
“Oh Sehun, apa yang terjadi?”
“Kita harus segera pergi, mereka akan segera menghancurkan tempat ini.”
Sehun segera melompat masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Park Jaejong yang sejak tadi sedang menunggunya dengan gelisah.
“Mereka semua telah dikalahkan oleh intel-intel itu?”
“Jumlah mereka sangat banyak.” jawab Sehun singkat. Ia segera menginjak pedal gasnya kuat-kuat untuk segera pergi dari mansion mewah yang selama dua puluh tahun terakhir ini sudah ia anggap seperti rumahnya sendiri. Namun ini adalah konsekuensi yang harus ia hadapi. Sejak awal ia memang tidak seharusnya berada di dua tempat yang saling bertolak belakang, karena sekarang ia goyah.
“Oh Sehun, apa ini?”
Yunho mengangkat gumpalan kabel yang tersembunyi di belakang kursi kemudi Sehun dan juga sebuah kotak misterius yang juga mengeluarkan bunyi misterius.
“Bom.”
“Bom? Apa kau sedang bercanda?” tanya Yunho geram sambil melemparkan gumpalan kabel itu ke bawah kakinya. Ia menarik kemeja Sehun dari samping dan memaksa Sehun untuk menghentikan mobil yang dikemudikannya, namun pria itu justru menginjak pedal gasnya semakin kuat hingga membuat Yunho terpelanting ke belakang karena ia sengaja membelokan mobilnya tiba-tiba.
“Seharusnya sejak awal kalian tidak memaksaku untuk berdiri diantara dua sisi. Dan sekarang aku harus memilih salah satu diantara sisi itu, jadi kalian harus menerimanya.”
“Apa kau ingin bunuh diri bersama kami?”
Park Juhyuk yang sejak tadi hanya diam, akhirnya membuka suara untuk bertanya pada Sehun. Di tangannya masih tergenggam pistol yang bisa saja ia gunakan untuk menembak Sehun dan menghentikan semua rencana gila anak angkatnya. Tapi sayangnya Sehun menggenggam pemicu bomnya, jika ia membunuh Sehun sekarang, mereka semua akan tetap mati karena ledakan bom yang berada di bawah kaki mereka.
“Ini adalah yang terbaik, tidak ada hal yang paling baik selain kematian bukan?”
“Kau gila! Hentikan mobil ini sekarang juga.”
Park Jaejong yang berada di sebelahnya berusaha merebut kendali mobil yang dikemudikan oleh Sehun hingga beberapa kali mobil itu menabrak pembatas jalan. Namun hal itu tetap tidak menggoyahkan Sehun. Sejak awal ia telah bersumpah untuk mengakhiri segalanya, maka sekarang ia harus menepatinya.
“Sampai jumpa lagi, di neraka.”
Duaaarrr!
Epilog Sehun Side
Sejak kematian Yuka, suasana di markas ini semakin suram. Ditambah lagi dengan berbagai kejadian tidak menyenangkan yang terjadi di markas ini, membuat semua agent terlihat tidak bersemangat dari biasanya.
Siang inipun aku merasakan hal yang hampa. Biasanya kami akan bekerja dengan penuh semangat bersama Yuka, tapi saat ini ia sedang berjuang di Amerika. Semalam aku mendapatkan kabar jika ia sudah melewati masa kritisnya, tapi ia belum juga membuka mata. Aku harap ia segera sadar dan bisa kembali di tengah-tengah kami.
“Oh Sehun...”
Brukk
Tiba-tiba seseorang menyudutkanku ke dinding dan membuatku terdesak diantara dinding dan pria itu. Namun beberapa detik kemudian aku segera sadar jika pria yang menghimpitku adalah kapten kami, Lee Haejun.
__ADS_1
“Kapten, apa yang kapten lakukan?”
“Akting yang sangat bagus Oh Sehun. Aku sudah mengetahui semuanya.” ucapnya dengan tawa sinis yang tercetak jelas di wajahnya. Aku mengernyitkan dahiku tidak mengerti dan berusaha tetap tenang di hadapannya.
