
Haejun memejamkan matanya pedih ketika ia mengingat kenangan empat setengah tahun yang lalu saat Yuka tengah hamil. Ia memang bukan tipe pria yang penuh keromantisan, ia hanya bisa menunjukan rasa sayangnya
melalui sikap. Dan lambat laun Yuka memahami sifatnya hingga Yuka tidak pernah mengaharapkannya menjadi pria roman picisan setelah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya.
Drt drt drt
Getar ponsel di saku celananya membuat Haejun tersadar akan dunia nyata yang sudah lama ia abaikan. Sambil menyeka buliran air mata yang menggenang di pelupuk matanya, Haejun mulai mengangkat panggilan ponsel itu sambil berdeham pelan untuk menormalkan suaranya yang sedikit serak.
“Halo...”
“Hae, kapan kau akan datang ke markas?”
Suara tuan Lee mengalun lembut penuh kehati-hatian. Ia tahu saat ini anaknya sedang mengalami masa-masa sulit yang terlampau menyakitkan untuk dilalui.
“Aku tidak tahu appa, tolong berikan aku waktu. Setelah semuanya membaik, aku akan segera pergi ke markas.” ucap Haejun tanpa minat. Saat ini bahkan ia tidak tahu berapa lama ia akan meninggalkan markas karena ia masih merasa berat untuk pergi ke markas. Apalagi di sana banyak sekali kenangannya bersama Yuka yang akan membuatnya semakin hancur dengan kesedihannya yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata dan air mata.
“Besok appa akan rapat bersama dewan jenderal....”
“Aku tidak peduli dengan dewan jenderal appa. Bahkan aku rela jika jabatanku sebagai kapten dilepas, aku tidak peduli itu!”
Tuan Lee terdiam sejenak dengan jawaban anaknya. Saat ini anaknya sedang kacau dan ia merasa salah karena mengatakan hal itu dalam suasana yang tidak tepat. Ia memang seharusnya membiarkan Haejun sendiri hingga semuanya membaik dan putranya mampu menjalankan hidupnya kembali tanpa Yuka di sisinya.
“Maafkan appa Hae, appa tidak bermaksud untuk menambah beban pikiranmu. Lalu bagaimana denganmu sekarang, apa kau akan berada di rumah sepanjang hari tanpa melakukan sesuatu?”
“Besok aku akan menjemput Enzo, mulai sekarang ia akan tinggal bersamaku. Karena ternyata keputusanku untuk menjauhkan Enzo dari kehidupanku dan Yuka yang penuh bahaya bukanlah keputusan yang tepat. Justru sekarang aku menyesal dengan keputusanku itu karena sekarang setelah Yuka pergi, Enzo tidak memiliki banyak kenangan bersama Yuka. Sekarang aku ingin Enzo tinggal bersamaku agar ia memiliki banyak kenangan bersamaku. Persetan dengan banyaknya musuh yang akan membahayakan nyawanya, tapi jika nanti aku pergi menyusul Yuka, ia akan memiliki banyak kenangan bersamaku, daddynya.”
Tuan Lee tanpa sadar mengusap sudut matanya yang mulai berair. Membayangkan putranya yang selama ini tangguh dan sekarang harus menjadi pria rapuh karena kehilangan isterinya membuat tuan Lee sedih. Bahkan ia juga sangat menyayangkan bagaimana cara menantunya pergi yang cukup menyedihkan. Seharusnya Yuka mendapatkan akhir hidup yang layak, bukan akhir hidup yang sangat mengenaskan karena kebencian musuh. Setelah ini mungkin ia akan memperketat sistem penyaringan agent agar tidak ada lagi para pengkhianat yang menyusup ke dalam markas untuk memporak porandakan ketahanan markas seperti kemarin.
“Maafkan appa Hae, appa turut menyesal atas kepergian Yuka yang sangat... mengerikan. Appa dan dewan jenderal akan berusaha memperketat keamanan markas agar tidak ada lagi pengkhianat yang menyusup ke dalam markas. Dan appa berjanji akan membantumu untuk menangkap Park Jaejong.”
