
Suara sol sepatu yang beradu dengan lantai berbunyi nyaring di tengah-tengah lorong yang sepi. Di ujung ruangan tampak seorang pria setengah baya sedang duduk diam sambil memainkan sendok bekas makan siangnya untuk menggambar sebuah jam di dinding ruang tahanannya.
“Oh Sehun.” gumam pria itu pelan sambil berbalik cepat kearah datangnya sumber suara. Sehun yang melihat Park Jaejong tengah menyeringai kearahnya langsung membalas seringaian itu dengan sebuah senyum licik yang tercetak jelas di wajahnya.
“Kau semakin lama semakin mengenali suara langkah kakiku. Bos, apa kau suka tinggal di sini?” tanya Sehun dengan nada mencemooh. Park Jaejong berusaha mengabaikan tatapan mencemooh Sehun dan ia kembali pada aktivitas menggambar jam di dinding ruang tahanannya yang telah ditempatinya selama kurang lebih dua tahun ini. Tapi meskipun begitu, ia cukup senang tinggal di dalam sana, karena hidupnya terasa jauh lebih tenang selama ia berada di dalam penjara. Namun terkadang ia begitu merindukan kebebasannya yang sebenarnya hanyalah kebebasan semu. Ia merindukan pamannya yang licik, dan ia merindukan putrinya yang dulu terbaring koma.
“Bagaimana dengan Krystal, kau sudah mendapatkan kabar darinya?”
Sehun menyeringai kecil mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Park Jaejong. Ia tahu jika pria paruh baya itu sangat mencintai putrinya. Bahkan mungkin rasa cintanya melebihi rasa cintanya terhadap dirinya sendiri.
“Bos besar sedang mengunjunginya sekarang, dan ia dalam keadaan baik-baik saja. Tak lama lagi ia akan datang ke Korea dan membebaskanmu, jadi bersiaplah untuk menyongsong kebebasanmu bos.”
Park Jaejong seketika menoleh kearah Sehun setelah mendengar berita mengejutkan yang dibawa oleh pria licik itu. Akhirnya penantiannya selama dua tahun terbayar sudah dengan keadaan putrinya yang baik-baik saja dan setelah ini ia akan segera dipertemukan dengan putrinya yang sudah dua tahun tidak ditemuinya. Andai saja Sehun tidak berada di sana, mungkin ia akan menitikan air matanya karena ia terlalu bahagia. Tapi egonya sebagai seorang bos berhasil menekan perasaan emosi yang meluap-luap di hatinya hingga ia mampu mengendalikannya dengan baik.
“Benarkah? Aku lega mendengarnya. Lalu bagaimana perkembangan penyelidikan kapten Lee sekarang? Huh, dia benar-benar pria yang tangguh, tapi sayangnya ia bodoh.” ucap Park Jaejong mencemooh. Sehun tersenyum sinis bersama Park Jaejong dan mereka berdua sama-sama menertawakan Haejun yang selama ini telah diperdaya oleh mereka sejak lama. Andai saja Haejun tahu, mungkin ia akan langsung membunuh Oh Sehun sekarang juga karena ia adalah seorang pengkhianat.
“Saat ini kapten sedang pergi ke Nami untuk mengunjungi ibunya bersama anaknya yang malang itu. Tapi sayangnya hari ini aku melihat putra kapten Lee sedang belajar di sekolahnya seperti biasa. Lalu kemana perginya kapten Lee? Apa kau tahu bos?” tanya Sehun penuh misteri. Park Jaejong menatap Sehun sungguh-sungguh dengan raut wajah yang mengatakan jika ia tidak tahu kemana perginya Lee Haejun. Lagipula ia terus berada di dalam penjara seharian ini, tentu saja ia tidak akan tahu dimana Lee Haejun berada.
“Ia pergi ke Vegas. Seseorang selama ini telah menyadap semua ucapanku, jadi kemungkinan besar pria sialan itu telah mengetahui kebusukanmu. Jadi aku datang ke sini untuk membicarakan rencana kita lebih lanjut. Cepat atau lambat kapten busuk itu pasti akan segera memprosesku. Jadi sebelum hal itu terjadi aku sudah harus keluar dari sini, bersamamu.”
