Ignite

Ignite
Catch The Cucciola (Thirty Two)


__ADS_3

        Haejun mendekati tim SAR yang sedang sibuk mengeluarkan rongsokan mobil Sehun dari dalam suangai Han. Raut wajah pria itu terlihat begitu datar dan tak terbaca. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Yang jelas ia tidak terlihat menyesal atau merasa bersalah atas insiden yang menimpa Sehun hari ini, justru ia berharap agar Sehun mati dalam insiden kali ini karena pria itu adalah pengkhianat yang selama ini telah menusuknya dari belakang dan telah mencintai istrinya dengan lancang.


            “Bagaimana? Apakah proses pengangkatan bangkai mobil itu masih lama?” tanya Haejun bosan pada salah satu anggota tim SAR yang berdiri di dekatnya. Pria berpakaian kuning itu menoleh malas pada Haejun, namun setelah membaca lencana-lencana yang tersemat di dada kiri Haejun, pria itu langsung menunduk hormat karena ia tahu jika Haejun bukan penduduk sipil biasa.


            “Kami sedang melakukan pengangkatan bangkai mobil itu tuan Lee, karena kemarin malam hujan deras mengguyur Seoul, kondisi sungai Han saat ini begitu penuh, sehingga kami mengalami sedikit kendala dalam mengeluarkan bangkai mobil milik korban.” jelas pria itu sopan. Haejun menatap lurus pada bangkai mobil milik Sehun yang terlihat sedikit menyembul ke permukaan. Ia kemudian mengamati kursi kemudi yang terlihat gelap dan sudah terisi dengan banyak air. Ia sempat meragukan jika Sehun akan selamat dalam insiden kecelakaan kali ini. Tapi tiba-tiba ia teringat akan latar belakang Sehun yang cukup licik selama ini. Mungkin saja jika Sehun berhasil selamat dalam insiden kecelakaan kali ini karena apapun dapat terjadi pada pria itu.


            “Lalu bagaimana dengan pengemudi yang masih terjebak di dalam mobil itu, apa kalian sudah menemukannya?”


            “Saat ini tim evakuasi sedang menyusuri sungai Han untuk mencari mayat Oh Sehun di sekitar lokasi jatuhnya mobil. Tapi kemungkinan saat ini mayat Oh Sehun masih terjepit di dalam badan mobil karena hingga saat ini tim evakuasi belum menemukan apapun di sekitar sungai Han.”


            Haejun mengepalkan tangannya gusar di dalam saku celananya karena ternyata mereka semua belum bisa memberikan penjelasan secara pasti mengenai keadaan Sehun saat ini. Dan jika ternyata Sehun belum mati, maka ia bersumpah akan membunuh pria itu dengan tangannya sendiri.


            “Tuan, tim kami telah berhasil mengeluarkan bangkai mobil itu dari dalam sungai Han.”


            Haejun melihat sekumpulan tim SAR sedang mengerubungi bangkai mobil milik Sehun yang tampak mengenaskan dan tak berbentuk. Mobil SUV itu terlihat ringsek di beberapa sisi dan Haejun sempat melihat adanya bercak merah di sekitar badan mobil. Namun Haejun tetap tidak yakin jika itu adalah darah milik Sehun karena nyatanya mobil itu kosong, mayat Sehun tidak ada di sana.


            “Aku adalah kapten intel negara, Lee Haejun, aku akan mengambil alih kasus ini untuk dibawa ke markas intel negara karena pengemudi yang mengemudikan mobil SUV ini adalah salah satu anggota kami yang hari ini melakukan pengejaran buronan bersamaku. Jadi kalian bisa kembali ke markas kalian, dan aku akan menghubungi mobil derek untuk membawa bangkai mobil ini ke markas. Dan untuk tim evakuasi, aku harap kalian tetap melanjutkan pencarian kalian untuk menemukan mayat pengemudi ini, karena sepertinya bangkai mobil itu telah kosong.”


