Ignite

Ignite
Forgotten Day (Eight)


__ADS_3

        “Jadi ini adalah sketsa para pelaku perampokan bank Shinhan dan Woori. Komplotan mereka berjumlah lima orang. Dua orang berambut pendek ini adalah eksekutor, mereka yang akan mengosongkan brangkas bank dan


membawa uang-uang itu pergi. Sedangkan sisanya, mereka bertugas sebagai penjaga yang akan melindungi kedua temannya yang sedang beraksi mengosongkan brangkas bank. Jadi apa kalian sudah mengerti dengan tugas kalian hari ini?” tanya Yuka tegas. Seluruh anggota devisi dua mengangguk serempak dan segera bersiap-siap untuk melakukan penyergapan menuju bank Woori.


            “Senior Im, perampok-perampok itu menahan seluruh nasabah bank dan juga pegawai bank karena polisi mengepung mereka. Kita harus segera ke sana untuk menyelamatkan sandera.” lapor Yeri terburu-buru. Yuka pun mengangguk mengerti dan segera menyuruh agen yang lain untuk menyiapkan senjata-senjata yang akan mereka butuhkan.


            “Kalian sudah menggunakan rompi anti peluru? Aku khawatir akan terjadi baku tembak di sana.” ucap Yuka mengingatkan. Seluruh juniornya mengangguk mengiyakan dan mereka segera berjalan bersama menuju mobil milik intel negara yang sudah terparkir di depan.


            “Lay, terus pantau pergerakan perampok itu, jangan sampai mereka menjatuhkan korban. Katakan pada polisi-polisi yang berjaga di sana, jangan ada satupun yang mencoba untuk masuk atau mengangkat senjata, katakan pada mereka untuk tetap tenang hingga kita datang untuk melakukan negosiasi.” perintah Yuka tegas. Lay menganggukan kepalanya dan segera menghubungi salah satu polisi yang sedang melakukan pengepungan di sekitar bank Woori.


-00-


            Haejun berjalan tergesa-gesa menuju kediaman pribadi presiden Park bersama dengan ayahnya dan juga beberapa petinggi negara yang lain. Hari ini salah satu kerabat presiden yang merupakan seorang duta besar di China mengabarkan jika dua hari yang lalu mereka berhasil menemukan kelompok sindikat penjualan barang-barang ilegal yang diselundupkan dari Korea Selatan. Dan kabarnya barang-barang selundupan yang mereka bawa berjumlah lebih dari lima kontainer, sebuah angka yang cukup fantastis untuk sebuah barang selundupan. Apalagi isi dari kontainer-kontainer itu bukan hanya obat-obatan terlarang, melainkan mereka juga menemukan bahan makanan kaleng yang diduga berasal dari pabrik milik salah satu menteri yang menjabat di dalam pemerintahan presiden Park Boyoung. Oleh karena itu presiden memanggil Haejun dan beberapa petinggi negara yang lain untuk


berkumpul dan membicarakan masalah kerugian negara yang sangat banyak terkait dengan kasus penyelundupan itu.


            “Hae, bagaimana penyelidikanmu mengenai perusahaan Daewon? Bukankah perusahaan itu memiliki keterkaitan dengan perusahaan Saegu yang merupakan perusahaan milik menteri Nam Yulwon?” tanya Jenderal Lee disebelah putranya. Haejun mengganguk-anggukan kepalanya sambil mendekatkan bibirnya pada telinga sang ayah agar tidak ada yang mendengar percakapan pribadinya dengan sang ayah, karena hal itu merupakan hal penting yang tidak boleh diketahui oleh siapapun.


            “Perusahaan Daewon menggunakan jasa perusahaan milik menteri Nam Yulwon yang bergerak di bidang asuransi. Dan setahuku perusahaan Daewon mendapatkan harga jasa asuransi yang lebih murah, kira-kira sekitar empat puluh tiga persen lebih murah daripada perusahaan lain. Jika ayah sepemikiran denganku, bukankah itu sangat janggal? Potongan sebesar itu tidak akan mungkin diberikan Nam Yulwon secara cuma-cuma mengingat ia adalah menteri yang serakah. Bahkan selama menjabat sebagai menteri, sebagian perusahaan di Korea seperti dipaksa untuk menggunakan jasa asuransi miliknya, hingga beberapa perusahaan asuransi kecil mengalami


kebangkrutan. Kita harus menyelidiki menteri licik itu lebih jauh. Menurutku penyelundupan makanan kaleng sebanyak dua kontainer yang berada di pelabuhan China juga salah satu ulahnya untuk mendongkrak keuntungan yang selama ini tidak pernah terendus petugas bea cukai karena ia mungkin sudah menyuap para petugas bea cukai itu atau ia sengaja memanfaatkan kekuasaannya untuk mengendalikan para petugas itu.” Jelas Haejun berapi-api.


