Ignite

Ignite
The Whistle (Seventeen)


__ADS_3

            Sudah tiga puluh menit aku berjalan menyusuri trotoar Gwangwon untuk menemukan Han Jaeshin. Tapi selama itu pula aku tidak menemukan apapun. Karena lelah, akupun memutuskan untuk sekedar mampir membeli minuman dingin di sebuah mini market. Tapi ketika aku akan mendorong pintu itu, aku melihat Han Jaeshin sedang berdiri di depan meja kasir sambil membawa sebuah bungkusan. Cepat-cepat aku bersembunyi dibalik tembok sambil mengawasi gerak gerik Han Jaeshin. Tak berapa lama pria itu keluar dari mini market sambil menghubungi seseorang. Aku pun dengan mengendap-endap mengikuti langkahnya yang semakin berjalan jauh menembus lautan manusia yang sedang memadati Gwangwon.


Yuka pov end


            Han Jaeshin terus berjalan disepanjang trotoar Gwangwon dan ia berhenti di sebuah toko yang dari depan tampak tutup. Namun pria itu segera berbelok ke sebuah gang kecil di samping toko dan ia masuk ke dalam toko tersebut melalui pintu samping. Yuka yang melihat hal itu langsung berjalan mengendap-endap ke dalam gang dan ia langsung menyelinap masuk ke dalam toko ketika dirasa Han Jaeshin tidak curiga dengan keberadaanya.


            “Tempat apa ini?”


            Yuka bergumam pelan ketika ia menemukan banyak kardus-kardus berisi alkohol dan zat-zat kimia yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yuka pun semakin masuk ke dalam bangunan itu dan ia kemudian menyadari jika bangunan itu sebenarnya adalah gudang penyimpanan untuk alkohol ilegal dan juga zat-zat kimia yang


entah digunakan untuk apa. Samar-samar Yuka mendengar suara percakapan yang berasal dari sebuah ruangan di bangunan itu. Yuka pun bergegas untuk masuk ke bagian yang lebih dalam dari bangunan tersebut agar ia dapat mendapatkan informasi yang selama ini dicarinya.


            “Bagaimana kondisi markas, apa semuanya aman?”


            “Kau tenang saja, markas dalam kondisi sangat aman dan terkendali. Mereka sama sekali tidak mencurigaiku sebagai mata-mata dari bos besar.”


            Yuka mendengar suara Jaeshin yang begitu jelas di depannya. Ia langsung mengepalkan tangannya marah dan rasanya ia ingin membunuh Jaeshin karena pria itu adalah pengkhianat. Tapi Yuka mencoba untuk meredam amarahnya dengan bersembunyi dibalik kardus-kardus dan kembali mendengarkan percakapan Han Jaeshin dengan lawan bicaranya.


            “Jika salah satu agent menyelidiki kasus kita, kau harus memberitahukan hal itu pada bos, karena bos sepertinya sangat khawatir dengan pergerakan agent yang bernama Lee Haejun. Apa kau mengenalnya?”


            “Lee Haejun? Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah kapten dan juga salah satu agent yang sangat berbahaya. Oleh karena itu president memintanya untuk membongkar kejahatan yang dilakukan oleh bos besar. Tapi hari ini aku berhasil mengecohnya dan menipunya. Ia tidak akan bisa menemukan kita.”


            “Apa kau yakin?”


            Tiba-tiba seorang pria jangkung dengan stelan jas rapi datang sambil bersiul pelan. Seketika Yuka langsung teringat akan suara siulan yang ia dengar hari ini disepanjang jalan Gwangwon. Dan ia pun kemudian ingat jika ia sempat menabrak pria itu di depan pintu cassino.


            “Tentu saja aku sangat yakin, aku sudah memastikannya sendiri.” ucap Jaeshin terdengar ketus. Pria berjas itu tertawa keras pada Jaeshin dan seperti sedang mengolok-olok pria itu dengan suara tawanya yang menyebalkan.


            “Dari dulu hingga sekarang kau memang tidak berubah. Kecerobohanmu itu bisa membunuh kita semua Han Jaeshin ssi.”


           “Ck, sebenarnya apa yang kau maksud sebenarnya. Aku sudah menjalankan tugasku hari ini dengan baik, kau tidak usah memancing pertengkaran denganku sialan!” Umpat Jaeshin tersulut emosi. Tapi pria berjas itu seperti tak berpengaruh dan berjalan menjauhi Jaeshin sambil bersiul santai.


