matanya menyapu keadaan rumah nyonya Im yang terlihat sepi dan senyap. Ia hanya ingin memastikan jika tidak ada seorangpun yang mengikuti mereka atau sedang mengintai rumah orangtua Yuka.


            “Eomma... Enzo.”


            “Mommy!!”


            Seorang anak berusia empat tahun langsung berlari ke arah Yuka sambil menubruk tubuh lelah Yuka hingga terhuyung ke belakang. Pria kecil itu terlihat begitu gembira dan langsung meminta Haejun untuk menggendongnya.


            “Daddy, kalian darimana saja?” tanya Enzo manja. Lee Enzo memeluk leher ayahnya erat sambil menyalurkan seluruh rasa kerinduannya pada sang ayah yang sudah dua hari ini tidak ditemuinya.


            “Maafkan mommy dan daddy ya, apa yang Enzo lakukan selama mommy dan daddy tidak ada?” tanya


Yuka lembut sambil mengelus kepala putranya sayang. Nyonya Im yang mendengar suara keributan dari ruang tamu langsung berjalan tergopoh-gopoh sambil membawa segelas susu coklat untuk Enzo.


            “Oh, kalian sudah pulang. Enzo, ini susu untukmu nak.” panggil halmeoninya lembut. Tapi Enzo masih ingin berlama-lama dengan daddynya, sehingga ia langusng menolak permintaan sang halmeoni untuk turun dari gendongan sang ayah dan meminum susu coklatnya.

__ADS_1


            “Biar aku saja yang memberikannya eomma, Enzo mungkin masih ingin berlama-lama dengan Haejun oppa.” ucap Yuka seraya meminta gelas bening itu dari tangan sang eomma. Nyonya Im kemudian membawa mereka semua ke dalam ruang keluarga untuk saling bercengkerama satu sama lain dan melepas kerinduan. Sebagai seorang ibu, ia sebenarnya sangat berat untuk melepas Yuka dan mengijinkannya untuk menjadi salah satu intel negara, tapi semenjak Haejun datang untuk melamar Yuka dan berjanji akan melindungi Yuka, kekhawatiran itu perlahan-lahan hilang, digantikan dengan perasaan lega karena ia telah memberikan putri semata wayangnya pada pria yang tepat, pria yang dapat melindungi putrinya dengan seluruh jiwa dan raganya.


            “Kalian beristirahatlah. Malam ini kalian harus menginap di sini dan menemani Enzo hingga ia tidak merengek-rengek lagi seperti kemarin. Enzo membutuhkan kalian.” ucap nyonya Im pada Yuka. Wanita muda itu mengangguk mengerti sambil merangkul ibunya untuk duduk di atas sofa bersamanya. Malam ini setidaknya ia bisa tertidur nyenyak bersama keluarga kecilnya yang berharga. Dan besok ia akan kembali bertugas dengan segala kepelikan yang terjadi di negara tercintanya, Korea Selatan.


__ADS_2