            Haejun berucap angkuh dihadapan seluruh tim SAR yang hari ini telah membantunya untuk mengevakuasi bangkai mobil milik Sehun. Namun diantara mereka ada yang terlihat tidak senang dengan sikap Haejun karena ia dinilai sok berkuasa karena memiliki pangkat yang tinggi dalam intel negara.


            “Huh, sombong sekali pria itu. Bukan karena ia seorang kapten, ia berhak memerintahkan kita seenaknya. Kita bukan bawahannya, dan kita tidak perlu patuh terhadap perintahnya.”


            “Sssttt.. kecilkan suaramu, ia memandang kearah kita. Lebih baik kita segera pergi dari sini sesuai dengan perintahnya karena bagaimanapun kedudukan intel negara lebih tinggi daripada kita. Apalagi saat ini yang sedang berbicara adalah kapten tertinggi intel negara, jika kau berani macam-macam dengannya maka jabatanmu akan menjadi taruhannya.”


            Haejun mengamati dua anggota tim SAR yang masih bertahan di tempat mereka berdiri meskipun ia telah mengusir mereka secara terang-terangan. Ia pun berinisiatif untuk menghampiri mereka dan menanyakan keperluan mereka secara langsung. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, dua orang anggota tim SAR itu langsung berjalan pergi meninggalkan tempat mereka sambil sesekali menoleh ke belakang untuk mencuri pandang kearahnya.


            “Dasar pengecut! Mereka hanya berani membicarakanku tanpa berani menghadapiku.” gerutu Haejun kesal. Ia kemudian berjalan menuju bangkai mobil milik Sehun sambil merogoh saku celananya untuk menghubungi seseorang.


            “Halo, kau dan Lay kemarilah. Bawa beberapa anggota intel yang lain untuk mengevakuasi bangkai mobil milik Sehun.”


            “Kapten, apa yang terjadi pada Oh Sehun?”


            Suara Yeri yang berubah panik di seberang sana membuat Haejun sedikit malas, karena ia harus menjelaskan kronologi kejadian kecelakaan malam ini pada wanita itu.


            “Oh Sehun terlibat dalam pengejaran buronan, tapi ia berada di pihak musuh. Ia sengaja menghalang-halangi jalanku untuk menangkap putri Park Jaejong, sehingga aku terpaksa menembak ban belakang mobilnya agar ia menyingkir dari jalanku. Tapi sepertinya hari ini adalah hari kematiaanya karena ia justru menabrak sebuah truk kontainer dan mobil yang dikendarainya terjun bebas ke dalam sungai Han. Saat ini para anggota tim SAR sedang mencari mayatnya.” Jelas Haejun datar dan terkesan tidak peduli dengan nasib Sehun. Karena sebenarnya hal inilah yang ia harapkan, kematian Oh Sehun.


            “Aapa... apa Oh Sehun benar-benar meninggal?” tanya Yeri tergagap. Haejun mengernyitkan dahinya gusar dengan sikap Yeri hari ini yang terlalu banyak bertanya. Padahal biasanya gadis itu selalu menuruti semua perintahnya tanpa banyak bertanya seperti malam ini.


            “Tim SAR yang akan memastikan apakah Oh Sehun mati atau tidak. Sekarang yang kuinginkan adalah kedatanganmu bersama Lay dan juga beberapa anggota intel yang lain untuk mengevakuasi bangkai mobil milik Sehun, apa kau mengerti?” ucap Haejun sedikit menggeram. Yeri bergumam pelan pada Haejun dengan patuh dan setelah itu ia langsung mematikan ponselnya setelah Haejun terlebihdahulu mengakhiri percakapan mereka yang sedikit menjemukan untuknya.


-00-


            Dua puluh menit kemudian Yeri datang bersama Lay dan beberapa anggota intel yang lain dengan wajah tegang. Raut wajah mereka menyiratkan sebuah kengerian saat mereka melihat tempat kejadian kecelakaan yang begitu mengerikan dan juga bangkai mobil SUV milik Sehun yang terlihat sudah tak berbentuk. Melihat anak


buahnya telah datang, Haejun segera mendatangi mereka untuk memberikan informasi terbaru mengenai jasad Sehun yang belum diketemukan oleh tim SAR.


