
Seorang wanita berambut pirang sepunggung sedang mengamati perkembangan bisnis keluarganya dari lantai atas. Wanita itu ditemani oleh seorang pelayan setianya yang sejak dulu selalu berada di sampingnya untuk menjadi penjaganya dan juga penasihatnya disaat ia membutuhkan saran untuk setiap keputusan yang akan diambilnya.
“Apa kakek sudah sampai?” tanya wanita itu sambil menyesap vodkanya. Padahal jam masih menunjukan pukul dua siang, tapi wanita itu sudah meminum minuman beralkohol dengan kadar alkohol yang cukup tinggi di siang hari. Sepertinya ia sedang memiliki banyak masalah.
“Pesawat tuan besar akan mendarat pukul empat sore nona.”
Pelayan setianya memberitahu sang nona sambil melihat jadwal penerbangan tuan besarnya yang sebentar lagi akan tiba di Amerika. Tapi sejauh ini pria itu melihat jika nonanya tidak terlalu senang dengan kedatangan sang kakek, padahal sebelum-sebelum ini sang nona begitu antusias untuk bertemu dengan sang kakek yang sudah lama tak dilihatnya.
“Sepertinya nona tidak terlalu senang dengan kedatangan tuan besar?”
Wanita itu menghembuskan nafas kecil sambil memandang seluruh sudut kasino miliknya dengan gusar.
“Aku bukannya tidak senang, tapi aku hanya bingung bagaimana cara menghadapi kakek jika pengiriman kemarin menuai kendala. Salah satu orang kita tertangkap polisi di pelabuhan karena membawa dua ratus kilo mariyuana. Untung saja kita memiliki orang dalam yang bekerjasama dengan Bloods, sehingga pengiriman itu berhasil dilakukan. Tapi kakek akan bertanya ini itu yang membuat kepalaku semakin pusing karena pekerjaan kita yang semakin hari semakin menumpuk. Mungkin hari ini aku tidak akan menemui kakek terlebihdahulu, aku ingin mendinginkan kepalaku yang panas.” Ucap wanita itu frustasi sambil menegak vodkanya dalam satu kali teguk.
Tiba-tiba ponsel milik Yunho bergetar, membuat sang pemilik ponsel langsung mengangkat panggilan itu cepat ketika ia membaca nama yang tertera di dalam layar ponselnya.
“Selamat siang, tuan besar.”
Wanita itu menoleh gusar kearah pelayannya karena sekarang pria itu sedang berbicara dengan kakeknya. Padahal baru saja ia mengatakan jika ia ingin menghindarinya untuk sesaat.
“Tuan besar ini berbicara dengan anda nona.”
Krystal mengumpat kesal pada pelayannya dan langsung merebut ponsel hitam itu dengan kasar. Padahal ia sudah mematikan ponselnya agar sang kakek tidak berbicara macam-macam dengannya. Tapi apa yang ia dapat, justru pria ***** di sebelahnya yang membuatnya harus berbicara dengan sang kakek.
“Kau sepertinya sedang ingin menghindari kakek, ada apa Krystal? Apa kau telah membuat kesalahan?”
Krystal mendengus kesal sambil mengumpati kakeknya dalam hati. Ia paling tidak suka jika pekerjaannya diremehkan dan setelah itu ia akan mendapat tekanan dari kakeknya.
“Aku tidak membuat kesalahan apapun, aku sudah berhasil mengurus semuanya. Jadi kakek tidak perlu khawatir.”
“Pengiriman kemarin mengalami kendala bukan? Krystal, kau harus memperbaiki kinerjamu lagi nak, jika kau tidak ingin merugikan bisnis keluarga kita. Ingat, ayahmu mengorbankan dirinya untuk kejayaan keluarga kita, untuk masa depanmu, jadi jangan kecewakan ayahmu.”
Sialan! Dasar tua bangka!
Lagi-lagi Krystal mengumpati kakeknya dalam hati karena sang kakek yang dinilainya terlalu mengontrolnya seperti robot. Padahal selama ini ia sudah berusaha keras untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin Bloods. Tapi tetap saja sang kakek masih meremehkan kemampuannya.
