Ignite

Ignite
The Fiance (Twenty Seven)


__ADS_3

          Yeri membaca berulang-ulang daftar nama tempat yang ia temukan di dalam loker milik Sehun. Kemarin malam tanpa sepengetahuan siapapun ia nekat pergi ke ruang loker untuk mencongkel loker milik Sehun. Dan setelah ia mengobrak-abrik isinya, ia mendapatkan sebuah kertas yang bertuliskan nama-nama tempat. Nama pertama yang tertulis di sana adalah The Wyn, lalu ia juga menemukan nama-nama daerah yang terasa asing di telinganya.


            “San Jose, Phoenix, San Antonio, Dallas, dan Houston. Apa semua daerah ini berhubungan dengan mafia itu?” gumam Yeri curiga. Ia kemudian mulai mencari tahu semua daerah-daerah itu melalui internet. Nama daerah pertama yang Yeri ketikan di dalam kolom pencarian adalah Houston. Tak berselang lama munculah deskripsi lengkap mengenai Houston yang merupakan kota terbesar keempat di Amerika. Namun setelah sekian lama ia mencari, ia tidak menemukan apapun yang mencurigakan dari Houston, lagipula letaknya juga cukup jauh dari Vegas, sehingga Yeri menyingkirkan nama itu untuk sesaat dan mulai mencari nama daerah lain yang mungkin saja menjadi tempat pergerakan sang mafia yang misterius. Ia pun mulai mengetikan nama Phoenix pada kolom pencarian. Dua detik kemudian munculah deskripsi singkat dari kota Phoenix yang merupakan kota terpanas di Amerika. Di sana banyak sekali didirikan bar-bar dengan suasana liar yang biasanya beraliran country. Yeri pun semakin menelusuri daerah itu lebih lanjut dan di sana ia menemukan sebuah fakta jika di tempat tersebut banyak ditemukan tempat tarung bebas. Yeri pun cepat-cepat menandai tempat itu dan ia kemudian membuat daftar nama-nama daerah yang harus ia kirimkan pada Haejun, karena beberapa menit yang lalu kaptennya mengirimkan pesan teks untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai The Wyn. Dan siapa sangka jika ia justru menemukan daftar nama-nama daerah itu di dalam loker milik Sehun yang berhasil ia bobol.


            “Yeri, apa yang kau lakukan di sini?”


            Yeri berjengit kaget setelah ia berhasil menekan tombol send pada ponselnya. Cepat-cepat gadis itu mengumpulkan semua kertas-kertasnya, dan ia dengan refleks menutup layar laptopnya kasar karena ia mendengar suara langkah kaki Sehun yang mendekat.


            “Ssehun, apa yang kau lakukan di sini malam-malam?” tanya Yeri gugup. Sehun mengintip sekilas meja kerja Yeri sambil tersenyum sinis. Ia tahu jika Yeri mengambil daftar nama daerah yang berisi aset-aset milik Bloods.


            “Aku? Tentu saja aku berpatroli, hari ini adalah jadwal jagaku. Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak pulang?” tanya Sehun tenang. Pria itu mengambil kursi di sebelahnya dan ia mendudukan dirinya di depan Yeri. Melihat hal itu, Yeri langsung meneguk ludahnya gugup karena Sehun justru duduk di depannya, bukannya langsung pergi meninggalkannya sendiri.


            “Ohh.. aku sedang mengerjakan pekerjaanku yang belum kuselesaikan. Aku harus membuat analisis kasus untuk kasus pembunuhan yang terjadi minggu lalu.” bohong Yeri gugup. Tanpa sepengetahuan Sehun, Yeri sedang meremas-remas kedua tangannya di bawah meja. Ingin rasanya ia pergi sejauh-jauhnya dari Sehun, tapi sayangnya ia masih memiliki satu pekerjaan lagi untuk diselesaikan.


            “Kupikir kau sudah menyelesaikannya. Akhir-akhir ini kau terlihat dekat dengan kapten Lee, apa kau berencana untuk menggantikan posisi senior Im.”


            “Apa? Tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak berpikir untuk menjadi kekasih kapten Lee, aku hanya.. hanya sedang berkonsultasi. Ya berkonsultasi. Kau tahu sendiri kan bagaimana rumitnya pekerjaan kita, dulu setiap kali aku merasa kesulitan, aku pasti akan bertanya pada senior Im, tapi sayangnya ia telah pergi. Jadi aku tidak memiliki pilihan lain selain bertanya langsung pada kapten Lee, meskipun aku terkadang merasa sungkan.”


            Sehun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil melirik ponsel putih milik Yeri yang tergletak di atas meja. Di sana ia melihat sebuah notifikasi pesan masuk, dan berapa lama munculah panggilan masuk yang berasal dari Haejun.