            “Lee Taehyung, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu sekarang?”


            Seorang pria setengah baya dengan perawakan gagah baru saja keluar dari ruangan presiden dan langsung memeluk tuan Lee dengan antusias. Tuan Lee yang disambut hangat oleh sahabat lamanya, Kim Junwo, langsung membalas pelukan itu tak kalah hangatnya sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya penuh kerinduan. Dulu mereka adalah rekan di camp pelatihan, tapi setelah mereka lulus, Kim Junwo memutuskan untuk berkarir di dunia politik, sedangkan tuan Lee memilih untuk melanjutkan pelatihannya sebagai intel negara, sehingga mereka tidak pernah lagi bertemu untuk waktu yang cukup lama. Hanya sesekali saat tuan Lee sedang bertugs, tuan Lee bertemu Kim Yunwo dan mereka akan saling bertegur sapa dan menanyakan kabar masing-masing.


            “Oh Junwo-ah, aku sangat baik. Kupikir kau telah berubah menjadi seorang ahjussi yang sangat tampan sekarang.” goda tuan Lee pada sahabatnya sambil terkekeh. Lee Haejun yang berada di sebelah ayahnya langsung membungkuk hormat pada sahabat ayahnya sambil tersenyum kecil. Sejujurnya ia tidak terlalu menyukai


sahabat ayahnya yang satu ini karena ia selalu menjodoh-jodohkannya dengan putrinya yang manja dan juga kekanakan itu.


            “Oh Lee Haejun, apa kabar, lama tidak berjumpa. Sekarang kau terlihat semakin gagah seperti ayahmu. Kudengar reputasimu sangat baik di kalangan intel negara. Kau pasti akan menjadi jenderal yang hebat suatu saat nanti.” ucap Kim Junwo terdengar berlebihan. Ia menanggapi ucapan sahabat ayahnya itu dengan senyum tipis tanpa minat, terlihat sekali jika ia sangat malas untuk terlibat pembicaraan dengan sahabat ayahnya yang berisik itu.


            “Tapi Taehyung-ah, apakah putramu yang tampan ini sudah memiliki kekasih? Kulihat selama ini ia selalu sendiri dan tidak pernah terlihat berhubungan dengan seorang wanita, apa kau tidak ingin segera memiliki cucu dari putramu yang tampan ini?”


            Tuan Lee melirik wajah putranya sekilas yang mulai terlihat kesal dengan sahabatnya yang terlalu banyak bicara itu. Ia tahu jika Haejun memang tidak menyuaki sahabatnya yang selalu mencoba menjodohkannya dengan putrinya. Tapi ia juga tidak bisa menghalangi Kim Junwo untuk melakukan hal itu karena pada kenyataanya berita mengenai pernikahan putranya dengan menantunya memang tidak pernah diumumkan. Bahkan hingga mereka memiliki seorang anak berusia empat tahun pun, hubungan mereka masih tertutup rapat dari publik. Entah kapan mereka akan mengumumkannya, ia hanya berusaha mendoakan yang terbaik untuk putranya.


            “Sepertinya putraku masih ingin menikmati masa lajangnya untuk belajar menjadi seorang jenderal yang baik di masa depan, jadi aku tidak bisa memaksakannya untuk segera menikah.”


            “Ahh.. sayang sekali, padahal putramu sangat tampan, pasti banyak wanita di luar sana yang ingin bersanding dengan putramu. Dan sejujurnya aku sangat ingin memiliki menantu seperti putramu. Karena aku tidak bisa menyerahkan putriku pada pria sembarangan. Taehyung-ah, apa kau tidak bisa membujuk putramu untuk setidaknya mengenal putriku terlebihdulu, ia baru saja menyelesaikan studinya di Australia, dan sekarang ia sedang mencari seorang pria untuk menjadi pendampingnya. Apa kau tidak ingin berbesan denganku?”