            “Bawa bangkai mobil ini ke markas, kita membutuhkannya untuk barang bukti dan pengusutan kejahatan yang dilakukan oleh Sehun selama ini.”


            “Kapten, apa Sehun benar-benar sudah mati?” tanya Lay prihatin. Bagaimanapun selama ini Lay telah menganggap Sehun seperti saudara kandungnya sendiri, dan baru beberapa saat yang lalu ia tahu jika Sehun sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang menyusup ke dalam markas melalui Yeri.


            “Aku tidak tahu, tim SAR masih mencoba untuk mencari jasadnya. Tapi jika dalam tiga hari kedepan jasad Sehun tidak ditemukan, maka tim SAR akan menyatakan jika Sehun sudah mati.” jelas Haejun datar. Lay dan Yeri terlihat begitu sedih mendengar penjelasan dari Haejun karena mereka sama sekali tidak menyangka jika teman setim mereka akan mati dengan cara yang sangat tragis seperti itu. Dan mereka juga yakin jika Sehun tidak akan pernah mendapatkan pemakaman yang layak karena markas jelas tidak akan memberikan penghormatan apapun bagi seorang pengkhianat.


            “Kita akan bicarakan masalah ini lagi besok, sekarang kalian bawa bangkai mobil ini ke markas. Aku akan mencari jejak putri Park Jaejong lebih lanjut.”


            Yeri mengangguk patuh pada Haejun dan segera menyuruh junior-juniornya untuk menderek mobil SUV milik Sehun yang ringsek. Sepeninggal Haejun, Yeri berjalan menuju pembatas jembatan yang ia duga sebagai tempat jatuhnya mobil Sehun. Pagar jembatan itu kini telah dikelilingi garis polisi dan tampak dijaga ketat


oleh pasukan berseragam polisi. Tapi saat ia menunjukan kartu identitasnya sebagai intel, polisi-polisi itu langsung memberinya akses untuk mendekat ke tempat kejadian perkara.


            “Aku tidak menyangka jika Sehun akan meninggalkan kita secepat ini. Kupikir ia hanya akan ditangkap oleh kapten Lee dan mendekam di dalam penjara markas yang gelap.” gumam Yeri pelan. Lay yang berada tepat di belakangnya berjalan pelan menghampiri Yeri sambil menepuk bahu wanita itu untuk menenangkan. Ia pun saat


ini juga merasakan kesedihan yang begitu besar karena kepergian Sehun. Tapi ia hanya berharap semoga Sehun mendapatkan kehidupan yang lebih baik di atas sana karena pria itu sangat baik padanya.


            “Aku merasa telah kehilangan seorang saudara laki-laki. Ia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Sejak kapan kau mengetahui pengkhianatannya?”


            Yeri menoleh pelan pada Lay sambil menatap teman setimnya dalam. Ia merasa ragu untuk memberitahukan hal ini pada Lay karena ia pikir Lay pasti akan merasa tersakiti dengan informasi yang akan diberikannya.


            “Sejak lama. Setelah senior Im meninggal. Saat itu aku melihat Oh Sehun menembak kapten Lee untuk mencegah perbuatan kapten Lee yang akan menembak Park Jaejong. Sejak saat itu aku selalu menyelidikinya dan aku menemukan sesuatu yang mencengangkan jika ia adalah seorang pengkhianat.”

__ADS_1


            “Apa kapten Lee juga sudah mengetahuinya sejak lama?”


            Yeri mengangguk pelan dan kembali mengamati sungai Han yang saat ini dipenuhi oleh orang-orang berseragam kuning yang sedang melakukan penyisiran di sepanjang sungai Han.