“Terimakasih appa, ini bukan salah appa. Kalau begitu aku akan menutup teleponnya. Ada beberapa hal yang harus kulakukan sekarang.”
Haejunpun segera mengakhiri panggilan teleponnya dengan sang ayah setelah tuan Lee mengijinkannya untuk menutup teleponnya. Ia kemudian berjalan menuju kamarnya untuk mengistirahatkan pikirannya yang kacau karena kematian Yuka. Tapi baru saja ia tiba di ambang pintu dan ingin masuk ke dalam kamarnya, bayangan Yuka senantiasa menghantuinya dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Rasanya ia masih melihat Yuka sedang tersenyum di atas ranjang sambil bersiap-siap untuk tidur.
“Arghhhh!!”
Haejun mengacak-acak rambutnya frustasi dan memilih untuk keluar dari rumahnya agar bayangan Yuka tidak terus menghantuinya. Ia muak! Ia tidak mau terus menerus dihantui kesedihan akan kepergian Yuka karena hal itu membuatnya lemah. Ia ingin segera melupakan Yuka dan bayang-bayang mengerikan mengenai kematian Yuka yang mengenaskan.
-00-
Suara musik yang menghentak memenuhi indera pendengaran Haejun sejak ia memutuskan untuk masuk ke dalam klub dan minum sepuasnya untuk melupakan kesedihannya tentang Yuka. Sudah terhitung sepuluh kali Haejun meminta bartender untuk memberikannya scotch agar ia segera mabuk dan tidak lagi membayangkan Yuka yang tengah menunggunya di rumah dengan perasaan cemas. Kini Haejun sudah mulai merasakan efek dari scotch yang telah mempengaruhi pikirannya hingga kini kepalanya terasa pusing dan berputar putar. Dengan suara yang tidak jelas, Haejun meminta sang bartender untuk memberikannya scotch lagi yang ke sebelas. Persetan dengan keadaannya yang sudah mabuk, yang ia inginkan hari ini adalah melepaskan bayang-bayang Yuka yang menyakitkan hatinya.
“Berikan aku satu sloki lagi.” Pinta Haejun dengan suara yang tidak jelas. Bersamaan dengan itu kepala Haejun jatuh terkulai di atas meja karena efek scotch yang mulai bekerja pada tubuhnya yang terasa ringan. Haejun jatuh tertidur sambil membayangkan wajah Yuka yang sedang tersenyum di kepalanya.
Flashback
Haejun tengah berjalan sendirian di dalam lorong markasnya ketika ia mendengar suara para wanita yang sedang menggosipkan Yuka di depannya.
“Apa kau tahu dimana Im Yuka sekarang? Sudah lama aku tidak melihatnya di markas.”
“Kau tidak tahu jika Yuka mengambil cuti enam bulan yang lalu karena akan melanjutkan studinya ke luar negeri?”
Haejun melihat salah satu wanita yang tadi bertanya menggelengkan kepalanya. Wanita itu tampak begitu berminat dengan topik resignnya Yuka dari markas.
“Benarkah? Kenapa aku tidak pernah tahu? Pantas saja selama ini kapten Lee selalu terlihat sendiri. Apa menurutmu Yuka memang sengaja menggoda kapten Lee agar pria tampan itu selalu menempel padanya? Pasti Yuka telah menggunakan tubuhnya untuk membuat kapten Lee terus menerus berada di sampingnya.”
Haejun mengepalkan tangannya kesal ketika ia medengar nama isterinya dijelek-jelekan oleh wanita lain. Apalagi wanita itu berani-beraninya menuduh isterinya telah menggodanya. Ia harus memberi pelajaran pada wanita itu!
__ADS_1
“Entahlah, tapi Yuka memang cantik, pantas jika kapten Lee menyukainya.” bela salah satu wanita yang berada di perkumpulan kecil itu. Haejun memutuskan untuk tinggal lebih lama, guna menguping pembicaraan para wanita di lorong markas yang sepi itu. Rasanya ia ingin mengetahui bagaimana populernya Yuka selama ini di dalam markas.