“Ya, aku tahu kek. Kakek sudah mengatakan hal itu berulang kali. Aku akan berusaha lebih keras lagi setelah ini. Ngomong-ngomong kapan kakek akan datang? Aku ingin menunjukan kasino baru milik Bloods yang berada di Chicago. Sementara ini kasino milik Bloods di Las Vegas memiliki perkembangan yang cukup pesat. Aku yakin kelompok kita akan semakin mendapatkan kepercayaan dari kartel narkoba di Itali untuk memasarkan dagangan mereka karena Bloods mampu menunjukan kompetensinya selama dua tahun terakhir ini.”
Pria tua yang merupakan kakek Krystal tertawa puas dengan kinerja cucunya yang memang jauh lebih baik dari keponakannya, Park Jaejong. Tapi ia tidak ingin menghujani Krystal dengan banyak pujian karena pujian akan melemahkannya. Ia justru akan memberikan banyak cacian untuk menguatkan Krystal agar wanita itu tumbuh menjadi wanita yang tangguh.
“Aku akan melihatnya nanti. Sekarang aku sedang berada di pesawat, dan pukul empat kau harus menjemputku di bandara, karena aku ingin melihat perkembangan bisnismu di Amerika. Dan sebenarnya aku sedang mempertimbangkanmu untuk kembali ke Korea, karena di sini aku membutuhkan banyak sekutu untuk membantuku. Dan juga, kita harus mulai menyusun rencana untuk mengeluarkan Jaejong. Ayahmu sudah dua tahun mendekam di penjaran. Meskipun aku telah menempatkan orang-orang kepercayaanku di sana, tapi itu tidak serta merta dapat membebaskannya. Kapten mereka sungguh sangat pintar untuk menahan Jaejong di sana meskipun beberapa kasusnya telah dinyatakan tak bersalah.”
“Sebenarnya kasus apa yang selama ini menjerat ayah? Kenapa orang-orang kita tidak bisa membebaskannya begitu saja?” tanya Krystal ingin tahu. Setelah ia terbangun dari masa komanya yang cukup panjang, Yunho hanya mengatakan jika ayahnya sedang berada di tahanan intel negara di Korea dan itu semua terjadi karena ayahnya ingin melindunginya. Tapi sayangnya ia tidak bisa mengingat wajah ayahnya dengan jelas, karena menurut Yunho luka benturan akibat kecelakaan yang dialaminya dua setengah tahun yang lalu telah menyebabkan ia kehilangan sebagian memory masa lalunya. Bahkan terkadang ia merasakan sakit kepala yang cukup menyiksa ketika ia lupa meminum obatnya untuk sesaat.
“Itu semua sangat rumit, tapi ada satu kasus yang benar-benar menjerat ayahmu hingga ayahmu tidak bisa menghindarinya. Kasus itu adalah kasus kematian salah satu intel Korea di masa lalu. Saat itu anak buah ayahmu sengaja mengatakan pada intel-intel itu jika ayahmu yang telah membunuh salah satu rekan mereka agar intel-intel itu tidak bisa menahan keberangkatanmu ke Amerika untuk berobat. Ia rela mengorbankan dirinya untuk kesembuhan putrinya yang sangat ia sayangi, jadi kuharap kau tidak mengecewakan ayahmu.”
Krystal mencoba memejamkan matanya untuk mengingat bagaimana wajah ayahnya yang selama ini telah berkorban untuknya. Tapi semakin ia berusaha untuk mengingat, seluruh sisi kepalanya justru terasa sakit dan terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Tanpa sadar Krystal mengerang dan membuat Yunho langsung menepuk pundaknya dengan khawatir.
“Nona, kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, jangan pedulikan aku.”
Krystal membuka matanya dengan sedikit terengah karena efek sakit kepala yang menyiksanya. Mungkin ia akan berusaha mengingatnya lain kali.
“Kakek aku akan menutup sambungan teleponnya, sampai jumpa nanti.”
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan dari kakeknya, Krystal segera menutup sambungan teleponnya sambil berdecak kesal karena sakit kepalanya tak kunjung berhenti setelah ia mencoba untuk mengingat masa lalunya. Ia tidak bisa meminum obatnya sekarang untuk menghilangkan efek pening yang menderanya karena ia baru saja menegak sebotol vodka. Setidaknya ia harus menunggu selama dua jam untuk bisa meminum obat sakit kepalanya. Tapi ia tidak bisa menunggu hal itu terlalu lama. Sakit kepala itu benar-benar menyiksanya hingga rasanya ia ingin melepas kepalanya sejenak agar ia bisa menghirup udara pengap klubnya tanpa harus merasakan sakit kepala yang menyiksa.