            “Jadi hanya aku yang tidak mengetahui pengkhianatannya?” tanya Lay ironi. Yeri memilih untuk diam dan tidak berkata-kata. Saat ini ia terlalu takut terhadap kata-katanya yang mungkin saja dapat menyakiti Lay lebih jauh karena informasi-informasi yang tidak ingin didengarnya. Untuk saat ini biarlah Lay hanya tahu satu kebusukan yang selama ini disembunyikan oleh Sehun. Selanjutnya, mungkin ia akan mengatakannya secara perlahan.


-00-


            Dua hari setelah kecelakaan yang menimpa Sehun, tim SAR masih belum bisa menemukan dimana keberadaan jasad Sehun. Lalu markas memutuskan untuk menutup kasus yang menimpa Sehun, karena selain dinilai sebagai kasus yang memalukan untuk markas, kasus itu juga sudah tidak perlu untuk diusut. Jika markas membiarkan kasus tersebut terus diusut, masyarakat akan tahu jika markas intel negara selama ini sering disusupi oleh pihak musuh. Dan berita itu akan membuat masyarakt semakin tidak mempercayai kinerja para intel yang ternyata begitu buruk.


            “Ayah merasa bingung dengan keadaan markas saat ini, sepertinya kita perlu melakukan perombakan dewan jenderal untuk mengetahui apakah diantara kami juga terdapat seorang pengkhianat.” ucap tuan Lee terlihat frustrasi saat malam ini ia berkunjung ke ruangan putranya yang berada di lantai lima.


            Haejun yang sedang menekuni beberapa berkas yang berisi informasi mengenai Krystal Park langsung mendongakan kepalanya sebentar pada ayahnya sebelum ia kembali tenggelam ke dalam berkas-berkas milik Krystal Park.


            “Lakukan saja ayah jika itu memang diperlukan, aku akan sangat mendukung ide ayah itu.” ucap Haejun tanpa minat. Sesekali dahinya berkerut ketika membaca beberapa informasi yang menurutnya janggal.


            “Ayah akan mencoba membicarakan hal ini saat rapat dewan jenderal esok pagi. Ayah harap rapat itu tidak diwarnai kericuhan. Nak, apa yang sedang kau baca? Kau terlihat begitu serius sejak tadi.”


            Tiba-tiba tuan Lee merasa penasaran dengan tumpukan berkas-berkas yang sedang ditekuni oleh Haejun. Sejak tadi pria itu tak henti-hentinya mengerutkan dahinya ketika membaca berkas-berkas itu di depannya, dan hal itu tak pelak membuatnya merasa penasaran dengan berkas-berkas yang sedang dibaca oleh anaknya.


            “Ini adalah berkas-berkas yang berhubungan dengan putri Park Jaejong, Krystal Park, orang yang telah membawa kabur ayahnya dari markas dua hari yang lalu.”


            Tuan Lee berdiri di sebelah Haejun dan ikut membaca setiap tulisan yang tercetak di dalam map merah yang sedang dipegang oleh Haejun.


            “Putri Park Jaejong pernah mengalami kecelakaan?”


            “Berdasarkan informasi yang kudapatkan dari mantan pengurus rumah tangganya, dulu putri Park Jaejong memang pernah mengalami kecelakaan. Lalu ia dinyatakan koma karena mengalami benturan dan pendarahan yang cukup parah di bagian kepala ketika berusia tujuh belas tahun. Tapi sayangnya pengurus rumah tangga itu dipecat begitu saja tanpa alasan yang jelas oleh Park Jaejong. Ia dipulangkan begitu saja ke kampung halamannya setelah ia mendengar kabar jika putri Park Jaejong mengalami kritis.”


            “Itu cukup mencurigakan.” gumam tuan Lee sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pria paruh baya itu kemudian menarik salah satu kursi yang berada di depan meja Haejun.


            “Ayah tahu bagaimana kronologi kejadian kecelakaan itu, karena kecelakaan itu terjadi lima tahun yang lalu.”


            Haejun mengakat kepalanya dan menatap ayahnya penuh minat.