            “Ehem.”


            Tiba-tiba Lee Haejun menyela pembicaraan dua pria paruh baya itu dengan dehamannya yang keras. Sang ayah yang tengah mati kutu bersama sahabatnya itu langsung tersenyum lega ketika anaknya datang dan menjadi penyelamatnya dari sang sahabatnya yang terlalu berisik. Lagipula ia sudah tidak menginginkan apapun sekarang, karena ia sudah memiliki seorang menantu yang cantik dan seorang cucu yang lucu, lalu apa yang kurang? Mungkin ia hanya butuh ketenangan di usianya yang sekarang tak muda lagi.


            “Maaf menginterupsi pembicaraan anda paman, tapi ayah harus segera masuk untuk menemui presiden Park, jadi sekali lagi saya minta maaf.”


            Lee Haejun membungkukan tubuhnya dengan sopan sambil memberikan kode pada ayahnya untuk segera masuk ke dalam ruang pertemuan karena sang presiden dan juga para petinggi negara yang lain sudah bersiap untuk melakukan rapat.


            “Junwo-ah mungkin kita bisa melanjutkan pembicaraan tentang perjodohan ini ketika Haejun sudah siap. Sampai jumpa.” pamit tuan Lee pada Kim Junwo sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu pelan. Sedangkan Kim Junwo tampak tidak puas dengan jawaban Lee Taehyung dan segera pergi dengan berbagai rencana di dalam kepalanya.


            “Huh, aku harus memaksa pria sombong itu untuk bertemu dengan Jaekyung. Apapun yang terjadi Jaekyung harus bersamanya.” gumam Kim Junwo bersungguh-sungguh sebelum melangkah pergi meninggalkan kediaman presiden Park Boyoung.


-00-


            Yuka tiba di lokasi bank Woori saat keadaan sudah semakin genting. Menurut penuturan salah satu anggota polisi, mereka beberapa kali mendengar suara tembakan yang terdengar dari dalam gedung. Namun mereka tidak bisa masuk ke dalam karena sebelumnya Yuka melarang mereka melakukan apapun, sehingga saat Yuka datang mereka langsung menyerbu Yuka dan agen yang lain untuk segera melakukan tindakan sebelum para perampok itu membunuh orang-orang yang tak bersalah di dalam sana.


            “Senior, apa yang harus kami lakukan?” tanya Sehun sigap. Yuka mencoba memikirkan strateginya secepat mungkin sambil memindai bangunan bank Woori yang menjulang tinggi.


            “Sehun dan Minzi, kalian masuk melalui pintu belakang. Bawa sandera sebanyak mungkin untuk keluar dari bank Woori sebanyak yang kalian bisa. Aku, Lay, dan Yeri akan masuk melalui pintu depan untuk melakukan negosiasi, sebisa mungkin lakukan dengan halus agar tidak perlu terjadi baku tembak, apa kalian mengerti?”


            “Ya, kami mengerti senior.”


            “Kalau begitu lakukan tugas kalian masing-masing sekarang. Dan untuk rekan-rekan tim polisi, tolong jangan melakukan apapun hingga aku memerintahkan kalian untuk melakukan penyerangan, selamat bertugas.”


            Yuka dan timnya segera bergerak masuk ke dalam bangunan bank Woori dengan senjata yang tergenggam di telapak masing-masing. Dengan hati-hati Yuka melangkah masuk melewati halaman bank sambil berteriak melalui toa jika ia akan masuk ke dalam.


Dorr!


            Tiba-tiba bunyi letusan senjata terdengar dari dalam diikuti suara salah satu anggota perampok yang berteriak pada Yuka, Lay, dan Yeri untuk menjatuhkan senjata mereka.


           “Jatuhkan senjata kalian dan angkat tangan kalian ke atas.”


            Yuka, Lay, Yeri mengikuti permintaan anggota perampok itu dengan mengangkat tangan mereka ke atas dan dengan perlahan mereka membungkuk untuk meletakan pistol mereka di atas lantai. Perampok itu kemudian mengamati Yuka, Lay, dan Yeri dalam diam sebelum mengijinkan mereka untuk masuk ke dalam bangunan bank, guna melakukan negosiasi.