“Jadi kau takut? Aku melihat ketakutan di matamu Oh Sehun.”
Park Jaejong tersenyum mengejek pada Sehun sambil berjalan mundur untuk duduk bersila dan bersandar pada tembok. Sebagai seorang bos ia tentu saja tidak akan peduli pada Sehun jika kedudukannya hanyalah anak buah biasa. Tapi sayangnya Sehun memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada itu. Mau tidak mau ia harus
memutar otak untuk menyelematkan Sehun dari jerat hukum yang akan diterimanya bila kapten gila itu ternyata telah mengetahui semuanya.
“Jika sesuatu terjadi padaku, maka putrimu yang berharga itu juga akan mengalami masalah. Jadi pikirkanlah rencana yang bagus untuk menyelamatkanku, dan putrimu.”
“Huh, dasar! Kau mengancamku? Siapa yang kira-kira telah membantu kapten sialan itu? Aku yakin salah satu rekanmu pasti telah membantunya untuk menjadi mata-matamu.”
“Kim Yeri...”
Sehun bergumam pelan sambil membayangkan Yeri yang selama ini selalu bersikap tak bersahabat dan juga defensif bila berada di dekatnya. Bahkan dua tahun yang lalu Yeri berhasil memojokannya dan mengetahui jika ia telah menembak Haejun agar Haejun tidak menembak Park Jaejong di bandara. Tapi ia masih ragu apakah itu Yeri, karena wanita itu begitu kekanakan dan manja. Tapi jika Minzi yang melakukannya, ia akan sangat percaya karena Minzi adalah wanita yang tangguh. Apalagi selama ini Minzi selalu terlihat aneh dengan berbisik-bisik di telepon ketika sedang menghubungi seseorang. Ia harus segera menyelidiki semua rekan-rekannya karena mereka semua berpotensi untuk menghancurkannya.
__ADS_1
“Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi di sekitarku. Aku akan menyelidikinya terlebihdahulu sebelum Krystal kembali dan mengeluarkanmu dari sini, karena aku memiliki rencana tersendiri untuk keluar dari markas yang memuakan ini. Aku sudah bosan berada di sini dan aku merindukan kehidupan lamaku yang penuh dengan wanita, ****, asap rokok, dan semuanya yang berkaitan dengan dunia malam. Aku merindukan The Wyn.”
Park Jaejong tersenyum sinis menatap Sehun sambil menyelipkan kedua tangannya ke belakang untuk menjadi bantalan kepalanya. Sehun adalah pria yang licik. Tanpa bantuannya pun sebenarnya pria itu bisa menghancurkan rekan-rekannya sendiri, hanya saja terkadang Oh Sehun terlalu malas untuk melakukannya karena ia sudah terlanjur bergantung padanya. Meskipun terkadang ia cukup kagum dengan tindakan spontan yang dilakukan Sehun.
“Aku akan membantumu dari belakang, jadi lakukanlah apapun yang menurutmu memang pantas untuk dilakukan. Sekarang pergilah, penjaga akan datang untuk mengecek setiap tahanan, jangan sampai mereka mencurigaimu sebelum tujuan kita terlaksana.”
Sehun mengangguk kecil pada Park Jaejong sebelum ia berjalan pergi meninggalkan area tahanan khusus yang berada di lantai dasar markas. Sehun sekilas sempat melihat kamera cctv yang terpasang di beberapa sudut penjara, tapi setelah ini ia akan membereskan semua jejaknya dengan pergi ke ruang kontrol dan menghapus semua rekaman cctv yang memunculkan dirinya. Ia telah menyuap seorang agent untuk berdiri di belakangnya dan menjadi mata-mata untuk memantau setiap agent yang memiliki tingkah yang mencurigakan. Jadi sampai kapapun ia akan tetap satu langkah lebih pintar dari semua agent-agent yang berada di markas itu.