“Yunho, suntikan aku morfin sekarang. Aku sudah tidak tahan.” perintah Krystal dengan nada yang sedikit memburu. Yunho segera mengambil tas miliknya yang berada di atas meja, lalu ia menyiapkan peralatan suntik dan sebotol kecil morfin yang didapatkannya dari salah satu dokter khusus Bloods. Selama ini jika Krystal mengalami sakit kepala yang tak tertahankan, ia akan menyuntikan sedikit dosis morfin untuk membantu Krystal agar lebih rileks. Terutama saat Krystal tengah mengonsumi alkohol seperti siang ini. Obat yang diresepkan dokter untuknya
tidak boleh terkontaminasi dengan alkohol, sehingga Krystal tidak bisa meminumnya disaat ia tengah meneguk alkohol. Tapi untung saja ia masih bisa menggunakan sedikit dosis morfin untuk menghilangkan rasa sakit yang berdentam-dentam di kepala Krystal.
“Aku akan tidur sebentar. Jika pesawat kakek sudah mendarat tolong bangunkan aku.” ucap Krystal dengan nada memerintah sambil memejamkan matanya perlahan. Kini berangsur-angsur sakit kepalanya menghilang. Tapi terkadang di dalam setiap tidurnya ia memimpikan berbagai hal aneh yang cukup membuatnya bertanya-tanya, sebenarnya siapakah dirinya dulu sebelum ia terbaring koma di rumah sakit? Dan mengapa ia hanya menemukan Yunho sebagai pengawal setianya selama ini?
-00-
Haejun mengetuk-etukan pena di mejanya sambil mengamati setiap nama yang telah ia tuliskan di dalam sebuah papan putih di kantornya. Sudah dua tahun ia menyelidiki setiap nama yang diberikan oleh Park Jaejong dan anak buahnya, tapi hingga sejauh ini ia sama sekali belum menemukan titik terang terkait bos besar
yang menjadi ketua sindikat mafia di Korea. Padahal dulu ia berpikir jika ia menangkap Park Jaejong, maka ia akan lebih mudah untuk mendekati sang bos besar. Tapi nyatanya perkiraanya itu salah, ia sama sekeli belum menemukan titik terang mengenai sang bos mafia yang selama ini selalu bersembunyi dibalik punggung para aparat pemerintah. Bahkan kini ia merasa sulit untuk mempercayai sesama agent atau jenderal-jenderal yang bekerja di markas ini karena mereka semua memiliki peluang untuk terlibat di dalam jaringan itu. Bahkan satu tahun yang lalu ia dibuat terkejut dengan sebuah fakta yang mengungkapkan jika salah satu anggota dewan jenderal, Ahn Jaehyun, terlibat dalam jaringan mafia tersebut. Lalu tak lama setelah berita itu terungkap, Ahn Jaehyun ditemukan meninggal bersama dengan seluruh keluarganya di kediamannya dengan luka tembak di setiap kepala mereka masing-masing. Bahkan pembunuhan itu benar-benar tak tanggung-tanggung. Salah satu cucu Ahn Jaehyun yang sedang berkuliah di Australia turut menjadi sasaran pembunuhan karena kesalahan kakeknya yang mungkin dinilai telah menyalahi aturan dari jaringan mafia yang diikutinya. Tapi hal itu sebenarnya sama sekali tidak mengejutkan Haejun, karena sejak dulu kehidupan gelap seperti itu tidak akan pernah pandang bulu. Mereka akan membunuh siapa saja yang dinilai berkhianat dan mereka juga tidak segan-segan membunuh keluarganya sendiri jika keluarganya juga melakukan pengkhinatan, karena loyalitas dalam kelompok adalah segala-galanya untuk mereka.
“Sayang, aku belum bisa mengungkapkan siapa orang-orang yang terlibat dalam pembunuhmu dan juga pembunuhan ayahmu. Maafkan aku.”