            “Bos saya sudah membawa intel-intel itu masuk.” lapor anggota perampok itu pada seorang pria muda berambut coklat pendek. Yuka yang berada tak jauh dari pria pendek yang sebelumnya menyuruhnya untuk masuk itu tampak penasaran dengan wajah sang pemimpin komplotan perampok yang hari ini telah merampok dua bank sekaligus.


            “Minwo, awasi semua sandera selagi aku melakukan negosiasi.” perintah sang pemimpin perampok dengan suara dingin.


            Sementara itu Yuka sedang memanfaatkan waktu yang ia miliki untuk mengamati kondisi para sandera satu persatu. Sejauh yang ia lihat, sepertinya para perampok itu belum melakukan apapun pada para sandera karena ia tidak melihat adanya luka atau darah yang bercecer di sekitar ruangan yang ia masuki, tapi tak menutup

__ADS_1


kemungkinan jika setelah ini perampok-perampok itu akan berbuat nekat jika keinginannya tidak dipenuhi.


            “Jadi apa yang kalian inginkan, aku disini sedang mencoba untuk bernegosiasi dengan kalian.”


            “Kau, bebaskan sandera-sandera itu, aku berjanji akan mengabulkan satu permintaan kalian jika kalian melakukannya.” ucap Yuka lantang. Pemimpin perampok itu menyeringai licik pada Yuka sambil menatap bahagia pada tumpukan karung yang berisi uang rakyat Korea yang berhasil ia jarah.


            “Keinginanku adalah untuk memiliki semua uang itu dan bebas dari hukuman, apa kau bisa memberikannya untukku?”


            “Huh.”


            Yuka menyeringai kecil dengan permintaan bos perampok itu. Sudah ia duga jika perampok itu akan meminta lebih dan tidak akan puas hanya dengan satu permintaan.


            “Kau jelas hanya bisa mendapatkan satu permintaan, jadi aku tidak bisa memberinya dua sekaligus.”


            Yuka masih terus mencoba untuk melakukan negosiasi sementara Sehun dan Minzi sedang mengeluarkan beberapa orang yang dapat mereka jangkau untuk keluar dari pintu belakang.


            “Sehun, keluarkan wanita tua itu dan juga wanita hamil di sana terlebihdahulu, setelah itu kita akan mengeluarkan para wanita dan juga pria yang tersisa saat senior Im berhasil melakukan negosiasi dengan perampok itu.” bisik Minzi pelan sambil berjalan mengendap-endap menuju kerumunan sandera yang tidak terlalu dijaga ketat oleh salah satu anggota perampok.


            “Sssttt.”


            Minzi berbisik pelan pada seorang wanita muda yang sedang hamil sambil memberi isyarat untuk mengikutinya keluar. Sedangkan Sehun yang berada tak jauh dari tempatnya juga melakukan hal yang sama untuk mengeluarkan pasangan kakek dan halmeoni yang tampak pucat karena mereka begitu syok dengan kejadian perampokan yang baru pertama kali mereka alami.


            “Tttuan.. apakah kami akan selamat?” tanya halmeoni itu bergetar. Sehun mencoba untuk menenangkan mereka dan menuntun mereka dengan hati-hati menuju pintu belakang.


            Mereka terus mengeluarkan orang-orang yang dapat mereka jangkau satu persatu hingga kini mereka telah berhasil mengelurkan sebelas orang. Masih banyak sandera di dalam sana yang harus mereka keluarkan, namun hal itu jelas tidak akan mudah setelah ini karena para perampok itu akan curiga dengan pengurangan jumlah sandera yang terlihat begitu mencolok di dalam bangunan bank.


            “Minzi, kita harus mengatur strategi agar penyelamatan ini tidak diketahui oleh para perampok itu, tapi jelas hal itu akan membahayakan senior Im, Lay, dan juga Yeri yang masih mencoba untuk bernegosiasi dengan bos perampok itu. Menurutmu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak yakin jika usaha penyelamatan kali ini tidak akan ada baku tembak.”


Bugh!


            Tiba-tiba Sehun terhuyung ke depan dengan darah yang mulai menetes dari kepalanya. Sontak Minzi langsung menoleh ke belakang dan menemukan dua anggota komplotan perampok yang sedang menyeringai licik pada mereka. Minzi pun mencoba melawan mereka dengan menendang dan memukul perut mereka sesuai dengan tekhnik bela diri yang telah dipelajarinya. Sedangkan Sehun yang masih tersungkur di atas lantai terlihat mengerang beberapa kali karena ia merasakan kepala bagian belakangnya yang berdenyut, namun ia harus segera berdiri untuk membantu Minzi.