“Apa yang kau temukan?”
Sehun menempelkan ponselnya ke telinga sambil menekan sebuah angka pada lift untuk naik ke lantai lima. Di seberang sana salah satu mata-mata yang ia suap mulai mengatakan semua informasi yang baru saja didapatkannya.
“Kim Yeri sedang menggeledah barang-barangmu.”
Sehun tersenyum sinis sambil memasukan benda persegi itu ke dalam saku celanannya. Akhirnya ia berhasil menemukan sang tikus yang selama ini telah mematai-matainya. Ia pastikan setelah ini wanita itu akan mendapatkan pelajaran yang berharga dari sikapnya yang terlalu mencampuri urusannya. Wanita itu akan mati!
-00-
Krystal menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang dengan mata nyalang yang menghadap kearah balkon kamarnya. Semalam setelah meminum obat sakit kepalanya, Krystal langsung jatuh tertidur begitu saja tanpa sempat menanyakan perihal penyelidikan sang anak buah terhadap pria asing yang kemarin menemuinya. Namun jika ia mengamati pria itu lekat-lekat, ia merasa jika pria itu adalah seseorang yang berbahaya. Ia tidak terlihat takut padanya meskipun ia telah membuka identitasnya secara terang-terangan pada pria itu. Bahkan pria itu justru berhasil membuatnya gusar dengan ucapannya yang mengatakan jika ia memiliki wajah yang sangat mirip dengan mendiang istrinya. Dan lagi, bahkan pria itu tidak terlihat panik ketika ia menggores lengannya hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak dari sana. Ia yakin, pria itu pasti seseorang yang berbahaya, dan seseorang yang telah terbiasa dengan darah dan pistol.
Seorang wanita paruh baya yang selama dua tahun ini selalu melayaninya di rumah masuk ke kamarnya sambil membawa sebuah baki yang berisi sarapannya pagi ini. Wanita berusia pertengahan lima puluhan itu menatap Krystal lembut sambil menunjukan menu makan paginya yang menggiurkan pada Krystal.
“Sandwich, salad buah, dan segelas susu madu kesukaan nona. Apa nona ingin sarapan sekarang?”
“Letakan saja di meja, aku akan memakannya setelah ini. Apa Yunho berada di bawah?”
“Tuan Yunho berada di bawah bersama dengan bos besar. Mereka terlihat sangat serius. Apa nona tidak ingin bergabung dengan mereka?”
Krystal menatap malas pada Bekah yang menatapnya seolah-olah sedang mengejek. Bukankah ia tahu jika ia sedang kesal dengan kakeknya?
“Aku malas bertemu dengan pria tua itu. Dia menyebalkan dan menyusahkan. Aku menyesal telah menginginkan pertemuan dengannya selama ini karena ternyata ia sangat jauh dari perkiraanku.” dengus Krystal kesal. Bekah tersenyum lembut pada Krystal dan mendudukan dirinya di sebelah wanita cantik itu.
“Kau tidak boleh seperti itu, ia adalah kakekmu.” nasihat Bekah bijak. Dua tahun ia menemani Krystal di saat senang dan susah membuat mereka tanpa sadar merasa nyaman satu sama lain. Selama ini Krystal sudah menganggap Bekah seperti ibunya sendiri karena wanita itu begitu bijak dan selalu sabar dalam menghadapi
__ADS_1
sikapnya yang terkadang kasar. Bahkan ia masih ingat bagaimana sikapnya pada Bekah saat pertama kali ia bertemu dengan wanita itu. Ia pernah mengamuk dan melemparkan sebuah mangkuk berisi stew kearah wanita itu hingga keesokan harinya ia melihat tangan Bekah melepuh karena perbutan kasarnya yang saat itu sedang marah pada Yunho, namun ia melampiaskannya pada Bekah karena wanita itu sedang berada di kamarnya disaat yang tidak tepat. Tapi setelah itu ia merasa bersalah, dan mulai bersikap sedikit lembut pada Bekah. Ia tidak ingin menyakiti wanita tua yang selama ini telah merawatnya seperti anaknya sendiri itu.