            “Hari ini kita telah kedatangan tamu Jaeshin ssi. Nona keluarlah dari tempat persembunyianmu.”


            Yuka menegang takut dan hendak kabur dari tempat persembunyiannya. Tapi tanpa diduga seorang pria dengan wajah bengis telah berdiri di belakangnya dan pria itu langsung memukul kepalanya hingga terasa berdenyut dan semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap.


-00-


            Haejun berdecak kesal di depan cassino sambil menghubungi ponsel isterinya yang sejak tadi tidak bisa dihubungi.


            “Yuka, kau dimana?” desis Haejun sambil menempelkan benda persegi itu di telinganya. Sejak tadi ia sudah menghubungi Yuka berkali-kali, namun isterinya itu sama sekali tidak merespon. Padahal ia sudah menghubunginya lebih dari sepuluh kali.


Tring


            Tiba-tiba Haejun menerima sebuah pesan dari Yuka. Dengan gusar Haejun segera membuka pesan tersebut dan membacanya.


            From: Yuka


            Aku berada di markas dan sedang melakukan rapat. Jangan hubungi aku dan temui aku di markas.


            Haejun membaca pesan tersebut sambil mengernyit heran. Rasanya pesan itu sedikit aneh dan kaku, tapi ia berpikir jika nomor ponsel Yuka tidak mungkin dibajak, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke markas dan menemui isterinya di sana. Meskipun saat ini perasaanya sangat dongkol karena ia sudah menunggu lebih dari tiga puluh menit yang lalu, dan ternyata sang isteri sedang berada di markas.


            To: Yuka


            Baiklah, aku akan menemuimu di markas.


            Setelah membalas pesan dari Yuka, Haejun segera berjalan menuju mobilnya yang ia parkir di sisi timur cassino. Tapi siapa sangka jika ia baru saja melewatkan mobil seseorang yang terparkir di depannya.


-00-


Now


            “Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak Yuka brutal ketika sumpal di mulutnya telah dilepaskan oleh pria jangkung yang mengenakan jas di depannya. Pria itu menyeringai sinis pada Yuka sambil membelai wajah Yuka lembut agar Yuka sedikit tenang. Namun dengan sigap Yuka langsung mengelak dan meludahi wajah pria itu.

__ADS_1


Plakk


            “Kurangajar!”


            Pria itu mengelap ludah di wajahnya setelah ia menampar wajah Yuka cukup keras. Sedangkan Yuka tampak begitu marah sambil memandang pria jangkung itu dengan tatapan penuh kebencian.


            “Kau keparat sialan! Lepaskan aku! Kujamin setelah ini hidupmu akan segera berakhir. Para intel pasti akan segera mengetahui keberadaan kalian di sini.” teriak Yuka sungguh-sungguh. Sementara itu si pria jangkung hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Yuka, ia terlihat sama sekali tidak terpengaruh, apalagi takut!


            “Kau pikir begitu? Bahkan saat ini Jaeshin sedang menyelesaikan tugasnya untuk membuat hilangnya dirimu hari ini tidak dicurigai oleh siapapun, termasuk suamimu, sang kapten Lee.”


            Yuka menegang seketika setelah pria itu menyebutkan tentang Haejun. Ia takut Jaeshin akan membongkar semua rahasiannya selama ini dan memperburuk keadaan di kantor. Ia harus melakukan sesuatu.


            “Apa yang akan kalukan? Jangan macam-macam padaku!”


            “Hahaha... apa kau takut nona manis? Kau takut rahasiamu terbongkar? Aku tahu jika seharusnya kalian tidak boleh menikah karena markas melarang keras hal itu. Tapi siapa sangka jika sang kapten telah jatuh hati pada wanita liar sepertimu? Hmm, kuharap Jaeshin tidak sedang mengumumkan berita pernikahan kalian di markas.” ucap pria jangkung itu santai. Yuka mengepalkan tangannya marah dan ingin sekali memukul pria itu hingga mati. Yuka pun memaksakan diri untuk melepaskan ikatan serabut itu dari tangannya hingga tangannya lecet dan mengeluarkan darah. Namun seperti tidak peduli dengan rasa perih yang mendera tangannya, Yuka lebih memilih merasakan sakit daripada harus menunggu pria itu mengasihaninya dan melepaskannya.