“Tapi kurasa Yuka yang telah menggoda kapten Lee, karena kapten Lee adalah pria yang sangat dingin. Mana mungkin pria yang sedingin itu akan luluh begitu saja tanpa dipancing terlebihdahulu. Apa kalian tahu jika kapten Lee adalah tipe pria yang sulit, bahkan menurut kabar yang beredar mantan kekasih kapten Lee selama ini terkenal cantik-cantik. Apa kau tahu seorang super model Korea bernama Kim Sujin, dia adalah salah satu mantan kekasih kapten Lee.”
“Hah, benarkah? Super model yang cantik itu adalah mantan kekasih kapten Lee? Aku sungguh tidak pernah tahu berita itu.”
Haejun mendengarkan semua ucapan para wanita itu dengan perasaan kesal yang luar biasa besar di hatinya. Bagaimana mungkin wanita itu bisa tahu jika dulu ia memang pernah menjalin hubungan dengan Sujin? Tapi itu dulu, jauh sebelum Sujin menjadi seorang super model dan ia masih meniti karir di dunia catwalk. Tapi rasanya itu sudah sangat lama, bahkan ia sudah melupakan Sujin. Dan ia merasa kesal jika mereka membanding-bandingkan Yuka dengan Sujin, karena pada kenyataanya Yuka lebih baik dalam segala hal daripada Sujin. Mereka hanya terlalu iri pada Yuka sehingga mereka menggunakan nama mantan kekasihnya yang merupakan seorang super model untuk menjatuhkan Yuka.
“Ck, kau pasti tidak pernah mendengarkan interview Sujin di televisi. Tapi sudahlah, itu tidak penting. Sekarang justru saatnya bagi kita mendekati kapten Lee karena ia tengah sendiri. Bukankah selama ini kita tidak dapat mendekatinya karena Im Yuka selalu berada di sekitarnya, apalagi untuk masuk ke dalam tim kapten Lee sangat sulit. Lihatlah semua anggota tim yang dipimpin oleh kapten Lee, semuanya adalah agent-agent yang memiliki riwayat kerja yang hebat. Tapi aku meragukan posisi Yuka, karena sejak dulu ia terus menempel pada kapten Lee seperti jamur yang menempel pada batu.”
Beberapa wanita yang mendengar celotehan wanita nyinyir itu langsung tergelak keras ketika mendengar cibiran sang wanita yang terdengar begitu puas menjelek-jelekan Yuka. Namun Haejun sudah merasa panas dengan semua pembicaraan yang bernada tidak menyenangkan itu. Sepertinya sudah saatnya untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan memberikan pelajaran untuk mereka.
“Eehem..”
Haejun berdehem pelan sambil berjalan tenang menghampiri kumpulan wanita itu. Melihat kapten Lee yang sedang berjalan kearah mereka, wajah wanita-wanita itu langsung berubah pucat. Mereka mulai terlihat salah tingkah dan ingin segera pergi dari tempat itu, tapi Haejun sudah terlanjur berjalan ke arah mereka, sehingga mereka hanya mampu mematung di tempat tanpa bisa pergi kemanapun.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain selain menggunjing rekan kalian?” tanya Haejun datar penuh nada sindiran. Kim Nana yang merupakan penyebar gosip langsung membeku di tempat tanpa berani menatap wajah Haejun. Bahkan wanita itu tampak gemetar ketika sepatu Haejun berhenti tepat di depan kakinya.
“Kim Nana, sebaiknya kau perbaiki dulu kepribadianmu sebelum kau bermimpi untuk bersanding denganku karena aku memiliki standar wanita yang sangat tinggi.”
Setelah mengucapkan hal itu Haejun segera pergi meninggalkan geng wanita-wanita penggosip itu dengan senyum puas yang terpatri di wajahnya. Setelah ini wanita itu pasti tidak akan berani menggosipkan Yuka lagi bersama gengnya karena ia telah memberikan pelajaran untuk sikap nyinyirnya yang menyebalkan.