Bugh Bugh


            “Ahhhhh..”


            Minzi terbanting ke atas lantai dengan cukup keras hingga membuat punggungnya sakit. Namun wanita tangguh itu segera bangkit dan kembali melawan komplotan perampok itu dengan seluruh kekuatan yang ia miliki.


            “Jinsu, katakan pada bos jika intel-intel itu berkhianat, mereka telah melepaskan sandera tanpa sepengetahuan kita, aku akan urus wanita ini dulu.”


            Jinsu segera berlari meninggalkan rekannya yang sedang berusaha menumbangkan Minzi. Melihat hal itu, Sehun tak tinggal diam, ia dengan sengaja menjulurkan kakinya dan membuat anggota perampok itu terjatuh dengan debuman keras di atas lantai.


            “Keparat, berani-beraninya kau!”


            “Sialan!”


Bugh


            Sehun melayangkan pukulannya pada rahang perampok itu hingga si perampok sedikit terpental ke belakang. Tapi lagi-lagi rasa berdenyut-denyut itu mendera kepalanya hingga membutnya nyaris tumbang sendiri meskipun perampok itu tidak memberikan pukulan padanya.


Dug Bugh!


            Sehun terjatuh di atas lantai dengan keadaan yang tampak mengenaskan. Darah segar keluar dari hidung serta kepalanya dan berceceran di atas lantai. Melihat Sehun yang tampak kepayahan, perampok itu hendak menuntaskan perkelahiannya dengan menginjak dada Sehun dan membuat Sehun mati kehabisan nafas. Namun dengan sigap Sehun langsung mengeluarkan pistolnya dari saku celana, dan tanpa banyak berpikir ia segera menarik pelatuk pistolnya untuk melenyapkan salah satu perampok yang telah melukainya.


Dorr dorr


            Sehun menembak dua perampok sekaligus hingga mereka jatuh tak bernyawa di atas lantai. Minzi yang melihat dua perampok itu sudah mati, cepat-cepat ia berlari ke dalam karena ia khawatir jika perampok itu sudah melakukan penyerangan setelah mereka mendengar suara tembakan dari arah belakang gedung.


            “Minzi, bawa mereka!”


            Minzi melihat Yuka dan yang lainnya sedang berusaha menumbangkan perampok itu dengan tangan kosong. Pistol yang mereka bawa telah ditinggalkan di depan pintu masuk, sehingga mereka tidak bisa menghabisi perampok-perampok itu dalam sekali tembakan.


            Minzipun segera bergegas untuk menarik siapapun yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Namun saat ia hendak membawa orang-orang itu kelur, ia mendengar suara tembakan peringatan yang menggema sangat keras di dalam ruangan. Seketika Minzi menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk berbalik. Rupanya seseorang yang telah melepaskan tembakan peringatan itu adalah sang bos perampok. Saat ini ia tengah menyandera Yuka dengan ujung pistol yang diarahkan pada pelipis kiri Yuka.


            “Berani kau melangkah keluar, maka wanita cantik ini akan berakhir mengenaskan dengan isi kepala yang terburai. Cepat bawa mereka semua ke sini.”


            Minzi meneguk ludahnya gugup sambil memandang wajah Yuka yang terus memberikan isyarat untuk membawa sandera-sandera itu keluar. Tapi Minzi tak mungkin akan melakukan hal itu karena nyawa seniornya dalam bahaya.


            “Cepat keluar dari sini, jangan pedulikan aku. Aku bisa mengatasinya.” teriak Yuka gusar pada Minzi yang hanya mematung di tempat tanpa melakukan apapun. Minzi kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri untuk meminta tolong pada rekannya yang lain. Namun sayangnya mereka masih sibuk dengan perampok-perampok yang lain yang cukup merepotkan untuk mereka.


            “Baiklah, aku akan mengembalikan mereka, tapi lepskan senior Im sekarang.”