            “Nona, hentikan usahamu untuk melepaskan diri, karena semuanya akan sia-sia saja.” ucap pria jangkung itu memperingatkan. Namun siapa sangka jika Yuka ternyata berhasil melepaskan ikatan tangannya dan saat pria itu mendekat padanya, Yuka langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk memukulnya hingga hidung pria itu berdarah.


            “Itu untuk tamparan yang kau berikan padaku!”


            “Sialan! Kau tidak akan bisa keluar dari gudang ini karena anak buahku akan menangkapmu.”


            Yuka langsung berlari menghindari si pria jangkung dan bawahannya yang lain yang sedang mengejarnya. Ia berusaha bersembunyi diantara tumpukan kardus-kardus besar agar ia bisa segera keluar dari gudang pengap itu. Nafasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berdegup kencang menandakan jika ia dilanda kepanikan yang luar biasa. Tapi ia harus bisa menghadapinya dengan penuh keberanian karena jika bukan dirinya sendiri yang menyelamatkan diri, tak akan ada yang menyelematkannya.


            “Oppa, tolong aku.” batin Yuka panik ketika ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Ia pun berusaha menggapai apapun yang ada disekitarnya untuk digunakan sebagai senjata. Dan ekor matanya tak sengaja melihat sebuah balok kayu yang berada tak jauh darinya. Namun sayangnya balok itu tepat berada


di belakang anak buah si pria jangkung yang sedang kebingungan mencarinya. Kemungkinan untuk mengambil balok itu tanpa ketahuan sangatlah kecil, tapi jika ia mampu mengambilnya dengan cepat dan memukul pria itu hingga pingsan, maka ia bisa segera pergi dari tempat terkutuk itu.


            Dengan tekad yang bulat, Yuka mulai mengambil ancang-ancang untuk mengambil balok tersebut. Tangan kanannya sudah terulur ke depan dan sebentar lagi ia akan mencapai balok tersebut. Tapi siapa sangka jika tiba-tiba si pria jangkung itu datang dan menginjak tangannya dengan sepatu fantofelnya yang runcing, membuat Yuka


langsung mengaduh kesakitan karena ia merasakan telapak tangannya sebentar lagi akan remuk.


            “Hahaha, kena kau manis. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini.”


            “Ahhhhh..... sakit. Singkirkan kakimu dari tanganku pria brengsek!” maki Yuka sambil menahan sakit pada telapak tangannya. Pria jangkung itu kemudian menyuruh anak buahnya untuk membawa Yuka kembali dan mengikatnya dengan kuat untuk dipersembahkan pada boss besar yang sebentar lagi akan datang untuk melihat hasil kerjanya.


            “Ohh, jadi Park Jaejong juga terlibat dalam kasus ini? Sudah kuduga. Kalian memang komplotan brengsek perusak negara. Kupastikan presiden Park Boyoung akan segera membongkar kasus kejahatan kalian dan menghukum kalian dengan hukuman yang seberat-beratnya.”


            “Diam! Park Boyoung yang ***** itu tidak akan menangkap kami, karena kami akan segera melenyapkanmu dari dunia ini. Kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan keluargamu lagi nona manis.”


            “Bos, bos besar ingin bicara denganmu.”


            Seorang pria dengan jaket kulit datang dan memberikan sebuah ponsel pada pria jangkung yang tadi menangkap Yuka. Pria itu kemudian segera pergi untuk menerima panggilan dari Park Jaejong, sedangkan Yuka langsung diserahkan pada dua anak buahnya yang lain untuk diikat di kursi.


            Tak berselang lama pria jangkung itu kembali dengan wajah marah dan tangan terkepal. Pria jangkung itu menyambar dagu Yuka dengan kasar dan mencengkeramnya hingga Yuka merasa kesakitan. Namun tatapan tajam dari pria jangkung itu justru membuat Yuka semakin memberanikan diri untuk meronta dan lepas dari genggaman sang iblis jahat yang sedang menyekapnya.