Haejun bergumam pelan pada foto Yuka yang terpasang di atas mejanya. Dua tahun tanpa Yuka merupakan saat-saat yang sangat berat untuknya. Tapi selama ini ia selalu mendapatkan kekuatan dari Enzo. Putranya itu sekarang begitu dewasa dan sangat memahaminya. Ia juga tidak pernah rewel lagi jika harus berada di rumah bersama Jaekyung. Meskipun terkadang ia sedikit protes akan kecerewetan Jaekyung yang selalu mengaturnya ini itu.
Tok tok tok
Haejun menoleh sekilas pada pintunya yang tiba-tiba diketuk. Ia pun membetulkan letak duduknya dan menyuruh sang pengetuk untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Yeri, ada apa?”
“Kapten, aku menemukan ini.”
Yeri menunjukan layar tabletnya pada Haejun, namun ia terlebihdahulu menutup pintu ruangan Haejun rapat-rapat. Selama dua tahun ini ia diam-diam bekerjasama dengan Haejun untuk menyelidiki kasus kematian Yuka dan keterlibatan Sehun yang selama ini selalu dicurigainya sebagai salah satu pengkhianat yang menyusup ke dalam markas. Tapi sayangnya selama lebih dari satu tahun ia mengawasi gerak gerik Sehun, pria itu semakin berhati-hati dalam melangkah. Ia tidak lagi menunjukan kejanggalanya seperti dulu, dan justru semakin loyal terhadap markas, membuat Yeri tidak memiliki kesempatan untuk mencari bukti fisik keterlibatan Sehun terhadap sindikat mafia itu.
“Kelompok mafia Bloods dikabarkan adalah kelompok mafia yang diketuai oleh orang Korea? Darimana artikel ini kau dapatkan? Bukankah selama ini kelompok itu diketuai oleh sekumpulan orang Jamaica?” tanya Haejun heran. Bertahun-tahun ia menyelidiki kasus kehidupan sindikat mafia, namun ia luput akan satu nama yang selama ini ia pikir sebagai sindikat mafia dari Jamaica.
Haejun tampak berpikir sejenak untuk mempertimbangkan tawaran Yeri. Ia pikir ia memang perlu menyelidiki sindikat itu lebih lanjut. Tapi rencananya ini tidak boleh bocor dan diketahui oleh pihak manapun, karena sekali lagi, markas sangat rentan untuk disusupi.
“Informasi yang kau berikan sangat menarik, dan sepertinya aku harus ke sana untuk menyelidiki sindikat itu. Tapi Amerika sangat luas, aku tidak mungkin mengelilingi semua negara bagian Amerika hanya untuk menyelidiki sindikat mafia yang berasal dari Korea Selatan itu. Apa kau memiliki informasi yang lebih spesifik terkait kelompok Bloods?”
“Sebenarnya saya memilikinya kapten. Jadi, sejak tiga bulan yang lalu saya meminta tolong pada Jieun untuk meretas semua akses yang digunakan oleh Sehun. Dan pagi ini saya menemukan informasi jika Sehun telah membeli lima buah tiket pesawat kelas vvip untuk pergi ke Las Vegas dan Chicago. Bukankah itu sangat mencurigakan kapten, padahal ia sama sekali tidak berencana untuk mengambil cuti minggu ini. Menurut kapten, apakah Sehun sedang memesankan tiket pesawat untuk orang lain?”
Haejun lagi-lagi mengernyitkan dahinya untuk memikirkan asumsi yang dikatakan oleh
Yeri. Selama ini ia sudah sering memperhatikan Sehun, dan ia sepertinya memang terlibat dalam sindikat itu. Tapi ia belum ingin memproses Sehun karena pria itu juga berguna untuknya. Setidaknya secara tidak langsung Sehun memberikannya informasi juga melalui setiap gerak geriknya yang mencurigakan.
“Kapan pesawat itu akan berangkat ke Vegas?”
“Menurut jadwal keberangkatan yang ditetapkan oleh pihak bandara, pesawat itu akan berangkat pukul sebelas.”
“Sial!”
Haejun mengumpat keras ketika ia melihat jika saat ini jam telah menunjukan pukul setengah sebelas siang. Ia hanya memiliki waktu tiga puluh menit untuk mengurus semuanya. Padahal ia sama sekali belum menyiapkan apapun untuk keberangkatannya ke luar negeri, bahkan passportnya masih dalam masa perpanjangan di kantor imigrasi.