-00-
Malam harinya Haejun masih berada di markas untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum terselesaikan. Tiba-tiba ia merasa begitu merindukan isterinya yang sudah sejak enam bulan yang lalu memutuskan untuk tinggal bersama ibunya di Nami karena ia sedang mengandung. Sekarang Yuka tengah menunggu saat-saat kelahirannya di Nami bersama ibunya dan juga ibu mertuanya yang juga sedang pergi ke Nami menyusul Yuka untuk membantu Yuka saat melahirkan nanti.
“Halo..”
Haejun tersenyum cerah ketika Yuka mengangkat panggilan teleponnya yang telah larut malam. Padahal ia pikir Yuka tidak akan mengangkatnya karena tiga hari yang lalu Yuka mengatakan jika akhir-akhir ini ia sering merasa lelah dan waktu tidurnya juga lebih cepat dari biasanya.
“Oppa.. Ada apa menghubungiku selarut ini?” tanya Yuka dengan suara sedikit serak. Sekarang Haejun yakin jika sebenarnya Yuka sudah tidur, namun ia terbangun karena panggilannya.
“Apa yang oppa inginkan dariku, hmm?”
“Aku ingin kau kembali ke Seoul, aku kesepian.” ucap Haejun jujur. Pria itu sedikit meluruskan kakinya di atas sofa sambil tersenyum-senyum aneh seperti seorang remaja yang sedang kasmaran. Andai saja anak buahnya tahu bagaimana sikapnya yang sebenarnya, mungkin mereka tidak akan merasa segan lagi padanya.
“Ck, bersabarlah oppa. Setelah aku melahirkan, aku akan kembali ke Seoul. Ngomong-ngomong apa oppa akan datang untuk menemaniku selama proses persalinan? Akhir-akhir ini aku sering merasakan kontraksi kecil, mungkin sebentar lagi anak kita akan lahir.”
Tiba-tiba Haejun menangkap adanya nada sedih dalam ucapan Yuka. Memang sejak enam bulan yang lalu, ia hanya pernah satu kali pergi ke Nami, itupun saat ia mengantarkan Yuka menuju rumah eommanya. Selebihnya ia belum pernah mengunjungi Yuka lagi di Nami karena ia begitu sibuk dengan banyaknya kasus yang masuk ke markas. Ia sangat merasa bersalah pada Yuka sekarang. Seharusnya selama masa kehamilan, ibu hamil mendapatkan dukungan penuh dari suaminya, tapi Yuka sama sekali tidak pernah menuntut hal itu darinya. Baru kali ini Yuka mengutarakan keinginan hatinya agar ia datang disaat proses persalinannya nanti.
“Maaf, aku sangat sibuk selama enam bulan ini. Akan kuusahakan datang ke Nami secepatnya. Bagaimana keadaanmu? Apa kau masih merasakan sakit dan pegal-pegal?” tanya Haejun penuh perhatian. Yuka tanpa sadar mengangguk sambil memegang pinggangnya yang akan terasa pegal ketika ia bangun tidur. Namun jelas
Haejun tidak akan melihat anggukan kepalanya, karena jarak mereka yang sangat jauh terpisah lautan.
“Yah.. pegal-pegal itu memang biasa terjadi pada ibu hamil, jadi sudah pasti aku masih merasakannya hingga saat ini. Bahkan semakin parah semenjak usia kandunganku bertambah. Tapi oppa tenang saja, eomma dan eommonim sudah memberikan gel anti pegal, jadi pinggangku sudah tidak terlalu sakit. Lalu bagaimana dengan keadaan oppa? Oppa pasti tidak terawat dengan baik di sana.” ucap Yuka sambil terkikik geli. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rupa suaminya sekarang karena selama ini Haejun tidak mau melakukan panggilan video dengannya. Ia mengatakan padanya jika ia ingin memberikan kejutan padanya, dan hal itu tentu membuat Yuka sangat penasaran hingga ia ingin segera bertemu dengan suaminya.