            “Suamimu telah berbuat ulah dengan kami, maka kau harus membayar semuanya dengan nyawamu. Bos besar sudah menyuruhku untuk membunuhmu dan melenyapkan tempat ini, dan kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan keluargamu lagi setelah ini.”


            “Sebelum kau membunuhku, dia akan datang untuk menyelamatkanku. Ia pasti akan menghancurkan kalian semua hingga tak bersisa.”


            “Benarkah?”


Dorr


            Satu tembakan lepas begitu saja dan melesat menembus lengan Yuka. Wanita itu merintih kesakitan seiring dengan darah segar yang mengucur deras dari lengannya yang tampak mengenaskan. Sekarang ia merasa kematiannya telah diujung tanduk.


            “Lihat, bahkan aku bisa melukaimu dengan mudah. Tidak perlu menunggu hingga suamimu tercinta datang, kau akan segera mati dan membusuk di sini.” seringai pria jangkung itu kejam. Yuka masih merintih kesakitan sambil memejamkan matanya untuk tenang. Ia tidak boleh terlihat takut ataupun panik karena lawannya pasti


akan merasa senang jika ia terlihat ketakutan.


            “Bos, bos besar memerintahkan kita untuk membakar tempat ini dan segera meninggalkan tempat ini karena sebentar lagi intel-intel itu akan datang.”


            Pria jangkung itu menoleh tidak suka pada sang bawahan, tapi ia segera merespon peringatan itu dengan menempelkan pistol di dada kiri Yuka dan bersiap untuk membunuh Yuka.

__ADS_1


           “Katakan selamat tinggal pada hidupmu nona.”


Dorr


            Bersamaan dengan suara pistol yang memekakan telinga, kepala Yuka jatuh terkulai di atas kursi dengan darah yang mengucur deras dari dadanya. Pria jangkung itu tersenyum puas dengan hasil kerjanya dan segera berjalan pergi meninggalkan sang tawanan yang sedang merenggang nyawa di belakangnya. Ia pun segera


menyuruh anak buahnya untuk membakar tempat itu agar para intel tidak bisa menemukan barang bukti dari kelicikan mereka selama ini. Meskipun mereka akan rugi puluhan  miliar won, itu tidak masalah. Asalkan mereka masih bisa berdiri dengan bisnis kotor mereka yang lain, mereka tidak akan bangkrut.


            “Bakar gudang ini sekarang.”


            Setelah mengatakan hal itu, ia segera melangkah pergi memasuki mobilnya sambil bersiul penuh kemenangan. Di belakangnya api mulai berkobar tinggi dan menciptakan kepanikan pekat dari seluruh pejalan kaki di Gwangwon yang sedang melintas. Ia yakin, meskipun pemadam kebakaran akan segera datang, tapi mereka tidak akan bisa menyelamatkan nyawa wanita yang saat ini telah mati dan akan terbakar bersama gudang tua yang rapuh itu.


-00-


            Haejun berjalan tergesa-gesa ke dalam markas setelah ia berputar-putar di dalam basement dan sama sekali tidak menemukan mobil Yuka. Tiba-tiba firasat buruk menyusup ke hatinya dan membuatnya tidak tenang. Apalagi Yuka sama sekali tidak bisa dihubungi setelah ia mengirimkan pesan terakhirnya sebelum ia pergi ke markas. Ia takut Yuka mengalami suatu hal yang buruk di luar sana.


            “Kapten...”


            Yeri memanggil Haejun dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Haejun. Namun wajah Yeri yang tampak sulit diartikan membuat Haejun terpaksa menghampiri juniornya untuk mendapatkan kejelasan.


           “Ada apa? Aku sedang buru-buru Kim Yeri, jadi tolong cepat katakan tujuanmu memanggilku.”


            “Sssebaiknya kapten jangan masuk ke dalam.” ucap Yeri pelan dan terkesan takut-takut. Haejun semakin menatap Yeri tajam dengan mimik wajah yang menginginkan kejelasan dari Yeri.


            “Memangnya kenapa? Apa telah terjadi sesuatu di dalam sana?”


            “Markas sedang memanas kapten karena berita pernikahan kapten dengan senior Im.” ucap Yeri dengan suara pelan. Mendengar hal itu Haejun terlihat sangat terkejut dan juga marah. Ia yakin jika berita mengenai pernikahannya telah disebarkan oleh seseorang yang sangat membencinya dan ingin menggulingkannya.