“Kau yang menembakku ketika aku akan menghentikan Park Jaejong, dan kau juga bersikap aneh ketika Yuka terjebak di dalam gedung yang terbakar itu. Oh Sehun aku tahu semuanya, kau adalah mata-mata dari sindikat mafia itu.”
Aku menyeringai licik di depannya dan menyentakan tangan Haejun dari kerah kemejaku. Sekarang tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi, ia sudah tahu semuanya.
“Kau benar kapten Lee Haejun, aku memang mata-mata Park Jaejong.”
“Brengsek!!”
Bughh
Aku terpelanting ke samping setelah menerima pukulan yang cukup keras darinya. Kurasakan sudut bibirku terasa berkedut dan juga perih, ia benar-benar kapten sialan!
“Jadi selama ini kau yang menjual informasi markas pada mafia-mafia itu? Kau seharusnya mati Oh Sehun!”
Kini pria itu sudah menodongkan pistol kearahku dengan keadaan aktif, jika ia mau, ia hanya tinggal menarik pelatuk itu dan.... aku akan mati sekarang juga.
“Jika kau membunuhku sekarang, aku tidak bisa menyelamatkan Yuka.”
Entah ini baik atau buruk, tapi aku belum ingin mati sekarang. Masih ada banyak hal yang harus kulakukan, salah satunya adalah memastikan Yuka selamat.
“Yuka sudah pergi, jadi jangan pernah menggunakan Yuka untuk menolong dirimu sendiri.”
Lee Haejun terlihat ling lung dan hanya menggantungkan pistol yang digenggamnya di udara. Ia pasti terkejut dengan informasi ini, tapi aku tidak yakin ia akan mempercayainya secepat itu.
“Apa karena kau mencintainya?”
Aku menatapnya tidak mengerti. Kapten ini memang suka sekali membuat lawan bicaranya bingung dengan jalan pikirannya.
“Kau menyelamatkannya, apa karena kau mencintai istriku?”
Aku mengganggukan kepalaku secara spontan dan berusaha untuk berdiri. Kulihat kapten itu masih setia menodongkan pistol kearahku, namun sepertinya ia juga tidak berniat untuk menembakannya kearahku. Lebih tepatnya tidak sekarang.
“Mungkin itu salah satu alasanku melakukannya.”
“Lalu bagaimana keadaanya sekarang?”
“Baik, ia sudah melewati masa kritisnya dan dokter sedang menunggunya membuka mata untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya. Jadi kau percaya jika aku menyelamatkan Yuka?” tanyaku tak yakin. Apakah semudah itu mempercayaiku? Terlebih lagi ia baru saja mengetahui pengkhianatanku, seharusnya ia tidak mempercayai ucapanku dengan mudah.
“Aku tidak melihat adanya kebohongan di wajahmu, jadi aku percaya. Aku ingin bertemu Yuka.”
“Tidak bisa.”
Ia menggeram marah di depanku sambil mengepalkan buku-buku tangannya hingga
__ADS_1
memutih. Tapi meskipun ia akan menghajarku hingga mati, ia tetap tidak akan bisa menemui Yuka karena jika ia menemuinya, semua usahaku untuk menyelamatkan Yuka akan berakhir sia-sia.
“Kau tidak boleh menemui Yuka hingga saatnya tepat karena saat ini Yuka sedang dibawah pengawasan Bloods, organisasi mafia milik Park Jaejong dan Park Juhyuk.”
“Lalu apa yang sebenarnya kau rencanakan?”
“Aku tidak tahu.” jawabku jujur. Tapi aku sedang memikirkannya sekarang. Aku sedang memikirkan banyak rencana untuk mengakhiri sandiwara yang kuciptakan sendiri.
“Ikuti saja permainanku, dan kau pasti akan bertemu Yuka suatu saat nanti. Tapi untuk saat ini kau tidak bisa bertemu Yuka. Selain karena kondisinya yang belum memungkinkan, semua rencanaku akan gagal jika kau tidak mengukuti permainanku kapten Lee. Bagaimanapun aku tidak menginginkan senior Im pergi dengan sangat mengenaskan seperti itu, ia berhak mendapatkan kematian yang indah.”