            “Yeri, kapten Lee menghubungimu.”


            Yeri tersentak kaget dan langsung menatap ponselnya dengan gugup. Kedua tangannya terasa kaku karena ia begitu takut jika kebohongannya diketahui oleh Sehun.


            “Kau tidak ingin mengangakatnya? Kapten sudah menghubungimu sejak tadi.”


            Yeri mengangguk kaku dan segera mengambil ponselnya yang masih berkedip-kedip terang di tangannya. Sekilas ia menatap Sehun sebelum ia memutuskan untuk menekan tombol hijau dan mencoba untuk melakukan sandiwara di depan Sehun.


            “Kapten... maaf, aku sedang berbicara dengan Sehun.”


            Yeri sengaja menekan kata Sehun untuk memberi tahu Haejun jika saat ini ia sedang bersama pria itu.


            “Kapten, aku merindukanmu.”


            Sehun berteriak jenaka sambil tertawa keras di depan Yeri. Setelah itu ia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Yeri sendiri untuk berbicara dengan Haejun.


            “Kapten, ia sekarang sudah pergi, apa yang ingin kapten bicarakan denganku?”


            “..........”


            “Sebaiknya anda menyelidiki distrik Phoenix karena banyak hal-hal yang janggal di sana.”


            “..........”


            “Ya, distrik lain tidak terlalu mencurigakan seperti Phoenix karena distrik lain merupakan jalur pelayaran, jadi saya menduga jika mafia-mafia itu hanya menggunakan distrik lain untuk melakukan transaksi. Tapi untuk distrik Phoenix, disana sama sekali tidak ada jalur perdagangan yang menguntungkan. Hanya ada gurun dan suhu di sana juga lebih panas dari distrik lain sehingga saya merasa curiga dengan distrik itu.”

__ADS_1


            “...........”


            “Saya akan mengurus sisanya di sini. Semoga beruntung kapten”


            Yeri meletakan ponsel putihnya sambil melongok keluar untuk memastikan jika tidak ada siapapun yang mendengar ucapannya. Tapi siapa sangka jika Sehun sebenarnya masih berdiri di balik pilar dan ia mencuri dengar semuanya dengan jelas.


-00-


            “Jadi sudah sejauh ini kakek mencampuri urusanku?”


            Krystal menatap datar pemandangan ricuh yang terjadi di depan matanya. Siang ini sang kakek telah mengerahkan sebagian anggota Bloods untuk menggusur para gelandangan dan pengemis yang tinggal di atas tanah milik Bloods. Namun seharusnya pekerjaan itu menjadi tanggungjawab Krystal karena proyek pembangunan arena tarung bebas merupakan ide Krystal untuk menambah aset milik Bloods. Tapi sang kakek rupanya sudah tidak sabar dengan tindakan Krystal yang dinilaianya terlalu lembut pada gelandangan-gelandangan itu.


            “Bos besar ingin segera memulai pembangunan itu nona, dan kupikir kau memang terlalu lunak pada mereka.”


            “Diam kau! Kau adalah pengawalku, seharusnya kau membelaku, bukan membela kakek tua itu. Kau tunggu di sini, aku akan melihat keadaan disekitar sini.”


            Yunho menggeleng tidak setuju dan langsung mencekal tangan Krystal. Membiarkan Krystal berjalan sendiri tanpa perlindungan dari anggota Bloods sama saja dengan bunuh diri. Para gelandangan itu sedang berada pada puncak emosi mereka yang tidak stabil. Salah-salah Krystal justru akan menjadi sasaran empuk kemarahan mereka atas penggusuran yang terkesan tidak wajar dan semena-mena.


            “Aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku membawa pistol dan juga pisau di saku celanaku. Apa kau masih meragukanku?”


            Yunho melepaskan cekalan tangannya begitu saja dan ia membiarkan Krystal berjalan pergi menjauh darinya. Meskipun sebagian hatinya tidak yakin dengan keadaan nonanya itu, tapi sekali-sekali ia memang harus melepaskan Krystal sendiri agar wanita itu menjadi wanita tangguh.


-00-


            Krystal berjalan menyusuri lorong-lorong perkampungan kumuh itu dengan perasaan tak menentu. Melihat banyak wanita dan anak kecil yang sedang menangis histeris di depannya membuat Krystal merasa tersentuh. Bagaimanapun mereka terlalu dini untuk merasakan kejamnya kehidupan dunia yang sangat mengerikan itu. Tapi sayangnya ia tidak bisa berbuat apapun. Sejak awal ide ini berasal darinya. Dan ia sendiri yang memilih lokasi ini sebagai lokasi arena tarung bebas karena suhu di sini cukup panas, sehingga mampu membakar amarah setiap peserta yang nantinya akan bergabung ke dalam ring. Tapi ia tidak menyangka jika proses penggusurannya akan berjalan sedramatis ini. Apalagi sang kakek sampai membawa berbagai macam alat berat untuk meratakan semua rumah-rumah milik warga itu dengan kejam. Jika seperti ini ia merasa telah menjadi monster untuk anak-anak


            “Huaaa.. mama... mama...”