“Kau harus melihatnya sendiri nanti.” ucap Haejun misterius. Pria itu tanpa sadar menyentuh dagunya yang kini telah ditumbuhi rambut-rambut halus yang sedikit panjang karena semenjak Yuka pergi ke Nami ia tidak pernah bercukur. Biasanya Yuka yang mencukurkan cambangnya ketika ia sedang tidur atau ketika ia sedang bersantai di rumah. Dan sekarang saat Yuka sedang berada di Nami, ia malas melakukannya. Ia hanya ingin Yuka yang melakukannya untuknya.
“Ck, kau membuatku semakin penasaran oppa! Awas saja jika ternyata kau bertambah jelek, aku akan mencari pria lain yang lebih tampan di sini.” goda Yuka dengan suara tawa kerasnya.
“Jikau kau berani melirik pria lain di sana, aku juga akan mencari wanita cantik di sini. Apa kau masih ingat siapa saja mantan kekasihku sebelum aku menikah denganmu? Mereka pasti akan dengan senang hati menerimaku kembali.”
“Oh.. jadi kau ingin kembali bersama si super model Sujin itu? Silahkan saja, tapi aku tidak akan mengijinkanmu bertemu dengan anakku. Dasar pria menyebalkan!”
Sekarang justru Yuka yang marah karena godaan Haejun. Padahal niat hati ia ingin memanas-manasi Haejun, tapi justru ia sendiri yang merasa panas dengan topik seputar mantan suaminya yang memang tidak main-main itu.
“Kena kau, kau tidak akan bisa menang dariku.”
__ADS_1
Haejun tertawa terbahak-bahak sambil membayangkan wajah cemberut isterinya yang menggemaskan. Ahh.. Yuka semakin membuatnya ingin segera terbang ke Nami.
“Oppa menyebalkan! Kalau begitu selamat malam, aku sudah mengantuk.”
Yuka menutup panggilan telepon itu sepihak tanpa menunggu Haejun memberikan jawabannya. Tapi Haejun justru segera membuka aplikasi di ponselnya untuk memesan tiket pesawat karena ia memutuskan untuk pergi ke Nami esok pagi. Firasatnya mengatakan jika Yuka akan segera melahirkan sebentar lagi, dan ia tidak ingin menjadi suami kejam karena tidak menunggui isterinya berjuang untuk kelahiran anak mereka yang sudah ia nantikan selama ini.
“Yuka tunggulah aku. Aku akan memberimu kejutan.”
Flashback end
Suara hingar bingar musik masih terdengar begitu berisik di dalam klub, namun hal itu sama sekali tidak mengganggu Haejun dari mimpi indahnya tentang Yuka. Justru pria itu terus meracau beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Yuka dalam tidurnya.
Seorang wanita yang sejak tadi duduk di sebelahnya mulai merasa terganggu dengan racauan Haejun yang tidak jelas. Wanita itupun memberanikan diri untuk membangunkan pria itu agar pria itu setidaknya pulang ke rumah daripada harus tidur dalam keadaan yang tidak nyaman seperti itu. Tapi ketika ia sudah berdiri tepat di depan tubuh Haejun, wanita itu justru terkejut dengan keberadaan Haejun di dalam klub tersebut.
“Lee Haejun!”
Jaekyung mengguncang-guncangkan tubuh Haejun pelan, namun sama sekali tak ada reaksi dari Haejun. Bahkan Haejun seperti tidak merasakan guncangan di bahunya yang sebenarnya sudah cukup keras itu.
“Apa kau mengenalnya? Ia terlihat sangat kacau sejak datang ke sini dua jam yang lalu.”
Bartender itu berseru pelan pada Jaekyung sambil melirik wajah Haejun yang sedang tertidur dengan damai di atas meja bar.
“Dia adalah anak teman appaku. Apa ia menceritakan masalahnya padamu?”
“Tidak, ia hanya datang dan terus menerus meminta scotch hingga jatuh tertidur seperti itu. Mungkin ia memiliki masalah yang sangat besar dan ingin melupakannya sehingga ia memutuskan untuk meminum scotch sebanyak-banyaknya hingga mabuk.” jelas bartender itu rinci. Jaekyun mengangguk-angguk mengerti dan mulai merogoh saku celana Haejun untuk mengambil dompet milik Haejun. Ia yakin jika ia dapat menemukan alamat Haejun di dalam kartu pengenal milik Haejun agar ia bisa mengantarkan Haejun pulang ke rumah.