            Si pengkhianat keparat!!


            “Siapa yang menyebarkan berita itu?”


            “Sssaya tidak tahu, tapi berita itu tersebar melalui pesan singkat dan di sana juga ada bukti yang kuat mengenai hubungan anda dan senior Im, sehingga kami semua langsung mempercayainya.”


Brak


            Haejun meninju dinding di belakang Yeri sambil mengumpat kasar. Ia tahu jika berita mengenai pernikahannya tersebar seiring dengan menghilangnya Yuka. Itu berarti saat ini Yuka sedang berada di tangan musuh, dan satu-satunya orang yang kemungkinan melakukan hal itu adalah si pengkhianat, Han Jaeshin.


            “Brengsek!! Aku harus menemukan Han Jaeshin! Dimana Han Jaeshin sekarang?” tanya Haejun marah dan semakin membuat Yeri takut. Tak pernah selama ini kaptennya itu terlihat begitu marah hingga benar benar berubah menjadi sangat mengerikan seperti ini. Dan sekarang ia begitu ketakutan hingga tidak bisa bersuara dengan benar.


            “Hha Han Jaeshin, sssaya melihatnya di cafetaria kapten.”


            Dengan marah Haejun segera masuk ke dalam markas dengan berbagai tatapan yang langsung menghujam ke arahnya. Ia tahu, mereka pasti merasa marah padanya karena ia telah melanggar peraturan markas yang utama. Tapi sekarang hal itu bukanlah yang terpenting, ia tidak peduli pada karirnya, ia hanya ingin menemukan Yuka dan segera memastikan jika wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.


            “HAN JAESHIN!!”


            Dengan suara menggelegar penuh amarah, Haejun masuk ke dalam cafetaria yang sedang ramai. Dalam sekejap semua mata tertuju pada Haejun dan mereka saling berbisik-bisik membicarakan keburukan Haejun, apalagi setelah berita pernikahannya dengan Yuka terbongkar.


            “Jangan lari kau keparat! Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, dasar pengkhianat busuk.”


            Haejun langsung menarik kerah kemeja Jaeshin ketika pria itu akan melarikan diri. Sedangkan para agent yang lain sibuk memisahkan Haejun dan Jaeshin yang akan terlibat baku hantam. Namun seperti tak peduli pada semua agent yang berada disekitarnya, Haejun langsung memukuli Jaeshin dengan membabi buta hingga keadaan Jaeshin terlihat mengenaskan.


            “Dimana kau sembunyikan Yuka? Selama ini kau telah bekerjasama dengan Park Jaejong dan antek-anteknya yang lain untuk memberikan informasi mengenai markas pada mereka. Kau pengkhianat Jaeshin! Kau pantas mati!!”


Bugh bughh


            “Kapten tenanglah, Jaeshin bisa mati.” teriak agent-agent yang lain berusaha untuk melerai Haejun dan Jaeshin, tapi tetap saja amarah Haejun tak terbendung, dan ia baru akan benar-benar berhenti jika Jaeshin mati.


            “Hahahaha, kau tidak akan bisa bertemu dengan isterimu yang cantik itu, karena sekarang isterimu telah hangus terbakar di dalam gudang penyimpanan milik bos kami.” ucap Jaeshin dengan wajah mengejek. Haejun kembali mengangakat tangannya untuk merobek mulut Jaeshin, namun tiba-tiba Yeri dan Lay datang dengan wajah panik sambil memohon pada Haejun untuk menghentikan aksi memukulnya karena mereka membawa sebuah berita yang penting.


            “Kapten, ada kebakaran di Gwangwon. Dan menurut data, gudang itu milik Nam coorperation.”


Bugh bugh bughh

__ADS_1


            “Keparat kau Han Jaeshin!!” teriak Haejun seperti orang kesetanan setelah ia mendapatkan sebuah fakta jika apa yang dikatan oleh Jaeshin mungkin saja benar. Yukanya telah hangus terbakar di dalam gudang itu.


            “Kalian berdua ikut aku. Dan kau, kau akan mati jika kau dan bosmu terbukti menyakiti Yuka.” desis Haejun mengerikan dan langsung menyeret tubuh tak berdaya Jaeshin keluar dari cafetaria yang penuh dengan aura mencekam.


__ADS_2