            Yuka menggeram pelan dengan keputusan Minzi yang dinilai tidak bijak itu. Bagaimanapun juga keselamatan warga sipil jauh lebih penting daripada keselamatannya sendiri. Lagipula ia juga tidak akan membiarkannya mati konyol di tangan si perampok gila itu. Ia masih ingin hidup untuk menuntaskan kasus kematian ayahnya dan ia masih ingin membangun keluarga yang bahagia bersama Haejun. Jadi tidak ada alasan baginya untuk mati sekarang.


            “Bawa mereka kembali ke tengah ruangan dan aku akan melepaskan seniormu yang cantik ini.”


            Melihat sang perampok itu yang sedikit lengah, Yuka langsung menggunakan kesempatan itu untuk menyikut perut perampok itu dan menghajar wajah pria itu dengan kepalanya yang keras. Seketika perampok itu terhuyung ke belakang sambil mengusap darah segar yang mengalir melalui lubang hidungnya.


            “Minzi, bawa mereka pergi!” teriak Yuka pada Minzi yang langsung dipatuhi oleh wanita itu. Yuka kemudian berbalik pada sang perampok untuk menuntaskan perkelahian mereka yang belum usai.

__ADS_1


            “Kau, kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup.”


            Perampok itu segera menyerang Yuka dan melayangkan pukulan pada beberapa bagian tubuh Yuka, namun Yuka berhasil menghindarinya dengan menghindar ke kiri dan memberikan pukulan pada pria itu di bagian perut.


Bughh


Brakk


            Perampok itu tersungkur ke belakang hingga menabrak pilar putih yang ada di belakangnya. Namun perampok itu masih belum menyerah dan ia mulai mengeluarkan pistol dari dalam saku celananya.


            “Hahaha, kau tidak akan menang melawanku, kau tidak memiliki pistol ini, manis.”


Dughh


            Tiba-tiba Yuka berlari menerjang perampok itu dan menedang pistol yang dibawanya hingga terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri. Melihat hal itu, Yuka langsung berlari untuk mengambil pistol itu agar ia bisa melumpuhkan perampok itu secepatnya. Namun sepertinya kali ini Yuka kalah sigap dari sang perampok


karena perampok itu berhasil menarik rambut Yuka hingga Yuka berjengit kaget dengan kulit kepala yang terasa perih.


            “Ahh... Lepaskan rambutku!”


            “Hahaha, kau tidak akan pergi kemanapun dan mengambil pistol itu karena aku akan meremukanmu dengan tangan kosong.”


Dughh dughh


            Yuka mendapatkan pukulan di bagian punggung dan juga wajah hingga ujung bibirnya sobek. Yukapun membalas perampok itu dengan menyikut perutnya yang berada di belakang tubuhnya, namun perampok itu sudah berhasil mebaca gerakan tubuh Yuka, sehingga ia langsung mengihindar dan justru berhasil memelintir tangan Yuka ke belakang.


            “Kau akan mati di tanganku.”


            “Brengsek! Lepaskan tanganku atau teman-temanku akan menghabisimu!”


            Perampok itu tertawa keras sambil mengarahkan Yuka pada Lay dan Yeri yang masih berusaha melawan perampok itu. Mereka berdua terlihat begitu kepayahan saat melawan perampok-perampok itu, sedangkan Minzi masih berusaha untuk mengeluarkan satu persatu sandera yang masih berada di dalam gedung itu.


            “Lihatlah teman-temanmu yang kepayahan itu. Sebentar lagi mereka pasti akan bernasib sama denganmu.”


            Yuka menggeram kesal sambil mencoba memutar otak untuk menjatuhkan perampok sialan yang berhasil mengunci tangannya ke belakang. Setelah mendapatkan ide, Yuka tampak menyeringai kecil dan langsung menginjak kaki perampok itu kuat-kuat hingga perampok itu refleks melepaskan cengkeraman tangannya dari Yuka dan mengaduh kesakitan karena injakan Yuka yang dahsyat.


            “Angkat tangan!” teriak Yuka sambil mengarahkan pistol pada perampok itu. Sang perampok menyringai licik pada Yuka dan justru menjentikan jarinya keras.


Tak


Dorr


            “Ahh...”


            “Senior!!”