            “Ayah menangani kasus itu? Kenapa aku tidak mengetahuinya?” tanya Haejun dengan alis berkerut.


ayah ke sana, dan di ujung jalan ayah melihat mobil mini cooper itu sudah berasap dan menabrak pembatas jalan dan juga pohon. Lalu ayah segera menghubungi polisi dan pihak rumah sakit untuk mengurus kecelakaan itu. Tapi


ayah juga tidak bisa meninggalkan penumpang itu sendiri hingga tim medis dan petugas polisi datang. Akhirnya ayah mendekati mobil itu untuk melihat keadaansang pengemudi yang saat itu  sedang terjepit diantara kursi kemudi dan badan depan mobil yang ringsek. Sebisa mungkin ayah mencoba mengeluarkan wanita itu karena keadaanya yang sudah sangat mengenaskan. Tapi wanita itu sempat sadar untuk beberapa detik dan mengatakan jika namanya adalah Krystal Park. Meski saat itu ayah tidak tahu apa tujuan wanita itu menyebutkan namanya di depan ayah, tapi saat tim medis datang, informasi yang diberikan oleh wanita itu sedikit memudahkan tim medis untuk melacak dimana keberadaan keluarganya. Andai saja saat itu ayah tahu jika wanita itu adalah putri dari Park Jaejong, mungkin ayah akan menggunakan kesempatan itu untuk menangkap Park Jaejong karena bagaimanapun kejahatan pria itu sebenarnya telah terendus sejak lama, namun beberapa oknum telah berhasil menutupinya karena mereka punya jabatan yang penting di pemerintahan.”


            Tuan Lee mengakhiri cerita panjangnya dengan bersedekap di depan Haejun sambil menatap putranya dalam. Mengingat Park Jaejong sama saja membuka luka lama putranya tentang kematian sang menantu, tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain menceritakannya karena tugas mereka adalah untuk mengusut setiap kasus kejahatan yang terjadi di Seoul.


            “Mungkin selama ini Park Jaejong sedang menyembunyikan anaknya yang koma karena anaknya dapat menjadi kelemahannya jika sampai identitas putrinya diketahui oleh musuhnya. Sekarang aku tahu kenapa ia rela mengorbankan dirinya sendiri dua tahun yang lalu untuk di penjara di markas ini, karena saat itu ia hendak membawa putrinya ke Amerika untuk berobat. Dan sekarang putri yang tertidur itu telah kembali. Ia pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk membebaskan ayahnya dan melawan musuh-musuh ayahnya karena ia tahu jika ayahnya telah mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaannya di masa depan. Tak kusangka jika penjahat licik seperti Park Jaejong juga masih memiliki kebaikan yang begitu besar terhadap putrinya. Ia pasti ayah yang sangat menyayangi putrinya lebih dari apapun.”


            “Setiap ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, seperti kau dan Yuka. Kalian selama ini selalu melakukan berbagai macam cara untuk melindungi Enzo dari orang-orang jahat yang mengincar kalian, tapi sayangnya Yuka harus pergi terlebihdahulu meninggalkan kalian karena ia berkorban untuk keselamatan keluarganya. Ayah terkadang merasa menyesal karena dulu telah mengijinkanmu menikah dengan seorah agent seperti Yuka. Andai kau tidak menikah dengan Yuka, mungkin kau akan tetap hidup bahagia dengan keluarga kecilmu.”


            “Ayah...”


            Haejun menggeram tertahan dengan ucapan ayahnya yang dinilai tidak benar itu. Justru menikah dengan Yuka adalah sebuah kebahagiaan untuknya karena ia menikahi wanita yang tepat. Wanita yang benar-benar mencintainya setulus hati dan wanita yang telah menganugerahinya seorang anak yang begitu tampan dan menggemaskan. Entah apa jadinya jika saat itu sang ayah tidak mengijinkannya menikahi Yuka, mungkin hingga saat ini hidupnya akan tetap suram dan dipenuhi dengan berbagai macam kasus yang tiada habisnya di markas. “Aku tidak pernah menyesali pernikahanku dengan Yuka, bagiku Yuka adalah cahaya yang menerangi kehidupanku