“Lee Haejun ayo kita pulang.”
Jaekyung mulai mengangkat tubuh Haejun perlahan ketika ia sudah menemukan alamat rumah Haejun. Dibantu oleh sang bartender yang sejak tadi menemaninya, akhirnya Jaekyung bisa memasukan Haejun ke dalam mobilnya.
“Huh, terimakasih banyak atas bantuannya.” ucap Jaekyung ramah pada bartender yang membantunya. Bartender itu mengacungkan jempolnya dan segera menutup pintu mobil Jaekyung ketika semuanya telah selesai. Jaekyungpun membuka sedikit kaca mobilnya dan sekedar melambaikan tangan untuk menghormati bartender yang baru dikenalnya.
-00-
Dengan langkah sempoyongan Jaekyung menarik tubuh Haejun untuk masuk ke dalam rumahnya. Seorang petugas keamanan memberikan akses masuk ke dalam rumah Haejun ketika Jaekyung mengaku jika dirinya adalah teman Haejun yang ingin mengantarkan pulang karena Haejun sedang dalam keadaan mabuk berat.
“Ughh.. kau berat sekali Lee Haejun ssi. Pasti otot-ototmu ini yang membuat tubuhmu berat.” gerutu Jaekyung sambil menyeret tubuh berat Haejun yang sedang tak sadarkan diri. Jaekyung pun melihat sebuah kamar yang paling dekat dari pintu utama, dan tanpa pikir panjang Jaekyung langsung memasukan Haejun ke dalam kamar itu karena ia sudah tak sanggup untuk menyeret tubuh Haejun lebih lama lagi. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia mendengar racauan Haejun yang sedikit tidak jelas, namun samar-samar ia masih bisa mendengarnya.
“Yuka.. Yuka, kembalilah..”
“Yuka?” gumam Jaekyung bingung. Namun ia memutuskan untuk tak memusingkannya karena ia ingin segera membawa Haejun masuk ke dalam kamar, karena ia sudah tidak kuat untuk menahan tubuh Haejun yang berat.
Brukk
Jaekyung melemparkan tubuh Haejun begitu saja ke atas ranjang dan segera melepaskan sepatu Haejun serta menyelimuti Haejun agar pria itu tidak kedinginan.
Sebelum Jaekyung meninggalkan Haejun, Jaekyung sempat menatap wajah Haejun dalam yang sedang tertidur pulas di depannya.
“Kau semakin terlihat tampan saat sedang tidur Haejun ssi. Selamat malam.”
Jaekyung menutup pintu kamar Haejun perlahan dan segera berjalan keluar untuk pulang ke rumahnya sendiri. Tapi ketika berada di ruang tengah, Jaekyung tertegun dengan banyakanya foto keluarga yang dipasang Haejun di sana. Ia pun merasa terpanggil untuk melihat foto itu satu persatu karena sejak tadi ia tidak melihat
foto-foto itu karena terlalu sibuk menyeret tubuh Haejun.
“Bukankah wanita ini adalah intel yang siang ini dikabarkan meninggal akibat kecelakaan saat sedang bertugas? Jadi.. jadi wanita ini adalah isteri Lee Haejun?”
Jaekyung menutup mulutnya tak percaya ketika ia melihat semua foto-foto Haejun bersama keluarga kecilnya yang tergantung di atas dinding. Disana Jaekyung dapat melihat foto pernikahan Haejun dan juga foto Haejun yang sedang menggendong seorang bayi bersama Yuka. Lalu Jaekyung juga menemukan sebuah foto berukuran besar yang bertuliskan Lee Enzo di bawah bingkainya. Dengan penuh kekaguman Jaekyung mengamati foto itu satu persatu sambil membatin.
__ADS_1
Apakah aku bisa menggantikan posisi wanita ini untuk menjadi isteri dan juga ibu?