“Aku tidak mungkin menyiapkan semuanya dalam waktu tiga puluh menit. Passportku masih berada di kantor imigrasi.”
“Passport bukan masalah kapten, karena saya sudah menyiapkannya tadi pagi dibantu oleh Minzi. Ini passport kapten.”
Yeri meletakan passport milik Haejun di atas meja dengan wajah sumringah. Namun sedetik kemudian ia teringat jika ia belum membeli tiket untuk Haejun, sehingga kaptennya itu tetap tidak akan bisa pergi ke Las Vegas.
“Terimakasih, ini sudah lebih dari cukup. Aku akan meminta bantuan temanku yang bekerja di bandara untuk memberikanku tiket ke Vegas. Tolong rahasiakan kepergianku ke Vegas. Katakan saja jika aku sedang pergi ke Nami untuk mengunjungi ibuku bersama Enzo. Aku akan mengatakan hal ini pada ayahku. Sekali lagi terimakasih atas semua hal yang telah kau lakukan selama ini. Kau adalah agent yang hebat.”
__ADS_1
Yeri tersenyum kecil pada Haejun sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dalam hati Yeri berdoa semoga kaptennya itu berhasil mengungkapkan kebenaran yang selama ini tersembunyi dibalik kelicikan agent-agent yang berada di markas, karena ia hanya ingin pembunuhan yang terjadi pada Yuka segera terungkap dan pembunuh itu mendapatkan hukuman yang setimpal.
-00-
Krystal berdecak kesal pada Yunho karena pria itu baru saja membangunkannya dan membuatnya harus meninggalkan dunia mimpinya yang nyaman. Padahal ia sedang ingin sedikit bersantai sebelum kakeknya datang dan mungkin akan membuatnya tidak bisa tidur selama beberapa hari kedepan. Tapi Yunho baru saja mengatakan jika salah satu bos kartel narkoba dari Itali datang untuk melakukan transaksi di The Wyn. Dan sebagai tuan rumah yang baik, mau tidak mau Krystal harus turun dan menyambut rekan barunya dengan sambutan yang bersahabat.
“Tuan Angelo telah menunggumu di bawah nona.”
“Aku tahu. Tunggulah sebentar, aku akan merapikan penampilanku dulu.”
Krystal berjalan pergi menuju ruangannya yang berada di lantai tiga gedung kasinonya. Ia harus setidaknya terlihat layak di depan bos besar kartel narkoba itu agar mereka semakin tertarik untuk melakukan kerjasama dengannya. Bukankah pria sangat lemah terhadap wanita? Untuk itu ia akan menggunakan sisi terlemah pria untuk menjerat mereka.
Lima belas menit kemudian Krystal muncul di depan Yunho dengan sebuah gaun ketat lima belas senti di atas lutut yang begitu menggairahkan. Dibalik gaunnya yang seksi, Krystal sengaja menggunakan celana dalam berenda yang akan terlihat jelas jika ia sedikit membungkukan tubuhnya. Dan ia sengaja tidak menggunakan
branya agar para pria hidung belang itu semakin bergairah ketika melihatnya, dan setelah itu mereka akan jatuh ke dalam kelicikannya.
“Ayo, kita temui mereka sekarang.”
Yunho hanya diam ketika melihat nonanya yang begitu berani sore ini. Meskipun selama ini Krystal juga diam-diam sering menjadi stripper di The Wyn tanpa sepengetahuan orang-orang, tapi penampilannya hari benar-benar sedikit mengejutkannya. Pasalnya jika menjadi dirinya sendiri, Krystal lebih suka terlihat anggun, bukan terlihat seperti seorang ******* seperti hari ini.
“Buon pomeriggio (selamat sore). Ciao, io sono Krystal.”
Krystal mencoba mengambil kesan pertama mereka dengan bahasa Itali yang sedikit dipelajarinya satu tahun yang lalu. Pria muda yang bernama Angelo itu terlihat begitu tertarik dengan wajah Krystal yang memancarkan kecantikan khas orang Asia dan kepribadian Krystal yang terlihat sopan, namun mengurakan aura kuat mendominasi dari tubuhnya.