yang suram. Bagiku memiliki Yuka dan Enzo adalah suatu anugerah. Dulu sebelum aku menjadi kapten dan hanya seorang anggota intel biasa, aku sempat berpikir jika sampai umurku menua, aku tidak akan pernah menikah karena aku sadar jika pekerjaanku ini adalah pekerjaan yang penuh bahaya. Melihat ayah yang harus berpisah dari ibu cukup jauh membuatku memutuskan untuk tidak menikah, karena bagiku hidup berjauhan seperti ayah dan ibu hanya akan memberikan penderitaan, karena meskipun kalian terikat, tapi kalian tidak bisa bersama karena tuntutan tugas. Tapi setelah aku menjadi kapten dan mengenal Yuka, aku merasa ketakutanku itu hilang. Aku justru semakin berani untuk mencintai Yuka karena kami sama. Kami sama-sama seorang intel dan kami memiliki pengetahuan yang sama mengenai dunia kriminalitas. Jadi aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Yuka dan mengajarinya berbagai macam pelatihan bela diri agar ia bisa melindungi dirinya sendiri jika aku tidak sedang berada di sampingnya. Jadi ayah tidak perlu merasa menyesal dengan pernikahanku dengan Yuka, karena sejujurnya aku begitu bersyukur saat menikahi Yuka, ia adalah harapanku ayah, harapan untuk kehidupan yang lebih baik.”


            “Ya, Yuka juga harapan untuk ayah dan ibumu. Karena dengan hadirnya Yuka, keluarga Lee kini memiliki penerus, Lee Enzo. Sepertinya ayah harus pergi sekarang.”


            Haejun membiarkan ayahnya pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Melihat ayahnya yang sedang menyembunyikan air mata kesedihan di balik mata tuanya sudah membuatnya merasa jika saat ini sang ayah sedang dipenuhi dengan luapan emosi yang tak tertahankan. Biarkanlah sang ayah menikmati waktu sendirinya untuk meluapkan emosinya yang saat ini sedang berkumpul di pelupuk matanya.


Drtt drtt drtt


            Haejun mendengar ponselnya bergetar beberapa kali di atas meja. Dengan gerakan kalem, Haejun mengambil ponsel hitam itu dan langsung menempelkannya di telinga.


            “Ya, ada apa? Apa kau mendapatkan informasi baru?”


            “Saya menemukan target bos, saat ini Krystal Park sedang berada di sebuah club di daerah Jaewon.” ucap seseorang di seberang sana yang merupakan mata-mata khusus yang disewa Haejun. Sejak dua hari yang lalu ia telah memutuskan untuk mengusut kasus Krystal Park sendiri tanpa campur tangan anak buahnya, karena ia tidak ingin rencananya kali ini berantakan. Apalagi ia sudah sedikit trauma dengan adanya pengkhianat yang saat ini tengah membuat kondisi markas semakih memanas. Biarlah kali ini hanya dirinya saja yang mengusut kasus milik Krystal. Jika ia membutuhkan bantuan, ia pasti akan memanggil anak buahnya untuk ikut serta membantunya.


            “Baiklah, aku akan ke sana. Tetap lanjutkan pekerjaanmu untuk mengawasi Krystal.”


-00-

__ADS_1


           Krystal berjalan gusar ke dalam bar sambil sesekali memegangi kepalanya yang berdenyut. Hari ini kakeknya kembali membuatnya kesal dengan menyalahkannya atas meninggalnya Sehun dan beberapa pekerjaanya yang entah kenapa hari ini sedikit berantakan. Ia kemudian berjalan menuju meja bartender untuk memesan beberapa gelas scotch agar ia bisa melupakan semua kekesalannya hari ini.


           “Minuman untukmu nona.”


            Krystal mengernyitkan dahinya bingung pada seorang pelayan yang tiba-tiba memberikannya segelas margarita, padahal ia sama sekali tidak memesannya. Bahkan ia belum


mengatakan apapun untuk memesan minuman.