            Seorang anak perempuan menangis di depannya sambil mencari ibunya kesana kemari. Krystal tampak terpaku di tempat sambil menatap anak perempuan berkulit putih itu lama. Debu-debu yang bertebaran dari mesin alat berat yang dugunakan anak buahnya membuat tubuh anak itu seakan-akan mengabur oleh gumpalan debu yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Dari arah berlawanan Krystal dapat melihat sebuah buldozer yang melaju lambat kearah gadis perempuan itu berdiri. Dengan sigap Krystal segera meraih tubuh gadis kecil itu ke dalam pelukannya agar terhindar dari ganasnya mesin buldozer yang mampu menggilas siapapun yang berani menghalangi jalannya.


            “Apa kau baik-baik saja?”


Srett


            Tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya cepat dan membenturkannya ke permukaan dinding batu yang kusam. Sekilas Krystal tidak bisa melihat wajah sang pendorong yang telah menghantamkan tubuhnya pada dinding batu di belakangnya. Namun setelah debu-debu itu memudar, Krystal dapat melihat wajah pria itu dengan jelas. Bahkan Krystal dapat melihat manik legam milik pria itu yang saat ini sedang menatapnya dengan intens.


            “Apa yang akan kau lakukan pada gadis kecil itu? Apa kau berencana membunuhnya setelah semua kekejaman yang lakukan pada keluarganya?” desis pria itu tajam. Krystal membalas tatapan intens pria itu dengan pandangan berani yang menantang. Seharusnya sejak awal ia tidak membiarkan pria itu lolos setelah ia melihat semua aksi pembunuhan yang ia lakukan.


            “Itu bukan urusanmu, ini adalah tanah milikku, jadi aku memiliki hak penuh untuk mengusir mereka.”


            “Huh, hak? Bahkan kau harus menyuap pejabat setempat untuk mendapatkan sertifikat tanah ini. Sebenarnya sejak awal tanah ini tidak diperuntukan untukmu, tapi kau dan anak buahmu yang licik itu telah menyuap walikota distrik ini agar kau bisa membangun arena tarung bebas. Dasar wanita picik. Seharusnya kau membusuk di penjara bersama para antek-antek sialanmu itu. Sayangnya ini bukan daerah kekuasaanku, seandainya kau berada di negaraku, mungkin kau akan langsung membusuk di dalam penjara.”


            Krystal menatap marah pria asing itu sambil meronta-ronta untuk dilepaskan. Salah satu tangannya sudah bersiap untuk mengambil pisau lipat yang ia sembunyikan di dalam saku celana, tapi sayangnya pria itu sudah lebih dulu membaca gerak geriknya, sehingga ia hanya mampu menelan pil pahit karena saat ini pisau miliknya telah berada di bawah sepatu pria itu.


            “Kau sudah dua kali membuat keributan denganku, dan ini adalah kali ketiga kau mencari mati denganku. Apa kau masih berpikir jika aku adalah istrimu yang sudah mati itu? Apa kau pikir aku adalah jelmaannya?”

__ADS_1


            “Jangan pernah membawa-bawa nama istriku ke dalam pembicaraan kita karena ia bukan topik yang kita bicarakan. Tapi tujuanku datang ke sini adalah untuk mencarimu, karena kau dan ayahmu adalah penyebab kematian istriku. Istriku meninggal dalam keadaan terbakar karena Park Jaejong yang keparat itu membunuhnya! Dan kau harus membayar semua kebusukan ayahmu!” bentak Haejun emosi. Krystal menatap Haejun datar dan tanpa ekspresi. Namun kedua matanya terus menatap wajah Haejun intens guna mencari adanya kebohongan yang terpancar dari pria itu. Tapi sayangnya pria itu sama sekali tidak berbohong. Sorot matanya yang tajam yang saat ini tengah mengunci pandangannya terlihat membara dan seperti diselimuti dendam pekat. Apakah ayahnya benar-benar telah membunuh istri pria gila itu?


            “Darimana kau tahu jika Park Jaejong adalah ayahku?”


            Haejun menyeringai tipis, dan tiba-tiba salah satu tangannya menyusup ke dalam leher Krystal untuk mengambil sebuah alat penyadap kecil yang ia tempel di sana beberapa waktu yang lalu.


            “Lihat, benda kecil ini yang memberitahu semuanya. Huh, akhirnya aku menemukan berlian cantik milik Park Jaejong yang selama ini telah ia sembunyikan dari orang-orang yang mengincarnya. Kau dapat menjadi sanderaku untuk membuka mulut ayahmu yang busuk itu.”