“Angelo. Kau terlihat seperti bukan sang Lady dari kasino ini, kau terlihat lebih berkelas.” bisik pria itu menggoda. Krystal berpura-pura tersenyum malu sambil mempersilahkan sang tamu untuk duduk. Saat ia membungkukan tubuhnya, kedua mata Angelo tak bisa lepas dari dada Krystal yang begitu terekspos. Jelas sekali pria itu sangat menginginkan Krystal, namun Krystal ingin sedikit bermain-main dengan pria itu agar ia bertekuk lutut padanya.
“Jadi apakah tuan ingin melakukan kerjasama dengan Bloods?” tanya Krystal memulai percakapan. Pria itu menyandarkan tubuhnya santai pada sandaran kursi sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Kau bisa memanggilku Angelo, aku tidak suka suatu kerjasama yang terkesan formal, dolcezza (sayang).”
Krystal tersenyum miring dan mulai menampakan smirknya. Ia tidak perlu lagi berpura-pura rupanya.
“Baiklah, aku setuju. Jadi Angelo, kerjasama seperti apa yang kau inginkan antara Bloods dan kelompokmu, Amore?”
“Kerjasama yang saling menguntungkan tentu saja. Kulihat kau memiliki tempat-tempat yang sangat strategis untuk melakukan bisnis gelap di Vegas dan Chicago, aku pikir tempat-tempat yang kau miliki itu dapat membantuku meningkatkan pendapatan bisnisku. Apa kau setuju untuk bekerjasama denganku?”
Krystal berpikir sejenak dan tidak serta merta mengiyakan tawaran Angelo. Lagipula ini merupakan kerjasama dalam hal kotor, dan pasti akan ada banyak hal kotor yang berada di belakang bisnis ini. Dia tidak mau terjebak ke dalam hal kotor itu, sebelum ia memastikannya terlebihdahulu.
“Apa kau memiliki syarat lain dalam perjanjian ini Angelo?”
“Haha, tak kusangka kau sangat cerdik dolcezza. Aku memang memiliki persyaratan lain dalam kerjasama ini, karena kita tidak mungkin terikat begitu saja tanpa sebuah persyaratan yang manis, bukan begitu Il Mio Tesoro?”
Semakin lama Krystal mulai jengah dengan sikap Angelo yang terlalu banyak menggoda itu. Bahkan dengan terang-terangan pria itu menunjukan gelagat aneh yang membuatnya begitu jijik dan ingin menampar pria itu sekarang juga. Tapi ini adalah salah satu tantangan untuknya. Ia harus bisa menaklukan pria itu dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dan kartel yang dipimpinnya.
“Well, aku menerima persyaratan yang kau ajukan. Tapi untuk hari ini aku tidak bisa menemanimu lebih lama, kakeku akan datang, dan aku harus menjemputnya. Apa kau tidak keberatan Angelo?”
Yunho yang sejak tadi mengamati ekspresi Angelo yang begitu mendambakan Krystal merasa ingin terkikik dengan penolakan halus Krystal. Pasalnya pria itu terlihat sudah begitu mengharapkan sebuah percintaan panas dengan Krystal untuk memulai kesepakatan kerjasama mereka. Tapi ia tahu jika Krystal tidak akan pernah mau melayani pria-pria seperti mereka karena ia adalah wanita angkuh dengan harga diri yang begitu tinggi, dan selama ini belum ada seorang priapun yang mampu menyeret Krystal ke atas ranjang nyaman mereka yang panas.
“Sayang sekali Lady, tapi mungkin lain kali kau bisa menemaniku lebih lama.”
Krystal tersenyum lembut pada Angelo dan segera berdiri dari duduknya. Tak lupa ia sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Angelo sambil mengusap pipi pria itu lembut dan berbisik.
“Terimakasih atas pengertianmu Angelo, semoga kerjasama kita akan saling menguntungkan kedepannya.”
Angelo terlihat menahan nafas ketika ia melihat dada Krystal yang terpampang jelas di depannya. Andai saja Krystal tidak sedang terburu-buru untuk menjemput kakeknya, ia pasti akan menarik wanita itu sekarang juga ke atas pangkuannya dan mencumbunya hingga puas. Ahh... bahkan dirinya kini sudah benar-benar bergairah hanya karena sentuhan lembut Krystal di pipinya.
__ADS_1
“Damn, carikan aku wanita untuk menemaniku sekarang!” perintah Angelo gusar sambil berjalan pergi meninggalkan mejanya untuk berpindah ke kamar hotel terdekat.