            “Siapa yang memberikan minuman ini padaku? Aku tidak memintanya.” ucap Krystal dingin. Pelayan itu membungkuk hormat dan menunjuka pada seorang pria berjas hitam yang sedang dikelilingi oleh beberapa orang wanita berpakaian minim di kanan kirinya.


            “Pria itu yang memberikan anda minuman.”


              Krystal menoleh kearah tatapan bartender itu dan ia langsung menemukan seorang pria parlente yang sedang menatapnya dengan tatapan genit yang memuakan. Pria itu menaikan sedikit topi baretnya sambil mengerling nakal kearah Krystal yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


            “Well, ini tidak buruk untuk sebuah permulaan, meskipun aku sangat ingin meledakan kepala pria genit itu.” gumam Krystal pada dirinya sendiri sambil menegak margarita itu dalam sekali tegakan. Ia kemudian memesan lima gelas scotch pada bartender untuk menghilangkan efek berdenyut yang benar-benar memuakan untuknya. Andai saja ia bisa melepas kepalanya, ia pasti akan melakukannya untuk menghilangkan rasa berdenyut itu sesaat dari kepalanya.


            “Kau tampak tidak baik-baik saja.”


            Krystal menoleh cepat ke kanan ketika ia mendengar sebuah suara yang begitu familiar untuknya.


            “Kau, kapten sombong Lee Haejun.” ucap Krystal dengan aksen sedikit mabuk. Haejun tersenyum miring pada Krystal dan meminta bartender untuk memberinya segelas vodka.


            “Huh, akhirnya aku menemukanmu di sini. Jika aku ingin, aku bisa saja menangkapmu dan membawamu ke markas karena kau telah berbuat keributan di markasku dengan melepaskan Park Jaejong dan melenyapkan nyawa salah satu anak buahku, Oh Sehun.”


            Krystal tampak tak peduli dengan ocehan Haejun dan tetap menegak scotchnya berkali-kali hingga gelas ke lima.


            “Tolong berikan aku satu gelas lagi.” teriak Krystal pada bartender yang sedang mengelap gelas di depannya. Bartender itu dengan senang hati menuangkan scotch ke dalam gelas Krystal yang telah kosong di depannya.


            “Aku tidak membunuh Sehun, kau yang menembak mobilnya hingga ia kehilangan kontrol dan menabrak truk kontainer. Seharusnya kau yang mati, bukan Oh Sehun.” ucap Krystal tajam sambil menatap lekat kedua mata legam Haejun. Haejun membalas tatapan Krystal tak kalah tajam dan untuk sesaat ia seperti sedang menatap manik madu Yuka yang selama ini ia rindukan. Kedua wanita itu benar-benar mirip. Bahkan bukan hanya sekedar wajah, mata mereka juga sama, mata bulat yang selalu memancarkan ketenangan itu juga dimiliki oleh wanita jahat yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam. Andai itu Yuka, ia pasti sudah memeluknya dengan erat sambil menyalurkan seluruh rasa rindunya yang selama ini ia rasakan.


            “Oh Sehun adalah pengkhianat, dan cepat atau lambat Park Jaejong dan yang lainnya juga akan menyusul Oh Sehun di neraka.”


Plakk


            Tanpa diduga, Krystal langsung menampar keras pipi Haejun karena ia tidak terima dengan ucapan pria itu.


           “Kau berani-beraninya mengatakan hal itu pada ayahku, kau pasti akan mati di tanganku terlebihdahulu sebelum kau berhasil menyentuh ayahku.” desis Krystal marah. Haejun mengusap pipi kanannya yang terasa panas akibat tamparan Krystal yang keras. Tapi ia hanya menyeringai licik di hadapan wanita itu sambil mencengkeram rahang Krystal kuat-kuat di depannya.