            Tiba-tiba saja Krystal teringat akan pria misterius yang telah menabraknya saat ia baru saja keluar dari The Wyn. Rupanya sejak awal pria itu telah mengincarnya dan sekarang ia semakin mengincarnya karena ia adalah anak Park Jaejong, pria yang telah membunuh istrinya.


            “Keparat! Kau tidak akan bisa menangkapku.”


            Dengan gerakan cepat Haejun mengambil pisau lipat yang ia sembunyikan dibalik jaket kulitnya dan segera menempelkan benda tajam itu ke leher Krystal untuk membuat wanita itu diam. Sedikit saja Krystal bergerak, maka mata pisau yang runcing itu akan melukai kulit lehernya yang mulus.


            “Lihatlah, pisau ini dapat melukai kulit lehermu dengan mudah jika kau bergerak untuk melawanku.”


            Haejun sengaja menggoreskan ujung pisau itu pada leher Krystal agar wanita itu diam dan tidak banyak bicara. Tapi Krystal justru berani melawannya dengan mendorong paksa tubuhnya, sehingga pisau yang digenggamnya menggores dalam leher Krystal. Namun Krystal tampak tak peduli dengan darah yang menetes-netes dari lehernya. Wanita itu justru berlari sekuat tenaga untuk menghindari Haejun yang sudah mengejarnya dibalik debu tebal yang menyelimuti tubuhnya. Mungkin jika debu-debu itu tidak bertebaran di sana, ia akan ditangkap dengan mudah oleh pria gila itu. Tapi untung saja debu itu berahasil menyamarkan siluet tubuhnya yang kecil, sehingga ia bisa sedikit memanfaatkannya untuk kabur.


            “Nona, apa yang terjadi? Leher anda...”


            “Cepat pergi, seseorang ingin membunuhku!”


            Krystal segera berlari menuju mobilnya diikuti oleh Yunho di belakangnya. Pria itu meneriaki semua anak buahnya untuk waspada karena seseorang hampir saja membunuh Krystal. Tapi untung saja wanita itu masih beruntung karena pria gila itu belum sempat membunuhnya atau menyanderanya untuk memeras Park Jaejong.


            “Temukan pria asing yang telah melukai nona Krystal, lalu bunuh pria itu dengan sadis. Darah harus dibayar dengan darah!” teriak Yunho memberi perintah sebelum ia melajukan mobilnya cepat menuju rumah sakit untuk mengobati leher Krystal yang terluka cukup dalam.


-00-


            Sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan standar sambil bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang sedang diputarnya. Hari ini moodnya sedang dalam suasana yangbaik karena ia akan segera  bertemu dengan tunangannya. Sejak pagi Sehun telah menyiapkan penyambutan yang meriah untuk sang tunangan yang akan segera mendarat di bandara Incheon lima belas menit lagi. Bahkan Sehun rela mengambil cuti hari ini hanya untuk menyambut sang tunangan yang sudah lebih dari dua


tahun ini tidak ia temui.


            “Tolong parkirkan mobilku.”


            Sehun berseru pelan pada petugas vallet sambil melemparkan kunci mobilnya cepat kearah sang vallet. Setelah itu ia segera menunggu di depan pintu kedatangan internasioanl bersama dengan para penjemput lain  yang juga akan menjemput sanak saudara mereka.


            “Ck, aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Bagaimana rupanya sekarang? Apa ia bertambah cantik?”


            Sehun terus bergumam pelan sambil tersenyum kecil membayangkan wajah sang tunangan yang mungkin akan membuatnya semakin terpesona ketika melihatnya. Lalu ketika gerombolan penumpang pesawat keluar dari gerbang kedatangan, Sehun langsung memusatkan perhatiannya untuk mencari sang tunangan diantara lautan manusia yang sedang berjejalan di depannya. Namun tak berapa lama, seorang pria dengan setelan jas hitam keluar dari gerbang kedatangan bersama dengan seorang wanita bergaun putih selutut yang sedang berjalan di depannya. Refleks Sehun mengangkat tangannya dan meneriakan nama pria itu untuk menunjukan kehadirannya.


            “Ahh.. akhirnya kau datang juga.” ucap Sehun senang sambil memeluk tubuh ramping wanita itu antusias. Namun sang wanita sama sekali tidak terlihat senang dan justru menatap wajah Sehun gusar sambil mendorong tubuh Sehun agar menjauh dari tubuhnya.


            “Siapa kau? Aku tidak mengenalmu.”


            Sehun terkekeh pelan sambil memegang bahu wanita itu erat agar sejajar dengan wajahnya.

__ADS_1


            “Aku adalah Oh Sehun, tunanganmu. Dan selamat datang kembali Krystal Park.”


__ADS_2