            Yeri berteriak terkejut dan langsung memukuli perampok yang berada di depannya dengan membabi buta karena ia telah menembak Yuka. Sedangkan Lay sudah berhasil mejatuhkan perampok itu dan hendak menghampiri Yuka yang sedang merintih kesakitan memegang lengannya yang baru saja tertembak oleh salah satu perampok yang sebelumnya berhadapan dengan Minzi. Pistol yang sudah susah payah ia rebut dari tangan sang perampok kembali terjatuh di atas lantai dan berhasil dipungut oleh perampok itu dengan mudah.


            “Lihatlah, kau dan anak buahmu telah kalah. Sebentar lagi kau akan mati dan membusuk di neraka bersama dengan anak buahmu yang tak berguna itu.”


            Yuka memandang sengit pada perampok sombong yang berdiri menjulang di depannya. Pria itu menodongkan pistol ke arahnya dan sedikit saja ia bergerak, maka timah panas itu akan melesat ke arahnya dan menembus kepalanya dengan mulus. Dilihatnya Yeri dan Lay yang sedang berdiri mematung tanpa berani untuk


mengambil tindakan karena mereka merasa takut akan membahayakan dirinya. Sedangkan perampok yang lain telah berhasil dilumpuhkan, namun Lay belum berani untuk meringkusnya.


            “Aku akan membiarkanmu hidup asalkan kau membebaskanku dan membiarkanku pergi bersama dengan anak buahku yang lain.” ucap perampok itu memberi syarat. Yuka menatap sinis pada perampok itu dan jelas-jelas tidak akan memberikan kesempatan pada pria itu untuk melarikan diri bersama anak buahnya yang lain. Yuka pun mulai memperhitungkan serangan-serangan yang akan ia arahkan pada perampok licik yang saat ini sedang berdiri menjulang di depannya. Dan ia juga harus memastikan jika serangannya itu tidak akan melesat dalam satu kali serangan.


            “Kau tahu, sampai kapanpun aku tidak akan memberikan apapun padamu, bahkan nyawaku sekalipun.”


Duk


Takk


Dorr


            “Menyerah atau aku akan menembakmu.”


            Yuka tersenyum licik setelah ia berhasil menendang mata kaki perampok itu dan mengambil pistol yang dijatuhkan perampok itu di atas lantai. Kini perampok itu sedang menatap penuh kebencian padanya yang berhasil mengambil pistolnya dan membalik keadaan. Ia yakin kesempatannya untuk keluar dari bank itu tidak akan pernah terjadi.


            “Kalian cepat masuk dan bawa perampok-perampok ini, mereka sudah dilumpuhkan!” teriak Yuka pada walkie talkie yang digenggamnya. Tak berapa lama puluhan polisi masuk ke dalam bank dan langsung meringkus kawanan perampok itu dengan mudah. Salah satu polisi mendekati Yuka dan menawarkan bantuan untuk membawa Yuka ke rumah sakit karena lengannya yang terluka. Namun Yuka menolaknya dengan halus karena ia harus memastikan juniornya yang lain sebelum memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.


            “Aku akan mencari agen-agenku yang lain terlebihdahulu.”


            “Senior Im, kau baik-baik saja?”


            Yeri berlari dengan nafas terengah-engah sambil memegang pundak Yuka dengan prihatin. Yuka yang melihat hal itu langsung menenangkan Yeri karena ia sungguh tidak apa-apa, lengannya hanya sedikit tergores oleh timah panas, jadi ia merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


            “Senior ayo kita ke rumah sakit sekarang, Lay sudah membawa Sehun ke rumah sakit terlebihdahulu karena Sehun tak sadarkan diri.” Ucap Yeri sambil menuntun Yuka keluar dari gedung bank. Yuka pun menghentikan langkahnya sambil mengernyit tidak mengerti pada Yeri. Ia pikir Sehun dan Minzi sedang menunggu di luar karena mereka sudah berhasil mengeluarkan sebagian sandera yang ditawan oleh kawanan perampok itu.


            “Ada apa dengan Sehun?”

__ADS_1


            “Perampok itu menghajar Sehun dan memukul kepala Sehun dengan keras hingga pada akhirnya Sehun mengalami pendarahan yang cukup parah.” ucap Yeri sedih.


            “Kita harus segera melihat keadaanya.” ucap Yuka tegas sambil menarik tangan Yeri cepat. Tak peduli dengan lengannya yang juga terluka, yang ada di pikirannya saat ini hanya Sehun dan Sehun. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Sehun, ia jelas tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


__ADS_2