“Kalau begitu terimakasih.”
Wow, bolehkah aku bersorak karena mendapatkan ucapan terimakasih dari seorang kapten seperti Lee Haejun? Ini benar-benar tidak terduga. Meskipun sebenarnya aku sangat malas untuk mengakuinya, tapi dia adalah sosok pemimpin yang sempurna.
“Kenapa kau berterimakasih padaku? Seharusnya kau marah padaku karena aku sudah mengkhianatimu dan mencintai istrimu.”
“Memang, tapi untuk apa? Niat baikmu harus mendapatkan apresiasi, dan untuk perasaanmu pada Yuka, itu adalah hakmu. Selama kau tidak mengganggu rumah tanggaku, aku tidak akan membunuhmu.”
Aku terkekeh geli di hadapannya tanpa mempedulikan ekspresi dinginnya yang kaku. Kupikir setelah ini penilaianku padanya akan berubah, ia adalah kapten yang bijaksana.
“Tapi aku akan tetap mengawasimu. Jadi jangan coba-coba untuk keluar dari jalanmu Oh Sehun, karena aku tidak akan melepaskanmu.”
Setelah memberikan ancaman yang cukup menggertak itu, ia segera pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Padahal aku sangat berharap ia mengatakan sesuatu padaku, tapi sudahlah. Mungkin lain kali kami akan terlibat dalam pembicaraan yang lebih serius, mengingat kini kami berada di dalam satu tim yang sama. Tim untuk menyelamatkan Im Yuka.
-00-
Bughh
“Brengsek!”
Aku menyeka setitik darah yang mengalir di sudut bibirku. Sudah lama ia tidak pernah menghajarku sejak saat itu, tapi setelah dua tahun berlalu ia kembali menghajarku karena aku lalai dengan tugasku.
“Ini semua salahmu Oh Sehun, bukankah seharusnya kau mengawasi Yuka? Dia baru saja menembak anakku karena Park Jaejong keparat yang telah mencuci otaknya!”
“Maafkan aku, kuakui itu karena kelalaianku.”
Aku bangkit dari tanah dan sedikit menepuk-nepuk celana bahanku yang terkotori oleh debu.
“Jika terjadi sesuatu yang serius pada Enzo, kau adalah orang pertama yang akan kucari Oh Sehun.” geramnya dengan suara tertahan. Aku mengendikan bahuku ringan dan mengahalaunya untuk duduk di atas kursi taman yang kosong. Kami sepertinya harus berbicara serius untuk mengakhiri sandiwara kami.
“Kupastikan Yuka tidak akan melakukan hal itu lagi, karena kupikir ingatannya sedikit demi sedikit mulai kembali. Apalagi semenjak kau mengajaknya ke rumahmu dan membuatnya mengingat sedikit masa lalu kalian di sana.” godaku padanya. Namun kapten Lee adalah orang yang sangat sulit untuk menanggapi sebuah lelucon, sehingga aku justru terkesan seperti orang gila di hadapannya.
“Katakan apa yang akan kau lakukan setelah ini karena aku sudah muak bermain sandiwara denganmu, aku ingin Yuka kembali padaku karena Enzo terus menerus menginginkan Yuka kembali.”
“Tenang kapten, aku pasti akan segera mengakhiri sandiwara ini karena aku sendiri sudah muak dengan hidupku. Sesekali aku ingin melakukan hal yang benar untuk orang lain.” ucapku apa adanya. Pada akhirnya aku harus menentukan titik pijakku. Aku tidak bisa terus menerus berdiri diantara dua titik kebaikan dan kejahatan. Rasanya sungguh sangat melelahkan. Aku harus berdiri di salah satu titik itu dan menerima segala konsekuensi yang ada, termasuk konsekuensi untuk mati sekalipun.
“Kau harus menepati janjimu untuk melindungi Yuka. Karena semua ini adalah idemu.”
__ADS_1
“Tanpa kau ingatkan sekalipun, aku tetap akan menepati janjiku. Karena memang inilah tugasku, melindungi keluargamu dan menjadi tumbal untuk kehidupan bahagia kalian.”