            “Bahkan kau masih berada di sini karena kemurahan hatiku yang tidak membawamu ke markas, jadi jangan pernah mengancamku dengan berniat untuk membunuhku karena kau sebenarnya tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk melawanku.”


            Dengan kasar Haejun mendorong rahang Krystal ke belakang dan meneguk vodkanya dengan kasar. Krystal yang sudah semakin mabuk tampak meracau tidak jelas sambil mengusap rahangnya yang terasa kebas.


            “Ayo ikut aku.”


            Haejun menarik lengan Krystal kasar dan memaksa Krystal untuk berdiri. Krystal tampak limbung kesana kemari karena setengah kesadarannya telah menghilang. Entah apa yang telah di masukan ke dalam minumannya, karena ia biasanya tidak pernah sepayah itu dalam urusan alkohol. Seseorang pasti telah menjebaknya dan membuatnya kehilangan kendali atas dirinya.


            “Lepaskan! Kau... mau membawaku kemana?” tanya Krystal terbata-bata dengan kepala berputar dan mata yang berkunang-kunang. Haejun tetap menyeret Krystal pergi dari bar itu tanpa menghiraukan pertanyaan Krystal yang terus diulang-ulang seperti kaset rusak.


            “Lepaskan! Jangan... paksa.. aku!”


            Krystal menghentakan tangan Haejun kasar, namun setelahnya ia langsung terjerembam ke atas lantai karena kepalanya yang terus berputar-putar serta lantai bar yang sama berputarnya seperti kepalanya yang terasa begitu pening.


            “Apa yang terjadi padaku?” gumam Krystal gusar sambil mencoba berdiri. Namun sebanyak apapun ia mencoba, ia tetap akan jatuh di tempat yang sama tanpa bisa benar-benar berdiri tegak.


            “Kau harus ikut denganku dan jangan banyak bertanya.” ucap Haejun gusar dan kembali menarik lengan Krystal kasar agar segera berdiri. Krystal pun tak memiliki pilihan lain selain mengikuti langkah Haejun, meskipun sebenarnya ia ingin sekali lari karena ia tahu jika ia ikut bersama Haejun, maka ia tidak akan aman. Tapi separuh otaknya terasa seperti lumpuh sekarang, hingga ia tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah Haejun.


            “Hey hey hey, bisakah kau... sedikit lembut?” protes Krystal yang merasa tidak nyaman dengan tarikan tangan Haejun yang sangat kasar itu. Haejun tampak menulikan pendengarannya dan terus membawa Krystal ke dalam mobilnya. Ia kemudian melemparkan Krystal ke dalam kursi penumpang, sebelum ia berlari memutari mobilnya untuk membawa Krystal ke suatu tempat yang ia rahasiakan dari siapapun.


            “Diam dan jangan berisik. Kau akan segera tahu dimana aku akan membawamu pergi.” ucap Haejun dengan seringain licik melalui kaca spion di depannya.


Brak


            Haejun memejamkan matanya dalam-dalam menahan emosi yang membuncah di hatinya. Baru saja Krystal memukul dadanya dan menariknya paksa agar ia membalikan tubuhnya ke belakang.


            “Jangan pernah memancingku untuk....”


            “Kenapa... wajahmu sering muncul di dalam... mimpiku?” racau Krystal dengan mata setengah terpejam. Haejun menahan dagu Krystal di depannya sambil menatap manik mata bulat itu dalam. Tiba-tiba ia kembali teringat akan Yuka. Wajah Krystal yang saat ini sedang berada tepat di depan wajahnya mau tidak mau membuatnya kembali mengingat luka lama yang selama ini selalu berusaha ia sembunyikan dari siapapun.

__ADS_1


            “Bibir ini, aku sangat merindukannya.” gumam Haejun pelan dengan suara serak sambil mengusap bibir Krystal seduktif. Kedua mata mereka saling terkunci satu sama lain dengan wajah Haejun yang semakin mendekat pada Krystal untuk meraup bibir merah muda yang selama ini selalu ia rindukan di setiap malam-malam kesepiannya.


__ADS_2