“Tapi pria tua itu benar-benar menyebalkan. Ia menuntut banyak hal dariku, dan ia juga membuatku sakit kepala dengan semua perintahnya yang terlalu semena-mena. Bekah, aku akan kembali ke Korea minggu depan.”
Bekah menatap Krystal sedih sambil mengelus puncak kepala Krystal lembut. Ia tahu cepat atau lambat Krystal pasti akan dibawa ke Korea oleh sang bos besar karena ia sempat mendengar jika bisnis mereka sedang menuai kendala di sana.
“Aku pasti akan merindukanmu. Jangan menyusahkan tuan Yunho di sana.” canda Bekah sambil tertawa. Krystal merengut kesal dengan candaan Bekah, namun tiba-tiba ia menatap Bekah sungguh-sungguh sambil menggenggam tangan wanita itu erat.
“Apa kau akan kembali ke rumahmu setelah aku tidak di sini lagi?”
Bekah menggeleng pelan pada Krystal sambil menatap wanita muda itu sendu.
“Aku akan tetap di sini. Tempatku di sini nona, Bloods tidak akan pernah mengijinkan siapapun yang pernah menjadi bagian Bloods untuk keluar. Kecuali jika ia mati. Lagipula meskipun nona tidak di sini lagi, aku tetap harus menjaga rumah ini agar senantiasa bersih. Ingat nona, aku sudah berada di sini jauh sebelum nona datang. Jadi tidak masalah jika aku harus tetap di sini meskipun nona tidak akan tinggal di rumah ini lagi.”
“Tapi, bukankah kau memiliki keluarga di Perancis? Kau harusnya pulang dan bertemu dengan keluargamu. Aku akan meminta Yunho untuk membebaskanmu. Apapun yang terjdi kau harus pulang dan bertemu keluargamu. Dan jika kau tetap ingin bekerja di sini, maka kau akan selalu memiliki tempat di sini. Tapi setidaknya kau harus pulang untuk menjenguk keluargamu. Kau harus menunjukan pada keluargamu jika kau masih hidup.”
Tanpa sadar Bekah meneteskan air mata dan ia langsung memeluk tubuh nonanya yang selama dua tahun ini telah ia layani. Meskipun pada awalnya Krystal bersikap dingin padanya, tapi berkat kesabarannya, ia berhasil menghancurkan dinding pertahanan Krystal yang begitu kokoh dan membuat wanita itu lebih menjadi dirinya sendiri jika berada di dalam rumah.
“Terimakasih nona, semoga Tuhan senantiasa melindungi nona.”
Bekah menghapus air matanya sambil menatap Krystal penuh senyuman.
“Keluarlah Bekah, nona Krystal harus segera bersiap. Jangan menghambatnya dengan air mata buayamu."
Tiba-tiba Yunho muncul dari ambang pintu sambil menatap Bekah datar. Sejak Bekah memeluk
Krystal, ia telah berdiri di sana sambil menonton drama picisan itu dengan muak. Ia tidak suka jika Krystal dilemahkan oleh air mata, karena hal itu dapat mengganggu kredibilitasnya sebagai lady Bloods.
“Yunho, biarkan Bekah pulang ke Perancis. Ia harus bertemu dengan keluarganya setelah sekian lama ia tidak pernah kembali ke Perancis.” perintah Krystal dingin. Yunho mengangguk kecil dan memberikan isyarat pada Bekah untuk keluar dari kamar Krystal.
“Seseorang akan mengurus kepulangannya. Sekarang bersiaplah, karena kau harus menyelesaikan semua pekerjaan yang kau janjikan pada bos besar.”
Krystal mendengus gusar dan segera beranjak memasuki kamar mandi untuk menyegarkan dirinya yang gerah. Setelah Krystal benar-benar menghilang dibalik pintu kamar mandinya, Yunho segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
“Pertemukan Bekah dengan keluarganya.” perintah pria itu dingin dengan seringaian tipis yang tercetak samar di wajahnya.